KETERAMPILAN KOMUNIKASI DAN KONSELING BIDAN


 HANDOUT

(Komunikasi Kebidanan, Bd. 202)

Keterampilan Inti KIP/K

1.     Sikap Empati

2.     Menciptakan/membina hubungan yang baik dengan klien

3.     Menunjukkan tingkah laku verbal/nonverbal yang positif

4.     Menjadi pendengar  yang baik

5.     Bertanya dengan pertanyaan terbuka

6.     Mempertahankan kontak mata saat berkomunikasi

Referensi:

  • MNH-DEPKES. KomunikasiEfektif ibu selamat, bayi sehat, keluarga bahagia. Modul Pelatihan Keterampilan Komunikasi interpersonal/konseling (KIP/K). Jakarta : 2002.
  • Uripni, C.L, Untung Sujianto, TatikIndrawati. Komunikasi Kebidanan.Jakarta : EGC.2003 : 4-26.
  •   IBI, 9 Modul Kebidanan (Modul Pelatihan Konseling Bagi Bidan Pada Klinik IBI).Jakarta : 2003.
  • Alexander Jo,Valerie Levi, Sarah Roch. Midwifery Practice.London : The Macmillan PressLtd.1994:1-15.

Pendahuluan

 

    Angka kematian di Indonesia masih tinggi. Setiap tahun sejumlah 18.000 ibu meninggal dunia, dua nyawa melayang setipa satu jam,karena kehamilan dan atau persalinan. Kematian ibu ternyata tidak hanya diikuti oleh tingginya angka kematian bayi tetapi juga meninkatkan jumlah balita yang piatu baru (± 36.000 setiap tahun).

    Risiko kematian ibu akibat kehamilan,persalinan,dan nifas serta bayi, dapat dikurangi bila ada upaya persiapan persalinan dan kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan dasar. Salah satu ujung otmbak pelayanan kesehatan dasar bagi ibu dan bayi adalah bidan. Namun, pada kenyataannya walaupun hampir semua pemeriksaan antenatal datang pada bidan, sebagian besar persalinan masih ditolong oleh dukun beranak. Hal ini menunjukkan bahwa ibu lebih percaya kepada dukun beranak dibandingkan dengan bidan.

     Salah satu penyebab keadaan  tersebut diatas adalah rendahnya kualitas keterampilan komunikasi dan konseling tenaga kesehatan (bidan).Penelitian di Jawa Barat menyimpulkan bahwa keterampilan teknis medis semata tidak cukup untuk memberikan pelayanan yang memuaskan ibu.

       Kualitas komunikasi bidan yang rendah akan berdampak terhadap transfer pesan kepada klien yang kurang baik, bidan menjadi kurang peka dan kurang mampu menggali kebutuhan dan masalah klien, tidak tanggap terhadap perasaan klien, klien tidak puas dan selanjutnya dapat diperkirankan kredibilitas bidan tersebut diragukan.

    Dari penelitian di Indonesia (Januari 1997 di dua propinsi yaitu Jabar dan Jateng) tentang interaksi bidan-klien menunjukkan bahwa banyak bidan yang tidak menggunakan keterampilan konseling yang baik, misalnya :

  •  Para bidan cenderung mendominasi sesi konseling (63% ucapan didominasi oleh bidan), kurang memberi kesempatan kepada klien untuk berbicara panjang lebar atau mengungkapkan keinginan dan perasaannya.
  • Para bidan lebih banyak mengajukan pertanyaan tertutup (pertanyaan yang sifatnya mengarahkan pada jawaban ya dan tidak).
  •  23 % ucapan bidan adalah pengulangan kata-kata bidan itu sendiri.

  Pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal/konseling (KIP/K) untuk bidan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bidan dalam bidang komunikasi interpersonal dan konseling sehingga kualitas pelayanan pada ibu hamil dan melahirkan lebih baik.

 

MATERI

Sikap Empati

 

Empati merupakan pengaruh dan interaksi diantara kepribadian-kepribadian. Empati atau einfulung berarti ‘merasakan ke dalam’. Empati berasal dari kata Yunani “pathos” berarti mendalam dan kuat yang mendekati penderitaan, dan kemudian diberi awalan “in” menjadi simpati. Perbedaannya bila simpati berarti merasakan bersama dan mungkin mengarah pada sentimentalitas, maka empati mengacu pada keadaan identifikasi kepribadian yang lebih mendalam kepada seseorang. Seseorang yang berempati sesaat melupakan atau kehilangan identitas dirinya sendiri. Dalam proses empati yang mendalam dan misterius inilah berlangsung proses pengertian, pengaruh, dan bentuk hubungan antar pribadi.

Beberapa pengertian empati menurut pendapat ahli, antara lain :

  1. George dan Cristiani (1981)

Empati merupakan kemampuan untuk mengambil kerangka berpikir klien sehingga dapat memahami dengan tepat kehidupan dunia dan makna-maknanya dan bisa dikomunikasikan kembali dengan jelas terhadap klien. Dengan berempati, memungkinkan konselor untuk mendengar dan bereaksi terhadap kehidupan perasaan klien, yakni: marah, benci, takut, menentang, tertekan, dan gembira.

2. Stewart (1986)

Empati merupakan kemampuan untuk menempatkan diri di tempat orang lain agar dapat memahami dan mengerti kebutuhan serta perasaannya. Empati menuntut untuk masuk ke pandangan dunia klien dan untuk melihat dengan mata mereka dan selanjutnya “to walk in their shoe”.

3. Rogers

Empati adalah memasukkan dunia klien beserta perasaan-perasaannya ke dalam diri sendiri tanpa terhanyut oleh pikiran dan perasaan klien.

4. Lotze (1858)

Empati merupakan lebih dari sekedar rasa kasihan ataupun simpati. Empati atau emphatie berasal dari bahasa Yunani “patien” berarti menderita atau merasakan.

Dapat disimpulkan pengertian dari simpati adalah seseorang yang dapat benar-benar merasakan dan menghayati kondisi orang lain termasuk bagaimana seseorang mengamati dan menghadapi masalah dan keadaannya.

A.    Aspek Empati

Ada tiga aspek dalam empati menurut Pattorson (1980), yaitu :

  1. Keharusan bahwa konselor mendengarkan klien dan komunikasikan persepsinya kepada klien,
  2. Ada pengertian atau pemahaman konselor tentang dunia klien, dan
  3. Mengkomunikasikan pemahamannya kepada klien

B. Makna Penting

Roger dalam Konseling dan Psikoterapi (Gunarsa Singgih, 1992, hal 72), empati bukan hanya sesuatu yang bersifat kognitif melainkan juga emosi dan pengalaman. Dalam usaha memahami dunia klien sebagaimana klien mengalaminya, konselor berupaya memahami pengalaman klien dari sudut klien itu sendiri. (“The Necessary and Sufficient Conditions of Therapeutic Personality Change”) atau emphatic understanding, yakni kemampuan untuk memasuki dunia pribadi orang.  Tiga atribut yang harus dimiliki konselor dalam usaha mengubah perilaku klien: kewajaran atau keadaan sebenarnya (realness) dan menerima (acceptantance) atau memperhatikan (care).

Egan (1975, dalam Ivey et al, 1987) membedakan dua tipe untuk memahami “emphatic understanding”, yakni :

1. Empati primer : oleh Rogers. Membentuk fondasi dan atmosfer inti helping relationship. yakni mendengarkan semua pesan dan meresponnya. Kemampuan paraphrasing dan merefleksikan perasaan konselor dengan baik akan memulai dasar empati untuk memahami klien.

Contoh perkataan : “ Sekarang saya bisa merasakan betapa sedih Anda pada waktu itu”.

  1. Empati lanjutan (advanced accurate emphaty) yakni memberi respon dan pemahaman terhadap hal yang tidak langsung dikatakan klien. Dimana konselor memberikan lebih dari dirinya dan seringkali membutuhkan upaya langsung untuk mempengaruhi klien. Karena informasi itu selalu subjektif bagi interprestasi individu, konselor harus menyusun kembali situasi,kepercayaan, atau pengalaman untuk membantu klien melihatnya dari perspektif dan berbeda dan mengecek apakah interprestasi itu sudah benar.

Sikap empati sangat penting bagi konselor, karena dengan sikap ini seorang konselor akan mampu menciptakan hubungan baik dengan klien, selain itu mampu merasakan  permasalahan yang dialami klien. Sehingga konselor dapat memberikan alternative-alternative pemecahan masalah untuk menyelesaikan masalah secara tersebut

 

Menciptakan / membina hubungan baik dengan klien

Keterampilan membina hubungan baik merupakan dasar dari proses komunikasi interpersonal dan dasar dari proses pemberian bantuan. Hubungan yang baik akan memudahkan klien memahami saran bidan sehingga mau mengikutinya. Klien merasa lebih puas dan akan kembali lagi untuk memeriksaan diri ke bidan.

Sikap dan prilaku dasar yang dibutuhkan oleh bidan agar tercipta hubungan baik :

S  : Face your clients Squarely (menghadap ke klien) dan Smile/nod at client (senyum/mengangguk ke klien).

O :   Open and non-judgemental facial expression (ekspresi muka menunjukkan sikap terbuka dan tidak ternilai).

L :   Lean towards client (tubuh condong ke klien).

E :   Eye contact ina cultural-acceptable manner (kontak mata/tatap mata sesuai cara yang diterima budaya setempat).

R :   Relaxed and friendly manner (santai dan sikap bersahabat).

Intonasi dan volume suara dapat mencerminkan sikap hangat/tidaknya seseorang. Suara yang keras, mengebu-gebu, kurang menunjukkan kehangatan dibandingkan dengan volume dan intonasi suara yang lembut, tidak terlalu keras.

Tiga hal penting lain yang perlu diperhatikan pada waktu konseling agar hubungan baik lebih mantap yaitu :

  1. Menunjukkan tanda perhatian verbal

Tanda perhatian verbal yang dimaksud adalah kata-kata pendek atau ungkapan kata yang singkat seperti : hemm…, ya, lalu, oh ya, terus, begitu, ya.

  1. Menjalin kerja sama

Dalam konseling, bidan yang baik adalah bidan yang mementingkan hubungan baik dengan klien. Hal ini akan terwujud bila selama proses konseling bidan selalu berusaha bekerja sama dengan klien.

  1. Memberikan respon yang positif : pujian, dukungan.

3.1              Memberi pujian maksudnya mengungkapkan persetujuan atau kekaguman sehingga mendorong tingkah laku yang baik, penghargaan terhadap usaha yang telah dilakukan klien dengan baik. Misalnya memuji klien, menunjukkan bahwa bidan menghargai perhatian klien terhadap kesejahteraan dirinya.

3.2              Memberikan dukungan maksudnya memberi dorongan, kepercayaan dan harapan. Bidan mengungkapkan kata-kata agar klien menyadari kemampuannya dalam mengatasi masalah dan membantu klien mengatasi masalahnya. Misalnya, mengemukakan alternative yang bisa diharapkan, menekankan hal baik yang telah mereka lakukan, dan perlu dilanjutkan, seperti mengatakan kepada klien bahwa dengan datang ke Polindes berarti mereka telah menolong diri mereka sendiri.

Contoh  prilaku atau respon positif bidan yang mendukung terciptanya hubungan baik, menimbulkan perasaan nyaman pada klien misalnya :

  1. Bersalaman dengan ramah
  2. Mempersilakan duduk
  3. Bersabar
  4. Tidak menginterupsi / memotong pembicaraan klien
  5. Menjaga kerahasiaan klien
  6. Tidak melakukan penilaian
  7. Mendengarkan dengan penuh perhatian
  8. Menanyakan alasan kedatangan klien
  9. Menghargai apapun pertanyaan maupun pendapat klien
  10. Menghargai apapun pertanyaan maupun pendapat klien

Dalam konseling, bidan yang baik adalah bidan yang mementingkan hubungan baik dengan klien. Hal ini akan terwujud bila selama proses konseling bidan selalu berusaha bekerjasama dengan klien. Pembinaan hubungan baik dimulai sejak awal pertemuan dengan klien dan perlu dijaga seterusnya.

Menurut Roger dalam Stuart G.W (1998),hubungan yang terapeutik dengan :

  1. Kejujuran
  2. Tidak membingungkan dan cukup ekspresif
  3. Bersikap positif
  4. Empati bukan simpati
  5. Mampu melihat permasalahan dari kacamata klien
  6. Menerima klien apa adanya
  7. Sensitif terhadap perasaan klien
  8. Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien atau diri konselor sendiri.

Menunjukan Tingkah Laku

Verbal / Non Verbal yang Positif

 

Komunikasi memiliki beberapa pengertian, antara lain merupakan sebuah proses interaksi sosial antara dua atau lebih individu yang mencoba saling mempengaruhi dalam hal ide, sikap, pengetahuan, dan tingkah laku. Selain itu komunikasi juga di definisikan sebagai proses memberitahukan dan menyebarkan pikiran-pikiran, nilai-nilai dengan maksud untuk menggugah partisipasi, agar hal-hal yang diberitahukan itu menjadi milik bersama. Seperti yang telah kita ketahui, Komunikasi terdiri dari dua jenis yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal.

  1. Tingkah Laku/KomunikasiNon Verbal

Komunikasi non verbal adalah pesan yang disampaikan dalam komunikasi dikemas dalam bentuk non verbal, tanpa kata-kata.

Bentuk komunikasi non verbal adalah :

  1. Bahasa tubuh; meliputi lambaian tangan, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, gerakan kepala, sikap/postur tubuh, dan lain-lain.
  2. Tanda; dalam konunikasi non verbal menggantikan kata-kata. Misal: bendera putih mengartikan ada lelayu.
  3. Tindakan atau perbuatan; tindakan tidak menggantikan kata-kata tetapi mengandung makna. Misal: menggebrak meja berarti marah.
  4. Objek ; objek tidak menggantikan kata-kata tetapi juga mengandung makna. Misal: pakaian mencerminkan gaya hidup seseorang.
  5. Warna; menunjukkan warna emosional, cita rasa, keyakinan agama, politik, dan lain-lain. Misal: warna merah muda adalah warna feminim.

Fungsi komunikasi non verbal:

  1. Melengkapi komunikasi verbal.
  2. Menekankan komunikasi verbal.
  3. Membesar-besarkan komunikasi non verbal.
  4. Melawan komunikasi verbal.
  5. Meniadakan komunikasi non verbal.
  6. KomunikasiVerbal

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa verbal merupakan sarana untuk menyampaikan perasaan, pikiran dan maksud tujuan. Menurut Larry L. Barker, bahasa mempunyai tiga fungsi yaitu penamaan, interaksi dan transmisi informasi (Mulyana, 2007).

Aspek dalam komunikasi verbal yaitu perbendaharaan kata-kata (vocabulary), kecepatan (racing), intonasi suara, humor, waktu yang tepat dan singkat.

 

C.    Keterampilan Observasi

            Bidan perlu mengamati tingkah laku pasien secara verbal dan non-verbal untuk mengidentifikasi pesan-pesan yang tidak sejalan (sinkron) dan campur aduk. Bidan perlu menggabungkan informasi kedalam tiga kategori.

  1. Tingkah laku non-verbal klien

Cara menatap mata, bahasa tubuh, kualitas suara, merupakan indicator penting yang mengungkapkan apa yang sedang terjadi pada diri klien.

  1. Tingkah laku verbal klien

Kapan klien beralih topik apa saja kata-kata kunci, penjelasan-penjelasan yang disampaikan dan pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan.

  1. Kesenjangan pada diri klien

Seorang bidan yang tajam pengamatannya akan memperhatikan bahwa ada beberapa ketidaksesuaian antara tingkah laku verbal dan non-verbal antara dua buah pertanyaan, antara apa yang diucapkan dan apa yang dikerjakan.

Meski tingkah laku verbal dan non-verbal bisa berdiri sendiri tapi pada kenyataannya verbal dan non-vebal tidak terpisahkan, saling menguatkan arti yang sebenarnya dari suatu tingkah laku. Dalam mengobservasi sesuatu ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan :

  • Pengamatan obyektif adalah berbagai tingkah laku yang kita “lihat” dan “dengar”. Misalkan : jalan mondar-mandir tangan dikepal, dsb.
  • Interprestasi/penafsiran adalah kesan yang kita berikan terhadap apa yang kita lihat (amati) dan kita dengar. Misalkan : kesal karena terlalu lama menunggu.

Kita dapat belajar lebih peka terhadap tingkah laku non-verbal dan arti dari suatu tingkah laku verbal yang ditampilkan seorang klien. Misalkan klien berkata bahwa hubungannya dengan suami baik-baik (dengan raut kesedihan diwajahnya). Harus ditelaah lebih lanjut arti dari ketidaksesuaian antara yang disampaikan (verbal) dengan ekspresi muka (non-verbal).

 

Kesenjangan Tingkah LakuVerbal dan Non Verbal

Kesenjangan tingkah laku verbal dan non verbal dapat dilihat dari:

  1. Kesesuaian antara tingkah verbal dan non verbal.
  2. Kesesuaian antara duah buah pertanyaan.
  3. Kesesuaian antara apa yang diucapkan dan apa yang dikerjakan.

Keterampilan Mendengar Aktif

 

Ada 4 bentuk mendengarkan yang bisa digunakan sesuai dengan situasi yang dihadapi yaitu:

  1. Mendengar pasif (diam)

Dilakukan antara lain bila klien sedang menceritakan masalahnya, berbicara tanpa henti, menggebu-gebu dengan ekspresi perasaan kesal atau sedih. Selain itu bila klien berhenti berbicara sejenak, konselor dapat mendengar pasif untuk memberi kesempatan menenangkan diri.

  1. Memberi tanda perhatian verbal

Seperti : yaa, lalu, oh begitu, terus…, dilakukan antara lain sewaktu klien berbicara panjang tentang peristiwa yang terjadi pada dirinya.

  1. Mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi

Dilakukan bila konselor ingin mendalami apa yang diucapkan/diceritakan klien. Misal : Bagaimana hubungan ibu dengan saudara-saudara suami? Apakah maksud ibu dengan perbuatan yang tidak layak itu?

  1. Mendengar aktif

Memberikan umpan balik/merefleksikan isi ucapan dan perasaan klien.

Refleksi isi atau paraphrasing adalah menyatakan kembali atau pesan klien dengan menggunakan kata-kata lain, memberi masukan pada klien tentang inti ucapan yang baru dikatakan klien dengan cara meringkas dan memperjelas ucapan klien.

Refleksi perasaan, adalah mengungkapkan perasaan klien yang teramati olek konselor dari intonasi suara, raut wajah dan bahasa tubuh klien maupun dari hal-hal yang tersirat dari kata-kata verbal klien.

Mendengarkan informasi yang disampaikan klien sangat penting. Sering kali kita mendengar tapi tidak benar-benar mendengarkan.

Mendengarkan adalah suatu proses aktif yang membutuhkan partisipasi aktif dari yang mendengarkan (LISTENING).

Mendengar merupakan proses mendengar suara melalui alat pendengaran (telinga) tanpa ada proses si pendengar dalam menyerap apa-apa yang didengar (HEAR-masuk kuping kiri keluar kuping kanan)

Penelitian tentang interaksi klien – bidan menunjukkan bahwa hanya satu per tiga dari yang diucapkan bidan bersifat mendorong klien untuk berbicara. Sebagian besar bersifat netral (ucapan yang membantu arus informasi klien dengan bidan, tetapi tidak mendorong partisipasi aktif klien), dan sering kali bidan memotong pembicaraan klien, memutuskan informasi yang penting yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan. Ucapan-ucapan yang demikian tidaklah menunjukkan rasa hormat kepada klien, bahkan klien merasa tidak nyaman. Keterampilan mendengarkan membutuhkan latihan secara terus menerus. Meringkas pokok-pokok utama dari hal-hal yang diucapkan orang lain adalah latihan yang baik untuk keterampilan mendengarkan.

Tips dalam mendengar aktif:

  1. Terima klien apa adanya. Hargai klien sebagai individu yang berbeda dari individu lainnya
  2. Dengarkan apa yang dikatakan oleh klien dan juga bagaimana ia mengatakan hal itu. Perhatikan intonasi suara, pemilihan, ekspresi wajah dan gerakan-gerakan tubuh.
  3. Tempatkan diri pada posisi klien selama mendegarkan
  4. Kadang-kadang lakukan mendengarkan pasif (diam). Beri waktu pada klien untuk berfikir, bertanya dan berbicara. Sesuaikan dengan kecepatan klien.
  5. Dengarkan klien dengan seksama, jangan berfikir apa yang akan anda lakukan selanjutnya.
  6. Lakukan pengulangan/refleksikan apa yang anda dengar, sehingga bidan klien paham
  7. Duduk menghadap klien dengan nyaman, hindari gerakan yang mengganggu, tatap dan perhatikan klien.
  8. Tunjukkan tanda perhatian verbal dan nonverbal.

Keterampilan Bertanya

 Semua jenis pertanyaan dapat dikelompokkan menjadi pertanyaan tertutup dan terbuka.

Pertanyaan tertutup menghasilkan jawaban “ya” atau “tidak” yang berguna untuk mengumpulkan informasi yang faktual (biasanya dilakukan pada awal-awal percakapan). Pertanyaan tertutup tidak menciptakan suasana yang nyaman dalam berkomunikasi dan proses pengambilan keputusan. Dengan menggunakan pertanyaan tertutup, bidan mengontrol jalannya percakapan. Klien hanya akan memberikan informasi yang bersangkut paut dengan pertanyaan yang ditanyakan.

Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memungkinkan adanya berbagai macam jawaban, memberi kebebasan menjawab. Pertanyaan terbuka akan memberi kebebasan atau kesempatan kepada klien dalam menjawab yang memungkinkan partisipasi aktif klien dalam percakapan. Jenis pertanyaan terbuka biasanya memakai kata tanya “Bagaimana” atau “apa”. Cara efektif untuk menggali informasi adalah dengan bertanya menggunakan pertanyaan terbuka. Juga perlu digunakan intonasi suara yang menunjukkan minat dan perhatian.

Menurut penelitian, dalam konseling bidan mempunyai kecenderungan untuk lebih menggunakan pertanyaan tertutup atau pertanyaan yang mengarahkan. Hal ini membatasi kesempatan klien berbagi informasi dan menyatakan pendapat dan perasaannya (studi interaksi Client-Provider Indonesia, 1997). Dengan memiliki keterampilan mendengarkan dan bertanya, klien akan merasa didengar, diperhatikan dan dihormati, berarti bidan ikut dalam meningkatkan mutu pelayanan.

Tips dalam bertanya yang efektif antara lain:

  1. Gunakan intonasi suara yang menunjukkan perhatian, minat dan keakraban
  2. Gunakan kata-kata yang dipahami oleh klien
  3. Ajukan pertanyaan satu persatu. Tunggu jawaban dengan penuh minat, jangan memotong
  4. Gunakan kata-kata yang mendorong klien untuk tetap berbicara seperti: dan, lalu, selanjutnya
  5. Hindari  penggunaan kata tanya; mengapa, karena kemungkinan klien merasa disalahkan
  6. Ajukan pertanyaan dengan berbagai cara bila klien belum paham
  7. Hindari pertanyaan yag mengarahkan
  8. Gunakan pertanyaan yang terbuka, karena lebih efektif daripada pertanyaan tertutup

Mempertahankan kontak mata saat berkomunikasi

Kontak mata adalah salah satu penghubung nonverbal yang paling penting yang Anda miliki untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain yaitu pertemuan mata antara dua orang yang mengekspresikan komunikasi nonverbal, kontak ini terjadi ketika dua orang melihat satu sama lain secara langsung atau ketika dua orang melihat mata satu sama lain pada saat yang sama yang biasanya ditampilkan melalui ekspresi wajah.

Kontak mata adalah bentuk komunikasi non verbal dan diyakini memiliki pengaruh besar pada perilaku sosial. Frekuensi dan interpretasi dari kontak mata bervariasi antara budaya dan spesies. Kontak mata dan ekspresi wajah dan sosial yang penting menyediakan informasi emosional.

Kontak mata merupakan aspek yang sangat penting dalam berkomunikasi. Kontak mata menunjukan bahwa seorang konselor menghormati kehadiran kliennya. Mata adalah cermin jiwa, kekuatan mata mampu mempengaruhi seorang klien agar dapat terbuka tentang permasalahan yang dihadapinya terhadap konselor. Kontak mata memberikan informasi sosial kepada orang yang sedang melakukan konseling. Terlalu banyak kontak mata menunjukkan bahwa seorang tersebut memiliki sifat agresif. Sedangkan jika terlalu kontak mata orang tersebut dianggap tidak mempunyai minat pada orang yang diajak bicara.

A.     Petunjuk tentang kontak mata

Kontak mata memberikan petunjuk berharga tentang apa yang sedang orang pikirkan.

  1. Kinestetik adalah orang cenderung untuk melihat   ke bawah
  2. Visual adalah orang cenderung untuk melihat keatas
  3. Auditori adalah orang cenderung untuk melihat ke samping
  4. Religius yaitu Orang-orang yang melihat ke kiri untuk mengumpulkan pikiran
  5. Ilmiah  yaitu Orang-orang yang melihat ke kanan
  6. konstuktif atau sedang mengarang jawaban yaitu Orang-orang yang melihat ke atas dan kanan
  1. B.     Ada 4 cara untuk mempertahankan dan meningkatkan keterampilan  kontak mata saat berkomunikasi (Tyastuti, dkk, 2008 )
    1. Berbicara dengan group
    2. Berbicara dengan seorang individu
    3. Mendengarkan seseorang
    4. Menarik seseorang

Dalam berbagai kebudayaan pandangan mata kerap kali ditafsirkan sebagai pernyataan tingkat keseriusan perhatian, mendengarkan , melihat, mengerti, melamun, menerawang, bingung, marah, menguasai , membiarkan dan masa bodoh yang semuanya harus ditafsirkan dalam konteks sosial budaya tertentu .

Jadi dapat disimpulkan dalam melakukan komunikasi yang baik sebagai seorang pembicara atau pendengar  kita mengungkapkan sesuatu melalui penglihatan  dari awal hingga akhir. Oleh sebab itu peranan mata sebagai sight yang berkaitan dengan sejauhmana  tingkat pemahaman dan pengetahuan terhadap kosa kata yang kita miliki , memandang gagasan, maupun arah.

C.     Efek negatif dari kontak mata

  1. Menimbulkan perasaan dalam diri konseli bahwa dirinya diragukan
  2. Menimbulkan kemarahan
  3. Menimbulkan perasaan heran
  4. Menimbulkan kebingungan pada diri sendiri
  5. Menimbulkan perasaan terancam
  6. Menimbulkan perasaan curiga

Gagal membuat kontak mata pada saat perkenalan membuat orang tidak nyaman. Mengalihkan mata anda akan meninggalkan kesan apakah orang ini malu, gugup, apakah ia menyembunyikan sesuatu.

Jadi, kontak mata dapat membawa anda pada suatu hubungan. Penggunaan kontak mata yang baik akan membuat anda sukses menjaling hubungan misalnya antara bidan dengan klien. Kontak mata yang cukup dan sering adalah apa yang dibutuhkan dalam mempertahankan hubungan yang saling memenuhi.

 

SKENARIO UNTUK KELAS A

  • Seorang ibu hamil datang ke BPM ditemani oleh suaminya, mengeluah mual dan muntah. Ibu ini hamil pertama kali. Bagaimana bidan dalam memberikan asuhan (komunikasi)
  • Seorang ibu hamil dengan kehamilan sudah menjelang persalinan datang mengeluh suaminya tidak mau mengantar periksa. Bagaimana reaksi bidan?

 

SKENARIO UNTUK KELAS B

  • Seorang remaja  SMU datang ke BPM diantar pacarnya, mengeluh telat haid, mual dan muntah, mereka mengatakan bingung kehamilan ini mau diapain. Bagaimana bidan dalam memberikan asuhan dalam komunikasi?
  • Seorang ibu hamil datang ke BPM tanpa diantar suami dengan keluhan suami senang melakukan kekerasan di rumah tangga, dengan alasan bahwa janin yang dikandung istrinya bukan “hasilnya”. Bagaimana bidan menyikapi masalah ini, dalam memberikan asuhan kepada ibu hamil ini?

0 Responses to “KETERAMPILAN KOMUNIKASI DAN KONSELING BIDAN”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s