handout konsep kebidanan


HAND OUT

 

Mata Kuliah                                   :   Konsep Kebidanan

Kode Mata Kuliah                        :   BD. 401

Topik                                                 :   Teori dan Model Konseptual Asuhan Kebidanan

  • Dasar Pemikiran, Fokus dan Tujuan dalam Teori Kebidanan
  1. 1.       Reva Rubin
  2. 2.       Ramona Mercer
  3. 3.       Elay Joy Lehrman
  4. 4.       Ernestine
  5. 5.       Jean Ball
  • Model Konseptual dalam Asuhan Kebidanan
  1. 1.        Midwifery care
  2. 2.        Paradigma Sehat

Waktu                                              :   4 x 150 Menit

Dosen                                               :   Ni Wayan Armini, M.Keb

OPS (Terminal Objektif)           :   Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa dapat menjelaskan teori dan model konseptual kebidanan

 

 

Sumber Pustaka                           :  

  1. 1.       Varney, H (1997), Varney’s Midwifery, Third Edition. Jones and Bartlets Publisher, Sudbury England.
  2. 2.       Seller P. Mc (2000) A Guide to effective Care I Pregnancy and Childbirth and early parenting. Oxpord: University press.
  3. 3.       Black Tricia Murphy, Issues in midwifery, churchil   Living stone : United   Kingdom
  4. 4.       Bryar Rossamound, 1995, Teory For Midwifery  Practice, mac Millan  Press LTD Hal 21-161.
  5. 5.       Depkes RI, 1995, konsep Kebidanan. Jakarta

 

 


 

Pendahuluan

 

Sejarah  Kebidanan berjalan panjang mengikuti perkembangan ilmu dan pengetahuan serta kebutuhan masyarakat. Model dalam teori kebidanan mengadopsi dari beberapa model lainnya berdasarkan teori-teori yang sudah ada sehingga tercipta sebuah model kebidanan yang sesuai dengan filosofi kebutuhan baik dari segi bidan sebagai profesi maupun wanita dan keluarga sebagai fokus pelayanan asuhan kebidanan. Model kebidanan ini sebagai tolak ukur bagi bidan dalam memberikan asuhan kebidanan pada klien sehingga akan terbina suatu partnership dalam asuhan kebidanan. Dengan ini diharapkan profesi kebidanan akan memberikan sumbangan yang berarti dalam menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi yang mengutamakan upaya preventif dan promotif.

Dengan mempelajari topik ini diharapkan bidan dapat mengetahui berbagai konseptual model dan teori yang mempengaruhi konseptual kebidanan.

 

ISI

 

KONSEPTUAL KEBIDANAN

TEORI DAN KONSEP

  1. Pengertian Teori dan Konsep
    1. Ide yang direncanakan dalam pikiran, dituangkan.
    2. Konsep atau teori adalah gambaran tentang objek dari suatu kejadian atau objek yang digunakan oleh peneliti untuk menggambarkan fenomena sosial yang menarik perhatiannya.

 

  1. Fungsi Konsep dan teori : sebagai alat untuk mengidentifikasi fenomena yang diobservasinya. Sedangkan teori adalah jalur logika atau penalaran yang digunakan oleh peneliti untuk menerangkan hubungan pengaruh antar fenomena yang dikaji.

MODEL KEBIDANAN

–          Model adalah contoh atau peraga untuk menggambarkan sesuatu.

–          Model Kebidanan adalah suatu bentuk pedoman atau acuan yang merupakan kerangka kerja seorang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan.

 


 

MODEL KONSEPTUAL KEBIDANAN

  1. Gambaran abstrak suatu ide yang menjadi dasar suatu disiplin ilmu.
  2. Pada dasarnya sama dengan pengertian konsep kerangka kerja, sistem dan skema. Menunjukkan tentang ide global tentang individu, kelompok, situasi, dan kejadian yang menarik untuk suatu ilmu. Konseptual model kebidanan biasanya berkembang teori wawasan intuitif keilmuan yang sering kali disimpulkan dalam kerangka acuan disiplin ilmu yang bersangkutan (Fawcett, 1992) sehingga konseptual model memberikan gambaran abstrak atau ide yang mendasari disiplin ilmu.
  3. Model memberi kerangka untuk memahami dan mengembangkan praktek untuk membimbing tindakan dalam pendidikan untuk mengidentifikasi pertanyaan yang harus dijawab dalam penelitian. Konsep model ditunjukan dalam banyak cara yaitu mental model, Fisik mental, dan simbolik (Lancaster and lavcaster, 1992).

 

KEGUNAAN MODEL

  1. Untuk menggambarkan beberapa aspek (konkrit maupun abstrak) dengan mengartikan persamaannya seperti struktur, gambar, diagram dan rumus. Model tidak seperti teori, tidak memfokuskan pada hubungan antara dua fenomena tapi lebih mengarah pada struktur dan fungsi. Sebuah model pada biasanya analogi atau gambar simbolik suatu ide (Wilson, 1985).
  2. Merupakan gagasan mental sebagai bagian teori yang memberikan bantuan ilmu-ilmu sosial dalam mengkonsep dalam menyamakan aspek-aspek dalam proses sosial (Galt dan smith,1976).
  3. Menggambarkan sebuah kenyataan gambaran abstrak sehingga banyak digunakan disiplin ilmu lain sebagai parameter garis besar praktek. (Bernas, 1984)

 

Model dalam kebidanan berdasarkan pada 4 element yaitu ;

  1. Orang (wanita,ibu,pasangan,dan orang lain)
  2. Kesehatan
  3. Lingkungan
  4. Kebidanan Model Kebidanan dapat digunakan untuk:
    1. Menyatukan data secara lengkap
    2. Menjelaskan siapa itu bidan, apa yg dikerjakan, keinginan dan kebutuhan

 

Macam Model Kebidanan

1. Model dalam mengkaji kebutuhan dalam praktek kebidanan.

2. Model medical

3. Model sehat untuk semua/Health For All (HFA)

4. Model menolong bagi bidan dirumah sakit

5. Model sistem maternitas di komunitas yg ideal

 

Teori model kebidanan

Model of care the midwifery patnership didasarkan pada prinsip midwifery care berikut ini:

  1. Mengakui dan mendukung adanya keterkaitan antara badan, pikiran, jiwa, fisik,dan lingkungan kultur sosial.
  2. Berasumsi bahwa mayoritas kasus wanita yg bersalin dapat ditolong tanpa adanya intevensi.
  3. Mendukung dan meningkatkan proses persalinan alami.
  4. Menggunakan pendekatan pemecahan masalah dengan seni dan ilmu pengetahuan.
  5. relationship-based dan kesinambungan dalam motherhood.
  6. Woman centered dan bertukar pikiran antara wanita.
  7. Kekuasaan wanita yaitu berdasarkan tanggung jawab untuk suatu pengambilan suatu keputusan.
  8. Dibatasi oleh hukum dan ruang lingkup praktek individu

Model Konseptual kebidanan adalah tolak ukur bagi bidan dalam memberi asuhan kebidanan. Konseptual model adalah gambaran abstrak dari suatu ide yang menjadi dasar suatu disiplin. Model asuhan kebidanan yaitu kehamilan dan persalinan merupakan suatu proses kehidupan normal.
Model Kebidanan mepunyai 5 komponen :

  1. Memonitor kesejahteraan ibu baik fisik, psikologi maupun social dalam siklus kehamilan dan persalinan
  2. Mempersiapkan ibu dengan memberikan pendidikan, konseling, asuhan prenatal, dalam proses persalinan dan bantuan masa post partum
  3. Intervensi teknologi seminimal mungkin
  4. Mengidentifikasi dan memberikan bantuan obstetric yang dibutuhkan
  5. Melakukan rujukan

Ruang lingkup praktek kebidanan :

a)      Menolong Persalinan

b)      Konseling

c)       Penyuluhan

d)       Asuhan pada saat hamil, melahirkan, nifas dan BBL

e)      Deteksi dini penyakit

f)       Pengobatan terbatas ginekologi

g)      Pertolongan gawat darurat

h)      Pengawasan tumbuh kembang

i)        Supervisi
Ada beberapa manfaat yang bisa didapat dengan melakukan konseling diantaranya :

Menurunkan / menghilangkan stress

Membuat diri kita merasa lebih baik, bahagia, tenang dan nyaman

Lebih memahami diri sendiri dan orang lain

Merasakan kepuasan dalam hidup

Mendorong perkembangan persona

Meningkatkan hubungan yang lebih efektif dengan orang lain

Memaksimalkan fungsi diri dan kehidupan kita sehari – hari
Pengantar teori dalam praktek kebidanan dituangkan dalam standar pelayanan kebidanan yang berguna dalam penerapan norma dan tingkat kinerja yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Penerapan standar pelayanan akan melindungi masyarakat karena penilaian terhadap proses dan hasil pelayanan dapat dilakukan dengan jelas. Dengan adanya standar pelayanan dapat dibandingkan dengan pelayanan yang diperoleh masyarakat akan memberikan kepercayaan yang lebih mantap terhadap pelaksana pelayan.
Masalah yang ditemukan dalam penyusunan standar pelayanan kebidanan adalah bahwa diantara apa yang telah biasa dilakukan dalam praktek kebidanan sebenarnya merupakan tindakan ritualistic yang tidak berdasarkan pada pengalaman praktek yang terbaik. Dalam standar praktek kebidanan tindakan yang bersifat ritualistic seperti melakukan episiotomi secara rutin dan memandikan bayi setelah lahir sudah tidak dianjurkan lagi. Perubahan standar pelayanan seperti inididasarkan pada pengalaman yang terbaik dari para praktisi di seluruh dunia. Praktek kebidanan, managemen kesehatan wanita secara mandiri berfokus pada kehamilan, persalinan, nifas, asuhan BBL, KB dan kesehatan reproduksi wanita.

TEORI YANG MEMPENGARUHI MODEL KEBIDANAN

  1. 1.       Teori Reva Rubin

Menekankan  pada pencapaian peran sebagai ibu, untuk mencapai peran ini seorang wanita memerlukan proses belajar melalui serangkaian aktivitas atau latihan. Dengan demikian, seorang wanita terutama calon ibu dapat mempelajari peran yang akan dialaminya kelak sehingga ia mampu beradaptasi dengan perubahan – perubahan yang terjadi khususnya perubahan psikologis dalam kehamilan dan setelah persalinan.

 

Menurut Rubin, seorang wanita sejak hamil sudah memiliki harapan – harapan antara lain:

  1. kesejahteraan ibu dan bayinya
  2. Penerimaan dari masyarakat
  3. Penentuan identitas diri
  4. Mengerti tentang arti memberi dan menerima

 

Tahap – tahap psikologis yang biasa dilalui oleh calon ibu dalam mencapai perannya:

  1. Anticipatory Stage

Seorang ibu mulai melakukan latihan peran dan memerlukan interaksi dengan anak yang lain.

  1. Honeymoon Stage

Ibu mulai memahami sepenuhnya peran dasar yang dijalaninya. Pada tahap ini ibu memerlukan bantuan dari anggota keluarga yang lain.

  1. Plateu Stage

Ibu akan mencoba apakah ia mampu berperan sebagai seorang ibu. Pada tahap ini memerlukan waktu beberapa minggu sampai ibu kemudian melanjutkan sendiri.

  1. Disengagement

Merupakan tahap penyelesaian latihan peran sudah berakhir.

Aspek – aspek yang diidentifikasi dalam peran ibu adalah gambaran tentang idaman, gambaran diri dan tubuh. Gambaran diri seorang wanita adalah pandangan wanita tentang dirinya sendiri sebagai bagian dari pengalaman dirinya, sedangkan gambaran tubuh adalah berhubungan dengan perubahan fisik yang terjadi selama kehamilan.

 

Beberapa tahapan aktivitas penting sebelum seseorang menjadi seorang ibu:

a)      Taking On ( tahapan meniru )

Seorang wanita dalam pencapaian sebagai ibu akan memulainya dengan meniru dan melakukan peran seorang ibu

b)      Taking In

Seorang wanita sudah membayangkan peran yang dilakukannya. Introjektion, Projektion dan Rejektion merupakan tahap dimana wanita membedakan model – model yang sesuai dengan keinginannya.

c)       Letting Go

Wanita mengingat kembali proses dan aktivitas yang sudah dilakukannya.

Pada tahap ini seorang wanita akan meninggalkan perannya di masa lalu.

 

Adaptasi Psikososial pada masa Post partum:

Keberhasilan masa transisi menjadi orang tua pada masa postpartum dipengaruhi oleh:

  1. Respon dan dukungan dari keluarga
  2. Hubungan antara melahirkan dengan harapan – harapan
  3. Pengalaman melahirkan dan mambesarkan anak yang lalu
  4. Budaya

 

Rubin mengklasifikasikan tahapan ini menjadi tiga tahap yaitu:

  1. Peride Taking In ( Hari ke1-2 setelah melahirkan )
  2. Ibu masih pasif dan tergantung pada orang lain
  3. Perhatian ibu tertuju pada kekhawatiran pada perubahan tubuhnya
  4. Ibu akan mengulangi pengalaman – pengalaman waktu melahirkan
  5. Memerlukan ketenangan dalam tidur untuk mengembalikan keadaan tubuh ke kondisi normal
  6. Nafsu makan ibu biasanya bertambah sehingga membutuhkan peningkatan nutrisi. Kurangnya nafsu makan menandakan proses pengembalian kondisi tubuh tidak berlangsung normal
    1. Periode Taking Hold (hari ke 2-4 setelah melahirkan)
    2. Ibu memperhatikan kemampuan menjadi orangtua dan meningkatkan tanggung jawab akan bayinya
    3. Ibu menfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh, BAK, BAB dan daya tahan tubuh
    4. Ibu berusaha untuk menguasai keterampilan merawat bayi seperti menggendong, menyusui, memandikan dan mengganti popok
    5. Ibu cendrung terbuka menerima nasehat bidan dan kritikan pribadi
    6. Kemungkinan ibu mengalami depresi postrpartum karena merasa tidak mampu membesarkan bayinya.

 

  1. Periode Letting Go
  2. Terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan di pengaruhi oleh dukungan serta perhatian keluarga
  3. Ibu sudah mengambil tanggung jawab dalam merawat bayi dan memahami kebutuhan bayi sehingga akan mengurangi hak ibu dalam kebebasan dan hubungan sosial.

 

  1. 2.       Teori Ramona mercer

Teori ini lebih menekankan pada stress antepartum dalam pencapaian peran ibu. Mercer membagi teorinya menjadi 2 pokok bahasan :

  1. Efek stress Antepartum

Stress antepartum adalah komplikasi dari resiko kehamilan dan pengalaman negatif dalam hidup seorang wanita.

Tujuan asuhan yang diberikan adalah : memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi ketidakpercayaan diri ibu. Penelitian Mercer menunjukkan ada 6 faktor yang berhubungan dengan status kesehatan ibu, yaitu:

  1. Hubungan Interpersonal
  2. Peran keluarga
  3. Stress antepartum
  4. Dukungan sosial
  5. Rasa percaya diri
  6. Penguasaan rasa takut, ragu dan depresi

Maternal role menurut Mercer adalah bagaimana seorang ibu memperoleh identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan penjabaran yang lengkap dengan dirinya sendiri.

  1. Pencapaian peran ibu

Peran ibu dapat dicapai bila ibu  menjadi dekat dengan bayinya termasuk mengekspresikan kepuasaan dan penghargaan peran. Lebih lanjut Mercer menyebutkan tentang stress antepartum terhadap fungsi keluarga baik yang positif maupun negatif. Bila fungsi keluarganya positif maka ibu hamil dapat mengatasi stress antepartum.  Stress antepartum karena risiko kehamilan dapat mempengaruhi persepsi tehadap status kesehatan, dengan dukungan keluarga dan bidan maka ibu dapat mengurangi atau mengatasi rasa tidak percaya dirinya selama kehamilan atau mengatasi stress antepartum.

Perubahan yang terjadi pada ibu hamil  selama kehamilan  (trimester I, II dan III) merupakan hal yang fisiologis sesuai dengan filosofi asuhan kebidanan bahwa  Menarche, kehamilan, nifas dan menopouse merupakan hal yang fisiologis.

Perubahan yang dialami oleh ibu, selama kehamilan terkadang dapat menimbulkan sterss antepartum, sehingga bidan harus memberikan asuhan kepada ibu hamil agar ibu dapat menjalani kehamilannya secara fisiologis (normal), Perubahan yang dialami oleh ibu hamil antara lain adalah :

  1. Ibu cenderung lebih tergantung dan lebih memerlukan perhatian sehingga dapat berperan sebagai calon ibu dan dapat memperhatikan perkembangan bayinya
  2. Ibu memerlukan sosialisasi
  3. Ibu cendrung merasa khawatir terhadap perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
  4. Ibu memasuki  masa transisi yaitu dari masa menerima kehamilan ke masa menyiapkan kelahiran dan menerima bayinya. dll

 

Contoh : Ibu Rika  hamil 2 bulan, ini kehamilannya yang ke-2, kehamilan yang yang lalu ibu rika mengalami abortus. Ibu rika sangat berhati-hati dalam kehamilannya ini dan ia sangat khawatir bila terjadi hal yang sama pada kehamilannya, sehingga ia merasa sangat cemas berlebihan, ia tidak mau melakukan aktifitas apapun, sepanjang hari ibu rika hanya tiduran saja. dan ia merasa stress dengan kehamilan ini,  Bidan Evi memberikan asuhan sesuai dengan teori Ramona, yang menekankan pemberian asuhan pada ibu hamil yang mengalami stress antepartum akibat pengalaman Negatif yang lalu/ komplikasi dari kehamilan (resti) sehingga ibu hamil dapat memilki kepercayaan diri kembali dalam menjalani kehamilannya. Bidan Evi menganjurkan agar ibu rika menerima kehamilan dengan rasa bahagia tanpa ada kecemasan karena dapat mempengaruhi perkembangan dari janinnya.

 

Empat Tahapan dalam pelaksanaan peran ibu menurut Mercer :

  1. Anticipatory

Saat sebelum wanita menjadi ibu, dimana wanita mulai melakukan penyesuaian sosial dan psikologis dengan mempelajari segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ibu.

  1. Formal

Wanita memasuki peran ibu yang sebenarnya, bimbingan peran dibutuhkan sesuai dengan kondisi sistem sosial.

  1. Informal

Dimana wanita sudah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan perannya.

  1. Personal

Merupakan peran terakhir, dimana wanita sudah mahir melakukan perannya sebagai ibu

Sebagai perbandingan, Rubin menyebutkan peran ibu sudah dimulai sejak ibu mulai hamil sampai 6 bulan setelah melahirkan, tetapi menurut Mercer mulainya peran ibu adalah setelah bayi lahir ( 3-7 bulan setelah melahirkan  ).

 

Wanita dalam menjalankan peran ibu dipengaruhi oleh faktor – faktor

  1. Faktor ibu
    1. Umur ibu pada waktu melahirkan
    2. Persepsi ibu pada waktu melahirkan pertama kali
    3. Stress sosial
    4. Memisahkan ibu dengan anak secepatnya
    5. Dukungan sosial
    6. Konsep diri
    7. Sifat pribadi
    8. Sikap terhadap membesarkan anak
    9. Status kesehatan ibu

 

  1. Faktor Bayi
    1. Temperamen
    2. Kesehatan bayi
    3. Faktor – faktor lainnya
      1. Latar belakang etnik
      2. Status perkawianan
      3. Status ekonomi

 

Dari faktor sosial support, Mercer mengidentifikasikan adanya empat faktor pendukung:

  1. a.      Emotional Support

Yaitu perasaan mencintai, Penuh perhatian, percaya dan mengerti

  1. b.      Informational Support

Memberikan informasi yang sesuai  dengan kebutuhan ibu sehingga dapat membantu ibu untuk menolong dirinya sendiri

  1. c.       Physical Support

Misalnya dengan membantu merawat bayi dan memberikan tambahan dana

  1. d.      Appraisal Support

Ini memungkinkan individu mampu mengevaluasi dirinya sendiri dan pencapaian peran ibu.

 

Mercer menegaskan bahwa umur, tingkat pendidikan, ras, status perkawinan, status ekonomi dan konsep diri adalah faktor – faktor yang sangat berpengaruh dalam pencapaian peran ibu. Peran bidan yang diharapkan oleh Mercer dalam teorinya adalah membantu wanita dalam melaksanakan tugas dan adaptasi peran dan mengidentifikasi faktor – faktor yang mempengaruhi pencapaian peran ini dan kontribusi dari stress antepartum.

 

  1. 3.       Teori Ela Joy Lehrman

Dalam menjalankan profesi kebidanan, Ela Joy Lehrman melihat makin banyaknya tugas yang dibebankan pada bidan yang harus dilaksanakan dengan penuh profesionalisme dan tanggung jawab. Dengan pandangan Ela Joy lehrman tersebut menjadi latar belakang munculnya teori kebidanan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan. Teori lehrman ini menginginkan agar bidan dapat melihat semua aspek praktik pemberian asuhan pada wanita hamil dan memberi pertolongan persalinan.

Lehrman menyelidiki bahwa pelayanan antenatal menunjukan perbedaan antara prosedur administrasi yang dibebankan serta manfaat antenatal dan jenis pelayanan yang diterima wanita di klinik kebidanan. Hubungan antara identifikasi faktor risiko dan keefektifan dari antenatal care terhadap hasil yang diinginkan belum terpenuhi.    Lehrman dan koleganya ingin menjelaskan perbedaan antara pengalaman seorang wanita dengan keseorangan bidan untuk mengaplikasikan konsep kebidanan dalam praktek. Tujuan dari penelitian yang dilakukan Lehrman yaitu mengidentifikasi kompenen- komponen yang saling mempengaruhi dalam praktek kebidanan.
Hasil dari penelitiannya adalah Teori yang dikemukakan oleh Lehrman mencakup 8 konsep yang penting dalam pelayanan antenatal, diantaranya:

a)        Asuhan yang berkesinambungan

b)        Keluarga sebagai pusat asuhan

c)         Pendidikan dan konseling merupakan bagian dari asuhan

d)        Tidak ada intervensi dalam asuhan

e)        Fleksibilitas dalam asuhan

f)         Keterlibatan dalam asuhan

g)        Advokasi dari klien

h)        Waktu
Pada asuhan partisipatif bidan dapat melibatkan klien dalam pengkajian, perencanaan, dan evaluasi. Pasien / klien ikut bertanggung jawab atau mengambil bagian dalam pelayanan antenatal. Dalam pemeriksaan fisik, misalnya palipasi klien akan melakukan pada tempat tertentu atau ikut mendengarkan denyut jantung. Dari ke delapan komponen yang dibuat Lehraman tersebut kemudian diuji cobakan oleh Morten pada tahun 1991 pada pasien pascapartum.
Dari hasil penerapan uji coba tersebut Morten menambahkan tiga komponen lagi pada ke delapan konsep yang dibuat oleh Lehrman yaitu:
1.    Teknik Terapeutik

Proses komunikasi yang sangat penting dalam komunikasi konseling secara khusus yang lebih mengutamakan konsep terapi seorang tenaga kesehatan dalam proses perkembangan dan penyembuhan pasein / klien. Terapeutik dapat dilakukan dengan menunjukkan sikap misalnya:
•    Mendengar dengan aktif

  • Mengkaji masalah
  • Klarifikasi masalah
  • Humor ( tidak bersikap kaku )
  • Sikap yang tidak menuduh
  • Jujur
  • Mengakui kesalahan
  • Pengakuaan fasilitasi ( memfasilitasi )
  • Menghargai hak klien
  • Pemberiaan izin

2.    Pemberdayaan ( Empowerment )

Suatu proses pemberiaan kekuatan dan kekuasaan. Melalui penampilan dan pendekatan bidan dapat meningkatkan kemampuan dalam mengoreksi, mengesahkan, menilai, dan memberi dukungan.
3.    Hubungan Sesama ( Lateral Relationship )

Meliputi menjalin hubungan yang baik dengaan klien, bersikap terbuka dengan klien, sejalan dengan klien sehingga antara klien dan bidan terlihat tampak akrab dan tebina hubungan saling percaya yang harmonis (misalnya, sikap empati, atau berbagi pengalaman).

 

  1. 4.       Teori Ernestine Wiedenbach

Ernestine adalah seorang perawat kebidanan lulusan Fakultas Keperawatan Universitas Yale, yang sangat tertarik pada masalah seputar keperawatan maternitas yang terfokus pada keluarga ( Family – Centered Maternity Nursing ).

Selain berpengalaman sebagai perawat dengan bekerja di klinik selama puluhan tahun, ia juga seorang penulis yang telah menghasilkan beberapa buku dan berpartisipasi dalam beberapa penelitian salah satunya bersama ahli filsafat bernama Dickoff. Konsep yang dihasilkan oleh Ernestine bukan hasil penelitiaan melainkan hasil pemikirannya yang dituangkan dalam bukunya Family – Centered Marternity Nursing.
Konsep yang luas Wiedenbach yang nyata di temukan dalam keperawatan :

1.    The agent ( Perantara )

Meliputi perawat, bidan dan orang lain

Ernestine mengutarakan empat konsep yang mempengaruhi praktik keperawatan yaitu filosofi, tujuan, praktik dan seni. Filosopi yang dikemukakan adalah tentang kebutuhan ibu dan bayi yang segera mengembangkan yang lebih luas yaitu keburuhan untuk persiapan menjadi orang tua.

2.    The recipient ( Penerima )

Meliputi wanita, keluarga, masyarakat. Menurut Wiedenbach adalah untuk memenuhi kebutuhannya terhadap bantuan. Individu penerima harus dipandang sebagai seseorang yang kompeten dan mampu melakukan segalannya sendiri. Jadi perawat atau bidan memberi pertolongan hanya apabila individu tersebut mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya sendiri.

3.    The goal / purpose

Tujuan dari proses keperawatan adalah membantu orang yang membutuhkan bantuan. Perawat atau bidan harus bisa mengidentifikasi kebutuhan pasien yang terlihat melalui prilakunya yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu dengan memperhatika fisik, emosional dan fisiogikal. Untuk bisa mengidentifikasi kebutuhan pasien / klien, bidan atau perawat harus menggunakan mata, telinga, tangan serta pikirannya.

4.    The Means

Metode untuk mencapai tujuan asuhan kebidanan ada empat tahap yaitu

  1. Identifikasi kebutuhan klien, memerlukan keterampilan dan ide
  2. Memberikan dukugan dalam mencapai pertolongan yang dibutuhkan (ministion)
  3. Memberikan bantuan sesuai kebutuhan (validation)
  4. Mengkoordinasi tenaga yang ada untuk memberikan bantuaan (coordination)
    Untuk mengindentifikasi kebutuhan ini diperlukan :
  • Pengetahuan             :  untuk bisa memahami kebutuhan pasien / klien
  • Judgement (penilaian)   :  kemampuan pengambilan keputusan
  • Keterampilan            :  kemampuan perawat / bidan memenuhi kebutuhan
    pasien
  1.  The frame work lingkungan social, organisasi  dan profesi.
    Kelima kelompok Wiedenbach dapat digambarkan dalam bagian :
    •    Identifikasi
  • Mempersiapkan
  • Koordinasi
  • Validasi

 

  1. 5.       Teori Jean Ball

Menurut Jean Ball, respon terhadap perubahan setelah melahirkan akan mempengaruhi personality seseorang dan dengan dukungan mereka akan mendapatkan sistem keluarga dan sosial. Persiapan yang sudah dilakukan bidan pada masa postnatal akan mempengaruhi respon emosional wanita terhadap perubahan akibat proses kelahiran tersebut. Kesejahteraan wanita setelah melahirkan sangat tergantung pada personality atau kepribadian. Sistem dukungan pribadi dan dukungan dari pelayanan maternitas. Ball mengemukakan teori kursi goyang yang dibentuk 3 elemen :

–          Pelayanan Maternitas

–        pandangan masyarakat terhadap keluarga

–        Sisi penyangga atau support terhadap kepribadian wanita

Agar ibu mampu melaksanakan tugasnya sebagai ibu baik fisik maupun psikologis

Teori Ball :

  1. Teori Perubahan
  2. Teori Stress, coping dan Support
  3. Teori dasar

 

Teori Jean Ball dalam Konsep

Women      : Ball memusatkan perhatiannya terhadap perkembangan emosional dalam proses melahirkan

Health       :  Merupakan pusat dari model Ball, tujuan dari postnatal care agar mampu menjadi ibu

Environment  :  Lingkungan sosial dan organisasi dalam sisi dukungan

Midwifery :  Penelitian postnatal

Self            :  Secara jelas kita dapat melihat bahwa peran bidan dalam memberikan dukungan dan membantu seseorang wanita untuk menjadi yakin dengan perannya sebagai ibu.

 

 

 

MODEL KONSEPTUAL ASUHAN KEBIDANAN

Langkah-langkah

a.       Pengkajian

Tujuan nya adalah menetukan Self-care individu, mengidentifikasikan apakah ada atau tidak ada self-care deficit.  Bidan bekerjasama dengan pasien/keluarga dalam merencanakan strategi yang akan mengurangi/menghilangkan deficit yang ada dengan :

  1. Mengurangi kebutuhan self-care
  2. Meningkatkan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan self-care
  3. Memperbolehkan keluarga/orang lain memberikan dependent care
  4. Memenuhi langsung kebutuhan self-care

b.      Perencanaan

Setelah mengidentifikasi slf-care defisit maka data dipakai sebagai pernyataan masalah dalam rencana asuhan kebidanan. Kemudian bidan menentukan sistem asuhan yang totality compensatory, partially, compensatory, atau educatif/supportif serta tujuan yang telah ditentukan oleh bidan-pasien, untuk menghilangkan self-care deficit.

c.       Implementasi

Merupakan tindakan yang mengandung lima bantuan yaitu : melakukan untuk memberi penyuluhan, membimbing, mendukung, dan menciptakan lingkungan untuk menunjang tumbuh kembang.

d.      Evaluasi

Dilakukan terus menerus dengan membandingkan prilaku yang diharapkan dlam tujuan dengan hasil tindakan yang dilakukan

 

MidwiferyCare

Care dalam bahasa Inggris mempunyai arti Memelihara, Mengawasi, memperhatikan dengan sepenuhnya. Dihubungkan dengan kebidanan care disebut sebagai Asuhan. Bidan dalam memegang Prinsip Midwifery Care yaitu:

  1. Mengakui dan mendukung keterkaitan antara fisik, psikis dan lingkungan kultur social
  2. Berasumsi bahwa mayoritas wanita bersalinan ditolong tanpa intervensi
  3. Mendukung dan Meningkatkan persalinan alami
  4. Menggunakan pendekatan pemecahan masalah yang dilandaskan ilmu dan seni
  5. Wanita punya kekuasaan yaitu berdasarkan tanggungjawab bersama untuk suatu pengambilan keputusan, tetapi wanita mempunyai kontrol atau keputusan terakhir mengenai keadaan dirinya dan bayinya
  6. Dibatasi oleh hukum dan ruang lingkup praktik
  7. Berprinsip Women Center Care

Women Centre Care. Yang dimaksud dengan Women Centre Care adalah Asuhan yang berorientasi pada Wanita”. Dalam Hal ini Bidan difokuskan memberikan dukungan pada wanita dalam upaya memperoleh status yang sama di masyarakat untuk memilih dan memutuskan perawatan kesehatan dirinya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh suatu badan yaitu House of Commons Health Committee tahun 1992, disimpulkan bahwa terdapat permintaan yang meluas pada kaum wanita untuk memiliki pilihan yang lebih besar dalam menentukan jenis asuhan maternitas yang mereka dapatkan dan bahwa struktur pelayanan maternitas saat ini membuat mereka frustasi bukan memfasilitasi mereka.
Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya asuhan yang berorientasi pada wanita dimana mereka punya peran dalam menentukan pilihan sehingga terpenihi kebutuhannya dan timbul kepuasaan.

Hal tersebut juga menunjukkan bahwa Asuhan yang berorintasi pada wanita atau Women Centre Care amat penting untuk kemajuan Praktik kebidanan. Women Center Care ini sangat sesuai dengan keinginan ICM (International Confederation Of Midwifery) yang tertuang dalam VISI -nya, yaitu :

  • Bidan memberikan asuhan pada wanita yang membutuhkan askeb
    • Bidan mempunyai otonomi sebagai pemberi asuhan yang menghargai kerjasama team dalam memberikan asuhan untuk seluruh kebutuhan wanita dan keluarga
    • Bidan memegang kunci dalam menentukan asuhan dimasa mendatang termasuk pelayanan kesehatan utama pada komunitas untuk seluruh wanita dan keluarga
    • Bidan bekerjasama dengan wanita dalam memberikan asuhan sesuai dengan harapan wanita

Untuk dapat memberikan Care atau Asuhan yang baik terhadap wanita, bidan harus menerapkan hal-hal berikut ini :

  • • Lakukan Intervensi Minimal
  • • Memberikan asuhan yang komprehensif
  • • Memberikan asuhan yang sesuai kebutuhan
  • • Melakukan segala tindakan yang Sesuai dengan standar, wewenang, otonomi dan kompetensi
  • • Memberikan Informed Content
  • •Memberikan asuhan yang Aman, nyaman, logis dan berkualitas
    • Menerapkan Asuhan Sayang Ibu

Yang dimaksud Asuhan sayang ibu ini adalah :

Asuhan yang tidak menimbulkan penderitaan bagi ibu

Ibu punya otonomi dalam setiap pengambilan keputusan
Asuhan yang berorientasi dengan kebutuhan Ibu
Memberdayakan ibu/wanita dan keluarga
Paradigma Sehat

Derajat kesehatan di Indonesia masih rendah, hal ini menuntut adanya upaya untuk menurunkannya. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan, pemerintah membuat satu model dalam pembangunan kesehatan yaitu PARADIGMA SEHAT. Paradigma Sehat ini pertama kali dicetuskan oleh Prof. Dr.F.A Moeloek (Menkes RI) Pada Rapat Sidang DPR Komisi VI pada Tangal 15 september 1998.
Pengertian Paradigma Sehat

  • • Paradigma Sehat adalah cara pandang, pola pikir, atau model pembangunan kesehatan yang bersifat holistic
  • • Melihat masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersifat lintas sektor
    • Upayanya lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatan,
    •Bukan hanya panyembuhan orang sakit atau pemulihan kesehatan
    Perubahan Paradigma
  • • Paradigma sakit: upaya membuat orang sakit menjadi sehat
    • Paradigma sehat: upaya membuat orang sehat tetap sehat
    Paradigma sehat mengutamakan: upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitative

 
Konsep Baru Tentang Makna Sehat

Sehat adalah sarana atau alat untuk hidup sehari-hari secara produktif.
1. Paradigma Baru Kesehatan

Setelah tahun 1974 terjadi penemuan bermakna dalam konsep sehat serta memiliki makna tersendiri bagi para ahli kesehatan masyarakat di dunia tahun 1994 dianggap sebagai pertanda dimulainya era kebangkitan kesehatan masyarakt baru, karena sejak tahun 1974 terjadi diskusi intensif yang berskala nasional dan internasional tentang karakteristik, konsep dan metode untuk meningkatkan pemerataan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
2. Upaya Kesehatan Program kesehatan yang mengutamakan upaya penyembuhan penyakit dalam jangka panjang dapat menjadi bumerang terhadap program kesehatan itu sendiri.

3. Kebijakan Kesehatan Baru

Perubahan paradigma kesehatan yang kini lebih menekankan pada upaya promotif-preventif dbandingkan dengn upaua kuratif dan rehabilitatif diharapkan merupakan titik balik kebijakan Depkes dal;am menangni kesehatan penduduk yang berarti program kesehatan yang menitik beratkan pada pembinaan kesehatan bangsa bukan sekedar penyembuhan penyakit.

4. Konsekuensi Implikasi dari Perubahan Paradigma

5. Indikator Kesehatan

Indicator-indikator kesehatan yang digunakan dewasa ini yaitu IMR,CDR, One Expectancy, masih cocok disebut sebagai indicator kesehatan penduduk.
6. Tenaga Kesehatan

Peranan dokter, dokter gigi, perawat dan bidan dalam upaya kesehatan yang menekankan penyembuhan penyakit adalah sangat penting. Pengelolaan upaya kesehatan dan pembinaan bangsa yang sehat memerlukan pendekatan holistic yang lebih luas, menyeluruh, dan dilakukan terhadap masyarakat secara kolektif dan tidak individual.

 

Strategi dan Sasaran Utama Pembangunan Kesehatan

Pembangunan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional yang diupayakan oleh pemerintah. Dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di tengah beban dan permasalahan kesehatan yang semakin pelik, dibutuhkan strategi jitu untuk menghadapinya.

Dalam mengatasi masalah kesehatan dapat digunakan beberapa strategi utama, antara lain:
1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat.
Sasaran utama strategi ini adalah seluruh desa menjadi desa siaga, seluruh masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat serta seluruh keluarga sadar gizi.
2. Meningkatkan akses masyarakat tehadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Sasaran utama strategi ini adalah ; Setiap orang miskin mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu; setipa bayi, anak, dan kelompok masyarakat risiko tinggi terlindungi dari penyakit; di setiap desa tersedia SDM kesehatan yang kompeten; di setiap desa

3. Meningkatkan sistem surveillans, monitoring dan informasi kesehatan.
Sasaran utama dari strategi ini adalah : setiap kejadian penyakit terlaporkan secara cepat kepada desa/lurah untuk kemudian diteruskan ke instansi kesehatan terdekat; setiap kejadian luar biasa (KLB) dan wabah penyakit tertanggulangi secara cepat dan tepat
4. Meningkatkan pembiayaan kesehatan.

Sasaran utama dari strategi ini adalah : pembangunan kesehatan memperoleh prioritas penganggaran pemerintah pusat dan daerah; anggaran kesehatan pemerintah diutamakan untuk upaya pencegahan dan promosi kesehatan; dan terciptanya sistem jaminan pembiayaan kesehatan terutama bagi rakyat miskin.
Paradigma dan Konsep Baru Tentang Sehat

Pengertian paradigma sehat menurut Stepen R Covey dalam bukunya : “The Seven Habits of Highly Effective People” The word Paradigm comes from the Greek. It was originally a scientific term. And is more commonly used today to mean a model, theory, concept, perception orientation, assumption or frame of reference. In the general sense, is the way “see” the world, not interm of our visual sense of sight, but in term of perceiving, understanding and interpreting. Sedangkan pada tahun 1950-an definisi WHO tentang sehat adalah keadaan sehat sejahtera fisik, mental, sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. Namun pada tahun 1980-an definisi WHO mengalami perubahan seperti yang tertera dalam UU Kesehatan No. 23/1992 dimana WHO memasukkan unsur hidup produktif sosial dan ekonomi di dalam pengertian tentang sehat.
Secara mikro dengan adanya Paradigma sehat maka Pembangunan kesehatan lebih menekankan pada upaya promotif dan preventif. Paradigma Sehat ini sangat penting karena :

*Paradigma sehat merupakan upaya untuk meningkatkan kesehatan secara proaktif.
*Mendorong masyarakat menjadi mandiri.

*Menyadarkan masyarakat pada pentingnya yang promotif dan preventif.
Paradigma Sehat ini merupakan model dalam pembangunan kesehatan tetapi juga dijadikan model dalam Asuhan Kebidanan, hal ini karena :

  1. Dengan Paradigma sehat akan merubah cara pandang masyarakat tentang kesehatan termasuk kesehatan reproduksi, dan mendorong masyarakat menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya upaya promotif dan preventif.
  2. Mengingat paradigma sehat merupakan upaya untuk menurunkan derajat kesehatan di Indonesia yang utamanya dinilai dari AKI dan AKB, maka Bidan sebagai bagian dari tenaga yang turut bertanggung jawab terhadap menurunnya AKI dan AKB perlu menjadikan paradigma sehat sebagai model.
  3. Paradigma Sehat merupakan suatu gerakan nasional sehingga Bidan pun harus menjadikan paradigma sehat sebagai model atau acuan. Paradigma sehat dikatakan sebagai suatu perubahan sikap, orientasi atau MindSet, Beberapa pandangan yang berubah menjadi Paradigma Sehat, yaitu:
  • • Kesehatan sebagai kebutuhan yang bersifat pasif dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan bersifat aktif karena merupakan keperluan dan bagian dari HAM
    • Kesehatan sebagai konsumtif dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan merupakan suatu investasi karena menjamin adanya SDM yang berproduktif secara sosial dan ekonomi
  • • Kesehatan hanya bersifat penanggulangan jangka pendek dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan bagian upaya pengembangan SDM berjangka panjang.
    • Pelayanan kesehatan bukan hanya pelayanan medis dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan pelayanan kesehatan paripurna, dengan memandang manusia sebagai manusia seutuhnya
  • • Pelayanan kesehatan terpecah-pecah dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan terpadu
  • • Kesehatan hanya jasmani /fisik dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan mencakup mental dan social
  • • Fokus pada penyakit dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan tergantung segmen/permintaan pasar
  • • Sasaran pelayanan kesehatan masyarakat umum dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan tanggung jawab juga masyarakat swasta (private)
    • Kesehatan merupakan urusan pemerintah dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan juga menjadi urusan swasta
  • • Biaya kesehatan publik subsidi pemerintah dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan ditanggung bersama pengguna jasa
  • • Pembayaran biaya setelah pelayanan dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan dapat dibiaya dimuka (JPKM)
  • • Kesehatan berfungsi sosial dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan juga berfungsi ekonomi
  • • Pengaturan secara sentralis dirubah menjadi pandangan bahwa pengaturan desentralisasi
    • Pengaturan secara top down dirubah menjadi pandangan bahwa pengaturan bottom up
  • • Birokratis dirubah menjadi enterpreuner
  • • Masyarakat dubutuhkan Peran sertanya, dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan Kemitraan

 

KESIMPULAN :

 

Dalam menjalankan profesi kebidanan, diperlukan tanggung jawab dan profesionalisme yang tinggi. Untuk mewujudkannya diperlukan beberapa konsep asuhan kebidanan seperti yang telah diuraikan diantaranya : asuhan yang berkesinambungan, keluarga sebagai pusat asuhan, pendidikan dan konseling merupakan bagian dari asuhan, tidak ada intervensi dalam asuhan, fleksibilitas dalam asuhan, keterlibatan dalam asuhan, advokasi dari klien,dan waktu. Serta, di perlukannya perantara ( bidan ), penerima ( pasien/klien ), maksud dan tujuan asuhan kebidanan. Sehingga pemberian pelayanan dari seorang tenaga kesehatan (bidan) kepada pasien/klien terpenuhi. Setiap kebutuhan dalam bantuan pertolongan persalinan, harus diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan pelayanan dalam asuhan kebidanan itu sendiri. Jadikan setiap pasien/klien itu keluarga kita karena dengan begitu akan terwujud hubungan yang harmonis, dan sangat membantu dalam kelancaran pelayanan kesehatan

Konseptual model kebidanan merupakan suatu bentuk pedoman atau acuan yang merupakan kerangka kerja seorang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan dengan tidak terlepas dengan teori yang mempengaruhi. Teori Reva Rubin, Ramona Mercer, Erneistine Weidenbach, Ella Joy Lehrman dan Jean Ball merupakan beberapa teori kebidanan selain teori-teori yang lain yang menunjang model konseptual dalam kebidanan. Yang mana konseptual model merupakan suatu bentuk pedoman atau acuan yang merupakan kerangka kerja seorang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan dengan tidak terlepas dengan teori yang mempengaruhinya.

0 Responses to “handout konsep kebidanan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s