perubahan anfis bumil


HAND OUT

 

Mata kuliah                 : ASKEB LANJUT I

Topik                           : Perubahan Anatomi dan Fisiologi pada Ibu Hamil

Waktu                         : 45 menit.

Dosen                          : Ni Wayan Armini, M.Keb

Obyektif                      : Setelah menyelesaikan mata kuliah ini mahasiswa mampu

memahami dan menganalisis perubahan anatomi dan    fisiologi ibu hamil.

Daftar pustaka :

  1. Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo,DSOG., 1999, Ilmu Kebidanan, Cet-V,  Penerbit  Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirihardjo,Jakarta.
  2. Prof,. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, DSOG., 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, Cet-I, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
  3. Helena Farrer, 2001, Perawatan Maternitas, Cet-I, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
  4. Cunningham, Mac Donald dan Gant, 1995, Obstetri William, Cet-I, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.DepkesRI, Konsep Dasar Asuhan Kebidanan, 2003,Jakarta
  5. Derek L and Jones, Dasar – Dasar Obstetri dan Gynekologi, 2003, Edisi 6
  6. Varney, H., Varney Midwifery, Third Editition, 1997
  7. Salmah, Hj,dkk. Asuhan Kebidanan Antenatal.Jakarta. EGC.
  8. Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan.Jakarta: YBP-SP

 

Bahan dan sumber      : Hand out, OHP,OHT,white board dan multi media.

 

 

 

URAIAN MATERI

 

I. Pendahuluan

            Kehamilan mempengaruhi tubuh ibu secara keseluruhan dengan menimbulkan perubahan fisiologi yang pada hakekatnya terjadi di seluruh sistem organ.Secara fisiologis, tubuh ibu mengalami berbagai  Hal tersebut disebabkan karena tubuh ibu harus :

Melindungi embrio/ janin yang sedang berkembang.

Memberikan semua yang diperlukan oleh embrio/ janin.

Beradaptasi untuk menyediakan tempat bagi pertumbuhan embrio/ janin.

Mempersiapkan pemberian makanannya ketika janin lahir.

Anatomi Maternal dan Perubahan Fisiologi

 

  1. 1.      Trimester I

Ovum yang sudah dibuahi akan membentuk corpus luteum yang yang menghasilkan corionik gonadotropin oleh synsiotropoblast disekitar blastosit dan menjadi corpus luteum gravida.  Korpus tersebut akan mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron untuk mempertahankan implantasi sampai placenta terbentuk.  Dengan terpeliharanya saluran uterin maka tidak akan menstruasi , ini umumnya tanda pertama kehamilan pada pada wanita yang biasanya menstruasi teratur.  pada permulaan implantasi biasanya akan terjadi terdapat spotting pada hari ke 11, setelah itu terdapat rasa nyeri dan pembesaran payudara, kelelahan dan sering kencing serta yang terakhir mual dan muntah yang dimulai sekitar 8 minggu dan mungkin berakhir usia 12 minggu kehamilan.  Tinggi fundus uteri diatas symphisis dan kenaikan berat badan 1 –2 kg.

  1. 2.      Trimester II

Uterus akan tumbuh terus dan pada kehamilan 16 minggu berada pada pertengahan antara symphisisi dan pusat.  Penambahan berat badan sekitar 0,4 – 0,5 kg/mg.  Energi mulai bertambah, pada kehamilan 20 minggu fundus berada dekat dengan pusat , payudara mengeluarkan kolostrum, ibu merasakan gerakan bayi dan terdapat cloasma, linea nigra dan striae gravidarum.

  1. 3.       Trimester III

Pada kehamilan 28 minggu  fundus berada pertengahan antara pusat dan xipoid.  Pada ucia 32 – 36 mg fundus uteri mencapai processus xipoid, payudara terasa penuh  dan nyeri tekan, sering kencing, umur kehamilan 38 minggu presentase bayi masuk/ turun kedalam panggul, sakit punggung, sulit tidur dan kontraksi brakton hicks meningkat.

 

Perubahan fisiologis yang terjadi pada sistem organ tubuh ibu hamil antara lain adalah:

A.     Sistem Reproduksi
  1. 1.      Uterus.

Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertropi otot polos uterus. Disamping itu, serabut-serabut kolagen yang ada pun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin.

Berat uterus normal lebih kurang 30 gram, pada akhir kehamilan  (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram, dengan panjang lebih kurang 20 cm dan tebal  dinding lebih kurang 2,5 cm.

Serabut otot bertambah banyak, tumbuh membesar dan meregang yang    disebabkan oleh stimulasi estrogen dan progesteron, dan terjadi akibat tekanan mekanis dari dalam, yaitu janin, placenta serta cairan ketuban akan memerlukan lebih banyak ruangan. Dinding uterus menipis dan melunak ketika uterus membesar. Pada hamil aterm, tebal dinding tersebut adalah kurang dari 2,5 cm. Pembuluh-pembuluh darah uterus mengalami dilatasi hebat untuk memasok peningkatan volume darah yang sangat besar pada plasenta.

Pada minggu-minggu pertama istmus uteri mengadakan hipertropi seperti korpus uteri. Hipertropi istmus pada triwulan pertama membuat istmus menjadi panjang dan lebih lunak. Hal ini dikenal sebagai tanda Hegar.

Pertumbuhan rahim ternyata tidak sama ke semua arah, tetapi terjadi pertumbuhan yang cepat di daerah implantasi plasenta,sehingga rahim bentuknya tidak sama, yang biasa disebut tanda Piskacek.

Regangan dinding rahim karena besarnya pertumbuhan dan perkembangan janin menyebabkan istmus uteri makin tertarik ke atas dan menipis yang disebut segmen bawah rahim (SBR). Pada kehamilan tua karena kontraksi otot-otot bagian atas uterus, segmen bawah uterus menjadi lebih lebar dan tipis, tampak batas yang nyata antara bagian atas yang lebih tebal dan segmen bawah yang lebih tipis. Batas ini dikenal sebagai lingkaran retraksi fisiologik.

Hubungan antara besarnya rahim dan tuanya kehamilan penting diketahui untuk mengetahui adanya penyimpangan dari keadaan kehamilan normal. Untuk itu sebagai gambaran dapat dikemukakan sebagai berikut :

Pada kehamilan 16 minggu, kavum uteri seluruhnya diisi oleh amnion, dimana desidua kapsularis dan desi dua parietalis telah menjadi satu.Tingginya rahim setengah dari jarak simfisis dan pusat.Plasenta telah terbentuk seluruhnya.

Pada hamil 20 minggu, fundus uteri terletak dua jari di bawah pusat sedangkan pada usia kehamilan 24 minggu tepat ditepi atas pusat.

Pada usia kehamilan 28 minggu tinggi fundus uteri 3 jari atas pusat atau sepertiga jarak antara pusat dan prosesus xypoideus (25 cm).

Pada kehamilan 32 minggu tinggi fundus uteri mencapai setengah jarak antara pusat dengan prosesus xypoideus (27 cm).

Pada kehamilan 36 minggu tinggi fundus uteri sekitar satu jari di bawah prosesus xypoideus (30 cm),dalam hal ini kepala bayi belum masuk pintu atas panggul.

Pada kehamilan usia 40 minggu fundus uteri turun setinggi tiga jari di bawah prosesus xypoideus, oleh karena saat ini kepala janin telah masuk pintu atas panggul.

Uterus pada ibu hamil sering berkontraksi tanpa perasaan nyeri, juga bila disentuh, misalnya pada waktu pemeriksaan dalam, kadang-kadang kita meraba bahwa sewaktu pemeriksaan, konsistensi rahim dari lunak menjadi keras,kemudian lunak kembali.Apabila rahim sudah dapat diraba dari luar, maka kotraksi ini dapat dirasakan dengan palpasi. Kontraksi ini dianggap sebagai tanda kehamilan yang dikenal dengan nama kontraksi dari Braxton Hicks.

  1. 2.      Serviks.

Karena pengaruh hormone estrogen, serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan.Jika korpus uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka serviks lebih banyak mengandung jaringan ikat ,dan hanya 10% jaringan otot.Jaringan ikat pada serviks ini banyak mengandung kolagen. Akibat kadar estrogen yang meningkat , dan dengan adanya hipervaskularisasi maka konsistensi serviks menjadi lunak.

Kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. Kadang-kadang wanita yang sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan pervagina lebih banyak. Keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan yang fisiologik.

Pada akhir kehamilan serviks menjadi lunak sekali dan portio menjadi pendek dan dapat dimasuki dengan mudah oleh satu jari. Serviks yang demikian disebut serviks yang matang.

  1. 3.      Ovarium.

            Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung korpus luteum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna kira-kira pada usia 16 minggu.Korpus luteum grafiditas berdiameter ± 3 cm, kemudian mengecil setelah plasenta terbentuk. Plasenta juga mengambil alih fungsi korpus luteum untuk mengeluarkan hormone estrogen dan progesteron. Dalam dasawarsa terakhir ditemukan pada awal ovulasi hormon relaxin, suatu immunoreactive inhibin dalam sirkulasi maternal. Diperkirakan korpus luteum adalah tempat sintesis dari relaxin pada awal kehamilan. Kadar relaxin di sirkulasi maternal dapat ditentukan dan meningkat pada trimester pertama. Relaxin mempunyai pengaruh menenangkan hingga pertumbuhan janin menjadi baik hingga aterm.

  1. 4.      Tuba fallopii.

      Muskulatur tuba fallopii mengalami sedikit hipertropi selama kehamilan. Epitelium mukosa tuba menjadi gepeng selama kehamilan, disbanding pada keadaan tidak hamil. Sel-sel desidua dapat berkembang didalam stroma endosalping, tetapi suatu membran desidua kontinyu tidak terbentuk.

  1. 5.      Vagina.

      Hipervaskularisasi yang menyolok terjadi di vagina. Sekresi yang banyak sekali dan warna ungu vagina yang khas pada kehamilan biasa disebut tanda Chadwick, yang mirip dengan perubahan pada serviks pada kehamilan, mungkin terutama disebabkan oleh hyperemia. Dinding vagina mengalami perubahan menyolok yang tampaknya untuk mempersiapkan distensi yang terjadi pada persalinan, dengan penambahan ketebalan mukosa yang cukup besar,pengendoran jaringan penyambung, dan hipertropi sel-sel otot polos sampai hampir sama pada uterus. Perubahan ini mempengaruhi bertambah panjangnya dinding vagina sehingga kadangkala, pada wanita yang sering melahirkan, bagian bawah dinding  vagina anterior sedikit menonjol keluar melewati muara vulva. Getah dalam vagina biasanya juga bertambah selama kehamilan dengan reaksi asam pH 3,5 – 6. Reaksi asam ini disebabkan terbentuknya acidum lakticum sebagai hasil penghancuran glikogen yang berada dalam sel-sel epitel vagina oleh basil doderlain. Dan reaksi asam ini bersifat bakterisida.

 

  1. 6.      Vulva dan perineum

      Selama kehamilan hipervaskularisasi dan hyperemia timbul di kulit dan otot-otot perineum dan vulva yang tampak menjadi lebih merah agak kebiruan (livide), dan terdapat perlunakan jaringan penyambung yang normalnya banyak sekali pada struktur ini.

 

B.  Payudara

       Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat terlepas dari pengaruh hormone saat kehamilan yaitu: estrogen, progesterone dan somatomammotropin.

Fungsi hormone mempersiapkan payudara untuk pemberian ASI dijabarkan sebagai berikut:

a.Estrogen berfungsi :

Menimbulkan hipertropi sistem saluran payudara.

Menimbulkan penimbunan lemak dan air serta garam sehingga payudara tampak makin membesar.

Tekanan serat saraf akibat penimbunan lemak, air dan garam menyebabkan rasa sakit pada payudara.

b. Progesteron berfungsi :

Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi.

Menambah sel asinus.

c. Somatomammotropin berfungsi :

Mempengaruhi sel asinus untuk membuat kasein, laktalbumin dan laktoglobulin.

Penimbunan lemak sekitar alveolus payudara.

Merangsang pengeluaran kolostrum pada kehamilan.

Penampakan payudara pada ibu hamil adalah sebagai berikut :

Payudara menjadi lebih besar.

Hiperpigmentasi areola dan papila payudara.

Glandula Montgomery makin tampak.

Papila makin menonjol.

Pengeluaran ASI belum berlangsung karena prolaktin belum berfungsi, karena hambatan dari PIH (prolaktin inhibiting hormone) untuk mengeluarkan ASI.

Setelah persalinan, hambatan prolaktin tidak ada sehingga pembuatan ASI dapat berlangsung.

  1. C.     Sistem endokrin.

Segala perubahan fisik yang dialami wanita hamil berhubungan dengan  beberapa system yang disebabkan oleh khusus dari hormone. Perubahan ini terjadi dalam rangka persiapan perkembangan janin, menyiapkan tubuh ibu untuk bersalin, perkembangan payudara, untuk pembentukan/produksi ASI selama masa nifas. Pada minggu-minggu pertama kehamilan, korpus luteum menghasilkan estrogen dan progesterone, yang memiliki fungsi utama untuk mempertahankan pertumbuhan desidua yang berfungsi untuk perkembangan janin. Sel-sel trofoblasta yang akan menghasilkan HCG yang berfungsi untuk mempertahankan korpus luteum sampai placenta berfungsi optimal. HCG itu dapat terdeteksi di plasma/urine ibu pada hari ke-8 sampai hari ke-9 setelah ovulasi. Kadarnya meningkat sejak implantasi hingga mencapai puncaknya pada sekitar hari ke-60 sampai hari ke-70. setelah itu konsentrasinya menurun secara bertahap sampai titik terendah dicapai pada hari ke-100 sampai 130.

Placenta berfungsi untuk mengekskresikan HCG, estrogen, progesterone, laktogenik, dan relaksin. Pada kehamilan, sekresi kelenjar hypofise umumnya menurun, selanjutnya meningkatkan sekresi semua kelenjar endokrin. Prolaktin akan meningkat secara berangsur0angsur menjelan akhir kehamilan, fungsi prolaktin disupresi sampai placenta dilahirkan dan kadar estrogen menurun. Berikut perubahan sistem endokrin pada masa kehamilan:

  1. Hormon placenta

Sekresi kelenjar placenta dan HCG dari placenta mengubah organ endokrin secara langsung. Peningkatan kadar estrogen menyebabkan produksi globulin meningkat dan menekan produksi tiroksin, kortikostiroid, dan steroid, dan akibatnya plasma yang mengandung hormon-hormon ini akan meningkat jumlahnya, tetapi kadar hormon bebas tidak mengalami peningkatan besar.

  1. kelenjar hypofisis

berat kelejar hypofisis anterior, meningkat sampai 30-50% yang menyebabkan wanita hamil menderita pusing. Sekresi prolaktin, hormon adrenokortikotropik, hormon tirotropik dan melanocyt stimulating hormon meningkat. Produksi hormon perangsang folikel dan luteinizing hormon dihambat oleh estrogen dan progesteron placenta.

Efek meningkatnya sekresi prolaktin adalah ditekannya produksi estrogen dan progesteron pada masa kehamilan. Setelah placenta lahir, konsentrasi prolaktin plasma akan menurun. Penurunan ini akan terus berlangsung sampai saat ibu menyusui.tetapi prolaktin masih tetap diproduksi karena adanya rangsanagn isapan ayi yang juga menstimulasi produksi air susu. Penelitian terbaru mengatakan tidak ada bukti akurat yang dapat membuktikan kontraksi yang disebabkan karena penurunan kadar progesteron.

  1. kelenjar tiroid

dalam kehamilan, normalnya ukuran kelenjar tiroid akanmengalami pembesaran kira-kira 13 % karena adanya hiperplasi jaringan glandula dan peningkatan voskularitas. Secara fisiologis akan terjadi peningkatan ambilan iodin sebagai kompensasi kebutuhan ginjal terhadap iodin yang meningkatkan laju filtasi glomerulus. Beberapa penelitian juga menjelaskan penyakit gondok disebabkn oleh karena defisiensi iodin. Kadang-kadang kehamilan menunjukkan hipertiroid, fungsi tiorid biasanya normal. Namun peningkatan konsentrasi T4 (tiroksin) dan T3 (triodotironin) juga dapat merangsang peningkatan laju metabolisme basal. Hal ini desebabkan oleh produksi estrogen stimulated hepatik dari tiroksin yang menekan globulin.

 

 

  1. Kelnjar Adrenal

Kelenjar adrenal memproduksi lebih banyak kortisoltermasuk ACHT plasma bebas dan kortikosteroid karena dirangsang oleh estrogen. Hal in terjadi pada UK 12 minggu sampai masa aterm. Kortisol bebas menekan produksi ACHT, sehingga adanya gangguan feed-back. Kortisol yang meningkat ini mempunyai efek yang berlawanan dengan insulin. Dengan adanya kadar glukosa dalam darah, adanya asam lemak dan produksi glikogen, dan menurunnya tingkat penyebaran glukosa oleh otot dan lemak, dapat membuat kebutuhan fetus akan glukosa terpenuhi. Peningkatan konsentrasi kortisol bebas pada saat masa kehamilan juga mneyebabkan hiperglikemia pada saat setelah makan.

Peningkatan plasma kortisol bebas juga dapat menyebabkan ibu hamil mengalami kegemukan di bagian-bagian tertentu karena adanya penyimpanan lemak dan juga adanya dapat merangsang striae gravidarum. Karena adanya stimulasi dari estrogen dan progesteron, maka terjadilah peningkatan konsentrasi renin yang besar yang diproduksi oleh kortex adrenal pada saat kehamilan 12 minggu yang berfungsi sebagai tambahan, selain renin yang diproduksi di uterus dan korion. Peningkatan kortisol dan tekanan darah merangsang sistem reno-angiostensin dapat juga menjaga keseimbangan efek hilangnya garam yang disebabkan oleh kortex adrenal. Kadar aldosteron meningkat sampai 200-700 mg/dl sampai akhir kehamilan, sedangkan kadar aldosteronpada wanita tidak hamil adalah 100-200 mg/dl.

Efek dari aldosteron adalah meningkatnya penyerapan natrium, yang dapat memberikan keseimbangan bagi tubuh karena garam yang hilang dan sekresiair meningkat. Ketidakseimbangan zat-zat ini, dapat menyebabkan wanita hamil tersebut mengabsorpsi kembali natrium dari ginjal sehingga mempengaruhi keadaan cairan tubuh yang dapat menyebabkan hipertensi.

Peningkatan angiostensin II juga kan meningkatkan tekanan darah dengan cepat jika tidak ada vasodilator oleh prostaglandin dan prostasiklin. HCG mengurangi respon imunitas dalam kehamilan. Kadar imunoglobulin IgG dan IgM menurun dari usia kehamilan 10-30 minggu dan tetap pada kadar ini sampai aterm. Titer antibody terhadap cacar, influenza A, dan herpes simpleks mengalami pengurangan sebagai efek dari hemodelusi, karena itu resistensi terhadap virus dapat berubah.

Placenta juga mensintesis sejumlah hormon-hormon protein dan peptida. Seperti laktogen plasenta (h PL), gonadotropin (hCG), adrenokortikotropik (ACTh). Placenta juga menghasilkan inhibin, aktivin, dan peptida natriuretik atrium (obstetri William, vol 1.2006)

 

Tabel laju produksi steroid pada wanita hamil dan hamil

Steroid

Laju produksi (mg/24 jam)

Tidak hamil

Hamil

Estadiol-17 β

Estriol

Progesteron

Aldosteron

Deoksikortiokosteron

kortison

0,1-0,6

0,02-0,1

0,1-40

0,05-0,1

0,05-0,5

10-30

15-20

50-150

250-600

0,250-0,600

1-12

10-20

Estrogen dan progesteron diproduksi oleh placenta. Aldosteron diproduksi oleh kelenjar adrenal ibu sebagai respons terhadap rangsang angiostensin II. Deoksikortikosteron dihasilkan di jaringan ekstrakelenjar. Pembentukan kortisol selama kehamilan tidak meningkat, walaupun kadar dalam darah meningkat akibat naiknya globulin pengikat kortison.

 

Perubahan hormonal pada kehamilan mengakibatkan perubahan fisiologis pada waktu kehamilan. Adapun beberapa masalah fisiologis umum yang dihadapi akibat perubahan hormonal adalah:

 

 

 

 

Tabel fisiologis masalah umum selama hamil

Keluhan

fisiologis

intervensi

Trimester I

  1. Perubahan payudara, terasa lembek, geli, dan nyeri

 

 

  1. rasa letih, lesu, lemah

 

 

 

  1. mual dan muntah

 

 

 

 

  1. hidung tersumbat, kadang mimisan

 

  1. keputihan

 

 

 

Akibat peningkatan hormon somatomamotropin, estrogen, dan peningkatan progesteron

Adanya peningkatan hormon progesteron, estrogen, dan HCG pada awal kehamilan

Perubahan HCG

 

 

 

 

Hiperemia mukosa mulut karena peningkatan estrogen

Peningkatan estrogen

 

Hanya sementara, atasi dengan kompres hangat

 

 

 

Istirahat secukupnya

 

 

 

Makan dalam porsi sedikit tapi sering, minum teh hangat, hindari makanan berbau tajam dan berbumbu

Irigasi dengan inhaler, dan hindari trauma

 

Sulit dicegah, rawat dengan menjaga kebersihan vulva

Trimester II

  1. Pigmentasi, jerawat, kulit berminyak
  2. tahi lalat bertambah

 

  1. telapak tangan merah

 

 

  1. sering pingsan

 

  1. perasaan terbakar pada dada

 

  1. sembelit
 

Hormon MSH dari hipofisis anterior

Dilatasi arteriole akibat peningkatan estrogen

Hiperestrogen

 

 

Gangguan vasomotor/hormonal

Progesteron memperlambat gerak usus

 

Saluran pencernaan lambat akibat progesteron meningkat

 

Sembuh sendiri selama laktasi dan ifas

Sembuh sendiri selama laktasi

Menghilang seminggu postpartum

 

Latihan fisik ringan

 

Hindari makanan mengandung gas dan lemak

Latihan fisik ringan, minum air 6 gelas sehari

Trimester III

Rasa khawatir dan cemas

 

Penyesuaian hormonal

 

Relaksasi

 

Selama minggu-minggu pertama, korpus luteum dalam ovarium menghasilkan estrogen dan progesteron, fungsi utamanya pada stadium ini adalah untuk mempertahankan pertumbuhan desidua dan mencegah pelepasan serta pembebasan desidua tersebut. Sel-sel trofoblast menghasilkan hormon korionik gonadotropin yang akan mempertahankan korpus luteum sampai plasenta berkembang penuh dan mengambil alih produksi estrogen dan progesteron dari korpus luteum. Setelah plasenta mengambil alih, sekresi estrogen dan progesteron mengalami peningkatan yang nyata. Kadar kedua hormon ini tetap tinggi sampai sesaat sebelum aterm, ketika fungsi plasenta dengan rentang usia yang terbatas mulai mengalami penurunan. Ketika hal ini terjadi, kadar hormon plasenta mulai menurun.

Estrogen merupakan faktor yang mempengaruhi :

Pertumbuhan fetus.

Pertumbuhan payudara.

Retensi air dan natrium.

Pelepasan hormon hipofise.

Progesteron mempengaruhi tubuh ibu melalui :

Relaksasi otot polos.

Relaksasi jaringan ikat.

Kenaikan suhu.

Pengembangan duktus laktiferus dan alveoli.

Perubahan sekretorik dalam payudara.

Hormon-hormon plasenta lainnya.

Disamping korionik gonadotropin, estrogen dan progesteron, plasenta menghasilkan dua hormon spesifik lainnya, yaitu hormon laktogenik dan relaksin. Hormon laktogenik plasenta meningkatkan pertumbuhan, menstimulasi perkembangan payudara dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam metabolisme lemak maternal. Kadar hormon laktogenik plasenta sebagaimana namanya relaxin memberikan efek relaksan, khususnya pada jaringan ikat.

 

Perubahan endokrin lainnya:

Sekresi kelenjar hipofise umumnya menurun, dan penurunan ini selanjutnya akan meningkatkan sekresi semua kelenjar endokrin (khususnya kelenjar tiroid, paratiroid dan adrenal). Kadar hormon hipofise, prolaktin meningkat secara berangsur-angsur menjelang akhir kehamilan, namun fungsi prolaktin dalam memicu laktasi disupresi sampai plasenta dilahirkan dan kadar estrogen menurun.

Estrogen

Progesteron

Pengaruh-pengaruh umum

Menyebabkan pertumbuhan pada ukuran dan jumlah sel Peningkatan sekresi, mengendurkan (relaksasi) otot-otot polos

Pengaruh-pengaruh Khusus

  1. Menyebabkan penebalan dari endometrium sehingga ovum yang sudah dibuahi dapat berimplantasi
    1. menyebabkan penebalan dari endometrium sehinga ovum yang sudah dibuahi dapat berimplantasi, menyebabkan relaksasi
    2. menyebabkan hypertrofi dari dinding uterus dan peningkatan ukuran pembuluh darah dan limpatik yang mengakibatkan peningkatan vaskularisasi, kongesti dan edema.
Perubahan ini berakibat:

Tanda chadwick: vulva dan vagina menjadi berwarna ungu/biru

Tanda goodell: serviks menjadi lembut dalam perabaan

Tanda hegar: istmus menjadi lembut

  1. mengistirahatkan otot-otot polos yang berakibat:
  2. meningkatnya waktu pengosongan lambung dan peristaltik
  3. meningkatnya gastric refluks karena relaksasi cardiac spincter sehingga menimbulkan rasa panas dalam perut (heart burn)
  4. penurunan peristaltik GI sehingga terjadi konstipasi
  5. pembuluh arteri dan dinding vena relaksasi dan dilatasi sehingga meningkanya kapasitas vena dan venula maka terjadi hemoroid
  6. Hypertrofi dan hyperplasia otot-otot uterus
    1. menjaga peningkatan suhu basal ibu
    2. hypertrofi dan hyperplasia jaringan payudara termasuk sistem pembuluh/duktus
      1. merangsang perkembangan sistem alveolar payudara
  Dengan hormon relaksin melembutkan/mengendurkan jaringan ikat.ligamen-ligamen dan otot sehingga terjadi nyeri punggung dan nyeri ligamen

 

HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN (HCG)

DAN TES KEHAMILAN

 

Kehamilan adalah suatu keadaan fisiologi, akan tetapi pentingnya diagnosis kehamilan tidak dapat diabaikan. Salah satu hormon khas yang dihasilkan pada saat kehamilan Human Chorionic Gonadotropin (HCG). HCG sering disebut “Hormon Kehamilan”. HCG adalah suatu glukoprotein dengan aktivitas biologis yang sangat mirip dengan Luteinizing Hormon (LH) dan keduanya sama-sama bekerja melalui reseptor LH/HCG plasma. Selain kehamilan, berbagai tumor ganas juga menghasilkan HCG, kadang-kadang dalam jumlah membran sangat banyak, utamanya penyakit trofoblas ganas. Pada wanita tidak hamil dan pria, HCG juga diproduksi dalam jumlah sangat sedikit, mungkin terpusat di kelenjar hipofisis anterior. Namun demikian, deteksi HCG dalam darah atau urin hampir selalu menunjukkan kehamilan.

 

KARAKTERISTIK KIMIAWI

HCG adalah hormon dengan kandungan karbohidrat tertinggi (30%), komponen asam sialat terminal melindungi molekulnya dari katabolisme. HCG terdiri dari dua subunit a dan b. HCG disintesis di sinsitiotrofablas. HCG diproduksi oleh sinsitiotrofoblast, dan tidak oleh sitotrofoblas.

 

KONSENTRASI HCG DALAM SERUM DAN URINE

Molekul HCG lengkap dapat dideteksi dalam plasma wanita hamil sekitar 7,5 sampai 9,5 hari setelah lonjakan LH di pertengahan siklus yang mendahului ovulasi. Dengan demikian, besar kemungkinan bahwa HCG memasuki darah ibu pada saat implantasi blastokista. Setelah ini, kadar HCG dalam darah meningkat pesat dengan kadar maksimum tercapai pada usia kehamilan sekitar 8 sampai 10  minggu. Pada hari yang sama dapat dijumpai fluktuasi kadar HCG plasma yang cukup besar, dan terdapat bukti bahwa sekresi hormon-hormon protein oleh trofoblas bersifat episodik. Konsentrasi HCG dalam urin ibu hampir sejajar dengan konsentrasi dalam plasma, yaitu sekitar 1 lu/ml pada minggu ke-6 setelah hari pertama haid terakhir, meningkat ke nilai rata-rata sekitar 100 lu/ml pada hari ke-60 sampai 80 setelah haid terakhir. Kadar HCG dalam plasma wanita hamil dapat mencapai 15 mg/ml. Dimulai pada sekitar minggu ke-10 sampai 12. Kadar HCG dalam plasma ibu mulai berkurang, dengan nadir tercapai pada sekitar minggu ke-20. Kadar HCG dalam plasma dipertahankan pada kadar rendah ini sepanjang sisa masa kehamilan. Pada kemunculan HCG dalam darah janin serupa dengan yang dijumpai pada ibu, tetapi kadar HCG dalam plasma janin hanya sekitar 3% dari plasma ibu. Konsentrasi HCG dalam cairan amnion pada awal kehamilan setara dengan yang terdapat dapat plasma ibu, seiring dengan perkembangan kehamilan konsentrasi HCG dalam cairan amnion menurun, menjelang aterm kadarnya tinggal seperlima.

 

FUNGSI HCG

Fungsi HCG untuk pemeliharaan korpus luteum untuk mempertahankan pembentukan progesteron. Kadar HCG dalam darah dan urin wanita hamil, dalam konsentrasi sangat tinggi bisa menandakan terjadinya molahidatidosa atau kariokarsinoma. Kadar HCG plasma yang relatif tinggi dapat dijumpai pada TW II dengan sindrom down. Penyebabnya mungkin plasentanya kurang matang. Kadar HCG plasma yang rendah dapat dijumpai pada kehamilan ektopik dan abortus imineus.

 

KADAR HCG PADA KEHAMILAN

Hormon HCG hanya diproduksi oleh sinsitrotrofoblas, dan tidak oleh sitotrofoblas. Produksinya sudah dimulai pada awal kehamilan, kira-kira pada hari implantasi. Dengan uji yang peka, hormon ini dapat dideteksi diplasma atau urin ibu pada hari ke-8 sampai hari ke-9 setelah ovulasi. Kadarnya meningkat sejak hari implantasi hingga mencapai puncaknya pada sekitar hari ke-60 sampai 70. Setelah itu, konsentrasinya menurun secara bertahap sampai titik terendah dicapai pada sekitar hari ke-100 sampai 130.

 

 

UJI KEHAMILAN

Terdapat sejumlah perangkat uji kehamilan yang beredar di pasaran dengan harga terjangkau. Uji kehamilan ini dapat dibaca dalam 3 sampai 5 menit, dengan tingkat akurasi yang tinggi, dan tingkat kecermatan yang tinggi pada tahap tertentu. Sistem yang digunakan dalam berbagai perangkat berbeda-beda, namun masing-masing berpegang pada prinsip yang sama : pengenalan HCG (atau subunitnya) oleh suatu antibodi terhadap molekul HCG atau epitop subunit b, semua tes kehamilan yang ada saat ini mendeteksi keberadaan HCG. Deteksi dini kehamilan memungkinkan perawatan dimulai dini. HCG dapat diukur dengan radioimunoesai dan dideteksi dalam darah enam hari setelah konsepsi atau sekitar 20 hari sejak periode menstruasi terakhir. Keberadaan hormon ini dalam urine pada awal kehamilan merupakan dasar berbagai tes kehamilan dilaboratorium dan kadang-kadang dapat dideteksi di dalam urine 14 hari setelah konsepsi. Tes yang kurang sensitif mungkin tidak akurat sampai empat hingga sepuluh hari setelah terlambat bulan atau tiga minggu setelah konsepsi. Spesimen urine yang pertama kali dikeluarkan di pagi hari (urine yang didiamkan minimal selama enam jam) mengandung kadar HCG yang kira-kira sama dengan kadar HCG di dalam serum. Kadar HCG di dalam serum meningkat secara eksponensial antara hari ke-21 dan ke-70. Sampel urine yang diambil secara acak biasanya memiliki kadar yang lebih rendah. Kemampuan untuk mengenali subunit beta HCG merupakan inovasi terbaru evolusi tes endokrin untuk mendeteksi kehamilan.

 

REAKSI IMUNOLOGIK

Pada tahun-tahun terakhir ini dipakai cara imunologik untuk mengetahui ada atau tidaknya HCG dalam urine. Keuntungan ialah lebih cepat, akurat dan dengan titer yang rendah reaksi telah positif. Dasarnya adalah suatu reaksi antigen-antibody dimana HCG bersifat antigen oleh karena terdiri dari polipeptida. Umumnya dipakai cara haemo-agglutination inhibition. Reaksi kehamilan ini tergantung dari berapa HCG beredar dan 0,5 satuan internasional HCG per ml air kencing adalah kadar terendah untuk memberi hasil positif. Kadar 500 satuan internasional HCG sehari baru didapatkan pada 8 hari sesudah haid yang tidak datang, atau 20 hari sesudah terjadi pembuahan.

 

KESIMPULAN

HCG atau Human Chorionik Gonadotropin adalah suatu glikoprotein dengan aktivitas biologis yang sangat mirip dengan Luteinizing Hormon )LH). HCG terdiri dari dua subunit a dan b, disintesis di sinsitiotrofoblas, dan diproduksi oleh sinsitiotrofoblast dan tidak oleh sitotrofoblas. Molekul HCG lengkap dapat dideteksi dalam plasma wanita hamil sekitar 7,5 sampai 9,5 hari setelah lonjakan LH di pertengahan siklus yang mendahului ovulasi. Kadar HCG dalam darah meningkat pesat dengan kadar maksimum tercapai pada usia kehamilan sekitar 8 sampai 10 minggu. Konsentrasi HCG dalam urin ibu hampir sejajar dengan konsentrasi dalam plasma, yaitu sekitar 1 lu/ml pada minggu ke-6 setelah hari pertama haid terakhir, meningkat ke nilai rata-rata sekitar 100 lu/ml pada hari ke-60 sampai 80 setelah haid terakhir. Kadar HCG dalam plasma wanita hamil dapat mencapai 15 mg/ml. Dimulai pada sekitar minggu ke-10 sampai 12, HCG dalam plasma ibu mulai berkurang, dengan nadir tercapai pada sekitar minggu ke-20. Konsentrasi HCG dalam cairan amnium menurun, menjelang aterm kadarnya tinggal seperlima.

 

 

0

Minggu Gestasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Grafik.  Rata-rata Konsentrasi HCG dan Laktogen Plasenta dalam Serum Wanita Hamil

Sumber  :  Cunningham, 2006. Hal. 28.

 

Dengan demikian, tes kehamilan dapat dilakukan dengan menggunakan test pack enam hari setelah konsepsi atau sekitar 20 hari sejak periode menstruasi terakhir. Sedangkan tes kehamilan dilaboratorium dapat dilakukan 14 hari setelah konsepsi. Namun, tes kehamilan tergantung pada sensitivitas alat dan kadar hormon yang berbeda-beda pada setiap orang. Tes yang kurang sensitif mungkin tidak akurat sampai empat hingga sepuluh hari setelah terlambat bulan atau tiga minggu setelah konsepsi.

 

 

  1. D.    Sistem kardiovaskuler

Peningkatan curah jantung terjadi akibat peningkatan volume darah. Jantung harus memompa dengan kekuatan yang lebih besar, khususnya pada saat menjelang aterm, sehingga terjadi sedikit dilatasi. Progesteron akan menimbulkan relaksasi otot-otot polos dan menyebabkan dilatasi dinding pembuluh darah yang akan mengimbangi peningkatan kekuatan dari jantungDengan demikian tekanan darah harus tetap atau mendekati nilai pada keadaan tidak hamil. Walaupun demikian, seorang wanita hamil cenderung mengalami hipotermi supinasio kalau berbaring terlentang, karena vena kava inferior akan tertekan oleh isi uterus yang berat.

Penyesuaian maternal terhadap kehamilan melibatkan perubahan system kardiovaskuler yang ekstensif, baik aspek anatois dan fisiologis. Adaptasi kardiovaskuler melindungi fugsi  fisiologis normal wanita, memenuhi kebutuhan metabolic wanita hamil, dan menyediakan kebutuhan untuk perkembangan dan pertumbuhan janin.

Hipertrofi (pembesaran) atau dilatasi ringan jantung mungkin disebabkan oleh peningkatan volume darah dan curah jantung. Karena diafragma terdorong ke atas, jantung terangkat ke atas dan berotasi ke depan dank e kiri.impuls pada apeks, titik impuls maksimum bergeser ke atas dan lateral sekitar 1-1,5 cm. derajat pergeseran bergantung pada lama kehamilan dan ukuran serta posisi uterus. Antara minggu ke-14 dan ke-20, denyut meningkat perlahan, mencapai 10 sampai 15 kali per menit, kemudian menetap sampai aterm.

 

Tekanan Darah

Tekanan darah arteri (arteri brakialis) bervariasi sesuai usia. Ada faktor-faktor tambahan yang harus dipertimbangkan, meliputi:

–          Posisi ibu

–          Kecemasan ibu

–          Ukuran manset

Posisi ibu mempengaruhi hasil karena posisi uterus dapat menghambat aliran balik vena, dengan demikian curah jantung dan tekanan darah menurun. Tekanan darah brakialis tertinggi saat wanita duduk, terendah saat wanita berbaring pada posisi rekumben lateral kiri, sedangkan posisi telentang tekanan darah berada diantara kedua sisi tersebut. Oleh karena itu, pada setiap kunjungan, gunakan lengan dan posisi yang sama untuk mengukur tekanan darah. Selama pertengahan pertama masa hamil, tekanan sistolik dan diastolik menurun 5-10 mmHg. Penurunan tekanan darah ini kemungkinan disebakan oleh vasodilatasi perifer akibat perubahan hormonal selama masa hamil. Selama trimester ketiga, tekanan darah ibu harus kembali ke nilai tekanan darah selama trimester I.

Apabila wanita berbaring telentang, vena kava mendapat penekanan dengan derajat tertentu selama pertengahan kedua masa kehamilan. Beberapa wanita mengalami penurunan tekanan sistolik sebesar ≥ 30 mmHg. Setelah 4-5 menit, refleks bradikardia terlihat, curah jantung menurun menjadi setengahnya, dan wanita tersebut merasa pusing. Edema pada ekstremitas bawah varices terjadi akibat obstruksi vena illiaka dan vena cava inferior oleh uterus. Hal ini juga menyebabkan tekanna vena meningkat.

 

Volume darah dan komposisi darah

Volume darah meningkat sekitar 1500 cc ( nilai normal : 8,5%-9% berat badan). Peningkatan terdiri atas 1000 ml plasma ditambah 450 ml sel darah merah. Peningkatan volume mulai terjadi pad sekitar minggu ke-10 sampai ke-12, mencapai puncak sekitar 30-50% di atas volume tidak hamil pada minggu ke -20 sampai ke -26, dan menurun setelah minggu ke -32. peningkatan volume merupakan mekanisme protektif, dan keadaan ini sangat penting untuk:

  1. sistem vaskular yang mengalami hipertrofi akibat pembesaran uterus
  2. hidrasi jaringan janin dan ibu yang adekuat saat ibu berdiri/telentang
  3. cadangan cairan untuk mengganti darah yang hilang selama proses melahirkan dan puerperium.

Selama masa hamil terjadi percepatan produksi eritrosit. Massa sel darah merah meningkat 30-33% pada kehamilan aterm, jika ibu mengkonsumsi suplemen besi, tapi jika tidak hanya meningkat 17%.

 

Curah jantung

Curah jantung meningkat dari 30-50% pada minggu ke-32 kemudian menurun sampai sekitar 20% pada minggu ke-40. peningkatan curah jantung disebabkan oleh peningkatan volume sekuncup (stroke volume) yang merupakn respons terhadap peningkatan kebutuhan oksigen jaringan (normal: 5-5,5 liter/menit).

 

Waktu sirkulasi dan waktu koagulasi

Waktu sirkulasi mengalami penurunan pada minggu ke -32. kecenderungan koagulasi lebih besar selama masa kehamilan dan juga aktivitas fibrinoloitiknya.

 

  1. E.      Darah

Selama kehamilan, sirkulasi darah ibu dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula,payudara dan alat lain-lain yang memang berfungsi berlebihan dalam kehamilan. Selama hamil, volume darah ibu meningkat secara fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia. Volume darah akan bertambah banyak, ± 25%, dengan puncak kehamilan 32 minggu, diikuti dengan kardiak out put yang meningkat sebanyak ± 30%.

Eritropoesis dalam kehamilan juga meningkat untuk memenuhi keperluan transport zat asam yang dibutuhkan sekali dalam kehamilan. Meskipun ada peningkatan dalam volume eritrosit secara keseluruhan, tetapi penambahan volume plasma jauh lebih besar, sehingga konsentrasi hemoglobin dalam darah menjadi lebih rendah. Hal ini tidak boleh dinamakan anemia fisiologik dalam kehamilan, oleh karena jumlah hemoglobin pada wanita hamil dalam keseluruhannya lebih besar daripada sewaktu belum hamil.

Jumlah lekosit meningkat sampai 10.000 per ml, dan produksi trombositpun meningkat pula.

Gambaran protein dalam serum berubah, jumlah protein, albumin dan gammaglobulin menurun dalam triwulan pertama dan baru ,meningkat perlahan-lahan pada akhir kehamilan, sedangkan betaglobulin dan bagian-bagian fibrinogen terus meningkat. Laju endap darah pada umumnya meningkat sampai empat kali,sehingga dalam kehamilan tidak dapat di pakai sebagai ukuran. Segera postpartum,sirkulasi antara uterus dan plasenta berhenti,sejumlah darah untuk sirkulasi umum akan membebani jantung dan bila ada visium kordis,dapat timbul dekopensasi kordis. Setelah partus,terjadi pula hemokonsentrasi dengan puncaknya pada hari ke 3 – 5 postpartum. Hal ini harus juga diperhatikan jika berhadapan dengan ibu yang menderita visium kordis. Dengan adanya hemokosentrasi dapat diduga pula bahwa ada kosentrasi trombosit,dan sebagainya,sehingga dapat diduga pula bahwa ada trombosit,dan sebagainya,sehingga dapat dimengerti mengapa ada kecendrungan ke arah tromboflebitis postpartum.

 

Aliran, volume dan kompisisi darah

Aliran darah meningkat ek uterus, ginjal, payudara dan kulit serta tidak ada peningkatan aliran darah ke otak dan hati. Regulasi aliran darah uterus merupakna hal yang penting bagi perkembangan fetus. Hemoragi, kontraksi uterus, adrenalin, dan nor-adrenalin serta berbaring telentang pada hamil tua, semuanya akan menyebabkan turunnya aliran darah ke uterus. Perubahan kronis dapat mengarah pada retardasi perkemabangan intrauterin yang akhirnya dapat menyebabkan kematian fetus. Sebaliknya aliran darah uterus secara fisiologis meningkat karena efek dari angiotensin II jaringan plasenta.

Aliran darah ginjal  meningkat sebanyak 70-80% pada akhir trimester I. Peningkatan aliran darah pada kulit dan mebran mukosa dan di sebagian kaki dan tangan mencapai maksimum 500 ml/menit pada kehamilan 36 minggu kar atau telentangena terjadi vasodilatasi pada pembulh darah.

Peningkatan volume darah sekitar 20% atau 100%. Hal itu bervariasibergantung pada ukuran tubuh wanita, paritas, primigravida, multigravida. Peningkatan volume darah dimulai pada minggu ke-10 sampai dengan ke-12. mencapai puncak sekitar 30-40 minggu (peningkatan maksimum). Peningkatan volume darah merupakan mekanisme protektif. Keadaan ini sangat penting untuk:

  1. sistem vaskular yang mengalami hipertrofi akibat pembesaran uterus
  2. hidrasi jaringan janin dan ibu yang adekuat saat ibu berdiri atau telentang
  3. cadangan cairan untuk mengganti darah yang hilang selama proses melahirkan dan puerperium.

Vasodilatasi perifer mempertahankan tekanan darah tetap normal walaupn volume darah pada ibu hamil meningkat. Sirkulasi volume darah yang tinggi diperlukan untuk:

  1. persediaan aliran darah ekstra untuk plasenta, di korio desidua
  2. menyuplai kebutuhan metabolisme ekstra janin
  3. penyediaan untuk perfusi ekstra dari ginjal atau organ lain
  4. sebagai pengimbangan dari arteri yang meningkat dan kapasitas vena
  5. sebagai kompensasi terhadap hilangnya darah pada saat transportasi.

Selama masa hamil terjadi percepatan produksi sel darah merah (normal 4-5,5 juta per mm3 ). Walaupun produksisela darah merah meningkat, nilai normal hemoglobin (12-16 gr/dl) dan nilai normal hematokrit (37-47%) menurun secara mencolok. Kondisi ini disebut anemia fisiologis. Penurunan mencolok ini jelas terlihat selama trimester ke-2,saat terjadi ekspansi volume darah yang cepat. apabila nilai hemoglobin turun sampai 10gr/dl atau lebih, serta hematokrit menurun sampai 35 % atau lebih maka wanita mengalami keadaan anemik. Sel darah putih total meningkat selama trimester ke -2 dan mencapai puncak selama trimester ke-3. peningkatan ini terjadi pada granulosit, sedangan kan limfosit tetap sama sepanjang kehamilan. Gangguan karena turunnya kadar Hb dihubungkan dengan insiden preeklampsia. Kadar minimum Hb adalah 11-12 gr/dl.

 

Faktor pembekuan darah

Sistem pembekuan darah dan firinogen mengalami akselerasi (percepatan) yang besar pada saat kehamilan. Fibrinogen plasma (f ktor X) meningkat dari 3 bulan pertma kehamilan dan terus meningkat sedikit. Faktor VII, VIII, IX dan X semua meningkat sejalan dengan konsumsi trombosit. Hal ini mengarah pada perubahan waktu koagulasi dari 12 ke 18 menit. Kapasitas pembekuan darah meningkat. Hal ini kemungkinan merupakan persiapan untuk mencegah perdarahan pada pelepasan plasenta, tetapi merupakn risiko tinggi terjadinya trombosis, emboli dan adanya komplikasi, diseminasi koagulasi intravaskular.

Pada kehamilan sel darah putih perlahan meningkat mencapai 10x15x10 g/dl. Sementara limfosit dan monosit mempunyai jumlah yang sama dalam kehamilan. Peningkatan neutropil meningkatkan fagosit dalam dan bermacam-macam bakterisid. Dalam trimester kedua aktivitas leukosit polimofonuklear bisa tertekan, sehingga wanita hamil berisiko untuk terinfeksi.

 

F.   Sistem respirasi

Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh tentang rasa sesak dan pendek nafas. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas oleh karena usus-usus yang tertekan oleh uterus yang membesar kea rah difragma, sehingga diafragma kurang leluasa bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat ± 20%, seorang wanita hamilselalu bernafas lebih dalam, dan bagian bawah toraksnya juga melebar ke sisi, yang sesudah partus kadang-kadang menetap jika tidak dirawat dengan baik. Hal ini berpengaruh pada jumlah sel darah merah. Produksi sel darah merah akan meningkat sebagai akibat dari akselererasi kebutuhan oksigen ekstra untuk maternal dan jaringan plasenta.peningkatan kebutuhan oksigen dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil adalah sebesar 1400-1650 ml yang dapat ditingkatkan lagi sampai 30 % bila diberikan suplemen zat besi. Selama masa hamil, perubahan pada pusat pernafasan menyebabkan penurunan ambang karbondioksida.progesteron dan estrogen diduga menyebabkan peingkatan sensitivitas pusat pernafasan terhadap karbondioksida

 

  1. G.      Sistem pencernaan
  2. trimester I

pada minggu pertama awal kehamilan ibu hamilmerasa enek (nausea), muntah (emisis) dan nafsu makan menurun. Biasanya emisis pada ibu hamil terjadi saat pagi hari, dikenal dengan morning sickness. Hal-hal tersebut diakibatkan dari adanya kadar hormon estrogen yang meningkat. Tonus otot-otot traktus digestivus menurun,sehingga mobilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan lebih lama berada pada lambung dan apa yang telah dicernakan lebih lama berada di dalam usus. Hal ini mungkin baik untuk resorbpsi akan tetapi juga menimbulkan konstipasi yang memang menjadi keluhan utama ibu hamil. Mengidam adalah suatu tanda bahwa di dalam tubuh ibu terjadi perubahan yang besar, dimana dengan adanya perubahan hormon, tubuh ibu menjadi efisien untuk menyerap nutrisi yang diperoleh dari makanan sehari-hari. Selama hamil hormon estrogen dan prodesteron menyebabkan relaksasi otot-otot polos termasuk traktur intestinal, mengurangi gerakan usus sehingga zat-zat gizi lebih lama untuk diabsorpsi. Pada TW I terjadi proses anabolik yang merupakan perubahan metabolik terhadap protein dan lemak. Selain mempengaruhi metabolisme karbohidrat yaitu berupa penimbunan lemak dan meningkatnya ekskresi sodium ginjal. Peningkatan HCG yang dihasilkan oleh trofoblast menyebabkan mual pada pagi hari (morning sicknes). Apabila terlampau banyak dan sering dikeluarkan maka terjadi hyperemesis gravidarum yang berakibat ibu hamil kekurangan zat gizi.

  1. Trimester II

Pada TW II juga terjadi fase anabolik, perubahan metabolik selama hamil terutama terhadap lemak dan protein. Selain itu, nafsu makan ibu naik sampai maksimal. Ibu hamil sudah dapat beradaptasi terhadap perubahan hormon  reproduksi yang terjadi, karena nausea dan vomitus lebih jarang.

  1. Trimester III

Fase katabolik terjadi pada mas aini, dimana kebutuhan janin terhadap gizi besar. Nafsu makan kembali menurun pada saat menjelang persalinan.

 

Dalam obstetri William perubahan sistem pencernaan pada ibu hamil meliputi:

  1. Traktus gastrointestinal

Seirang dengan kemauan kehamilan, lambung dan usus bergeser oleh uterus yang membesar. Sebagai akibat perubahan-perubahan posisi visera ini, temuan fisik pada penyakit tertentu berubah. Misalnya apendiks biasanya bergeser ke atas dan agak ke lateral saat uterus membesar dan seringkali mencapai pinggang kanan. Pengosongan lambung dan waktu transit di usus halus menurun pada kehamilan karena faktro homonal atau mekanis. Hal ini mungkin disebabkan oleh progesteron dan penurunan kadar motiln siatu peptida hormon yang diketahui mempunyai efek stimulasi otot polos.

Pirosis (nyeri ulu hati) sering terjadi saat kehamilan da kemungkinan besar disebabkan oleh refluks sekret-sekret asam ke esofagus bagian bawah. Posisi lambung yang berubah ikut berperan pada kekerapan kejadiannya, namun tonus sfinkter esofagus bagian bawah juga menurun. Tekanan intra esofagus menjadi lebih rendah dan tekanan intragastrik lebih tinggi pada wanita hamil. Pada waktu yang sama, peristalsis esofagus memiliki kecepatan gelombang yang lebih rendah dan amplitudonya lebih rendah.

Pembengkakan fokal fusi yang sangat vaskuler atau disebut dengan epulis gravidarum , kadangkala timbul tetapi biasanya mengalami regresi spontan setelah pelahiran. Sebagian besar bukti mengidentifikasikan bahwa kehamilan tidak akan menyebabkan kerusakan gigi.

Hemorhoid cukup sering terjadi pada kehamilan .  kelainan  ini  sebagian besar disebabkan oleh konstipasi dan peningkatan tekanan pada vena-vena di bawah uterus yang membesar.

Fungsi saluran cerna selama masa hamil menunujkkan gambaran bahwa nafsu makanmeningkat da sekresi usus berkurang. Fungsi hati berubah dan absorpsi nutrien meningkat. Usus besar bergeser ke arah lateral atas dan posterior. Aktivitas peristaltik menurun, akibatnya bising usus menghilang dan konstipasi, mual, serta muntah umum terjadi. Aliran darah ke panggul dan tekanan vena meningkat, menyebabkan hemorhoid.

  1. Gizi wanita hamil

Wanita hamil memerlukan sekitar 1,2 kalsium dan fosfor dalam jumlah yang kira-kira sama setiap hari selama hamil. Kebutuhan kalsium dan fosfor ini lebih tinggi  sekitar 0,4 g daripada kebutuhannya saat tidak hamil. Diet yang seimbang memenuhikebutuhan ini, namun defisiensi diet yang berat dapat mengurangi simpanan unsu-unsur ini di dalam tulang tetapi tidak menarik kalsiumdan gigi.

  1. Esofagus, lambung dan usus halus

Pada ibu hamil 15-20% mengalami herniasi bagian atas lambung (hiatus hernia) terjadi setelah bulan ke-7 atau ke-8 kehamilan. Hal ini dikarenakan pergeseran lambung ke atas yang menyebabkan hiatus difragma melebar. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita multipara. Peningkatan produksi estrogen menyebabkan penurunan sekresi asam hidroklorida. Oleh karen aitu, pembentukan tukak peptik sudah tidak umum selama masa kehamilan.

Peningkatan produksi progesteron menyebabkan tonus dan motilitas otot polos menurun akibatnya wanita tidak bisa mencerna asam dan terjadi nyeri ulu hati. Selain itu akan terjadi absorpsi air  diusus besar akibat hipoperistaltik (perlambatan usus). Pada wanita hamil terjadi pergeseran usus akibat kompresi.

Akibat dari peningkatan kadar hormone estrogen, pengaruh terhadap sistem pencernaan antara lain:

Pengeluaran air liur yang berlebihan (hipersalivasi).

Daerah lambung terasa panas.

Terjadi mual dan sakit kepala/pusing terutama pagi hari yang biasa disebut morning sickness.

Muntah, yang terjadi disebut emesis gravidarum.

Muntah berlebihan sehingg mangganggu kehidupan sehari-hari, disebut hiperemesis gravidarum.

Progesteron menimbulkan gerak usus makin kurang dan dapat menyebabkan obstipasi.

 

  1. H.      Tractus urinarius

Pada bula-bulan pertama kehamilan, kandung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar, sehingga timbul sering kencing. Keadaan ini hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, bila kepala janin mulai turun kebawah pintu atas panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan kembali.

Dalam kehamilan ureter kana dan kiri membesar karena pengaruh progesterone. Akan tetapi ureter kanan lebih membesar daripada ureter kiri, karena lebih banyak tekanan dibandingkan dengan ureter kiri. Hal ini disebabkan oleh karena uterus lebih sering memutar kearah kanan. Mungkin karena orang lbih banyak bergerak lebih sering dengan memakai tangan kanannya, atau disebabkan oleh letak kolon dan sigmoid yang berada di belakang kiri uterus. Akibat tekanan pada ureter kanan tersebut, lebih sering dijumpai hidro ureter dekstra dan pielitis dekstra.

Disamping sering kencing, terdapat pula poliuria. Poliuria disebabkan oleh adanya peningkatan sirkulasi darah di ginjaal pada kehamilan, sehingga filtrasi di glumerulus juga meningkat sampai 69%. Reabsorbsi di tubulus tidak berubah, sehingga lebih banyak dapat dikeluarkan urea, asam urik, glukosa, asam amino, asam folik dalam kehamilan.

a.   Ginjal

Ginjal merupakan organ ekskresi yang vital. Tujuan organ ini adalah mempertahankan lingkungan internal tubuh agar berada dalam status homeostasis yang relatif konstan. Ginjal berfungsi mempertahankan keseimbangan elektrolit dan asam basa, mengatur volume cairan ekstrasel, mengekskresi produk sampah dan menyimpan nutrien yang sangat penting. Pada masa kehamilan ginjal mengalami perubahan yang luar biasa.

Ukuran ginjal sedikit bertambah besar selama masa kehamilan, kurang lebih sekitar 1 cm pada pemeriksaan sinar X. Perubahan struktur ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

1.   Aktivitas hormonal yaitu estrogen dan progesteron

2.   Tekanan yang timbul akibat pembesaran uterus.

3.   Peningkatan volume darah.

Sejak minggu ke-10, peluis ginjal dan ureter berdilatasi (membesar). Hal ini tampak lebih jelas, diatas pintu atas panggul, sebagian karena ureter terkompresi antara uterus dan pintu atas panggul. Dilatasi di atas pintu atas panggul mencolok di sisi sebelah kanan, karena uterus lebih sering memutar ke arah kanan. Karena terdapat kolon rektosigmoid di sebelah kiri, perubahan-perubahan ini membuat pelvis dan ureter mampu menampung urine dalam volume yang lebih besar dan juga memperlambat laju aliran urine stasis/stagnasi urine menimbulkan beberapa konsekuensi yaitu :

1.   Terdapat selang waktu, antara waktu pembentukan urine sampai urine mencapai kandung kemih.

2.   Urine yang mengalami stagnasi merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroorganisme, sehingga lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih.

 

Perubahan Fungsi Ginjal

Laju filtrasi glomerulus dan aliran plasma ginjal meningkat pada awal kehamilan. Ginjal harus mengakomodasikan tuntutan metabolisme dan sirkulasi tubuh ibu yang meningkat dan juga mengekskresikan produk sampah janin. Perubahan ini terjadi akibat :

a.   Adanya hormon kehamilan

b.   Meningkatnya volume darah, postur wanita, aktivitas fisik, dan asupan makanan.

Saat wanita hamil berbaring terlentang, berat uterus akan menekan vena cava dan aorta, sehingga curah jantung menurun, sehingga tekanan darah dan frekuensi jantung anak menurut begitu juga dengan volume darah ke ginjal. Aliran darah ke otak dan ke jantung, harus tetap dipertahankan sehingga aliran darah ke organ-organ lain (ginjal dan uterus) menurun.

 

Kehilangan Nutrien

Salah satu ciri perubahan, terinduksi kehamilan yang luar biasa pada ekskresi ginjal adalah peningkatan mencolok jumlah berbagai nutrien di dalam urin. Asam amino dan vitamin-vitamin yang larut dalam air hilang di dalam urine wanita hamil dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada di dalam urine wanita tidak hamil.

 

Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Karena kebutuhan akan volume intravaskuler dan ekstravaskuler meningkat, maka diperlukan tambahan natrium untuk meningkatkan volume cairan dan mempertahankan status isotonis. Untuk mencegah kehilangan natrium berlebihan, ginjal ibu beradaptasi secara signifikan dengan meningkatkan reabsorbsi tubular. Walaupun sistem ginjal berlangsung dengan efisien, sistem ini dapat terganggu, akibat diet natrium atau retriksi natrium yang berlebihan atau akibat penggunaan diuretik hipovolemia berat dan penurunan perfusi placenta merupakan dua konsekuensi dari keadaan ini.

Kapasitas ginjal untuk mengekskresikan air selama minggu-minggu awal kehamilan lebih efisien dari minggu-minggu sebelumnya, kadang di awal kehamilan, sejumlah air yang hilang menyebabkan beberapa wanita terasa haus. Respons diuretik terhadap akumulasi sirkulasi umum, akumulasi air ini terjadi di tungkai bawah saat tahap lanjut kehamilan menurunkan aliran darah ginjal dan GFR hal ini disebut eudema fisiologis yang tidak perlu pengobatan. Selama masa hamil glukosuria terjadi jika pada glukosa ibu lebih kecil dari 160 mg/dl. Glukosa dan nutrien lain (asam amino) dibuang selama masa hamil. Penyebab hal ini belum dapat diketahui mekanismenya secara pasti, tetapi kemungkinan DM, harus tetap diingatkan. Selain itu sejumlah protein (albumin dan globulin) dapat ditemukan dalam urine yang pekat atau urine pertama pagi hari dan temuan ini merupakan tanda signifikan penyakit ginjal.

 

b.  Vesika Urinaria

Terdapat sedikit perubahan anatomi pada kandung kemih sebelum 12 minggu. Namun sejak usia gestasi 12 minggu dan seterusnya, terjadi peningkatan ukuran uterus, bersama dengan hiperemia yang mengenai seluruh organ panggul, dan hiperplasia otot serta jaringan ikat, mengangkat trigonum kandung kemih dan menyebabkan penebalan permukaan postenar trigonum, atau tepi intraureter. Proses ini berlanjut hingga akhir kehamilan menghasilkan trigonum yang melebar dan semakin dalam. Mukosa kandung kemih tidak mengalami perubahan selain bertambahnya ukuran dan kompleksitas pembuluh darah.

Tekanan kandung kemih pada primi gravida meningkat dari 8 cm H2O pada kehamilan awal menjadi 20 cm H2O saat aterm. Untuk mengkompensasi menurunnya kapasitas kandung kemih ini, panjang absolut dan fungsional uretra masing-masing bertambah besar 6,7 dan 4,8 mm. Untuk memelihara kontinensinya tekanan intrauretra maksimal naik dari 70 menjadi 93 cm H2O.

Mendekati akhir kehamilan, terutama pada nulipara yang bagian terbawah janinnya sering sudah cakap sebelum terjadi persalinan, seluruh dasar kandung kemih terdorong ke depan dan ke atas, sehingga mengubah permukaan yang normalnya cembung menjadi cekung. Penekanan dari bagian terbawah tersebut menganggu drainase darah dan limfe dari dasar kandung kemih, sering kali menyebabkan daerah tersebut menjadi edematosa, mudah mengalami cidera dan mungkin lebih peka terhadap infeksi.

Normalnya, hanya terdapat sedikit residu urin pada nulipara, tetapi kadangkala hal ini timbul pada multipara dengan dinding vagina yang kendur dan sistokel.

 

 

 

c.  Urinary Frequency

Akibat peningkatan sensivitas kandung kemih dan pada tahap selanjutnya merupakan kompresi pada kandung kemih. Pada TW II, kandung kemih tertarik ke atas abdomen. Uretra memanjang sampai 7,5 cm. Kongesti panggul pada masa hamil ditunjukkan oleh hiperemia kandung kemih dan uretra. Peningkatan vaskularisasi membuat mukosa kandung kemih menjadi mudah luka dan berdarah. Tonus kandung kemih dapat menurun yang memungkinkan distensi kandung kemih sampai sekitar 1500 ml. Pembesaran uterus menekan kandung kemih, sehingga menimbulkan rasa ingin berkemih. Walaupun kandung kemih hanya berisi sedikit urine.

Disamping itu terdapat pula poliuria, yang disebabkan oleh adanya peningkatan sirkulasi darah di ginjal pada kehamilan. Sehingga filtrasi di gromelurus juga meningkat sampai 69%. Reabsorpsi di tubulus tidak berubah, sehingga lebih banyak dapat dikeluarkan urea, asam urik, glukosa, asam amino dan asam folik dalam kehamilan.

 

  1. I.         Sistem integumen.

Perubahan keseimbangan hormon dan peregangan mekanis menyebabkan perubahan dalam sistem integumen selama kehamilan yang meliputi :

–     Hiperpigmentasi

–     Pertumbuhan rambut dan kuku

–     Percepatan aktivitas kelenjar keringat dan kelenjar sebacea, peningkatan sirkulasi dan aktivitas vasomotor.

 

PIGMENTASI

Timbul akibat peningkatan hormon hipofisis arterior melanotropin selama kehamilan. Melasma di wajah disebut Kloasma (topeng kehamilan) adalah bercak kecoklatan akibat Hiperpigmentasi pada kulit di daerah tonjolan maxilla dan dahi, khususnya pada wanita hamil kulit hitam dialami 50% – 70% wanita hamil. Dimulai setelah minggu ke-16 dan meningkat secara bertahap sampai bayi lahir. Pada waktu yang sama, warna putting susu, areola, aksila dan vulva, menjadi lebih gelap. Semuanya akan menghilang setelah wanita melahirkan.

Linea Nigra adalah garis pigmentasi dari simpisis pubis sampai ke bagian atas fundus di garis tengah tubuh. Pada priomigravida, panjang linea nigra mulai terlihat pada bulan ketiga terus memanjang seiring meningginya fundus.

Striae Gravidarum (tanda regangan) dialami 50% – 90% wanita selama TM II disebabkan kerja adenokorsteroid. Timbul di daerah regangan maximum (abdomen, paha, payudara). Kadang menimbulkan sensasi mirip rasa gatal. Setelah melahirkan biasanya striae memudar.

Angioma (Telangiektasis) pada umumnya disebut Vascular spidens adalah ujung arteriola yang berdenyut dan sedikit menonjol berbentuk kecil seperti bintang 1 cabang. Spiders merupakan hasil peningkatan kadar estrogen dalam sirkulasi. Biasa ditemukan di wajah, leher, dada, dan lengan. Spiders berwarna kebiruan dan hilang bila ditekan. Terlihat selama bulan kedua-bulan kelima pada 65% wanita kulit putih dan 10% wanita Afrika – Amerika.

Bersak berbatas tegas atas mottling difus à tampak kemerahan pada permukaan telapak tangan, pada 60% wanita kulit putih dan 35% wanita Afrika – Amerika. Perubahan pigmentasi dan eritema palmar ini terlihat juga pada wanita yang mengkonsumsi pil kontrasepsi hormon.

Hiperpigmentasi ini yaitu impuls (gingival granuloma gravidarum) ialah nodul berwarna merah pada gusi yang mudah berdarah. Timbul sekitar bulan ketiga dan terus membesar seiring kemajuan kehamilan. Selain itu juga ibu mengalami Hirsutisme yaitu peningkatan pertumbuhan rambu halus dan banyak juga yang mengalami kulit berminyak karena aksi progesteron.

Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu. Pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh melanophore stimulating hormone (MSH) yang meningkat. MSH ini adalah salah satu hormone yang juga dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit pigmen pada dahi, pipi dan hidung yang dikenal sebagai kloasma gravidarum.

Didaerah leher sering terdapat hiperpigmentasi yang sama, juga di areola mamma. Linea alba pada kehamilan menjadi hitam, dikenal sebagai linea nigra. Tidak jarang dijumpai kulit perut seolah-olah retak-retak, warnanya berubah agak hiperemik dan kebiru-biruan, disebut striae livide. Setelah partus, striae livide ini berubah warnanya menjadi putih dan disebut striae albikans. Pada seorang multigravida sering tampak striae livide bersama dengan striae albikans.

 

  1. J.          Sistem muskuloskeletal.

Berat uterus dan isinya menyebabkan perubahan pada titik pusat gaya tarik bumi dan garis bentuk tubuh. Lengkung tulang belakang akan berubah untuk mengimbangi pembesaran abdomen dan menjelang akhir kehamilan, banyak wanita yang memperlihatkan postur tubuh yang khas (yang disebut lordosis). Postur ini terlihat ketika seseorang berdiri dan berjalan dengan bagian punggung yang melengkung dan kedua bahu tertarik kebelakang.

Demikian pula, jaringan ikat pada persendian panggul akan melunak dalam mempersiapkan persalinan. Mobilitas simphisis pubis dan persendian sakro illiaka akan bertambah sehingga rongga panggul menjadi lebih lebar. Semua perubahan ini dapat menimbulkan sakit/nyeri pada punggung.

Perubahan tubuh secara bertahap dan peningkatan berat wanita hamil menyebabkan postur dan cara berjalan wanita berubah secara menyolok. Peningkatan distensi abdomen yang membuat panggul miring ke depan, penurunan tonus otot perut, dan peningkatan beban berat badan pada akhir kehamilan membutuhkan penyesuaian ulang (realignment) kurvatura spinalis. Pusat gravitasi wanita bergeser ke depan. Kurva lumbosakrum normal harus semakin melengkung dan didaerah servikodorsal harus terbentuk kurvatura (fleksi anterior kepala berlebihan) untuk mempertahankan keseimbangan. Payudara yang besar dan posisi bahu yang bungkuk saat berdiri akan semakin membuat kurva punggung dan lumbar menonjol. Pergerakan menjadi lebih sulit,gayaberjalan wanita hamil yang bergoyang, yang disebut “langkah angkuh wanita hamil” oleh Shakespeare sangat dikenal. Struktur ligamentum dan otot tulang belakang bagian tengah dan bawah mendapat tekanan berat. Perubahan ini dan perubahan lain terkait seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman pada muskuloskletal.

Wanita muda yang cukup berotot dapat menoleransi perubahan ini tanpa keluhan. Akan tetapi, wanita yang lebih tua, yakni wanita yang mengalami gangguan punggung atau wanita yang memiliki sensasi keseimbangan yang buruk, dapat mengalami nyeri punggung yang cukup berat selama dan segera setelah hamil.

Relaksasi ringan dan peningkatan mobilitas sendi panggul normal selama masa hamil. Hal ini merupakan akibat elastisitas dan perlunakan berlebihan jaringan kologen dan jaringan ikat dan merupakan akibat peningkatan hormon seks steroid yang bersirkulasi. Adaptasi ini memungkin pembesaran dimensi panggul. Derajat relaksasi bervariasi, namun pemisahan simfisis pubis dan ketidakstabilan sendi sakroiliaka yang besar dapat menimbulkan nyeri dan kesulitan berjalan. Kegemukan dan kehamilan dengan janin ganda cenderung meningkatkan ketidakmampuan panggul.

Otot dinding perut meregang dan akhirnya kehilangan sedikit tonus otot. Selama TW III, otot rektus abduminis dapat memisah menyebabkan isi perut menonjol di garis tengah tubuh, Umbilikus menjadi lebih datar atau menonjol. Setelah melahirkan, tonus otot secara bertahap kembali, tetapi pemisahan otot (diastosis recti abdominis) menetap.

 

  1. K.      Metabolisme

Pada wanita hamil Basal Metabolisme Rate (BMR) meningkat. Peningkatan ini terjadi karena pada ibu hamil memerlukan banyak energi antara lain untuk perkembangan badan, alat kandungan, mamae dan untuk perkembangan janin itu sendiri. Banyaknya energi yang diperlukan selama hamil adalah 80.000 kkalori dimana setara dengan 300 kkal diatas kebutuhan wanita tak hamil. Peningkatan kebutuhan energi TMI relatih kecil dan semakin bertambah pada trimester II dan III.

1.  Pada Trimester  I

Segera setelah haid terlambat kadar diamino eksidae meningkat dari 3-6 satuan dari masa tidak hamil ke 200 satuan dalam masa hamil 2 minggu. Peningkatan ini terjadi karena ada pertumbuhan dan perkembangan dalam tubuh wanita hamil. Dimana akan timbul suatu keaktifan enzim yang luar biasa. Plasenta sendiri menghasilkan enzim-enzim untuk oksidasi, reduksi, hidrolisa, dimana enzim dioksidase merupakan salah satu enzim yang dihasilkan oleh plasenta. Diamino oksidase disebut juga histaminase yaitu enzim yang berfungsi agar histamin tidak aktif lagi.

2.  Pada Trimer II

Kadar diamino oksidase ini mencapai puncaknya 400 – 500 satuan pada kehamilan 16 minggu. Kadar alkalinfosfatase meningkat 4 kali lipat dengan wanita tidak hamil. Dimana kadar alkalinfosfatase dapat dipakai untuk menilai fungsi plasenta. Kadar gula darah pada ibu hamil lebih tinggi dari pada keadaan tidak hamil. Hal ini mungkin terjadi akibat zat antagonis options. Pada ibu hamil zat antagonis ibu hamil ini selain dihasilkan oleh kelenjar adrenal juga dihasilkan oleh plasenta zat antagonis insulin (glukagon) menekan kadar insulin sehingga mengakibatkan kadar gula ibu hamil meningkat.

 

3.  Pada Trimester III

Basal Metabolisme Rate (BMR) meningkat hingga 15-20% dari semula. Kalori yang dibutuhkan untuk itu diperoleh terutama dari pembakaran karbohidrat, khususnya sesudah kehamilan 20 minggu ke atas. Akan tetapi apabila dibutuhkan dipakai lemak ibu untuk dapat tambahan kalori. Pada trimester ini janin membutuhkan 30 sampai 40 gr kalsium untuk pembentukan tulangnya. Peningkatan ini terjadi agar dapat memenuhi kebutuhan kalsium untuk pertumbuhan janin agar tidak mengambil kalsium ibu. Sedangkan kadar diamino oksidase menetap sampai akhir kehamilan.

Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh mengalami perubahan yang mendasar, di mana kebutuhan nutrisi makin tinggi untuk pertumbuhan janin dan persiapan memberikan ASI.

Perubahan metabolisme adalah:

Metabolisme basal naik sebesar 15% sampai 20% dari semula, terutama pada trimester ketiga.

Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 mEq per liter menjadi 145 mEq per liter, disebabkan hemodilusi darah dan kebutuhan mineral yang diperlukan janin.

Kebutuhan protein wanita hamil makin tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, perkembangan organ organ kehamilan, dan persiapan laktasi. Dalam makanan diperlukan protein tinggi sekitar 0,5 gr/kg BB atau sebutir telor ayam sehari.

Kebutuhan kalori didapat dari karbohidrat, lemak dan protein.

Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil :

♥          Kalsium 1,5 gram setiap hari, 30 sampai 40 gram untuk pembentukan tulang janin.

♥          Fosfor, rata-rata 2 gram dalam sehari.

♥          Zat besi, 800 mgr atau 30 sampai 50 mgr sehari.

♥          Air, ibu hamil memerlukan air cukup banyak dan dapat terjadi retensi air.

Berat badan ibu hamil bertambah.

Berat badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5 sampai 16,5 kg selama kehamilan, atau terjadi kenaikan berat badan sekitar 0,5 kg per minggu.

Pertambahan berat badan ini dapat dirinci sebagai berikut :

♥       Janin                            3 – 3,5 kg

♥       Plasenta                       0,5       kg

♥       Air ketuban                 1          kg

♥       Rahim ±                      1          kg

♥       Timbunan lemak         1,5       kg

♥       Timbunan protein       2          kg

♥       Retensi air-garam        1,5       kg

  1. L.        Sistem Kekebalan

      Imunitas ibu tetap selama kehamilan. Sebab salah satu sumber menyatakan walaupun selama kehamilan terjadi peningkatan jumlah leukosit namun peningkatan tersebut tidak memberikan dampak yang terlalu besar bagi imunitas ibu dan bayinya. Volume darah meeningkat sekitar 1500 ml. Hitung sel darah putih (leukosit) total meningkat selama trimester kedua dan mencapai puncak selama trimester ketiga. Peningkatan ini terutama terjadi pada granulosit. Hitung limfosit tetap sama sepanjang masa hamil.

Tempat utama pengaturan dari respons ibu terhadap janin adalah rahim, daerah getah bening, dan permukaan plasenta. Rahim dipandang merupakan tempat yang secara immunologik istimewa.

Plasenta menghasilkan beberapa protein plasma yang berhubungan dengan kehamilan dan steroid yang dapat mengubah respon ibu. Mereka antara lain adalah alfa-2 globulin, beta-1 glikoprotein khusus-kehamilan (SPI), laktogen plasenta manusia (hPL), dan korionik gonadotropin manusia (hCG) disamping estrogen steroid steroid seks dan progesteron. Semua zat-zat ini telah terbukti dapat menekan respon imun lokal secara tidak spesifik dalam kehamilan.

Sistem pertahanan imunologik ibu tetap utuh selama kehamilan. Meski memungkinkan terdapatnya alograf janin, ibu masih harus dapat melindungi diri dan janinnya dari enfeksi dan antigen benda asing. Mekanisme non spesifik dari sistem imunologik (termasuk fagositosis dan reaksi radang) dan tidak dipengaruhi oleh kehamilan. Mekanisme khusus dari respons imun juga tidak banyak dipengaruhi.

Kadar Imunoglobin tidak berubah pada kehamilan. Kadar antibodi IgG ibu yang spesifik memiliki kepentingan khusus karena kemampuannya untuk melintasi plasenta. IgG adalah satu-satunya imunoglobin yang dapat menembus plasenta. Imunitas pasif yang bermakna dapat dipindahkan dengan cara ini ke janin dan membantu melindungi dari infeksi selama periode perinatal. IgA, IgD dan IgE juga terbatas pada kompartemen ibu dan tidak menunjukkan kerugian atau keuntungan langsung pada janin.

Proses penyakit imunologi utama yang berhubungan dengan kehamilan adalah penyakit hemolitik pada neonatus. Faktor-faktor immunologik dapat menimbulkan pre-eklampsia pada ibu hamil (menurut penelitian). Tetapi tidak ada terlihat kelainan yang konsisten pada sistem imun pasien pre-eklampsia.

Penyakit autoimun adalah suatu penyakit dimana antibodi muncul untuk melawan jaringan hospes itu sendiri. Beberapa penyakit autoimun banyak ibu atau janin pada kehamilan. Ini antara lain adalah artritis, reumatoid, lupus Eritamotosus Sistemik (SLE), ITP, Trombositopenia isoimune. Umumnya, beratnya penyakit ibu bergantung pada keterlibatan organ primer akhir. Janin akan terkena kalau antibodi IgG dihasilkan untuk melawan suatu organ vital.

 

  1. M.     Sistem Neurologi

      Hanya sedikit diketahui tentang perubahan fungsi sistem neurologi selama masa hamil, selain perubahan-perubahan neohormonal hipotalamik hipofisis. Perubahan fisiologis spesifik akibat kehamilan dapat menyebabkan timbulnya gejala neurologis dan neuromuskular berikut :

1.   Kompresi saraf panggul atau stasis vaskular akibat pembesaran uterus dapat menyebabkan perubahan sensori di tungkah bawah.

2.   Lordosis dorsolumbar dapat menyebabkan nyeri akibat tarikan pada saraf atau kompresi akar saraf.

3.   Edema yang melibatkan saraf perifer dapat menyebabkan carpal tunnel syndrome selama akhir trimester kehamilan. Edema menekan saraf median dibawah ligamentum karpalis pergelangan tangan. Syndrome ini ditandai oleh parestesia (sensasi abnormal seperti rasa terbakar atau gatal akibat gangguan pada sistem saraf sensori) dan nyeri pada tangan yang menjalar ke siku. Tangan yang dominan biasanya paling banyak terkena.

4.   Akrostesia (rasa baal dan gatal di tangan) yang timbul akibat posisi bahu yang membungkuk dirasakan oleh beberapa ibu hamil. Keadaan ini berkaitan dengan tarikan pada segmen pleksus brakialis.

5.   Nyeri kepala akibat ketegangan umum timbul saat ibu merasa cemas dan tidak pasti tentang kehamilannya. Nyeri kepala dapat juga dihubungkankan dengan gangguan penglihatan, seperti kesalahan refraksi, sinusitis atau migren.

6.   “Nyeri kepala ringan” rasa ingin pingsan, dan bahkan pingsan (sinkop) sering terjadi pada awal kehamilan. Ketidakstabilan vasomotor, hipotensi postural, atau hipoglekimia mungkin merupakan keadaan yang bertanggung jawab atas gejala ini.

7.   Hipokalsemia dapat menyebabkan timbulnya masalah neuromuskular,    seperti : kram otot atau tetani.

 

  1. N.      Berat Badan dan Indeks Massa Tubuh

Peningkatan berat badan pada masa hamil memberikan kontribusi penting terhadap kesuksesan suatu kehamilan. Wanita hamil perlu disadarkan agar tidak memakai kehamilan sebagai alasan untuk makan berlebihan. Wanita yang berat badannya berlebihan (lebih dari 135% dari standar berat badan) akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk tetap gemuk setelah melahirkan.

Hubungan antara peningkatan berat badan normal pada masa hamil dan perkembangan janin bervariasi menurut berat dan tinggi badan sebelum hamil. Metode yang baik untuk mengkaji bpeningkatan berat badan normal pada masa hamil ialah dengan memakai hubungan antara berat terhadap tinggi wanita tersebut sebelum hamil dengan BMI (Body Mass Index). Dimana BMI dihitung dengan membagi berat (dalam kilogram) dengan tinggi (dalam meter) pangkat dua

*  Peningkatan Berat Badan Normal pada Masa Hamil =

BMI (kg)  : TB² (meter)

 

POLA PENINGKATAN BERAT

Secara alami, setiap wanita hamil akan mengalami peningkatan berat badan selama masa kehamilannya. Adapun penambahan berat seorang wanita hamil adalah sebagai berikut :

–           Dalam triwulan pertama penambahan berat ± 1 kg

–           Dalam triwulan kedua penambahan berat ± 5 kg

–           Dalam triwulan ketiga penambahan berat ± 5,5 kg

Jadi penambahan berat badan selama kehamilan rata-rata 11,5 kg. Penambahan berat ini disebabkan oleh pertambahan berat organ tubuh ibu akibat perubahan fisiologis dan penambahan organ janin. Distribusi kenaikan berat badan selama kehamilan adalah berat janin (3 kg), placenta (0,5 kg), air ketuban (1 kg), berat rahim (1 kg), lemak tubuh (1,5 kg), payudara (0,5 kg), penimbunan zat putih telur (2 kg), peningkatan volume cairan (1,5 kg).

Penambahan berat badan setiap wanita hamil adalah bervariasi, hal ini disesuaikan dengan berat badan sebelum kehamilan. Berdasarkan nilai BMI sebelum hamil, rentang berat badan total yang direkomendasikan untuk wanita hamil adalah sebagai berikut :

 

BMI

KATAGORI

ANJURAN PENAMBAHAN BB IBU HAMI

< 19,8

19,8 – 26,0

26,0 – 29,0

> 29,0

Ringan

Normal

Tinggi

Gemuk

12,5 – 18 kg

11,5 – 16 kg

7,0 – 11,5 kg

³ 7,0 kg

 

 

II. LATIHAN MAHASISWA

  1. Perubahan anatomi dan fisiologi apa saja yang terjadi pada kehamilan ?
  2. Apa yang dimaksud dengan kontraksi Braxton Hicks ?
  3. Jabarkan fungsi hormone dalam persiapan payudara untuk memberikan ASI !
  4. Apa saja pengaruh dari sistem pencernaan akibat dari peningkatan hormon-hormon kehamilan ?
  5. Mengapa pada trimester I dan III wanita hamil sering mengeluh sering kencing ?
  6. Bagaimana proses pernafasan pada ibu hamil dengan penyakit asma?
  7. pada ibu yang mengalami asma, apa akbatnya pada janin?
  8. sikap/posisi yang baik untuk ibu saat tidur apakah lebih baik sejajar dengan punggung janin atau miring kiri?
  9. kenapa karpal tunnel syndrom terjadi saat akhir kehamilan?
  10. mengapa dominan terjadi pada anggota tubuh yang aktif bergerak?
  11. kenapa bisa timbul tanda chadwick?
  12. apakah fungsi dari hormon relaksin?
  13. apa yang menyebabkan kontraksi braxton hicks?
  14. pada awal kehamilan, terjadi peningkatan sekresi vagina. Apakah sekresi vagina ini mempunyai dampak?

 

III. KESIMPULAN

Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh sistem organ dan genitalia wanita mengalami perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim. Plasenta dalam perkembangannya mengeluarkan hormone somatomamotropin, estrogen dan progesterone yang mempengaruhi perubahan pada :

  1. Sistem reproduksi.
  2. Payudara.
  3. Sistem endokrin.
  4. Sistem kardiovaskuler.
  5. Darah.
  6. Sistem respirasi.
  7. Sistem pencernaan.
  8. Tractus urinarius.
  9. Sistem integument.
  10. Sistem musculoskeletal.
  11. Metabolisme.
  12. system kekebalan
  13. system neurology
  14. berat badan dan indeks tubuh

 

 

 

 

 

 

 

0 Responses to “perubahan anfis bumil”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s