TUGAS IBU WY ARMINI, M.Keb

KASUS I

Seorang ibu bersalin degan usia kehamilan 41 minggu, datang ke klinik bersalin dengan keluhan keluar air dan nyeri pd pinggang sampai perut. Setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan data bahwa ibu tersebut berusia 30 tahun, mrpk hamil ke 2, kehamilan yg pertama ibu mengalami abortus infeksiosa, serta dikuret oleh dokter, ibu tdk sedang mengidap penyakit yg kronis/menular. Tanda vital 37  , N.84x/mnt, T 120/80 mmhg, R. 24x/mnt, BB 80 kg, TB. 147 cm, TFU 35 cm, Palp Leopold menemukan hasil bahwa TFU 3 jr bwh px teraba bagian besar dan lunak, teraba bagian keras dan datar pd bagian kanan ibu, pd bagian bawah teraba bagian keras, bulat dan sulit digoyangkan, Leopold IV menemukan tangan dalam kondisi sejajar.

Pertanyaan :

  1. Jika dlm VT teraba tali pusat dan masih berdenyut, apa yang telah terjadi serta Langkah –langkah yang  akan diambil untuk mengurangi resiko dan bagaimana pengelolaanya.
  2. Pd saat pemeriksaan DJJ ditemukan hasil 13.14.15 menurut saudara apa yang  sedang terjadi kenapa bisa terjadi dan apa penatalaksanaanya.
  3. Pada saat kala II ibu tersebut dipimpin, ternyata kepala bayi seperti kura – kura ( keluar masuk) menurut saudara apa yg sedang terjadi, factor resiko apa yg menyebabkan, data focus apa yg dicari serta apa penatalaksanaanya.
  4. Jika pd saat kala II , pasien tampak gelisah, ketakutan dan disertai dgn perasaan nyeri diperut dan pd setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan mengerang kesakitan bahkan meminta supaya anaknya secepatnya dikeluarkan. Setelah diperiksa didptkan his lebih lama, lebih kuat dan lebih seringbahkan terus menerus. Ligamentum rotundum teraba seperti kawat listrik yg tegang, tebal dank eras terutama sebelah kiri atau keduanya.Pd waktu datangnya his, korpus uteri teraba keras (hipertonik) sedangkan SBR teraba tipis dan nyeri kalau ditekan. Menurut saudara apa yg telah terjadi, factor resiko apa penyebabnya, data focus apa yg dikaji serta apa penatalaksanaanya.
  5. Pd saat kala III  ternyata  ibu mengeluh lelah, wajah terlihat pucat dan ektremitas dingin, setelah diperiksa ternyata kontraksi uterus tidak baik, serta ibu mengeluarkan darah dengan volume ±1000cc, menurut saudara apa yg sedang terjadi, factor apa yg menyebabkan , Data focus apa yg dicari serta bagaimana penatalaksanaanya.

 

 

 

 

Jawaban :

  1. Ibu inpartu  mengalami masalah yaitu tali pusat menumbung (prolap tali pusat).

Definisi : tali pusat menumbung yaitu keluarnya tali pusat setelah ketuban pecah.

Etiologi :

–          Ketuban pecah sedangkan bagian terendah belum masuk dan atau memenuhi PAP.

Pada kasus tersebut diatas penyebab tali pusat menumbung yaitu karena air ketuban sudah pecah.

Faktor predisposisi :

–          CPD

–          Kelainan letak atau presentasi seperti ;Presentasi bokong, letak lintang

–          Tali pusat terlalu panjang

–          Polihidramnion

–          Amniotomi sebelum pembukaan lengkap

Langkah-langkah yang dilakukan :

  1. Informasikan agar ibu berhenti mengedan
  2. Mengatur posisi ibu tredelenburg atau kneechest potition

Rasionalisasi : posisi trendelenburg menyebabkan bagian terendah tidak turun ke PAP sehingga mengurangi tekanan tali pusat.

  1. Mempertahan posisi tangan seperti VT dengan mendorong kepala ke atas.

Rasionalisasi : mengurangi penekanan pada tali pusat.

  1. Observasi DJJ secara intensif

Pengelolaan prolaps tali pusat (Varney, 2008) :

  1. Tempatkan seluruh tangan  ke dalam vagina dan pegang bagian presentasi janin ke atas sehingga tidak menyentuh tali pusat di pintu atas panggul
  2. Jangan mencoba mengubah letak tali pusat pada kondisi apapun. Kita  tidak akan mampu melakukannya. Manipulasi dapat menyebabkan spasme tali pusat, dan secara tidak sengaja dapat menyebabkan kompresi tali pusat berlanjut.
  3. Beri informasi kepada  tentang hal yang sedang terjadi dan minta kerja samanya.
  4. Panggil bantuan. Beri tahu ibu apa yang harus dilakukan dan, jika perlu, berteriak untuk mendapatkan perhatian sehingga orang-orang datang dan memberi bantuan.
  5. Panggil dokter yang menangani pasien dengan kode SEGERA.
  6. Minta bantuan orang untuk mengatur posisi wanita sehingga gravitasi membantu menjauhkan bayi dari PAP dan tidak menekan tali pusat (posisi lutut-dada atau Trendelenburg).
  7. Jika tali pusat keluar dari vagina, minta orang lain membungkusnya secara longgar dengan kasa yang telah direndam salin normal hangat.
  8. Jangan mempalpasi atau bergantung pada denyut tali pusat sebagai indicator kesejahteraan janin atau janin hidup.
  9. Ultrasound dapat digunakan untuk mendeteksi gerakan jantung janin jika denyut jantung tidak terdengar
  10. Minta orang lain mempersiapkan seksio sesarea darurat.
  11. Pada kondisi apa pun, jangan melepaskan tangan dari vagina wanita atau dari bagian presentasi janin sampai bayi dilahirkan (kemungkinan dengan seksio sesarea).

Pengelolaan di RS

1)      Pada kasus prolaps diperlukan penanganan yang cepat

2)      Terapi definitive adalah melahirkan janin dengan segera

3)      Persalinan pervaginam hanya mungkin bila pembukaan lengkap, bagian terendah janin telah masuk panggul, dan tidak ada CPD

4)      Bahaya terhadap ibu dan janin akan berkurang jika dilakukan SC

5)      Sambil menunggu persiapan SC posisi ibu tetap trendelenburg dan tangan penolong masih didalam menahan kepala agar tidak menekan tali pusat.

 

 

 

 

 

  1. Frekuensi DJJ 168x/menit sehingga janin mengalami hipoksia intrauterine (tachicardi) yang disebabkan penekanan tali pusat oleh kepala janin.

1)      Definisi

DJJ < 100 & > 180x/mnt dimana janin tidak menerima O2 secara cukup

  1. Kondisi tersebut dapat terjadi melihat dari kasus diatas yaitu :

1)      Tali pusat tertekan oleh bagian terendah janin sehingga aliran darah dari plasenta ke janin berkurang, kemudian jantung janin berusaha untuk memenuhi pasokan O2 jaringan yaitu dengan meningkatkan daya kerjanya sehingga terjadilah tachikardi

2)      Adanya air ketuban yang keluar sebelum waktunya yang diikuti dengan suhu 37ºC ini menandakan ibu sudah mengalami kondisi sub fibris sebagai salah satu dari gejala adanya infeksi oleh karena keluar air.

3)      Selain oleh karena penekanan tali pusat oleh bagian terendah janin, tachikardi juga dapat terjadi oleh karena aktivitas uterus yang berlebihan seperti his hipertonik, penekanan pada vena cava pada posisi tidur terlentang yang lama, perdarahan antepartum, hipertensi daalam kehamilan dan preeclampsia.

4)      Penatalaksanaannya

a)      Memberitahukan kondisi ibu dan janin

Ibu dan keluarga berhak tahu dengan hasil pemeriksaan dan kondisinya, sehingga ibu dan keluarga dapat memahami dan mengurangi ketakutan oleh karena ketidak tahuan dengan kondisinya.

b)      Memberikan informed consent untuk tindakan yang akan dilakukan

Dengan informed conset ibu dan keluarga berhak menentukan keputusan dan dapat dipakai bahan pertanggung jawaban

c)      Membaringkan ibu dalam posisi miring kekiri

Tidak menekan vena cava inferior dan meningkatkan cardiac output sehingga meningkatkan aliran darah ke uterus

d)     Memberikan cairan melalui infuse

Dengan infuse dapat memperlancar aliran darah sehingga O2 mengalir lancar

e)      Memberikan O2 8 liter/menit

Memenuhi kebutuhan kecukupan O2

f)       Melakukan rujukan ke RS PONEK dengan prinsip BAKSOKUDA

Harus ditangani di RS yang mempunyai sarana operatif kebidanan

 

 

  1. Terjadi distosia bahu.

Definisi distosia bahu : suatu keadaan dimana setelah kepala lahir tidak diikuti dengan putaran paksi luar sehingga bahu tertahan pada simfisis.

 

Factor resiko yang mempengaruhi distosia bahu yaitu:

–          Makrosomia (TBJ > 4000 gram)

–          diabetes gestational,

–          multiparitas (melahirkan bayi yang viable dan mampu hidup lebih dari 1 kali)

–          persalinan lewat waktu.

Pada kasus tersebut distosia bahu dapat disebabkan karena kehamilan lewat waktu (41 minggu), kemungkinan diabetes gestational ( BB 80kg), ibu multi gravida namum panggul belum pernah teruji karena hamil pertama abortus, perkiraan bayi cukup besar ( TBJ 3720gram).

Data focus yang harus dicari :

–          Data subyektif :

  1. Paritas
  2. Riwayat penyakit : obesitas, DM,
  3. Riwayat kehamilan, persalinan yang lalu : ROB
  4. Tanyakan kemampuan ibu untuk mengedan ?

 

 

–          Data obyektif :

  1. BB : peningkatannya, BB berlebihan
  2. TB : < 145 cm
  3. TFU : > 2 cm dibandingkan dg UK
  4. TBJ > 4.000 kg
  5. Tes protein urine
  6. Riwayat persalinan sekarang ; lama, penyulit, teknik pertolongan persalinan
  7. USG : kelainan congenital yg bisa teridentifikasi.

 

Penatalaksanaan distosia bahu : Manuver Mc.Robert

Syarat :

  1. Kondisi vital ibu cukup memadai sehingga dapat bekerjasama untuk menyelesaikan persalinan
  2. Masih memiliki kemampuan untuk meneran
  3. Jalan lahir dan pintu bawah panggul memadai uuntuk akomodasi tubuh bayi
  4. Bayi masih hidup atau diharapkan dapat bertahan hidup
  5. Bukan monstrum atau kelainan congenital yang menghalangi keluarnya bayi

Penatalaksanaannya:

1)      Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga

Ibu dan keluarga berhak tahu dengan hasil pemeriksaan dan kondisinya, sehingga ibu dan keluarga dapat memahami dan mengurangi ketakutan oleh karena ketidak tahuan dengan kondisinya.

2)      Memberikan informed consent untuk tindakan yang akan dilakukan

Dengan informed conset ibu dan keluarga berhak menentukan keputusan dan dapat dipakai bahan pertanggung jawaban

3)      Menolong ibu dengan maneuver Mc. Robert

–          Ibu berbaring terlentang dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin mendekati dada. Perasat ini akan memutar sudut simfisis pubis ke superior dan menggunakan berat tungkai ibu untuk memberikan tekanan yang lembut pada abdomen, menghindarkan jepitan pada bahu anterior

–          Lakukan episiotomy. Episiotomi bertujuan untuk dapat memperluas jalan lahir

–          Lakukan penekanan pada suprapubik. Tekanan dilakukan pada sisi punggung bayi, kearah dada bayi. Tindakan ini membantu aduksi bahu dan mendorong bahu anterior menjauh dari simfisis pubis.

–          Bila maneuver Mc.Robert tidak berhasil, anjurkan ibu untuk merangkak

 

 

Teknik yang lain untuk melahirkan bahu pada distosia bahu yaitu :

  1. Maneuver Hibbard (1969)/ Resnick (1980)

Melahirkan bahu belakang terlebih dahulu dengan memasukkan tangan menyusuri bahu belakang, semenatara asisten melakukan penekanan di atas simfisis.

  1. Maneuver “ Corkscrew” Woods

–          Masukkan dua jari tangan kanan kearah anterior bahu belakang janin

–          Minta asisten untuk melakukan penekanan fundus uteri kearah bawah, kemudian putar (searah putaran jarum jam) bahu belakang bayi dengan kedua jari tangan operator (penolong persalinan) kearah depan (ventral terhadap ibu) sehingga lahir bahu belakang. Perhatikan posisi punggung bayi karena putaran bahu belakang ke depan adalah kearah punggung bayi

–          Masih diikuti dengan dorongan pada fundus uteri dilakuakn putaran berlawanan dengan arah putaran pertama sehingga akan menyebabkan bahu depan dapat melewati simfisis

 

  1. Maneuver Schwartz dan Dixon untuk melahirkan bahu belakang.

–          Lengan bayi biasanya fleksi pada siku

–          Bila lengan tidak fleksi, dorong lengan pada siku

–          Dorong lengan kearah dada

–          Ambil tangan, kemudian lahirkan tangan

–          Lakukan episiotomi

  1. Maneuver Massanti

Dilakukan dengan melakukan penekanan pada suprapubik :

–          Tidak boleh menekan fundus

–          Penanganan abdomen : penekanan suprapubik dengan ujung genggaman tangan pada bagian belakang bahu depan untuk membebaskannya

–          Jangan menekan fundus uteri

–          Bahu bayi ditekan dari arah punggung bayi kedepan à diharapkan melepas bahu dari simfisis

 

 

 

 

  1. Maneuver rubin

–          Lakukan pemeriksaan vagina

–          Adduksi bahu depan dengan menekan bagian belakang bahu ( bahu didorong kea rah dada )

–          Pikirkan tindakan episiotomy

–          Tidak melakukan dorongan fundus

 

 

  1. Maneuver zavanelli

–          Patahkan klavikula

–          Menempatkan kembali kepala di pelvic, kemudian dilakukan tindakan SC

Manuver Zavanelli (Sandberg, 1985)

–          Mengembalikan kepala ke posisi oksiput anterior atau posterior bila kepala janin telah berputar dari posisi tersebut

–          Memfleksikan kepala dan secara perlahan mendorongnya masuk kembali ke vagina yang diikuti dengan pelahiran secara sesar.

–          Memberikan terbutaline 250 mg subkutan untuk menghasilkan relaksasi uterus

 

  1. Gaskin Manuver. Ini dengan melakukan perubahan posisi yaitu saat ibu dalam posisi berbaring, si ibu langsung diminta untuk berputar dan mengubah menjadi posisi merangkak.

 

 

–          Langkah dari Gaskin maneuver ini sering di sebut FlipFLOP

–          Flip = memutar ibu dari posisi berbaring menjadi merangkak

–          FLOP =

–          F Flips Mom Over (memutar ibu dari posisi berbaring menjadi merangkak). Setelah ibu posisi terbalik menggunakan Gaskin’s Manuver kebanyakan bayi akan lahir spontan. Namun, jika bayi tidak lahir segera, bidan atau asistennya mengarahkan langkah berikutnya dilakukan ketika kontraksi berikutnya terjadi atau sebelum ada kontraksi.

–          L Lift Legs, Dengan di bantu bidan, mintalah ibu mengangkat satu kaki, arahkan ke depan posisi ini persis seperti posisi ketiaka atlet lari hendak bersiap-siap untuk mulai balapan lari. Jadi posisinya seperti gambar berikut ini:

 

–          Mohon perhatikan posisi kaki, sehingga lutut tidak terlalu jauh dari tubuhnya.

–          Sekarang mulailah melakukan lekukan atau menggulung bahu anterior bayi dari tulang kemaluan hingga bergerak disamping simfisis pubis.  pergeseran Pubis dari gerakan menempatkan kaki ke dalam posisi “Running Start” seperti diatas seolah-olah ini adalah seperti maneuver setengah McRoberts yang dilakukan dengan ibu di dalam posisi terlentang. Setengah dari tulang kemaluan yang terguling atau bergeser ketika kaki diangkat.  Jika lengan tidak dapat diputar, pindah ke manuver berikutnya lebih cepat.

–          O Oblique (Rotete Shoulder To Oblique) è memutar bahu kearah oblique. jika bayi tidak langsung lahir ketika kontraksi setelah dilakukan perubahan posisi menjadi posisi “Running Start”, selipkan tangan bidan ke ibu ssampai ia menemukan bagian belakang bahu posterior bayi.  memutar bahu posterior ke arah dada bayi ke diameter miring dari panggul ibu. Ada ruangan yang paling dalam dari diameter miring (diameter oblique) panggul.  Dengan demikian bayi akan mudah dari memutar bahu posterior ke diameter miring. Jika tetap gagal Lanjutkan upaya.

–          P Posterior Arm To Get it. ini dilakukan dengan mencari lengan bayi dan mengeluarkannya menyapu tangan ke arah dada bayi . sehingga Lengan ini akan flex, yang berarti itu akan membuat sebuah tikungan. Sekarang bidan dapat menangkap pergelangan tangan bayi,  Kemudian seluruh lengan lalu goyangkan dengan hati-hati. Hal ini akan mengurangi diameter tubuh bayi sekitar 2 cm.Jika itu tidak cukup, bayi diputar 180 derajat sehingga lengan sebelumnya anterior sekarang posterior dan lengan dibawa keluar. Sekarang ibu bisa mendorong dan bayi akan keluar.

–          Manuver Gaskin ini angka keberhasilannya cukup tinggi yaitu 80-90%

 

  1. Terjadi rupture uteri iminen (RUI).

Rupture Uteri adalah robekan atau diskontinuitas dinding rahim akibat dilampauinya daya regang miometrium.

Rupture uteri adalah his yang sangat tinggi dan terjadinya obstruksi.

Etiologi : disproporsi janin dan panggul atau persalinan traumatic.

Factor resiko yang menyebabkan : his yang lama, lebih kuat dan lebih sering.

Data focus yang dikaji :

  1. Data subyektif :

–          Nyeri perut yang hebat saat ada kontraksi

–          Ibu meminta anaknya secepatnya dikeluarkan

 

  1. Data obyektif :

–          Ibu tampak gelisah

–          Ibu tampak ketakutan

–          His lama, kuat, sering

–          Ligamentum rotundum teraba seperti kawat listrik yang tegang, tebal dank eras (hipertonik)

–          SBR teraba tipis dan nyeri tekan

–          DJJ ireguler

–          VT : portio odema, caput, pembukaan tidak maju

–          Bagian janin mudah diraba jika rupture uteri totalis

Penatalaksanaan :

  1. Stabilisasi KU ibu :

–          pasang IVFD RL 500 ml jarum besar 16 G/18 G dalam 15-20 menit kemudian lanjutkan hingga mencapai 3 liter.,

–          berikan oksigen 5 liter/menit dengan kanule , dengan masker 10 liter/menit

  1. Memberikan KIE tentang kondisi ibu dan bayi serta tindakan rujukan.
  2. Melakukan rujukan dengan prinsip BAKSOKUDA
  3. Penanganan di RS :

–          Setelah stabilisasi dan kondisi pasien memadai, lakukan laparatomi untuk melahirkan anak dan plasenta

–          Bila konservasi uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan memungkinkan, lakukan reparasi uterus (Reparasi Ruptur Uteri). Bila luka mengalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien mengkhawatirkan, lakukan histerektomi.

–          Antibiotika dan serum anti tetanus

Bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam, menggigil, darah bercampur cairan ketuban berbau, hasil apusan atau biakan darah) segera berikan antibiotika spectrum luas. Bila terdapat tanda-tanda trauma alat genital atau luka yang kotor, tanyakan saat terakhir mendapat tetanus toksoid. Bila hasil anamnesa tidak dapat memastikan perlindungan terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus 1500 IU/IM dan TT 0,5 ml IM.

 

  1. Terjadi atonia uteri

Atonia uteri yaitu uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan masase uterus.

Faktor yang menyebabkan :

  • Partus lama à kelelahan à oksigenasi menurun à miometrium à Kontraksi menurunà tidak berkontraksi.
  • Regangan uterus à overdistensi uterus menghambat kontraksi dan pengembalian ukuran uterus.
  • Multiparitas à miometrium mengendur à kontraksi berkurang
  • Solutio Plasenta

Patofisiologi :

  1. Mekanik à perdarahan banyak pada uterus à gumpalan à kontraksi uterus menurun.
  2. Kimiawi à pembekun darah berlebihan dikeluarkan oleh karena perdarahan sehingga lama kelamaan semakin menurun jumlah pembekuan darah à gangguan pembekuan
  3. Psikologis à ibu cemas dan nyeri à peningkatan hormone stress à penurunan Prostaglandin dan Oksitosin sehingga his menurun à atonia uteri

 

Data focus yang dicari

  1. Data subyektif
  • Umur
  • Paritas
  • Ibu mengeluh lelah
  • HPHT
  • Rimayat kehamilan, persalinan yang lalu
  • Riwayat penyakit ; anemia
  • Riwayat kehamilan sekarang : kelainan letak, kehamilan kembar
  1. Data Obyektif
  • Wajah terlihat pucat
  • Tanda vital
  • TBJ
  • Presentasi, kehamilan kembar
  • Ektremitas dingin
  • Kontraksi uterus tidak baik
  • Keluar darah ±1000 cc
  1. Penatalaksanaanya
    1. Melakukan masase uterus selama 15 detik
    2. Evaluasi /bersihkan bekuan darah/selaput ketuban
    3. Kompresi bimanual Interna (KBI) Maksimal 5 menit
    4. Kontraksi uterus baik
  • Pertahankan KBI selama 1-2 menit
  • Keluarkan tangan secara hati – hati
  • Lakukan pengawasan kala IV
  1. Bila uterus tidak berkontraksi
  • Ajarkan keluarga melakukan kompresi Bimanual Eksterna (KBE)
  • Keluarkan tangan (KBI) secara hati – hati
  • Suntikan Methyl ergometrin 0,2 mg i.m
  • Pasang infuse RL + 20 IU oksitosin, guyur
  • Lakukan lagi KBI
  1. Evaluasi bila  Uterus berkontraksi
  • Pengawasan kala IV
  1. Bila Uterus tidak berkontrksi
  • Rujuk siapkan laparotomi
  • Lanjutkan pemberian infus + 20 IU oksitosin minimal 500cc/jam hingga mencapai tempat rujukan
  • Selama perjalanan dapat dilakukan kompresi bimanual interna oleh karena paling efektif. Jika tidak memungkinkan dapat dilakukan kompresi aorta abdominalis atau kompresi bimanual eksterna
  1. Ligasi arteri uterine dan atau hipogastrika B -Lynch method
  2. Perdarahan berhenti pertahankan uterus
  3. Perdarahan tetap Histerektomi

 

KASUS II

Seorang ibu bersalin dengan selaput ketuban sudah pecah dirujuk oleh bidan ke RS, dengan keluhan tiba-tiba sesak nafas, dengan wajah kebiruan. Data fokus apa yang harus dikaji, apa yg sedang terjadi, factor resiko apa yang menyebabkan, serta bagaimana pelaksanaannya.

Jawaban  :

  1. Data fokus Subjektif
  1. Identitas

–          Umur

Kesiapan ibu menerima kehamilan dan kesiapan menghadapi persalinan

–          Pekerjaan

Kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan pasien

  1. Keluhan utama

–          Sejak kapan keluar air?

–          Bagaimana warna air ketuban?

–          Berapa jumlah air ketuban?

  1. Riwayat Obstetri

–          Hamil ke berapa?

–          Pernah abortus/kuretage?

–          Penyulit dan kelainan serta komplikasi pada peersalinan, nifas yang lalu

–          Kondisi bayi saat dilahirkan?

  1. Riwayat kehamilan sekarang

–          Pernah mengalami perdarahan saat hamil?

–          Pernah jatuh (trauma abdomen)?

–          Pernah dilakukan versi luar?

  1. Riwayat persalinan sekarang

–          Datang pukul berapa?

–          Pembukaan  berapa?

–          Adakah ketuban pecah, jam berapa ?

–          His nya bagaimana?

–          DJJ nya bagaimana?

–          Apakah dilakukan induksi persalinan?

–          Bagaimana kemajuan persalinan?

Data Objektif

  1. KU dan TTV

Melihat tanda-tanda syok, nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, tampak kebiruan, ibu seperti tercekik terjadi secara tiba-tiba,

  1. Dada

Ada retraksi pada dada, ronchii/whezzing -/-

  1. Abdomen

–          His bagaimana?

–          DJJ bagaimana ?

  1. Genetalia

–          Evaluasi pengeluaran : ketuban

–          Kemajuan persalinan ( VT)

  1. Ekstremitas

–          Akral, sianosis

–          Ada kejang atau tidak?

 

  1. Kemungkinan ibu mengalami Emboli Air Ketuban

Emboli air ketuban yaitu air ketuban terdorong masuk sirkulasi vena ibu melalui vena-vena di endoserviks, implantasi plasenta atau trauma pada uterus.

 

  1. Factor-faktor yang menyebabkan :
  2. Multipara
  3. Meningkatnya usia ibu
  4. Kontraksi yang terlalu kuat
  5. Adanya infeksi pada selaput ketuban
  6. Air ketuban yang banyak
  7. Adanya mekonium
  8. Solusio plasenta
  9. IUFD
  10. Partus presipitatus
  11. Suction curettage
  12. Trauma abdomen
  13. Terminasi kehamilan
  14. Versi luar

 

  1. Penatalaksanaannya
  2. Segera setelah diagnose ditegakkan à terapi supportive segera dilakukan
  3. ABC resuscitation
  4. Miring kekiri
  5. Memberi segera oksigen 100%, pasang selang endotrakeal dan ventilasi dilakukan karena pasien umumnya tidak sadar
  6. Sirkulasi à terapi cairan dan obat-obatan
  7. Kendalikan perdarahan dan koagulopati, segera lakukan rujukan
  8. Perhatikan posisi ibu saat merujuk
  9. Kolaborasi dengan dokter spesialis untuk penanganan dan therapy yang diberikan
  10. Di RS setelah ibu stabil bayi segera dilahirkan

 

 

 

KASUS III

Seorang ibu hamil dengan usia kehamilan 30 mgg dating mengeluh gerakan anak terasa berkurang . setelah dilakukan pengkajian ternyata ibu hamil kedua anak pertama mengidap sindrom down usia 4 tahun, pemeriksaan tanda vital dlm kondis normal, antropometri ibu normal.

  1. Pemeriksaan obstetric ( penunjang ) apa saja yg harus dilakukan pd ibu tersebut?
  2. Jelaskan masing – masing pemeriksaan kesejahteraan serta screening tes untuk mengetahui kelainan genetic?
  3. Bagaimana bidan menyiapkan pasien dlm melakukan pemeriksaan tersebut.

Jawaban :

  1. Pemeriksaan obstetric yang diperlukan yaitu :
  2. USG
  3. NST

 

  1. Pemeriksaan untuk pemantauan kesejahteraan janin :
  2. USG

USg adalah gelombang suara yang melewati medium > 20.000 Hz. Pemeriksaan ini sangat aman dilihat dari efek biologis pada manusia dan tidak menimbulkan resiko pada janin.

Indikasi USG :

  • Perkiraan usia kehamilan
  • Evaluasi pertumbuhan janin
  • Menentukan presentasi janin
  • Curiga kehamilan kembar
  • Curiga kematian janin
  • Evaluasi kesejahteraan janin
  • Curiga poli/oligohidramnion
  • Curiga solution plasenta
  • Evaluasi lokasi plasenta
  • Curiga kelainan congenital

Tujuan pemeriksaan USG dasar :

  • Trimester I
    • Lokasi GS (intra / ekstrauteri
    • Identifikasi embrio
    • Crown – Rump Length (CRL) untuk memastikan UK dan TP
    • Denyut jantung bayi
    • Jumlah fetus
    • Evaluasi uterus dan adneksa
    • Trimester II dan III
      • Jumlah fetus
      • Presentasi
      • DJJ
      • Lokasi plasenta
      • Volume cairan amnion
      • Umur kehamilan
      • Survey anatomi fetus
      • Evaluasi massa pelvik

 

  1.  KTG / kardiotokografi

1)      NST

NST adalah pemeriksaan untuk menilai respon kardiovaskuler terhadap gerakan janin.digunakan jika tidak ada kontraksi uterus.

Indikasi :

  • Dugaan insuf plasenta
  • Perubahan penatalaksanaan antenatal

 

2)      OCT

OCT (Oxytocin Challenge Test) atau Contraction Stress Test (CST) digunakan untuk memantau kesejahteraan janin jika ada kontraksi uterus.

  1. Amniosintesis

Prosedur medis dengan mengambil cairan amnion intruterin sebagai usaha diagnosis prenatal terhadap kelainan kromosom dan infeksi fetus.

Indikasi :

  • Diduga adanya kelainan kromosom pada fetus :
    • Down sindrom (trisomi 21)
    • Trisomi 13
    • Trisomi 18
    •  Neural tube defects ( anencephaly and spina bifida)
    •  Diduga infeksi fetus
    • Incompability
    •  Prediksi kematangan paruction of lung maturity
    • Dekompresi polihidramnion
  1. FBS (Fetal Biofisik Score) yaitu pemantauan kesejahteraan janin dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan fisik bayi meliputi keadaan air ketuban, fungsi plasenta ukuran biometri janin. Ukuran biometri janin meliputi :
  • BPD : Biparietal Diameter
  • FL : Femur Length
  • AC : Abdominal Circumferentia

 

  1. Persiapan yang harus dilakukan oleh bidan :
  2. Persiapan pemeriksaan USG :
  • KIE tentang tindakan yang akan dilakukan
  • Anjurkan ibu untuk minum dalam jumlah yang banyak agar kandung kemih penuh
  • Menyuruh ibu tidur terlentang menggunakan bantal, kaki lurus
  • Mengolesi bagian abdomen dengan jelly
  • Memfasilitasi dokter saat melakukan tindakan
  • Membersihkan abdomen ibu dari jelly dengan tissue
  • KIE pasca tindakan

 

  1. Persiapan pemeriksaan KTG,NST
  • KIE tentang tindakan yang akan dilakukan
  • Menganjurkan ibu untuk makan dan minum ( minimal 1 jam sebelum pemeriksaan)
  • Meyakinkan bahwa ibu dalam kondisi sehat dan cukup istirahat sebelumnya, sebaiknya dilakukan pada pagi hari
  • Memastikan alat atau monitor dalam kondisi siap pakai
  • Memasang perlengkapan alat di abdomen ibu
  • Mempersilakan ibu untuk tidur semi fowler, posisi sedikit miring kekiri45 derajat
  • Memantau tekanan darah ibu setiap 10 menit
  • Menjelaskan bahwa jika ibu merasakan gerakan janin agar menekan tombol yang sudah diberikan
  • Melakukan monitoring selama 30 menit
  • Bila hasil rekaman selama 10 menit pertama àmencurigakan/patologis–.perhatikan posisi pasien, posisi transduser dan goyangkan fundus untuk membangunkan janin
  • Bila hasil rekaman tetap mencurigakan/patologis à hentikan pemantauan
  • Bila hasil rekaman normal àpemantauan dilanjutkan sampai 30 menit
    • Nilai normal :
      • BSL 110-150 bpm,
      • Var : 10-25 bpm
      • Decelerasi (-)
      • Akselerasi (+)
      • Mencurigakan
        • BSL 100-110 bpm atau 150-170 bpm
        • Var : 5-10 bpm
        • Akselerasi (-) selama > 30 menit
        • Patologis :
          • BSL < 100 bpm atau > 170 bpm
          • Var < 5 bpm
          • Decelerasi berulang dalam berbagai tipe
          • Variable decelerasi berat, deselerasi memanjang atau deselerasi lambat
          • Pola sinusoidal
          • Merapikan ibu dan merapikan alat
          • Membaca hasil
          • Melakukan kolaborasi untuk dokumentasi hasil dan tindakan selanjutnya
          • KIE pasca tindakan
  1. Persiapan pemeriksaan OCT

pada prinsipnya pesiapan bidan untuk melakuka OCT hamper sama dengan NST diatas namun indikasi OCT adalah jika ada kontraksi dan sebelum memantau disuntikkan oksitosin terlebih dahulu kepada ibunya secara perabdominal dengan tuntunan USG. Sehingga diperoleh gambaran bagaimana kesejahteraan janin ketika ada his dan saat his tidak ada.

  1. Persiapan pemeriksaan Amniosintesis
  • Persiapan bidan :

1)      Persiapan alat ;

– handschoon 2 pasang

  • Kondom 1
  • Doek lobang 1
  • Betadine
  • Alcohol
  • Gaas
  • Spuite 10 cc 1
  • Spinal needle 23 G
  • Botol atau tabung steril
  • Pengantar lab

2)      Persiapan penolong

3)      Persiapan lingkungan

 

Prinsip Prosedur Pelaksanaan

  • antiseptic lapangan operasi dengan betadin
  • Prosedur dilakukan secara steril
  • Dengan panduan USG dilakukan insersi jarum melalui dinding abdomen ibu ke daerah cavum amnion yang kosong.
  • Aspirasi cairan ±20 ml.

 

 

  • Peranan bidan :

1)      KIE sebelum tindakan

2)      Memfasilitasi informed concent

3)      Menghubungi bagian laboratorium

4)      Memfasilitasi dokter untuk melakukan tindakan

  1. Pemberian anestesi local bila perlu
  2. Mengolesi antoseptik dengan betadine pada perut sekitar umbilicus
  3. Persempit lapangan operasi dengan doek
  4. Dilakukan evaluasi pre prosedur dengan USG
  5. Pemantauan target pungsi
  6. Dilakukan pungsi jarum spinal no 23 G dengan tuntunan USG

5)      Mempertahankan posisi prop ( tangai USG) setelah posisi ditentukan sampai spinal needle masuk.

6)      Bidan melakukan aspirasi air ketuban sebanyak 10 cc  (Protap RS. Sanglah)

7)      Mengolesi larutan antisepstik pada bekas tusukan setelah jarum dicabut

8)      Menutup dengan gaas betadine

9)      Memasukkan air ketuban ke tabung steril

10)  Memberi label pada sediaan yang akan dikirim

 

  • KIE pasca tindakan :

1)      Pantau tanda vital setiap 30 menit

2)      Pantau dengan USG (perdarahan plasenta, DJJ,gerakan janin)

3)      Ibu bedrest selama 1 jam pasca tindakan

4)      Pantau DJJ setiap 30 menit

5)      Waktu control ulang saat hasil sudah ada ( melalui konfirmasi petugas)

6)      Konseling tindak lanjut tentang tindakan sessuai hasil

0 Responses to “Hasil Pembahasan Kasus Askeb Lanjut II (PBL)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s