LEGISLASI DALAM PRAKTIK KEBIDANAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Bidan merupakan seseorang yg telah mengikuti program pendidikan bidan yg diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki ijin yg sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan. Bidan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan kualitas kesehatan masyarakat, karena bidan dengan ilmu kebidanannya dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat khususnya ibu-ibu  mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, serta pemberian ASI ekslusif pada bayi dengan selamat. Bidan juga berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari terjadinya kerusakan akibat persalinan serta berusaha mengembalikan alat reproduksi ke keadaan normal. Tiap profesi pelayanan kesehatan dalam menjalankan tugasnya di suatu institusi mempunyai batas jelas wewenangnya yang telah disetujui oleh antar profesi dan merupakan daftar wewenang yang sudah tertulis.

Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan pemberi pelayanan kepada masyarakat harus memberikan pelayanan yang terbaik demi mendukung program pemerintah untuk pembangunan dalam negeri, salah satunya dalam aspek kesehatan. Untuk menyelenggarakan praktik, bidan harus mempunyai izin praktik sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan dalam Permenkes 1464. Sebelum bidan melaksanakan praktik, terlebih dahulu harus melalui proses legislasi yaitu proses pembuatan undang-undang atau penyempurnaan perangkat hukum yang sudah ada melalui serangkaian kegiatan sertifikasi(pengaturan kompetensi), registrasi(pengaturan kewenangan), dan lisensi(pengaturan penyelenggaraan kewenangan ). Rencana yang sedang dijalankan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sekarang adalah dengan mengadakan uji kompetensi terhadap para bidan, minimal sekarang para bidan yang membuka praktik atau memberikan pelayanan kebidanan harus memiliki ijasah setara D3. Jika tidak lulus dalam uji kompetensi, maka bidan tersebut tidak bisa menjalankan profesinya. Karena syarat untuk berprofesi adalah memiliki surat izin yang dikeluarkan setelah lulus uji kompetensi. Hal ini bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan yang telah diberikan.

B.       Tujuan

1.                  Tujuan Umum

Tujuan umum dari penulisan laporan ini yakni agar masyarakat mengetahui bahwa tenaga kesehatan dalam hal ini seorang bidan dalam melaksanakan praktiknya terlebih dahulu melalui proses yang disebut dengan legislasi. Ini berarti seorang bidan tidak secara sembarangan atau semena-mena dalam menjalankan praktiknya karena telah sesuai dengan undang-undang yang telah ditetapkan.

2.                  Tujuan Khusus

Tujuan khusus agar mahasiswa kebidanan lebih memahami dan menghayati bahwa profesi yang akan ditekuninya nanti bukanlah profesi yang mudah, karena harus memiliki legislasi yakni salah satunya uji kompetensi.

C.      Manfaat

Manfaat dari pembuatan laporan ini adalah mengetahui bahwa profesi bidan dalam melaksanakan praktiknya terlebih dahulu melalui proses legislasi meliputi sertifikasi, registrasi dan lisensi serta izin praktik setelah lulus uji kompetensi. Sehingga memberi perlindungan terhadap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Dengan begitu dapat memberikan kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

A.      Pengertian Legislasi

Legislasi adalah proses pembuatan undang-undang atau penyempurnaan perangkat hukum yang sudah ada melalui serangkaian kegiatan sertifikasi (pengaturan kompetensi), registrasi (pengaturan kewenangan), dan lisensi (pengaturan penyelenggaraan kewenangan). Rencana yang sedang dijalankan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sekarang adalah dengan mengadakan uji kompetensi terhadap para bidan. Uji kompetensi adalah  minimal sekarang para bidan yang membuka praktek atau memberikan pelayanan kebidanan harus memiliki ijasah setara D3.

Uji kompetensi yang dilakukan merupakan syarat wajib sebelum terjun ke dunia kerja. Uji kompetensi itu sekaligus merupakan alat ukur apakah tenaga kesehatan tersebut layak bekerja sesuai dengan keahliannya. Mengingat maraknya sekolah-sekolah ilmu kesehatan yang terus tumbuh setiap tahunnya.Jika tidak lulus dalam uji kompetensi, jelas bidan tersebut tidak bisa menjalankan profesinya. Karena syarat untuk berprofesi adalah memiliki surat izin yang dikeluarkan setelah lulus uji kompetensi.

B.       Tujuan Legislasi

Tujuan legislasi adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan yang telah diberikan. Bentuk perlindungan tersebut adalah meliputi :

1.    Mempertahankan kualitas pelayanan

2.    Memberi kewenangan

3.    Menjamin perlindungan hukum

4.    Meningkatkan profisionalisme

SIB (Surat Izin Bidan) adalah bukti Legislasi yang dikeluarkan oleh DEPKES yang menyatakan bahwa bidan berhak menjalankan pekerjaan kebidanan.

 

 

 

C.      Peranan Legislasi

Peranan legislasi adalah menjamin perlindungan pada masyarakat pengguna jasa profesi dan profesi sendiri, legislasi sangat berperan dalam pemberian pelayanan professional. Dalam memberikan pelayanan ada hal-hal yang dapat menyebabkan ketidakpuasan pasien atau masyarakat, diantaranya:

1.    Pelayanan yang tidak aman

2.    Sikap petugas yang kurang baik

3.    Kurangnya komunikasi

4.    Salah prosedur

5.    Kurangnya sarana prasarana

6.    Kurangnya informasi

Selain hal-hal yang dapat menyebabkan ketidakpuasan pasien, adapula kriteria agar bidan dikatakan professional, yaitu:

1.    Mandiri

2.    Peningkatan kompetensi

3.    Praktek berdasarkan evidence based

4.    Menggunakan beberapa sumber informasi

Uji kompetensi adalah suatu proses untuk mengukur pengetahuan,keterampilan dan sikap tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi.

1.      Tujuan Uji Kompetensi :

a.       Menegakkan akuntabilitas professional

b.      Menegakkan standar dan etika profesi

c.       Penilaian mutu lulusan pendidikan bidan

d.      Menjaga kepercayaan publik terhadap profesi

2.      Sistem uji kompetensi tenkes ( SK 179/2011)

a.       Bersifat Nasional, dikelola di pemerintah pusat leh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia bersama MTPK dan Organisasi Profesi

b.      Soal uji disusun berdasarkan standar kompetensi, blue print dan kisi-kisi soal yang dikembangkan leh team nasional

c. pelaksanaan uji kompetensi dilakukan oleh institusi pendidikan yang telah terakreditasi bersamaan dengan ujian akhir (exam)

 

3.      Pendekatan uji kompetensi

a.       Untuk menilai kompetensi tingkatan pengetahuan (Know/ Know How) dapat diuji dengan metode MTQ yang fokusnya menanyakan tentang konsep/penerapan konsep pada asuhan kebidanan

b.      Untuk menilai kompetensi tingkat show how, dapat diuji dengan Objective Structure Clinical Examination (OSCE) – untuk menilai kemampuan klinik dan komunikasi

c.       Untuk menilai kompetensi tingkat does, dilakukan dengan metode work-based assessment yaitu dengan menilai kompetensi bidan menggunakan metode portfolio, Direct Observational Procedural Skill (DOPS) – Mini cek

4.      Pelaksanaan uji kompetensi

a.       Dijadwalkan 3kali setahun (April, Agustus dan November)

b.      Jumlah 180 soal dan disediakan waktu 3 jam

c.       Jenis soal yang digunakan adalah MCQ dengan alternatif jawaban (a,b,c,d,e)

d.      Sejumlah soal disajikan dalam bentuk kasus (vignet)

e.       Dilaksanakan pada institusi pendidikan terpilih

f.       Diikuti oleh mahasiswa tingkat akhir setelah lulus UAP (exit examination)

g.      Bagi peserta yang lulus diberi sertifikat kompetensi digunakan untuk mengurus STR 

h.      STR berlaku nasional, bernomer.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002 di buat untuk menyempurnakan permenkes nomor 572 tentang registrasi dan praktik bidan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Sedangkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia NOMOR 1464/MENKES/PER/X/2010 di buat untuk melaksanakan ketentuan bahwa kesehatan perlu mengatur izin dan penyelenggaraan Praktik bidan yaitu pada pasal 23 ayat (5) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 serta menyelaraskan kewenangan bidan dengan tugas pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yaitu merevisi permenkes Nomor HK. 02.02/Menkes/149/I/2010.

A.    Pertimbangan Peraturan Menteri Kesehatan

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1464/MENKES/PER/X/2010 TAHUN 2010
TENTANG
IZIN DAN PENYELENGGARAAN PRAKTIK BIDAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang:

a.         bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 23 ayat (5) Undang-Undang Nomor 36Tahun 2009 tentang Kesehatan perlu mengatur Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan;

b.         bahwa dalam rangka menyelaraskan kewenangan bidan dengan tugas pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang merata, perlu merevisiPeraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/Menkes/149/1/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan;

c.    bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan hurufb, perlu menetapkan kembali Peraturan Menteri Kesehatan tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan.

 

Mengingat:

1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);

2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

4. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);

5.  Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

7.  Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 439/Menkes/Per/VI/2009 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan;

8.  Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 369/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan;

9.  Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 938/Menkes/SK/VIII/2007 tentang Standar Asuhan Kebidanan;

10.Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 161/Menkes/Per/I/2010 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan.

 

MEMUTUSKAN:
Menetapkan: PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG IZIN DAN PENYELENGGARAAN PRAKTIK BIDAN
. (tertera dalam bagan)

KEPUTUSANMENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002

TENTANG

REGISTRASI DAN PRAKTIK BIDAN

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah perlu diadakanpenyempurnaan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor572/Menkes/Per/VI/1996 tentang Registrasi dan Praktik Bidan.

 

Mengingat :

1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3495);

2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3839);

3.    Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara
Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848);

4.    Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3637);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom
(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3952);

6.    Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan
Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Tahun 2001 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4090);

7.    Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan
Dekonsentrasi (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 62, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4095);
196

8.    Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelengaraan
Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 77,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4106);

9.    Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001
Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4124);

10.  Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1994 tentang
Pengangkatan Bidan Sebagai Pegawai Tidak Tetap;

11.  Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2000 tentang
Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1994 tentang
Pengangkatan Bidan Sebagai Pegawai Tidak Tetap;

12.  Keputusan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Nomor
1446.A/Menkes-Kessos/SK/IX/2000
tentang Petunjuk Teknis
Pelaksanaan Perpanjangan Masa Bakti Bidan PTT dan Pengembangan
Karier Bidan Pasca PTT;

13.  Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1277/Menkes/SK/XI/2001
tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan.

 

M E M U T U S K A N:

Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG REGISTRASI
DAN PRAKTIK BIDAN.
(tertera dalam bagan)

 

BAB

Permenkes

NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002

BAB

Permenkes

NOMOR 1464/MENKES/PER/X/2010

I

Ketentuan Umum

a)      Dinyatakan bahwa definisi bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan berlaku

b)      Kepemilikan SIB (surat izin bidan) dan SIPB (surat izin praktik bidan).

I

Ketentuan Umum

a)      Definisi seorang bidan bukan hanya yang telah mengikuti program pendidikan kebidanan namun telah ter Registrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

b)      Perubahan SIB (surat izin bidan) menjadi STR (surat tanda registrasi). STR adalah bukti tertulis yang di berikan oleh pemerintah kepada tenaga kesehatan yang di registrasi setelah memiliki sertifikat kompetensi sedangkan SIB hanya bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pelayanan asuhan kebidanan di Indonesia.

c)      Kepemilikan SIKB yaitu bukti tertulis yang diberikan kepada Bidan yang sudah memenuhi persyaratan untuk bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.

II

Pelaporan dan Registrasi

 

a)      Ketentuan untuk pelaporan peserta didik yang baru lulus ke Dinas Kesehatan provinsi

b)      Kewajiban untuk registrasi bagi bidan yang baru lulus

c)      Penerbitan SIB oleh kepala Dinas Kesehatan Propinsi

d)      Kewajiban untuk kepemilikan SIB termasuk untuk Bidan luar negeri

e)      Pembaharuan SIB

II

Perizinan

a)      Bidan dapat praktik mandiri atau di fasilitas pelayanan kesehatan

b)      Minimal pendidikan Bidan adalah dIII kebidanan

c)      Kewajiban memiliki SIKB untuk Bidan yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan

d)      Kewajiban memiliki SIPB untuk Bidan yang praktik mandiri

e)      Kewajiban memiliki STR, SIKB, dan SIPB yang di keluarkan oleh pemerintah daerah kabupaten/Kota

f)       Kewenangan Bidan untuk hanya menjalankan praktik/ kerja paling banyak 1tempat kerja dan 1tempat praktik

g)      Masa berlaku SIKB dan SIPB

III

Masa Bakti

Masa bakti Bidan sesuai dengan ketentuan peraturan UUD

III

Penyelenggaraan Praktik

a)      Kewenangan Bidan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi pelayanan kesehatan ibu, anak, kespro dan kb

b)      Kewenangan Bidan untuk menjakankan program pemerintah

c)      Kewenangan Bidan yang menjalankan praktik kebidanan di daerah yang tidak ada dokter

d)      Syarat minimal pendidikan untuk Bidan yang bekerja di daerah yang belum ada dokter

e)      Kewajiban Bidan dalam melaksanakan praktik atau kerja dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan profesi

f)       Hak Bidan dalam melaksanakan praktik atau kerjanya.

 

IV

Perizinan

a)      Kewajiban Bidan untuk memiliki SIPB

b)      Masa berlaku untuk SIPB

c)      Kewajiban Bidan untuk meningkatkan ilmu dan keterampilan melalui pendidikan dan pelatihan

IV

Pencatatan dan pelaporan

Kewajiban Bidan untuk melakukan pencatatan dan pendokumentasian sesuai dengan pelayanan yang di berikan

V

Praktik Bidan

Kewenangan Bidan untuk memberikan pelayanan yang meliputi pelayanan kebidanan, KB, dan kesmas.

V

Pembinaan dan Pengawasan

Pembinaan dan pengawasan untuk meningkatkan mutu pelayanan, keselamatan pasien, dan melindungi masyarakat yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

VI

Pencatatan dan pelaporan

Kewajiban Bidan untuk melakukan pencatatan dan pelaporan sesuai dengan pelayanan yang di berikan

VI

Ketentuan peralihan

a)      Ketentuan untuk memiliki SIPB dan jangka waktunya bagi Bidan yang menjalankan praktik mandiri

b)      Ketentuan untuk memiliki SIKB bagi Bidan yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan

VIII

Pembinaan dan pengawasan

a)      Kewajiban Bidan untuk mengumpulkan sejumlah angka kredit yang besarnya di tetapkan oleh organisasi profesi

b)      Kewajiban Bidan untuk mentaati peraturan yang berlaku

c)      Peraturan yang dilarang bagi bidan dalam menjalankan praktiknya

d)      Hal-hal yang terjadi apabila Bidan melanggar ketentuan yang ada di peraturan

VII

Ketentuan Penutup

 

-

IX

Sanksi

Sanksi bagi Bidan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang di atur dalam keputusan

 

-

 

-

X

Ketentuan peralihan

Ketentuan tentang peraturan kepemilikian SIB dan SIPB serta masa berlakunya.

 

-

 

-

XI

Ketentuan Penutup

 

-

 

-

 

-

 

            Berdasarkan analisayang di lakukan pada  tiap BAB permenkes NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002 dengan  NOMOR 1464/MENKES/PER/X/2010 , dapat di simpulkan bahwa permenkes NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002 menekankan kepada kepemilikan SIB dan SIPB dan permenkes NOMOR 1464/MENKES/PER/X/2010 menjelaskan bahwa seorang bidan adalah yang sudah ter Registrasi serta kewajiban Bidan untuk memiliki STR, SIKB dan SIPB sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Contoh Kasus:

JEMBER- Kasus dugaan malpraktek kembali terjadi. Di Jember Jawa Timur, seorang ibu muda mengalami luka robek di bagian anusnya, hingga tidak bisa buang air. Diduga korban yang kini harus buang air besar melalui organ kewanitaannya, di sebabkan kelalaian bidan yang masih magang di puskesmas setempat yang menangani persalinannya. Kini kasus dugaan malpraktek ini di tangani Dinas Kesehatan Kota Jember.

Kasus dugaan malpraktek ini dialami Ika Agustinawati, warga Desa Semboro Kidul, Kecamatan Semboro, Jember. Ibu muda berusia 22 tahun ini, menjadi korban dugaan malpraktek, usai menjalani proses persalinan anak pertamanya, Irza Praditya Akbar. Melihat kondisi bayi yang besar, bidan praktek tersebut melakukan episiotomi atas pengawasan bidan puskesmas..

Diduga karena kecerobohan bidan yang masih magang saat menolong persalinannya di puskesmas Tanggul, Ika mengalami luka robek di bagian organ vital hingga ke bagian anus. Akibatnya, selain terus-terusan mengalami kesakitan, sejak sebulan lalu korban terpaksa buang kotoran melalui alat kelaminnya.

Saat menjalani proses persalinan 3 Februari 2011 lalu, korban dibantu oleh beberapa bidan magang, atas pengawasan bidan puskesmas. Namun, salah seorang bidan magang diduga melakukan kesalahan saat menggunting dinding kemaluan korban.

Terkait kasus ini pihak puskesmas Tanggul saat ini belum memberikan keterangan resmi. Namun, salah seorang bidan magang di duga melakukan kesalahan saat menggunting dinding kemaluan korban.

Terkait kasus ini pihak puskesmas Tanggul saat ini belum memberikan keterangan resmi. Namun, kepala Dinas Kesehatan Kota Jember tengah menangani kasus ini.

Jika terbukti terjadi malpraktek, Dinas Kesehatan berjanji akan menjatuhkan sanksi terhadap petugas persalinan tersebut, sesuai ketentuan yang berlaku.

 

 

 

Identifikasi Kasus

Sesuai dengan PERMENKES 1464/MENKES/PER/X/2010 pasal 10 ayat 3a bahwa bidan di berikan kewenangan melakukan episiotomi, tetapi melakukannya harus terdapat indikasi-indikasi tertentu di antaranya : jalan lahir sempit, bayi terlalu besar, ukuran panggul sempit.

Pada kasus diatas bidan melakukan episiotomi atas indikasi bayi besar, namun bidan salah dalam melakukan pengguntingan organ kewanitaannya ( episiotomi ). Kesalahan tersebut menyebabkan ibu harus buang air besar melalui organ kewanitaannya. Jika bidan terbukti melakukan malpraktek, maka bidan akan dipidana sesuai ketentuan pasal 35 Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan.

B.Uji Kompetensi

      Uji kompetensi adalah suatu proses untuk mengukur pengetahuan,keterampilan dan sikap tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi.

1.      Tujuan Uji Kompetensi :

a.       Menegakkan akuntabilitas profesional

b.      Menegakkan standar dan etika profesi

c.       Penilaian mutu lulusan pendidikan bidan

d.      Menjaga kepercayaan publik terhadap profesi

2.      Sistem Uji Kompetensi Tenkes ( SK 179/2011)

a.       Bersifat Nasional, dikelola di pemerintah pusat leh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia bersama MTPK dan Organisasi Profesi

b.      Soal uji disusun berdasarkan standar kompetensi, blue print dan kisi-kisi soal yang dikembangkan leh team nasional

c.       Pelaksanaan uji kompetensi dilakukan leh institusi pendidikan yang telah terakreditasi bersamaan dengan pelaksanaan ujian akhira (exit exam)

3.      Pendekatan Uji Kompetensi

a.       Untuk menilai kompetensi tingkatan pengetahuan (Know/ Know How) dapat diuji dengan metode MTQ yang fokusnya menanyakan tentang konsep/penerapan konsep pada asuhan kebidanan

b.      Untuk menilai kompetensi tingkat show how, dapat diuji denganObjective Structure Clinical Examination (OSCE) – untuk menilai kemampuan klinik dan komunikasi

c.       Untuk menilai kompetensi tingkat does, dilakukan dengan metodework-based assessment yaitu dengan menilai kompetensi bidan menggunakan metode portfolio, Direct Observational Procedural Skill (DOPS) - Mini cek

4.      Pelaksanaan Uji Kompetensi

a.       Dijadwalkan 3kali setahun (April, Agustus dan November)

b.      Jumlah 180 soal dan disediakan waktu 3 jam

c.       Jenis soal yang digunakan adalah MCQ dengan alternatif jawaban (a,b,c,d,e)

d.      Sejumlah soal disajikan dalam bentuk kasus (vignet)

e.       Dilaksanakan pada institusi pendidikan terpilih

f.       Diikuti oleh mahasiswa tingkat akhir setelah lulus UAP (exit examination)

g.      Bagi peserta yang lulus diberi sertifikat kompetensi digunakan untuk mengurus STR 

h.      STR berlaku nasional, bernomer nasional yang ditetapkan leh MTKI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB IV

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Legislasi adalah proses pembuatan undang-undang atau penyempurnaan perangkathukum yang sudah ada melalui serangkaian kegiatan sertifikasi (pengaturan kompetensi), registrasi (pengaturan kewenangan), dan lisensi (pengaturan penyelenggaraan kewenangan). Tujuan dilakukannya legislasi adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan yang telah diberikan. Salah satu yang harus dilalui oleh seorang bidan sebelum dapat bekerja dan mengajukan permohonan SIB adalah melewati uji kompetensi.

Contoh legislasi dalam praktik kebidanan dapat dilihat dari segi sertifikasi berupa ijasah yang di dapat oleh seorang bidan setelah selesai menempuh pendidikan, segi uji kompetensi berupa tes yang diberikan kepada bidan setelah lulus pendidikan. Lalu STR yaitu berupa tanda bahwa bidan tersebut telah lulus dalam uji kompetensi dan telah memenuhi persyaratan. Dan dari segi SIKB-SIPB, contohnya seorang bidan yang ingin bekerja di suatu institusi kesehatan harus memiliki SIKB, dan jika ingin membuka suaatu BPM maka harus memiliki SIPB.

B.       Saran

Mengingat pentingnya peranan legisalsi dalam praktik kebidana, maka diharapkan seorang bidan mengikuti serangkaian kegiatan yang telah diatur dalam legisalsi guna menjamin pelayanan yang diberikan di masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS MK ASKEB LANJUT I : ASKEB PADA BAYI DAN BALITA SEHAT

Ibu-ibu mahasiswa D4 Kebidanan Klinik

Dalam rangka perkuliahan askeb lanjut I yang membahas askeb bayi dan balita sehat, ibu-ibu  saya tugaskan untuk menyusun satu makalah yang  membahas tentang evidenced based asuhan kebidanan pada bayi dan balita sehat, misalnya: kenapa sekarang bayi tidak boleh diberi bedak, perawatan tali pusat tanpa obat, delay cord clamping, IMD, stimulasi dini, ASI ekslusif 6 bulan dll. jurnal bisa diunduh di : pubmed, highwire, ebscohost, proquest dll.

adapun sistematika makalahnya:

  • judul
  • kata pengantar
  • pendahuluan: latar belakang, tujuan, manfaat
  • tinjauan pustaka
  • pembahasan: kaitkan dengan tinjauan pustaka dan prosesnya
  • simpulan dan saran

makalah diketik dengan spasi 1,5. serta dibuat power pointnya untuk presentasi saat jadwal perkuliahan. makalah dikumpulkan ke saya sehari sebelum jadwal perkuliahan askeb lanjut I tersebut.

demikian tugas yang mesti disusun, atas kerjasamanya diucapkan terima kasih. selamat bekerja.

 

BTK,

ni wayan  armini, M.keb

Askeb bayi dan balita sehat

HAND OUT

 

Mata Kuliah                                       :     Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita, dan Anak Prasekolah

Topik / Sub Topik                         :     Kebutuhan Dasar neonatus, bayi, balita, dan anak prasekolah

  1. Asih: ikatan kasih sayang dan sibling rivalry
  2. Asuh : pemenuhan nutrisi, konsep imunologi dan imunisasi, perawatan sehari-hari (memandikan, memberi minum/menyusui,menyendawakan dan pijat bayi).
  3. Asah (deteksi dan stimulasi)

Waktu                                                  :     10 x 50 menit

Dosen                                                  :     Ni Wayan Armini, M. Keb.

Objektif dari Silabus (Terminal Objective)     :    

Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa mampu :

  1. Menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan Bonding Attachment dengan benar.
  2. Menjelaskan tentang bagaimana Respon Ayah dan Keluarga terhadap Bayi Baru Lahir dengan benar.
  3. Menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan Sibling Rivally dengan benar.
  4. Menganalisis kebutuhan asuh pada neonatus, bayi, balita, dan anak prasekolah meliputi nutrisi, imunisasi, perawatan sehari-hari, minum/menyusui, menyendawakan dan memijat bayi)
  5. Menganalisis kebutuhan asah pada neonatus, bayi, balita dan anak prasekolah meliputi deteksi dini dan stimulasi.

 

Sumber Pustaka                               :

  1. Mirriamstoppard, complete baby and child care, 1995
  2. Varney, H. 1997. Varney’s Midwifery 3th edition. Jones and Bartlett. New York. Hal. 623-625
  3. Linda V. Walsh. 2003. Midwifery Chapter 23. W. B. Saunders. San Fransisco California. Hal. 330-335
  4. Pusdiknakes, WHO, JHPIEGO. 2003. Buku IV Asuhan Kebidanan pada Ibu Post Partum. Hal. 30-37
  5. Hidayat, Azis Alimul. 2009. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan.
  6. Jakarta : Salemba MedikaHasni. (2012). asuhan kebidanan neonatus, bayi dan balita “imunisasi” .<http://www. asuhan-kebidanan-neonatus-bayi-dan.html> [ 12 Novemver 2012].
    1. Prawirohardjo, Sarwono, 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
    2. Purnamasari, Dewi, 2011. Panduan Pijat Praktis Balita Anda agar Cerdas dan Sehat. Yogyakarta: Pustaka Salomon
    3. Putri, Alissa, 2009. Pijat dan Senam Untuk Bayi dan Balita Panduan Praktis Memijat Bayi dan Balita. Yogyakarta: Brilliant Offset
    4. Tumbuh Kembang anak
    5. Modul MTBS dan MTBM

A.    PENDAHULUAN

Setiap orang tua tentu berkeinginan agar anaknya dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang terbaik sesuai dengan potensi genetik yang ada pada anak tersebut. Hal ini dapat tercapai apabila kebutuhan dasar anak terpenuhi. Kebutuhan dasar ini mencakup asah, asih, dan asuh. Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi sejak dini, bahkan sejak bayi berada dalam kandungan.

Kebutuhan dasar yang baik dan cukup seringkali tidak bisa dipenuhi oleh seorang anak karena faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal menyangkut keadaan ekonomi, sosial dan spiritual keluarga serta peran bidan. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang terdapat didalam diri anak yang secara psikologis muncul sebagai problema pada anak.

Faktor yang paling terlihat pada lingkungan masyarakat adalah kurangnya pengetahuan ibu mengenai kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus dipenuhi anak pada masa pertumbuhan dan perkembangan. Peran bidan dalam hal ini adalah memberi informasi yang baik dan benar berkaitan dengan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

B.     URAIAN MATERI/EXPLANATION

  1. Asih

Asih (kebutuhan emosional) adalah kasih sayang dari orang tua akan menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan dasar untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik maupun mental.

1.        Ikatan Kasih Sayang

  1. a.        Pada Neonatus

Cara untuk melakukan Bounding Attachment pada neonates:

1)      Pemberian ASI ekslusif

Dengan dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir, secara langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang menjadikan ibu merasa bangga dan diperlukan , rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.

 

2)      Rawat gabung

Rawat gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi.Bayi yang merasa aman dan terlindung, merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari. Dengan memberikan ASI ekslusif, ibu merasakan kepuasan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini juga memperlancar produksi ASI, karena refleks let-down bersifat psikosomatis. Ibu akan merasa bangga karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila ayah bayi berkunjung akan terasa adanya suatu kesatuan keluarga.

 

3)      Kontak mata (Eye to Eye Contact)

Beberapa ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka,mereka merasa lebih dekat dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Seringkali dalam posisi bertatapan.Bayi baru lahir dapat diletakkan lebih dekat untuk dapat melihat pada orang tuanya.  Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakukan kemudian dengan segera.Kontak mata mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai faktor yang penting dalam hubungan manusia pada umumnya.

 

4)      Suara (Voice)

Mendengar dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat penting.orang tua menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang. Suara tersebut membuat mereka yakin bahwa bayinya dalam keadaan sehat.Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan menghibur. Sewaktu orang tua berbicara dengan nada suara tinggi, bayi akan menjadi tenang dan berpaling kearah mereka. Respon antara ibu dan bayi berupa suara masing-masing. Orang tua akan menantikan tangisan pertama bayinya. Dari tangisan itu, ibu menjadi tenang karena merasa bayinya baik-baik saja (hidup). Bayi dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak mengherankan jika ia dapat mendengarkan suara-suara dan membedakan nada dan kekuatan sejak lahir, meskipun suara-suara itu terhalang selama beberapa hari oleh sairan amniotik dari rahim yang melekat dalam telinga.

 

5)      Aroma / Odor (Bau Badan)

Setiap anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk mengenali aroma susu ibunya. Indera penciuman pada bayi baru lahir sudah berkembang dengan baik dan masih memainkan peran dalam nalurinya untuk mempertahankan hidup. Indera penciuman bayi akan sangat kuat, jika seorang ibu dapat memberikan bayinya Asi pada waktu tertentu.

 

6)      Gaya bahasa (Entrainment)

Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan. Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyangkan tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki. Entrainment terjadi pada saat anak mulai bicara.  Bayi baru lahir menemukan perubahan struktur pembicaraan dari orang dewasa. Artinya perkembangan bayi dalam bahasa dipengaruhi kultur, jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dengan demikian terdapat salah satu yang akan lebih banyak dibawanya dalam memulai berbicara (gaya bahasa). Selain itu juga mengisyaratkan umpan balik positif bagi orang tua dan membentuk komunikasi yang efektif.

 

7)      Bioritme (Biorhythmicity)

Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Janin dalam rahim dapat dikatakan menyesuaikan diri dengan irama alamiah ibunya seperti halnya denyut jantung. Salah satu tugas bayi setelah lahir adalah menyesuaikan irama dirinya sendiri. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberikan perawatan penuh kasih sayang secara konsisten dan dengan menggunakan tanda keadaan bahaya bayi untuk mengembangkan respon bayi dan interaksi sosial serta kesempatan untuk belajar.

 

8)      Inisiasi Dini

Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu. Ia akan merangkak dan mencari puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat melakukan reflek sucking dengan segera. Menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini :

a)    Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat.

b)   Reflek menghisap dilakukan dini.

c)    Pembentukkan kekebalan aktif dimulai.

d)   Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak (body warmth (kehangatan tubuh); waktu pemberian kasih sayang; stimulasi hormonal).

 

  1. b.        Pada Bayi

Tahap-tahap bonding attachment adalah sebagai berikut:

1)      Perkenalan (acquaintance) dengan melakukan kontak mata, memberikan sentuhan, mengajak berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya

2)      Keterikatan (bonding)

3)      Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain

 

Elemen-elemen bonding attachment dapat dijelaskan sebagai  berikut:

1)      Sentuhan

Sentuhan atau indera peraba dipakai secara inkstensif oleh orang tua sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya. Gerakan dilakukan untuk menenangkan bayi.

2)      Kontak mata

Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua, dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan  dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya.

 

3)      Suara

Saling mendengar dan merespon suara antara orang tua dengan bayinya juga penting dilakukan. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang. Sementara itu, bayi akan menjadi tenang dan berpaling  kearah orang tua mereka saat orang tua mereka berbicara dengan suara bernada tinggi.

 

4)      Aroma

Perilaku lain yang terjalin antara orang tua dan bayi ialah respon terhadap aroma/bau masing-masing. Ibu mengetahui bahwasetiap anak memiliki aroma yang unik, sementara itu bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya.

 

5)      Hiburan

Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyangkan tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kakinya. Hiburan  terjadi saat anak mulai bicara. Irama ini berfungsi memberi umpan baik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.

 

6)      Bioritme

Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan member kasih saying yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan prilakuk responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.

 

7)      Kontak dini

Keuntungan fisiologis yang diperoleh dari kontak dini yaitu:

  1. Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat
  2. Refleks mengisap dilakukan sedini mungkin
  3. Pembentukan kekebalan aktif dimulai
  4. Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak melalui kehangatan tubuh, waktu pemberian kasih sayang dan memberikan stimulasi hormonal

Prinsip-prinsip dan upaya bonding attachment :

1)      Bonding attachment dilakukan dimenit pertama dan jam pertama

2)      Orang tua merupakan orang yang menyentuh bayi pertama kali

3)      Adanya ikatan yang baik dan sistematis

4)      Orang tua ikut terlibat dalam proses persalinan

5)      Persiapan (perinatal care)

6)      Cepat melakukan proses adaptasi

7)      Kontak sedini mungkin sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta member rasa nyaman.

8)      Tersedianya fasilitas untuk kontak lebih lama

9)      Penekanan pada hal-hal positif

10)  Adanya perawat maternitas khusus (bidan)

11)  Libatkan anggota keluarga lainnya

12)  Pemberian informasi bertahap mengenai bonding attachment

 

Dampak positif bonding attachment adalah bayi merasa dicintai, diperhatikan, merasa aman, serta berani mengadakan eksplorasi. Hambatan yang biasa ditemui adalah kurangnya system dukungan, ibu dan bayi yang beresiko, kehadiran bayi yang tidak diinginkan.

 

Gambar 1. Ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi

 

 

  1. c.         Pada Balita

Untuk dapat menjalin ikatan emosi yang erat dengan anak kita, berikut ini ada beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman bagi orangtua atau orang yang dekat dengan anak dalam melakukan interaksi dengan balita :

1)        Berikan rangsangan positif kepada balita. Misalnya dengan belaian/ sentuhan /pijatan–pijatan lembut, ucapan-ucapan lembut/bisikan-bisikan mesra, kecupan, dan suara-suara yang menenangkan bayi.

2)        Tanggap terhadap kebutuhan balita.

3)        Ajak anak bermain yang dapat membuatnya gembira atau tertawa. Misalnya dengan main “ciluk ba”, menggelitikinya sesekali, memainkan boneka dengan suara-suara lucu atau menunjukkan wajah-wajah ganjil (memasang ekspresi lucu), membadut (bicara dengan cara yang dilebih-lebihkan), kemudian tertawalah bersama anak. Pada umumnya, kita akan merasa lebih dekat dengan seseorang yang tertawa bersama kita, demikian pula halnya dengan anak.

4)        Sengaja meluangkan waktu bersama anak untuk dapat memberikan kualitas pengasuhan yang baik. Jangan menghadapi anak dengan terpaksa atau hanya hadir secara fisik saja. Usahakan menghadapi anak dengan menghadirkan “hati” juga.

5)        Terima anak apa adanya dengan tulus dan ikhlas, sekalipun ia cacat atau tidak sesuai dengan harapan kita. Sebab penolakan terhadap anak, menyebabkan hubungan orangtua-anak menjadi tegang dan menghalangi orangtua untuk memberikan kasih sayangnya.

6)        Jangan bersikap kasar, kesal dan menunjukkan kemarahan terhadap balita karena balita juga bisa merasakan ketidaknyamanan ini dan merekamnya dalam ingatannya sehingga membuat orangtua menjadi “jauh” terhadap anak.

 

Peran bidan dalam hal ini adalah :

1)        Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama pasca kelahiran.

2)        Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.

3)        Sewaktu pemeriksaan ANC, Bidan selalu mengingatkan ibu untuk menyentuh dan meraba perutnya yang semakin membesar

4)        Bidan mendorong ibu untuk selalu mengajak janin berkomunikasi

5)        Bidan juga mensupport ibu agar dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilannya dalam merawat anak, agar saat sesudah kelahiran nanti ibu tidak merasa kecil hati karena tidak dapat merawat bayinya sendiri dan tidak memiliki waktu yang seperti ibu inginkan

6)        Ketika dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan salah satu cara bonding attachment dalam beberapa saat setelah kelahiran, hendaknya Bidan tidak benar-benar memisahkan ibu dan bayi melainkan Bidan mampu untuk mengundang rasa penasaran ibu untuk mengetahui keadaan bayinya dan ingin segera memeluk bayinya.  Pada kasus bayi atau ibu dengan risiko,  ibu dapat tetap melakukan bonding attachment ketika ibu member ASI bayinya atau ketika mengunjungi bayi di ruang perinatal.

 

 

  1. d.        Pada Anak Prasekolah

Ikatan emosi dan kaish sayang yang erat antara ibu/orangtua sangatlah penting, karena berguna untuk menentukan prilaku anak di kemudian hari, merangsang perkembangan otak anak, serta merangsang perhatian anak terhadap dunia luar.Oleh karena itu, kebutuhan asih ini meliputi :

1)   Kasih sayang orangtua

Orangtua yang harmonis akan mendidik dan membimbing anak dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang tidak berarti memanjakan atau tidak pernah memarahi, tetapi bagaimana menciptakan hubungan yang hangat dengan anak, sehingga anak merasa aman dan senang.

2)   Rasa aman

Adanya interaksi yang harmonis antara orangtua dan anak akan memberikan rasa aman bagi anak untuk melakukan aktivitas sehari-harinya.

3)   Harga Diri

Setiap anak ingin diakui keberadaan dan keinginannya. Apabila anak diacuhkan, maka hal ini akan menyebabkan frustasi

4)   Dukungan/dorongan

Dalam melakukan aktivitas, anak perlu memperoleh dukungan dari lingkungannya. Apabila orangtua sering melarang aktivitas yang akan dilakukan, maka hal tersebut dapat menyebabkan anak ragu-ragu dalam melakukan setiap aktivitasnya. Selain itu, orangtua perlu memberikan dukungan agar anak dapat mengatasi stressor atau masalah yang dihadapi.

5)   Mandiri

Agar anak menjadi pribadi yang mandiri, maka sejak awal anak harus dilatih untuk tidak selalu tergantung pada lingkungannya. Dalam melatih anak untuk mandiri tentunya harus menyesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan.

6)   Rasa memiliki

Anak perlu dilatih untuk mempunyai rasa memiliki terhadap barang-barang yang dimilikinya, sehingga anak tersebut akan mempunyai rasa tanggung jawab untuk memelihara barangnya.

7)   Kebutuhan akan sukses, mendapatkan kesempatan, dan pengalaman

Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan sifat-sifat bawaannya. Tidak pada tempatnya jika orangtua memaksakan keinginannya untuk dilakukan oleh anak tanpa memperhatikan kemauan anak.

 

Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ikatan kasih sayang :

1)        Berikan rangsangan positif. Misalnya dengan belaian/ sentuhan / pijatan – pijatan lembut, ucapan-ucapan lembut, kecupan, dan suara-suara yang menenangkan.

2)        Tanggap terhadap kebutuhan anak. Misalnya bila anak menangis, segera cari tahu apa yang menyebabkannya untuk kemudian segera mengatasinya.

3)        Ajak anak bermain yang dapat membuatnya gembira atau tertawa. Misalnya dengan main “ciluk ba”, menggelitikinya sesekali, memainkan boneka dengan suara-suara lucu atau menunjukkan wajah-wajah ganjil (memasang ekspresi lucu), membadut (bicara dengan cara yang di lebih-lebihkan), kemudian tertawalah bersama anak. Pada umumnya, kita akan merasa lebih dekat dengan seseorang yang tertawa bersama kita, demikian pula halnya dengan anak.

4)        Sengaja meluangkan waktu bersama anak untuk dapat memberikan kualitas pengasuhan yang baik. Jangan menghadapi anak dengan terpaksa atau hanya hadir secara fisik saja. Usahakan menghadapi anak dengan menghadirkan “hati” juga.

5)        Terima anak apa adanya dengan tulus dan ikhlas, sekalipun ia cacat atau tidak sesuai dengan harapan kita. Sebab penolakan terhadap anak, menyebabkan hubungan orangtua-anak menjadi tegang dan menghalangi orangtua untuk memberikan kasih sayangnya.

6)        Jangan bersikap kasar, kesal dan menunjukkan kemarahan terhadap anak karena anak bisa merasakan ketidaknyamanan ini dan merekamnya dalam ingatannya sehingga membuat orangtua menjadi “jauh” terhadap anak.

 

  1. 2.        Sibling Rivalry
  2. a.        Pengertian

Sibling rivarly adalah bentuk perilaku anak yang memiliki adik baru. Anak cenderung bersikap lebih nakal karena merasa cemburu dan tersaingi atas kehadiran adiknya, terlebih lagi ketika ia melihat ibunya sedang bersama adiknya. Perilaku ini biasanya ditunjukan untuk menarik perhatian ibu dan biasanya muncul pada anak-anak usia 12-18 bulan.

Gambar 2. Sibling rivalry, bentuk perilaku anak yang memiliki adik baru

 

  1. b.        Faktor-Faktof yang Dapat Menimbulkan Sibling Rivalry dan Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan

Menurut Boyle, pencetus timbulnya sibling rivalry ada dua yaitu:

1) Usia

Jarak antara kakak beradik yang dekat cenderung menimbulkan adanya sibling rivalry. Perbedaan usia antara 2 sampai 4 tahun merupakan usia yang paling mengancam terutama bila kakak masih sangat muda dan belum memahami situasi. Sibling rivalry muncul umumnya pada anak usia prasekolah yaitu pada usia 1 tahun sampai 6 tahun.

2) Jenis kelamin

Jenis kelamin yang berbeda antara kakak adik cenderung jarang menimbulkan persaingan dibanding anak yang memiliki jenis kelamin yang sama. Jenis kelamin yang berbeda antara kakak adik lebih menunjukan hubungan yang positif dibanding kakak adik yang memiliki jenis kelamin sama.

 

Faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap munculnya sibling rivalry diantaranya:

1)        Peran orang tua

2)        Besarnya keluarga

Besarnya keluarga mempengaruhi sering dan kuatnya rasa cemburu dan iri hati. Cemburu lebih umum pada keluarga kecil dengan 2-3 anak dari pada dalam keluarga besar dimana tidak ada anak yang menerima perhatian lebih besar dari orang tua.

3)        Umur

Jarak kelahiran anak dan usia anak berpengaruh terhadap munculnya sibling rivalry.

4)        Jenis kelamin

Jenis kelamin yang berbeda dari anak dapat meningkatkan timbulnya sibling rivalry dibanding yang berjenis kelamin sama

5)        Posisi anak

Sibling rivalry cenderung terjadi antara anak pertama dengan anak kedua dibanding dengan anak terakhir.

 

Hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry, sehingga anak dapat bergaul dengan baik, antara lain:

1)        Tidak membandingkan antara anak satu sama lain.

2)        Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri.

3)        Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda.

4)        Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain.

5)        Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.

6)        Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu  sama lain.

7)        Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil bagi anak satu dengan yang lain berbeda.

8)        Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang.

9)        Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka sendiri.

10)    Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasan fisik.

11)    Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan untuk anak-anak.

12)    Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain.

13)    Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak.

14)    Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus.

 

  1. c.         Tanda-Tanda Sibling Rivalry

Anda dapat mengeksploitasikan perasaan cemburu dengan berbagai cara yang kreatif, yaitu :

1)   Melakukan kekerasan baik secara fisik maupun psikis seperti memukul adik atau kakaknya, mendorong anak lain dari pangkuan ibunya, memahami secara verbal atau melakukan penghinaan.

2)   Regresi pada anak yang lebih tua seperti menunjukan perilaku perkembangan sebelumnya misal, kembali mengompol atau meminta botol susu

3)   Displacement, anak mengalami perubahan penampilan disekolah misalnya menunjukan perilaku yang buruk disekolah.

4)   Anak mengalami gangguan dalam tidur dan terjadi perubahan dalam pola tidurnya

5)   Anak mengalami depresi atau menderita kegelisahan akan perpisahan.

 

  1. d.        Dampak Sibling Rivalry

Pengaruh dari sibling rivalry dapat berdampak pada anak, orangtua dan masyarakat secara tidak langsung. Efek dari perilaku ini merupakan dampak jangka lama pada anak maupun masyarakat saat anak menjadi bagian dalam masyarakat antara lain :

1)        Anak

Dampak pada anak ada dua hal yang utama. Pertama, anak dapat tumbuh sangat agresif, karena perilaku persaingan yang agresif yang berlangsung lama pada awal masa kanak-kanak dimana pada tahap ini konsep diri mulai terbentuk. Dampak kedua adanya sibling rivalry yaitu anak menjadi rendah diri, karena anak yang merasa gagal dalam merebut cinta kasih dari orangtua dan bila hal ini terjadi secara berulang-ulang anak dapat merasa kecewa dan hilang kepercayaan diri. Anak tumbuh menjadi individu yang sulit beradaptasi terhadap krisis yang ditemui pada tahap perkembangan selanjutnya, terutama pada masa penuh krisis seperti pada masa adolence

2)        Orangtua

Orangtua dapat menjadi stres dengan tingkah laku yang ditunjukan anak-anak dengan sibling rivalry

3)        Masyarakat

Anak yang tumbuh menjadi dewasa dengan kepribadian yang terbentuk dari dampak negatif sibling rivalry yaitu, perilaku psikologis yang merusak yang dapat berupa perilaku agresif atau perilaku kriminal tertentu yang mengganggu masyarakat.

 

 

  1. e.         Sibling Rivalry pada Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah

1)        Pada Neonatus

Pada Neonatus dengan sibling rivalry cara mengatasinya :

a)    Orang tua jangan campur tangan langsung, campur tangan langsung diperlukan saat terdapat tanda-tanda akan terjadinya kekerasan fisik.

b)   Pisahkan keduanya hingga masing-masing tenang, lalu suruh mereka kembali dengan sedikitnya satu ide tentang cara menyelesaikan masalah hingga tidak akan terulang lagi.

c)    Tidak penting yang memulai siapa yang memulai masalah, karena orang tua tak mungkin menemukan anak mana yang bersalah, karena tak satupun dari mereka yang 100% benar ataupun salah.

d)   Jika anak-anak selalu memperebutkan benda yang sama, misalnya mereka rebutan TV, ajaklah mereka dan ajari membuat jadwal daftar TV.

e)    Bantu anak-anak mengembangkan ketrampilan dan menyelesaikan masalah sendiri tanpa kekerasan.

f)    Ajari mereka bagaimana cara berkompromi, menghormati orang lain dan memutuskan sesuatu secara adil.

g)   Jangan berteriak-teriak pada anak-anak.

h)   Ajaklah setiap anak untuk mengungkapkan perasaan mereka tentang saudaranya, misalnya rasa marah dan kecewa. Hal ini akan membantu mereka untuk mengenali emosi negatif dan mengatasinya dikemudian hari

i)     Belajarlah mengatur kemarahan agar anak-anak bisa belajar untuk tidak mudah marah sehingga tidak ada pertengkaran. Tidak perlu berargumen bahwa orang tua sudah bersikap adil, karena sebesar apapun usaha orang tua, anak-anak tetap menemukan ketidakadilan dari perlakuan orang tua.

 

 

 

2)        Pada Bayi

Sibling rivalry adalah bentuk prilaku anak yang memiliki adik baru. Anak cenderung bersikap lebih nakal karena merasa cemburu dan tersaingi atas kehadiran adiknya., terlebih lagi ketika ia melihat ibunya sedang bersama adiknya. Prilaku ini biasanya ditunjukkan untuk menarik perhatian ibu dan biasa muncul pada anak-anak usia 12-18 bulan.

 

3)        Pada Balita

Sibling rivalry dapat diartikan sebagai persaingan antara saudara kandung. Persaingan antara saudara kandung merupakan respon yang normal seorang anak karena merasa ada ancaman gangguan yang mengganggu kestabilan hubungan keluarganya dengan adanya saudara baru.

Cara beradaptasi pada tahap perkembangan ini agar tidak terjadinya sibling rivalry antara lain:

a)      Merubah pola tidur bersama dengan anak-anak pada beberapa minggu sebelum kelahiran.

b)      Mempersiapkan keluarga dan kawan-kawan anak balitanya dengan menanyakan perasaannya terhadap kehadiran anggota baru.

c)      Mengajarkan pada orang tua untuk menerima perasaan yang ditunjukkan oleh anaknya.

d)     Memperkuat kasih-sayang terhadap anaknnya.

 

4)        Pada Anak Pra Sekolah

Pada usia anak prasekolah biasanya orang tua sudah akan kembali melahirkan. Itu berarti seorang anak akan memiliki seorang adik. Hal ini menciptakan suatu keaadaan yang disebut Sibling Rivalry. Ini dikarenakan anak tersebut merasa kasih sayang orang tuanya berpindah pada adiknya. Sibling rivairy adalah perselisihan yang terjadi pada anak atau perselisihan antara kakak dan adik. Sibling rivairy adalah semangat kecemburuan atau kemarahan antar kakak dan adik yang dimulai sejak kelahiran adik dalam keluraga. Faktor penyebab sibling rivairy yakni;

a)      Jenis kelamin antara saudara kandung

Jenis kelamin yang sama dari anak dapat meningkatkan timbulnya sibling rivairy dibandingkan dengan jenis kelamin yang berbeda. Hal ini dikarenakan jenis kelamin yang sama antara saudara kandung dapat memicu terjadinya iri hati yang dikarenakan kebutuhan dan karakteristik yang sama.

b)      Perbedaan usia antara saudara kandung

Sibling rivairy muncul ketika selisih usia saudara kandung terlalu dekat, karena kehadiran adik dianggap menyita waktu dan perhatian terlalu banyak dari orangtua

c)      Sikap orang tua

Sikap orangtua yang membagi perhatian dengan orang lain, mengidolakan anak tertentu, perasaan kesal orangtua, dan membanding-bandingkan anak dapat memicu terjadinya sibling rivairy pada anak. Hal ini dapat mengakibatkan anak merasa mendapatkan perlakuan dan perhatian yang tidak sama dari orangtuanya.

d)     Jumlah keluarga

Cemburu lebih umum terjadi pada keluarga kecil dengan 2-3 anak daripada dalam keluarga besar dimana tidak ada anak yang menerima perhatian lebih besar dari prang tua. Hal ini dikarenakan bila hanya terdapat 2 atau 3 saudara dalam keluarga akan cenderung sering berinteraksi dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga yang lebih banyak.

 

  1. f.         Mengatasi Sibling Rivalry

Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry, yaitu :

1)        Tidak membandingkan antara anak satu sama lain.

2)        Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri.

3)        Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda.

4)        Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain.

5)        Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.

6)        Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu sama lain.

7)        Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil bagi anak satu dengan yang lain berbeda.

8)        Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang.

9)        Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka sendiri.

10)    Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasan fisik.

11)    Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan untuk anak-anak.

12)    Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain.

13)    Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak.

14)    Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus

  1. g.        Peran Bidan

Peran bidan dalam mengatasi sibling rivalry, antara lain:

1)        Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama pasca kelahiran.

2)        Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.

 

  1. B.     Asuh
  2. 1.      Pemenuhan Nutrisi
    1. a.         Pemenuhan nutrisi pada neonatus

Bagi neonatus, ASI merupakan satu-satunya sumber makanan dan minuman yang utama dengan nutrisi yang sebagian besar terkandung di dalamnya. ASI mengandung zat gizi yang sangat lengkap, antara lain karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, faktor pertumbuhan, hormon, enzim dan zat kekebalan. Semua zat ini terdapat secara proporsional dan seimbang satu dengan lainnya. ASI merupakan nutrisi yang paling lengkap untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Komposisi ASI berubah sesuai masa kehamilan dan usia pasca natal (melahirkan). Komposisi ASI yang keluar pada hari pertama sampai hari ke 4-7 (kolostrum) berbeda dengan ASI yang diproduksi hari 7-10 sampai hari ke 14 (ASI transisi) dan ASI selanjutnya (ASI matur). Komposisi tersebut sesuai dengan kebutuhan masing-masing bayi baru lahir.

Komposisi ASI juga berbeda berdasarkan lamanya waktu menyusui. Pada permulaan menyusui (5 menit pertama) disebut foremilk, mengandung kadar protein yang tinggi. ASI yang dihasilkan pada akhir menyusui (setelah 15-20 menit) disebut hindmilk, mengandung kadar lemak yang tinggi. Karena itu, para ibu harus menyusui bayinya sampai tuntas pada satu payudara, baru kemudian dapat berpindah ke payudara yang lain, agar bayi mendapatkan keseluruhan kandungan ASI yang dibutuhkan.

Setelah bayi lahir, cairan encer kekuningan, yang disebut kolostrum, mengalir dari puting ibu sebelum ASI diproduksi. Kolostrum kaya akan kalori, protein dan antibodi. Ini berlangsung selama 1 sampai 4 atau 7 hari pascapersalinan. Bayi baru lahir akan diberi ASI sesuai dengan kapasitas lambung antara 30-90 ml.

Setelah hari ke tujuh hingga usia 28 hari, ASI akan menjadi ASI transisi, kemudian ASI matur. Tidak ada cara yang mudah untuk mengukur seberapa banyak ASI yang dikonsumsi oleh bayi baru lahir, tetapi bukan berarti kita tidak bisa tahu apakah bayi kita cukup mendapatkan ASI. Hal yang harus dipastikan adalah posisi badan bayi pada saat sedang menyusu, serta pelekatan mulut bayi pada payudara ibu telah benar sehingga bayi dapat minum ASI dan bukan hanya ngempeng. Bayi BAK minimal 5-6 kali dalam sehari, dan selesai sendiri menyusunya dengan cara melepaskan sendiri dari payudara ibu. Bayi tampak, tenang, kenyang dan tidak rewel ketika selesai menyusu, dan setiap bulan ada kenaikan BB bayi yang wajar.

Kebutuhan minum pada neonatus yaitu :

1)        Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB/hari

2)        Hari ke 2 = 90 cc/kg BB/hari

3)        Hari ke 3 = 120 cc/kg BB/hari

4)        Hari ke 4 = 150 cc/kg BB/hari

Dan untuk tiap harinya sampai mencapai 180 – 200 cc/kg BB/hari.

 

  1. b.        Pemenuhan nutrisi pada bayi

Rencana asuhan untuk memenuhi kebutuhan minum dan makan bayi adalah dengan membantu bayi mulai menyusu melalui pemberian ASI ekslusif. Prinsip umum menyusui secara dini dan ekslusif adalah sebagai berikut:

1)      Bayi harus disusui sesegera mungkin setelah lahir (terutama dalam 1 jam pertama) dan melanjutkannya selama 6 bulan pertama kehidupan.

2)      Kolostrum harus diberikan, tidak boleh dibuang

3)      Bayi harus diberi ASI ekslusif selama 6 bulan pertama. Artinya tidak boleh member makanan apapun pada bayi selain ASI selama masa tersebut.

4)      Bayi harus disusui kapan saja ia mau,siang atau malam (on demand) yang akan meransang payudara memproduksi ASI secara adekuat.

Untuk mendapatkan ASI dalam jumlah cukup, seorang ibi perlu menjaga kesehatannya sebaik mungkin. Ia perlu minum dalam jumlah cukup, makan makanan bergizi, dan istirahat yang cukup. Oleh sebab itu, bidan harus mengingatkan hal ini pada ibu.

Jumlah rata-rata makanan seorang bayi cukup bulan selama 2 minggu pertama sebanyak 30-60 ml setiap 2-3 jam. Selama 2 minggu pertama, bayi baru lahir hendaknya dibangunkan untuk makan paling tidak setiap 4 jam. Sesudah itu, jika bayu sudah bertambah berat badannya, bayi boleh tidur dalam periode yang lebih lama (terutama malam hari). Untuk meyakinkan bahwa bayimendapat cukup makanan, ibu harus mengamati dan mencatat secerapa sering bayi berkemih. Berkemih paling sedikit 6 kali selama 2-7 hari setelah lahir, ini menunjukkan asupan cairannya adekuat.

Situasi tertentu yang mempengaruhi proses menyusui:

1)      Bayi kembar

Proses dan teknikmenyusui bayi kembar sama dengan menyusui bayi tunggal. Untuk mendapat ASI yang cukup untuk bayi kembarnya, ibu harus minum dalam jumlah yang cukup, makan makanan bergizi, dan istirahat yang cukup. Semakin sering ibu menyusui, semakin banyak susu yang diproduksi.

2)      Ibu yang bekerja jauh dari rumah atau bayi yang tidak dapat minum seluruh ASI

Jika ibu bekerja jauh dari rumah dan tidak dapat membawa bayinya, payudara ibu akan menjadi penuh dan akan memproduksi ASI dalam jumlah sedikit. Untuk menjaga agar payudara tetap memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup, ibu dapat mencoba dengan mengeluarkan susunya selama satu hari.

3)      Situasi ketika ibu tidak dapat menyusui bayinya

a)    Jika ibu menderita penyakit yang serius atau dalam keadaan dehidrasi sebab menyusui dapat memperburuk kesehatan ibu.

b)   Jika ibu menderita AIDS atau infeksi HIV, penyakit ini dapt ditularkan melalui ASI.

Dalam keadaan ini, ibu sebaiknya mendapat bantuan untuk mencari alternative lain dalam memberi makan pada anaknya.

Memulai pemberian ASI dengan langkah permulaan baik

1)      Satukan bayi baru lahir dengan ibunya segera setelah lahir

2)      Bantu ibu memberikan ASI pertama

3)      Bayi hendaknya tidur di samping ibu, pada tempat tidur yang sama

4)      Beri bayi makan sesering mungkin

5)      Beri hanya kolostrum dan ASI

6)      Hindari penggunaan botol

7)      Posisi bayi yang benar pada puting susu ibu sewaktu menyusui akan membantu keberhasilan pemberian ASI.

 

  1. c.         Pemenuhan nutrisi pada balita

Nutrisi adalah salah satu komponen yang penting dalam menunjang keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan. Zat gizi yang mencukupi pada anak harus dimulai sejak dalam kandungan, yaitu dengan pemberian nutrisi yang cukup memadai pada ibu hamil. Setelah lahir, harus diupayakan pemberian ASI secara eksklusif, yaitu pemberian ASI saja sampai anak berumur 4-6 bulan. Sejak berumur 6 bulan, sudah waktunya anak diberikan makanan tambahan atau makanan pendamping ASI. Pemberian makanan tambahan ini penting untuk melatih kebiasaan makan yang baik dan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang mulai meningkat pada masa balita dan prasekolah, karena pada masa ini pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi adalah sangat pesat, terutama pertumbuhan otak.

Kebutuhan gizi yang harus dipenuhi pada masa balita diantaranya energi dan protein. Kebutuhan energi sehari anak untuk tahun pertama kurang lebih 100-120 kkal/ kg berat badan. Untuk tiap 3 bulan pertambahan umur, kebutuhan energi turun kurang lebih 10 kkal/ kg berat badan. Energi dalam tubuh diperoleh terutama dari zat gizi karbohidrat, lemak dan juga protein. Protein dalam tubuh merupakan sumber asam amino esensial yang diperlukan sebagai zat pembangun, yaitu untuk pertumbuhan dan pembentukan protein dalam serum, mengganti sel-sel yang rusak, memelihara keseimbangan asam basa cairan tubuh, serta sebagai sumber energi. Lemak merupakan sumber kalori berkonsentrasi tinggi, selain itu lemak juga mempunyai 3 fungsi, diantaranya sebagai sumber lemak esensial, sebagai zat pelarut vitamin A, D, E, K, serta dapat memberi rasa sedap dalam makanan. Kebutuhan karbohidrat yang dianjurkan adalah 60-70% dari total energi. Sumber karbohidrat dapat diperoleh dari beras, jagung, singkong, tepung-tepungan, gula, dan serat makanan. Serat makanan sangat penting untuk menjaga kesehatan alat pencernaan. Vitamin dan mineral pada masa balita sangat diperlukan untuk mengatur keseimbangan kerja tubuh dan kesehatan secara keseluruhan. Kebutuhan akan vitamin dan mineral jauh lebih kecil dari pada protein, lemak, dan karbohidrat.

Ada beberapa hal yang perlu dihindari bagi anak agar makannya tidak berkurang, seperti membatasi makanan yang kurang menguntungkan, seperti coklat, permen, kue-kue manis karena dapat membuat kenyang sehingga nafsu makan berkurang. Menghindari makanan yang merangsang seperti pedas dan terlalu panas, menciptakan suasana makan yang tentram dan menyenangkan, memilih makanan dengan nilai gizi tinggi, memperhatikan kebersihan perorangan dan lingkungan, tidak memaksa anak untuk makan serta tidak menghidangkan porsi makanan terlalu banyak.

Usia balita dapat kita bedakan menjadi 2 golongan, yaitu sebagai berikut.

1)        Balita usia 1-3 tahun. Jenis makanan yang paling disukai anak balita di usia ini biasanya adalah makanan yang manis-manis, seperti cokelat, permen, es krim, dll. Pada anak usia ini sebaiknya makanan yang banyak mengandung gula dibatasi, agar gigi susunya tidak rusak atau berlubang (caries). Pada usia ini, biasanya anak sangat rentan terhadap gangguan gizi, seperti kekurangan vitamin A, zat besi, kalori dan protein. Kekurangan vitamin A dapat mengakibatkan gangguan fungsi pada mata, sedangkan kekurangan kalori dan protein dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan kecerdasan anak.

2)        Anak usia 4-6 tahun. Pada usia ini, anak-anak masih rentan terhadap gangguan penyakit gizi dan infeksi. Sehingga pemberian makanan yang bergizi tetap menjadi perhatian orang tua, para pembimbing dan pendidik di sekolah. Pendidikan tentang nilai gizi makanan, tidak ada salahnya mulai diajarkan pada mereka. Dan ini saat yang tepat untuk menganjurkan yang baik-baik pada anak, karena periode ini anak sudah dapat mengingat sesuatu yang dilihat dan didengar dari orang tua dan lingkungan sekitarnya. Sehingga akhirnya anak dapat memilih menyukai makanan yang bergizi.

Di bawah ini terdapat beberapa makanan yang dianjurkan untuk balita.

1)      Makanan pendamping untuk balita dapat berupa bubur tepung beras atau beras merah yang dimasak dengan cairan, kaldu daging, susu formula atau air

2)      Makanan pendamping lainnya selain bubur adalah buah-buahan yang dihaluskan dengan blender, seperti buah papaya, pisang, apel, melon, dan alpukat.

3)      Sayur-sayuran dan kacang-kacangan juga dapat dijadikan makanan pendamping balita dengan cara direbus dan dihaluskan dengan blender. Sebaiknya, ketika diblender, bahan makanan pendamping balita ini ditambah dengan kaldu atau air matang supaya lebih halus. Sayuran dan kacang-kacangan tersebut adalah kacang polong, kacang merah, wortel, tomat, kentang, labu kuning, dan kacang hijau.

4)      Makanan pendamping balita pun dapat berupa daging pilihan yang tidak mengandung lemak dan diblender.

5)      Makanan pendamping lainnya juga bisa berupa ikan yang diblender, yaitu ikan yang tidak berduri (ikan salmon, fillet ikan kakap, dan gindara).

Penyebab status nutrisi kurang pada anak :

1)        Asupan nutrisi yang tidak adekuat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif

2)        Hiperaktivitas fisik/ istirahat yang kurang

3)        Adanya penyakit yang menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi

4)        Stres emosi yang dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau absorbsi makanan tidak adekuat.

 

  1. d.        Pemenuhan nutrisi pada anak pra sekolah

Anak usia Pra Sekolah mengalami pertumbuhan sedikit lambat. Kebutuhan kalorinya adalah 85 kkal/kgBB. Penurunan normal dalam nafsu makan di usia ini sering menimbulkan kecemasan tentang nutrisi. Sebagian terbesar, orang tua dapat diyakinkan bahwa jika pertumbuhan normal, masukan anak adalah cukup. Biasanya, orang tua bertanggung jawab untuk memberi kesehatan, makanan pada usia yang cocok dan penentuan waktu dan tempat; anak bertanggung jawab menentukan jumlah masukan makanan. Anak – anak biasanya mengatur jumlah makanannya untuk menyesuaikan kebutuhan tubuhnya menurut rasa lapar atau kenyang. Masukan setiap hari bervariasi, kadang – kadan luas, akan tetapi masukan selama periode 1 minggu relative stabil. Upaya orang tua untuk mengatur masukan anak mengganggu mekanisme pengaturan diri ini karena anak harus menyetujui atau berontak melawan tekanan. Akibatnya adalah kelebihan atau kekurangan makanan. Karakteristik terkait dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi

Gizi seimbang merupakan keadaan yang menjamin tubuh memperoleh makanan          yang cukup mengandung semua zat gizi dalam jumlah yang dibutuhkan. Gizi     lengkap dan seimbang harus mengandung:

1)        Bahan makanan sumber tenaga yang berfungsi untuk beraktifitas. Contoh : beras, roti, kentang, mie.

2)        Bahan makanan sumber zat pembangun, berfungsi untuk pembentukan, pertumbuhan dan pemeliharaan sel tubuh. Contoh: daging, ikan, telur (protein hewani) tempe, tahu (protein nabati)

3)        Bahan makanan sumber zat pengatur berfungsi untuk mengatur proses metabolisme. Contoh : sayuran: bayam, buncis, wortel, tomat, buah-buahan: pisang, pepaya, jeruk, apel

Pada anak usia prasekolah:

1)        Nafsu makan berkurang

2)        Anak lebih tertarik pada aktivitas bermain dengan teman atau lingkungannya daripada makan

3)        Anak mulai senang mencoba jenis makanan baru

4)        Waktu makan merupakan kesempatan yang baik bagi anak untuk belajar dan

5)        Bersosialisasi dengan keluarga

Cara mengatasi kesulitan makan :

1)             Berikan makan pada saat anak tidak lelah

2)             Porsi disesuaikan dengan kebutuhan anak, kecil tapi sering

3)             Jadwal disesuaikan

4)             Tunggu anak lapar

5)             Beri kasih sayang

6)             Variasikan makanan

7)             Berikan bersama makanan kesukaannya

8)             Ajak makan dengan keluarga

9)             Berikan makan sambil bermain

10)         Biarkan anak belajar makan sendiri

11)         Tempatkan makanan pada wadah yang menarik

12)         Beri pujian bila anak menghabiskan porsinya

13)         Berikan sugesti bahwa makanan yang diberikan enak

14)         Ibu harus rileks

15)         Merayu anak untuk makan makanan yang sudah disediakan

Kebutuhan nutrisi anak bisa dipenuhi dengan memberikan makanan dari keempat kelompok makanan penting, yaitu :

1)        Nasi dan alternative.

Makanan ini memberikan energi yang baik, sedikit vitamin dan mineral. Pilihan lain yang meliputi : bubur ayam, mie atau bubur kacang ijo.

2)        Buah-buahan.

Buah-buahan adalah sumber serat yang baik, khususnya vitamin A, C dan mineral seperti kalium. Lebih sering memberikan buah-buahan yang mengandung citrun dan buah-buahan yang isinya berwarna kuning.

3)        Sayur-sayuran.
Merupakan sumber serat dan mineral yang baik seperti kalium, juga memberikan vitamin A, C dan asam folik. Berikan sayuran berwarna hijau atau sayuran berwarna kuning kehijauan

4)        Daging dan alternative

Kelompok ini meliputi tempe, tahu, ikan, susu, telur yang memberikan protein penting, lemak, vitamin dan mineral. Berikan ikan paling sedikit 3 kali dalam seminggu dan berikan sebanyak 5 telur dalam seminggu.

Tips Memberi Makan pada Anak Pra Sekolah

1)      Tetap memberikan susu.

Anak perlu minum susu 2-3 cangkir susu sehari. Susu memberikan kalsium dan pospor yang penting untuk menguatkan tulang dan gigi

2)      Menciptakan makanan yang diinginkan.

Melibatkan anak dalam memilih makanan dan merencanakan menu. Ajaklah dia ke pasar dan terangkan mengenai fungsi dari jenis makanan yang berbeda. Ceritakan kepadanya bahwa makan telur bisa menjadikan otot kuat dan makan wortel bisa menjadikan mata sehat untuk melihat, kesemuanya akan membantu anak untuk memahami mengapa orang tua memberikan makanan ini.

3)      Menyiapkan makanan yang menarik.

Di samping aneka dan sajian makanan, penting juga untuk menarik minat dan perhatian anak. Memotong sayur-sayuran dalam bentuk yang menarik. Anak diberikan sayuran dengan warna dan bentuk yang berbeda seperti wortel, buncis, bayam, jagung. Selain itu atur buah-buahan dalam bentuk yang menarik karena anak akan lebih berselera untuk menikmati rasa buah tersebut. Yang tidak kalah penting adalah jangan mencampur makanan ke dalam satu mangkok. Pisahkan jenis makanan yang berbeda dengan mempergunakan piring yang berbeda.

4)      Menghindari anak makan yang berlebihan.

Kegemukan pada anak-anak merupakan suatu kekuatiran. Anak yang kegemukan bisa mempunyai problema kesehatan dalam kehidupannya di kemudian hari. Untuk mencegah anak kegemukan orang bisa membantu dengan membentuk kebiasaan makan makanan yang baik ketika masih muda. Misalnya hindari menggunakan makanan sebagai bentuk hadiah atau bujukan, memberi makanan kecil yang menyehatkan serta jangan makan yang berlebihan.

5)      Memberi makanan kecil yang sesuai

Anak usia pra sekolah karena dengan ukuran tubuhnya dan seleranya kecil, sangat baik dengan pemberian makanan yang tidak terlalu banyak, yang diberikan empat – enam kali dalam sehari. Oleh karena itu makanan kecil sama pentingnya dengan makanan pokok dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak selama sehari. Makanan kecil yang baik seperti sop kacang merah, kue yang berisi daging, buah-buahan segar, susu, jus buah, susu kedelai, roti, singkong rebus, ubi rebus.

 

  1. 2.      Konsep Imunologi dan Imunisasi ( Dasar/Anjuran )
    1. a.      Pengertian Sistem Imun

Sistem imun membentuk sistem pertahanan badan terhadap bahan asing seperti mikroorganisme, molekul-molekul berpotensi toksik, atau sel-sel tidak normal (sel terinf eksi virus atau malignan). Sistem ini menyerang bahan asing atau antigen dan juga mewujudkan peringatan tentang kejadian tersebut supaya pendedahan yang berkali-kali terhadap bahan yang sama akan mencetuskan gerak balas yang lebih cepat dan bertingkat.

  1. b.      Penggolongan Antibodi, Peran dan Karakteristik

1)      IgS

Antibodi yang paling banyak (85% dari antibodi dalam sirkulasi), ditemukan di darah dan semua kompartemen cairan termasuk cairan serebrospinalis. Di produksi dalam jumlah yang besar pada respon adaptip sekunder sehingga mencerminkan riwayat pajanan terhadap patogen. Bertahan lama. Dapat berdif usi keluar dari aliran darah ke tempat inf eksi akut dan dapat menembus plasenta. Bekerja sebagai opsonin kuat yang menjembatani f agosit dan sel sasaran. Penting dalam pertahanan terhadap bakteri dan pengaktifan sistem komplemen melalui jalur klasik.

2)      IgM

Molekul IgM bergabung dalam kelompok lima “pentamer IgM” sehingga cenderung menggumpalkan antigen yang menjadi sasaran fagosit dan sel NK. Merupakan molekul besar sehingga tidak dapat berdif usi keluar aliran darah. Merupakan aktivator kuat sistem komplemen, penting dalam respon imun terhadap bakteri. Antibodi pertama yang diproduksi daat tubuh menghadapi suatu antigen baru.

3)      IgA

Sebagian besar dalam sekresi, misalnya air liur, air mata, keringat, dan air susu terutama kolostrum. Menyatu dalam kelompok yang terdiri atas dua atau tiga molekul. Melindungi tubuh dengan melekat ke patogen dan mencegah perlekatan patogen ke rongga tubuh. Tidak dapat mengaktif kan komplemen atau menembus plasenta.

4)      IgE

Ekornya berlekatan dengan reseptor di sel mast sehingga berperan dalam peradangan akut, respon alergi dan hipersensitivitas. Tempat pengikatan untuk antigen di parasit yang lebih besar, misalnya cacing dan flukes. Sebagian orang memiliki IgE untuk protein lingkungan yang tidak berbahaya misalnya serbuk sari, kutu debu rumah, dan penisilin.

5)      IgD

Jarang disintesis, hanya sedikit yang diketahui tentang fungsinya. Berukuran besar, hanya dapat ditemukan di darah. Mungkin terlibat dalam stimulasi sel B oleh antigen.

 

 

  1. c.        Perkembangan Imunologi Janin

Pada kehamilan dimana antibodi yang dihasilkan janin jauh sangat kurang untuk merespon invasi antigen ibu/invasi bakteri. Dari minggu ke 20 kehamilan, respon imun janin terhadap antigen mulai meningkat. Respon janin dibantu oleh pemindahan molekul antibodi dari ibu (asalkan ukurannya tidak terlalu besar) ke janin sehingga memberikan perlindungan pasif yang menetap sampai beberapa minggu. Proses kelahiran sendiri, mulai dari pecahnya kantong amnion yang tersegel dan seterusnya akan membuat janin terpajan dengan mikroorganisme baru. Candida albicans, gonococcus dan herpes virus dapat dijumpai pada vagina. Pada kasus infeksi herpes yang diketahui, pelahiran pervaginam tidak diperbolehkan. Begitu lahir, bayi cenderung akan bertemu dengan Staphylococcus aureus, suatu mikroorganisme dimana resisten bayi tehadapnya sangat kecil.
Untuk mengimbangi status imunologi yang belum berkembang dengan baik pada bayi baru lahir, maka pengawasan antenatal yang cermat, pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi atau terapi untuk mengatasi infeksi, teknik-teknik melahirkan yang aseptik tanpa memasukkan mikroorganisme dan perawatan yang cermat dengan memperhatikan segala aspek dalam penanganan bayi baru lahir, semuanya ini merupakan tindakan yang sangat penting.

  1. d.      Sistem Imun Pasif pada Janin

Dalam perkembangannya, Janin dapat terlindung dari lingkungan yang berbahaya selama dalam kandungan. Umumnya kuman patogen atau bibit penyakit tidak dapat menembus barier placenta. Bayi yang baru lahir, tanpa adanya antibodi, akan sangat mudah terinfeksi. Bayi yang mature telah memperoleh antigen dan imunitas pasif dari ibu terhadap jenis-jenis tertentu dalam waktu 6 minggu atau lebih sebelum dilahirkan. Namun demikian, bayi yang meninggalkan lingkungan yang steril untuk kemudian secara tiba-tiba bertemu dengan banyak mikroorganisme dan antigen lainnya. Diperlukan waktu beberapa minggu sebelum imunitas aktif terbentuk.
Proses penyaluran imun pasif dari maternal: Sistem imun janin diperkuat oleh penyaluran imunoglobulin menembus plasenta dari ibu kepada janinnya melalui aliran darah yang membawa antibodi serta penyaluran melalui air susu. Profil imunoglobulin yang disalurkan melalui plasenta dan disekresikan melalui air susu bergantung pada mekanisme transportasi spesifik untuk berbagai kelas imunoglobulin. IgG ibu menembus plasenta ke dalam sirkulasi janin melalui mekanisme aktif spesifik, yang efektif dari sekitar usia gestasi 20 minggu, tetapi aktivitasnya meningkat pesat sejak usia gestasi 34 minggu. Ibu akan menghasilkan respons imun terhadap antigen yang ia temui dengan menghasilkan IgG, yang dapat melewati plasenta. Bahkan kadar IgG ibu rendah, IgG akan tetap di salurkan melalui plasenta. Hal ini berarti janin akan mendapat imunisasi pasif terhadap patogen yang besar ditemukan di lingkungan setelah lahir. Imunitas pasif ini memberikan perlindungan temporer penting pascanatal sampai sistem bayi sendiri matang dan menghasilkan sendiri antibodi

  1. e.        Reaksi Antigen-Antibodi

Dalam bidang imunologi, kuman tau racun (toksik) disebut sebagai antigen. Secara khusus, antigen tersebut merupakan protein dari kuman atau protein racunnya. Bila antigen pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen tersebut kuman, zat anti yang dibentuk disebut antibodi. Berhasil atau tidaknya tubuh memusnahkan antigen atau kuman bergantung pada jumlah zat anti yang dibentuk. Pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antigen/antitoksim terhadap antigen tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai ”pengalaman” untuk mengatasinya. Tetapi pada reaksi ke-2 dan ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai dalam membetuk zat anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-antibody, tubuh anak dengan dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman.
Dengan dasar reaksi antigen tubuh anak akan memberikan perlawanan terhadap benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Dengan demikian anak akan terhindar dari ancaman luar. Akan tetapi setelah beberapa bulan/tahun, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang, sehingga imunitas tubuhpun akan menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak tersebut harus mendapatkan suntikan/ imunisasi ulang.

  1. f.        Imunisasi pada Neonatus

Imunisasi berasal dari kata Imun, kebal atau resistan. Imunisasi berarti pemberian kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Tujuan dari pemberian imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu, bila terjadi penyakit tidak akan terlalu parah dan dapat mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat dan kematian Imunisasi yang diberikan pada neonatus adalah:

1)      BCG

Untuk mencegah timbulnya tuberkolosis (TBC) dapat dilakukan imunisasi BCG. Imunisasi BCG diberikan pada semua bayi baru lahir (neonatus) sampai usia kurang dari 2 bulan. Penyuntikan biasanya dilakukan di bagian atas lengan kanan (region deltoid) dengan dosis 0,05 ml reaksi yang mungkin timbul setelah penyuntikan adalah kemerah-merahan disekitar suntikan, dapat timbul luka yang lama sembuh di daerah suntikan,dan terjadi pembengkakan di kelenjar sekitar daerah suntikan (biasanya di daerah ketiak).

Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar matahari, tidak boleh beku, dan harus disimpan pada suhu 2-8 oC . vaksin yang telah diencerkan harus dibuang dalam 8 jam. Vaksin BCG diberikan pada anak ketika umur ≤ 2 bulan dan sebaiknya dilakukan uji Mantoux terlebih dahulu.

  • Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI)

Penyuntikan BCG secara IC yang benar akan menimbulkan ulkus local superficial di 3 minggu setelah penyuntikan. Ulkus akan sembuh dalam 2-3 bulan dan meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm tergantung pada dosis yang diberikan, dan apabila penyuntikan dilakukan terlalu dalam maka parut akan tertarik ke dalam (retracted). Limfadentitis supuratif di aksila atau leher juga kadang dapat dijumpai tergantung pada umur anak, dosis, dan galur yang dipakai yang akan sembuh dengan sendirinya. Tidak perlu diberikan antituberkulosis sistemik karena hasilnya tidak efektif. BCG-it is desiminasi jarang terjadi, biasanya berhubungna dengan imunosefisiensi berat. Komplikasi lainnya adalah eritema nodosum, iritasi, lupus vulgaris, dan osteomelitis. Komplikasi ini haru diobati dengan kombinasi obat antituberkulosis.

  • Kontraindikasi

Tidak dianjurkan untuk melakukan imunisasi BCG, jika ditemukan hal-hal berikut :

-          Reaksi uji tuberculin > 5 mm

-          Terinfeksi HIV dan atau resiko tinggi HIV, imunokompromais akibat pengobatan sortikosteroid, obat imunosupresif , sedang menjalani terapi radiasi, serta menderita penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau system limfe.

-          Anak menderita gizi buruk

-          Anak menderita demam tinggi

-          Anak menderita ifeksi kulit yang luas

-          Anak pernah menderita tuberculosis

-          Kehamilan

  • Rekomendasi

-          Imunisasi BCG diberikan saat bayi berusia ≤ 2 bulan.

-          Pada bayi yang kontak erat dengan penderita TB, dan melalui pemeriksaan sputum BTA (+3) maka sebaiknya diberikan INH profilaksis terlebih dahulu dan jika kontak sudah tenang dapat diberi BCG

-          Jangan lakukan imunisasi BCG pda bayi atau anak  dengan imunodefisiensi misalnya HIV, gizi buruk, dan lain-lain.

2)      Hepatitis B

Hepatitis B diberikan sebanyak 3 kali. Pada masa neonatus, imunisasi ini hanya diberikan saat bayi berusia 12 jam setelah lahir. ini diberikan dengan satukali suntikan dosis 0,5 ml.

Pemberian imunisasai hepatitis B harus berdasarkan status HbsAg ibu dan pada saat melahirkan, sebagai berikut:

  • Bayi lahir dari ibu dengan status HbsAg tidak diketaui. Diberikan vaksin rekombinan (HB vax-II 15  atau engerik B 10 ) IM dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan umur 1-2 bulan dan dosis ketiga umur 6 bulan. Apabila pemeriksaan selajutnya diketahui HbsAg-nya negative, segera berikan 0,5 mL HBIG (sebelum 1 minggu)
  • Bayi lahir dari ibu HbsAg positif. Dalam kurun waktu 12 jam setelah lahir, secara bersamaan, erikan 0,5 ml HBIG dan vaksin rekombinan, im disisi tubuh yang berlainan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan sesudahnya dan dosis ke tiga pada usia 6 bulan.
  • Bayi lahir dari ibu dengan HbsAg negative. Diberikan vaksin rekombinan atau vaksin plasma derived secara IM pada umur 2-6 bulan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah imunisasi pertama .

Dari hasil riset membuktikan bahwa bayi yang sudah mendapatkan vaksin sebanyak 3x , pada umur 5 tahun masih terdapat titer antibody nti HBsAg protektif (> 10 mlU/ml) itu artinya vaksin hepatitis B tidak perlu dilakukan kecuali titer anti HbsAg < 10 lU/ml. namun bila sampai anak berumur 5 tahun belum mendapat vaksin, maka secepatnya berikan. Ulangan imunisasi hepatitis B (hep B-4) dapat dipertimbangkan pada umur 10-12 tahun.

 

  • KIPI

Efek samping yang terjadi pascaimunisasi hepatitis B pada umumnya ringan , hanya berupa nyeri, bengkak, panas, mual, dan nyeri sendi maupun otot.

  • Kontraindikasi

Sampai saat ini belum dipastikan adanya kontraindikasi absolute terhadap pemberian imunisasi hepatitis B, kecuali pada ibu hamil.

  • Hiporesponder dan Nonresponder

Tanggap kebal pascaimunisasi dapat terjadi oleh hal-hal berikut:

-          Usia tua

-          Pemberian vaksin di daerah bokong

-          Pada anak gemuk

-          Pasien hemodialisis/ transplantasi

-          Pasien yang menadapatkan obat-obatan imunosupresif

-          Pasien leukemia dan penyakit keganasan lainnya

-          Pasien DM dengan insulin dependent

-          Infeksi HIV

-          Pecandu alcohol

Pada keadaan diatas imunisasi perlu diulangi dengan meningkatkan dosis (2x)

3)      Polio

Untuk imunisasi dasar (polio 1,2,3) vaksin diberikan 2 tetes per oral dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Karena Indonesia merupakan daerah endemic polio, maka PPI menambahkan imunisasi polio segera setelah lahir ( polio-0 pada kunjungan 1) dengan  tujuan untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Polio-0 diberikan saat bayi akan pulang ke rumahnya. Imunisasi ulangan diberikan 1 tahun sejak imunisasi polio 4, selanjutnya saat masuk sekolah (5-6 tahun). Vaksin peroral harus disimpan tertutup pada suhu 2-8 oC, jangan tempatkan pada saat terbuka. Dapat pula disimpan beku pada temperature 20 oC dapat dipakai 2 tahun dapat dicairkan dengan cara ditematkan pada telapak tangan dan digulir-gilirkan, jaga agar warna tidak berubah, dan tanggal kadaluarsa tidak terlampaui, hal ini dapat juga dapat berlaku pada vaksin yang telah terpakai.

  • Kontraindikasi

-          Mengalami peyakit akut atau demam (> 38,5 oC), imunisasi harus ditunda

-          Muntah atau diare, imunisasi harus ditunda

-          Dalam masa pengobatan kortikosteroid atau imunosupresif oral maupun suntikan juga pengobatan radiasi umum

-          Keganasan, dan anak dengan mekanisme imunolohis yang terganggu

-          Menderita infeksi HIV

-          Pemberian bersamaan dengan vaksin tifoid oral

  1. g.      Imunisasi pada bayi

1)      Imunisasi Hepatitis B

a)      Vaksin berisi HbsAg murni.

b)      Diberikan sedini mungkin setelah lahir, mengingat paling tidak 3,9% hamil merupakan pengidap hepatitis dengan resiko transmisi maternal kurang lebih sebesar 45%.

c)      Suntikan secara Intra Muskular di daerah deltoid, dosis 0,5 ml.

d)     Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8°C.

e)      Bayi lahir dari ibu HBsAg (+) diberikan imunoglobulin hepatitis B 12 jam setelah lahir + imunisasi Hepatitis B. Dosis kedua 1 bulan berikutnya. Dosis ketiga 5 bulan berikutnya (usia 6 bulan).

f)       Bayi lahir dari ibu HBsAg (-) diberikan vaksin rekombinan atau vaksin plasma derived secara IM, pada umur 2-6 bulan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah imunisasi pertama.

g)      Bayi lahir dari ibu dengan status HbsAg yang tidak diketahui. Diberikan vaksin rekombinan (HB Vax-II 5 mcgatau Engerix B 10 mcg) atau vaksin plasma derived 10 mcg, IM dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan umur 1-2 bulan dan dosis ketiga umur 6 bulan.

h)      Kadar pencegahan anti HBsAg > 10mg/ml.

i)        Apabila sampai 5 tahun anak belum pernah mendapatkan imunisasi hepatitis B, maka secepatnya diberikan.

j)        Ulangan pemberian imunisasi hepatitis B dapat dipertimbangkan pada umur 10-12 tahun.

  • KIPI

Efek samping yang terjadi pascaimunisasi hepatitis B pada umumnya ringan , hanya berupa nyeri, bengkak, panas, mual, dan nyeri sendi maupun otot.

  • Kontraindikasi

Sampai saat ini belum dipastikan adanya kontraindikasi absolute terhadap pemberian imunisasi hepatitis B, kecuali pada ibu hamil.

 

2)      Imunisasi Polio

a)   Vaksin dari virus polio (tipe 1,2 dan 3) yang dilemahkan, dibuat dlm biakan sel-vero : asam amino, antibiotik, calf serum dalam magnesium klorida dan fenol merah

b)   Vaksin berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon, pipet.

c)   Diberikan sesegera mungkin saat bayi akan dipulangkan dari rumah sakit atau rumah bersalin.

d)  Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0,1 ml). Vaksin polio diberikan 4 kali, interval 4 minggu dan imunisasi ulangan, 1 tahun berikutnya, SD kelas I, VI

e)   Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8°C.

 

  • Kontraindikasi

-       Mengalami peyakit akut atau demam (> 38,5 oC), imunisasi harus ditunda

-       Muntah atau diare, imunisasi harus ditunda

-       Dalam masa pengobatan kortikosteroid atau imunosupresif oral maupun suntikan juga pengobatan radiasi umum

-       Keganasan, dan anak dengan mekanisme imunolohis yang terganggu

-       Menderita infeksi HIV

-       Pemberian bersamaan dengan vaksin tifoid oral

 

3)      Imunisasi DPT

a)      Terdiri dari

  • toxoid difteri adalah racun yang dilemahkan
  • Bordittela pertusis adalah bakteri yang dilemahkan
  • toxoid tetanus adalah racun yang dilemahkan (+) aluminium fosfat dan mertiolat

-          Merupakan vaksin cair. Jika didiamkan sedikit berkabut, endapan putih didasarnya.

-          Diberikan pada bayi > 2 bulan oleh karena reaktogenitas pertusis pada bayi kecil.

-          Dosis 0,5 ml secara intra muskular di bagian luar paha.

-          Imunisasi dasar 3x, dengan interval 4 minggu.

-          Vaksin mengandung Aluminium fosfat, jika diberikan sub kutan menyebabkan iritasi lokal, peradangan dan nekrosis setempat.

-          Reaksi pasca imunisasi:

-          Demam, nyeri pada tempat suntikan 1-2 hari ® diberikan anafilatik + antipiretik

-          Bila ada reaksi berlebihan pasca imunisasi ® demam > 40°C, kejang, syok ® imunisasi selanjutnya diganti dengan DT atau DpaT

  • Efek samping

-          Panas

Kebanyakan terjadi pada sore hari setelah mendapatkan suntikan DPT, tetapi akan sembuh dalam 1-2 hari. Namun bila terjadi panas lebih dari 1 hari setelah imunisasi maka itu bukanlah disebabkan vaksin DPT, mungkin ada infeksi lain yang harus di teliti lebih lanjut. Berikan 1/4 tablet antipiuretik untuk mengatasi efek samping tersebut bila panas lebih dari 39 oC , anjurkan agar anak tidak dibungkus dengan baju tebal dan mandikan anak dengan cara membasuh.

-          Rasa sakit di daerah suntikan

Sebagian anak merasakan nyeri, sakit, kemerahan, dan bengkak di tempat suntikan. Hal ini tidak berbahaya dan tidak perlu pengobatan.

-          Peradangan

Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih sesudah vaksin, maka hal itu mungkin disebabkan oleh peradangan yang mungkin disebabkan oleh beberapa factor berikut: jarum suntik tidak steril, penyuntikan kurang dalam.

-          Kejang-kejang

Reaksi ini jarang terjadi, tapi perlu diketahui oleh petugas. Reaksi ini disebabkan oleh komponen pertusis dari DPT. Oleh karena efek samping ini cukup berat, maka anak yang pernah mendapat reaksi ini tidak boleh mendapatkan vaksin DPT lagi, tapi diganti menjadi vaksin DT saja.

4)      Imunisasi Campak

Vaksin dari virus hidup (CAM 70- chick chorioallantonik membrane) yang dilemahkan + kanamisin sulfat dan eritromisin Berbentuk beku kering, dilarutkan dalam 5 cc pelarut aquades.

-    Diberikan pada bayi umur 9 bulan oleh karena masih ada antibodi yang     diperoleh dari ibu.

-    Dosis 0,5 ml diberikan sub kutan di lengan kiri.

-    Disimpan pada suhu 2-8°C, bisa sampai – 20 derajat celsius

-    Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8°C

-    Jika ada wabah, imunisasi bisa diberikan pada usia 6 bulan, diulang 6 bulan kemudian

-    Efek samping: demam, diare, konjungtivitis, ruam setelah 7 – 12 hari pasca imunisasi. Kejadian encefalitis lebih jarang.

 

  • KIPI

Reaksi KIPI campak banyak dijumpai pada imunisasi ulang dengan vaksin campak dari virus yang dimatikan. Sedangkan untuk vaksin dengan virus yang dilemahkan kejadian KIPI telah menurun. Gejala KIPI campak berupa demam tinggi lebih dari 39,5 oC yang terjadi 5-15 % kasus yang mulai dijumpai pada hari ke-5 dan ke-6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari. Ruam dapat dijumpai pada 5% resipien pada hari ke-7 dan ke-10 sesudah imunisasi selama 2-4 hari. Reaksi KIPI berat  terjadi juka diteukan gangguan fungsi system saraf pusat seperti ensefalitis dan ensefalopati pasca imunisasi.

  • Imunisasi Ulang

Dianjurkan pemberian campak ulangan pada saat masuk sekolah dasar (5-6 tahun) guna mempertinggi serokonversi. Atau dalam situasi seperti berikut: apabila terdapat kejadian luar biasa peningkatan kasus campak maka anak SD,SMP,SMA dapat diberikan imunisasi ulang; setiap orang yang sudah imunisasi campak yang virusnya dimatikan; setiap orang yang sudah pernah mendapatkan immunoglobulin; setiap orang yang tidak dapat menunjukkan catatan imunisasinya.

  • Kontraindikasi

Kontraindikasi campak berlaku bagi mereka yang sedang menderita demam tinggi, memperoleh pengobatan immunoglobulin atau kontak dengan darah, hamil, memiliki riwayat alergi, dan sedang memperoleh pengobatan imunosupresan.

5)      Imunisasi Hib

-    Untuk mencegah infeksi SSP oleh karena Haemofilus influenza tipe B

-    Diberikan MULAI umur 2-4 bulan, pada anak > 1 tahun diberikan 1 kali

-    Vaksin dalam bentuk beku kering dan 0,5 ml pelarut dalam semprit.

-    Dosis 0,5 ml diberikan IM

-    Disimpan pada suhu 2-8°C

-    Ulangan vaksin diberikan pada umur 18 bulan.

-    Apabila anak datang pada umur 1-5 tahun, vaksin Hib hanya diberikan sekali.

 

Jadwal imunisasi yang wajib diberikan kepada neonatus, bayi, balita, dan anak prasekolah seperti tabel dibawah ini:
Sedangkan untuk imunisasi yang sifatnya “dianjurkan”, jadwalnya seperti tabel berikut ini:
 

  1. h.      Imunisasi pada balita

Tujuan pemberian imunisasi pada bayi dan balita adalah untuk mencegah penyakit pada bayi dan balita yang pada akhirnya akan menghilangkan penyakit tersebut. Terdapat 2 jenis imunisasi, yaitu

a)                  Imunisasi Aktif

Tubuh akan memproduksi sendiri zat anti setelah adanya rangsangan antigen (virus yang telah dilemahkan) dari luar tubuh. Tubuh yang terpapar antigen akan membentuk zat anti terhadap antigen tersebut. Keberhasilan pemusnahan antigen tersebut tergantung pada jumlah antigen yang berhasil dibentuk atau dimiliki oleh tubuh. Jumlah zat anti yang cukup tinggi biasanya diperoleh setelah tubuh mengalami reaksi kedua, ketiga dan seterusnya. Pembentukan zat anti akibat paparan kembali antigen yang sama pada tubuh akan berlangsung lebih cepat. Titer antibodi yang terbentuk akibat rangsangan antigen pada tubuh untuk pertama kalinya tidak tinggi dan kadarnya cepat menurun. Oleh sebab itu, pemberian imunisasi ulang (boster) perlu dilakukan untuk mempertahankan jumlah zat anti yang tetap tinggi di dalam tubuh.

b)               Imunisasi Pasif

Tubuh anak tidak memproduksi antibodi sendiri, melainkan kekebalan tersebut didapatkan dari luar dengan cara penyuntikan bahan/serum yang telah mengandung zat anti, atau anak tersebut mendapat zat anti dari ibunya semasa dalam kandungan, setelah memperoleh zat penolak, prosesnya cepat, tetapi tidak bertahan lama. Kekebalan pasif terdapat 2 cara:

  • Kekebalan pasif alamiah yaitu kekebalan yang diperoleh bayi sejak lahir dari ibunya dan tidak berlangsung lama (kira-kira hanya sekitar 5 bulan setelah bayi lahir). Misalnya difteri, tetanus,dan morbili.
  • Kekebalan pasif buatan yaitu kekebalan yang diperoleh setelah mendapat suntikan zat penolak. Misalnya, vaksinasi ATS.

Jadi dapat disimpulkan, perbedaan antara imunisasi aktif dan imunisasi pasif bahwa pada imunisasi aktif diperlukan waktu yang lebih lama untuk membuat zat anti dibandingkan imunisasi pasif. Kekebalan yang didapat dari imunisasi aktif bertahan lama, sedangkan imunisasi pasif berlangsung hanya beberapa bulan.

Yang termasuk imunisasi wajib, yaitu BCG, Hepatitis B, Polio, DPT, Campak, DT, TT. Sedangkan yang termasuk imunisasi yang hanya dianjurkan pemerintah dapat digunakan untuk mencegah suatu kejadian yang luar biasa atau penyakit endemic atau untuk kepentingan tertentu. Imunisasi anjuran pemerintah, yaitu MMR, tifus, HiB, hepatitis A, dan varisela. Selanjutnya, akan dibahas imunisasi anjuran pemerintah.

1)      Imunisasi MMR

Kebanyakan anak mendapatkan imunisasi measles (campak), mumpus (gelondongan), dan Rubella (campak jerman) sekaligus dalam satu suntikan yaitu MMR. Ketiga vaksin ini bekerja dengan baik, dan akan melindungi sebagian besar anak seumur hidupnya. Terutama bagi anak perempuan, vaksinasi MMR sangat penting untuk mengantisipasi terjadinya rubela pada saat hamil. Sementara pada anak lelaki, nantinya vaksin MMR mencegah agar tak terserang rubela dan menulari sang istri yang mungkin sedang hamil. Penting diketahui, rubela dapat menyebabkan kecacatan pada janin.

Anak sebaiknya mendapatkan 2 kali vaksin MMR. Dosis pertama diberikan diantara usia 12-15 bulan, sedang dosis kedua dapat diberikan pada usia 4-6 tahun sebelum anak masuk SD. Apabila ketika terjadi wabah, vaksin MMR dapat diberikan sebelum berusia 1 tahun. Ini diberikan sebagai pencegahan jangka pendek saja, nantinya tetap harus diberikan 2 dosis vaksin ini pada jadwal seperti disebutkan diatas.

Efek samping imunisasi MMR dapat berupa demam dan bercak kemerahan yang timbul sekitar 1-2 minggu setelah imunisasi. Reaksi ini akan menghilang dalam beberapa hari. Kejang demam kadang dapat terjadi pada anak yang diberikan imunisasi MMR. Anak yang diketahui alergi berat terhadap gelatin atau neomycin antibiotik tidak boleh diberikan imunisasi MMR. Demikian juga anak yang mempunyai reaksi alergi berat setelah vaksin MMR tidak boleh diberikan vaksin MMR ulangan. Anak yang kekebalan tubuhnya ditekan (karena mempunyai penyakit seperti kanker atau infeksi HIV, atau pengobatan semacam steroid) sebaiknya dievaluasi oleh dokter sebelum diberikan vaksin MMR. Anak yang baru mandapatkan transfusi atau produk darah lainnya sebaiknya menunggu beberapa bulan sebelum mendapatkan MMR.

2)      Imunisasi Tifoid

Demam tifoid merupakan penyakit serius yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Penyakit ini menyebabkan demam tinggi, lemas, sakit perut, sakit kepala, kurang nafsu makan dan kadang bercak kemerahan. Jika tidak diobati dapat menyebabkan kematian pada 30% penderita. Pada umumnya penyakit ini menular melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi.

Saat ini ada dua macam imunisasi yang dapat digunakan untuk mencegah demam tifoid. Yang pertama diberikan dengan suntikan (kuman mati) dan yang kedua diberikan dengan kapsul (kuman hidup dilemahkan).

Imunisasi suntikan dapat diberikan pada anak berusia 2 tahun atau lebih. Satu dosis dapat diberikan setiap 2-3 tahun. Imunisasi oral dapat diberikan pada saat anak berusia 6 tahun atau lebih. Diberikan 4 dosis dengan jarak setiap 2 hari. Dapat diulang tiap 5 tahun.

Pada vaksin suntikan dapat timbul reaksi ringan seperti demam, sakit kepala, kemerahan dan nyeri pada tempat suntikan. Vaksin tifoid oral jangan diberikan bersamaan dengan antibiotika. Beri jarak waktu lebihdari 24 jam dengan antibiotika terakhir. Dapat timbul demam, sakit kepala, mual muntah. Jika terdapat kejadian serius atau tidak biasa seteah pemberian vaksin ini segera hubungi dokter.

3)      Imunisasi Hib

Vaksin Hib ini merupakan vaksin berisi kuman dimatikan, dan dibuat hanya dari sebagian kuman Haemophilus influenza b. Anak sebaiknya mendapatkan 3-4 kali dosis vaksin ini, tergantung dari produsen pembuat vaksin yang digunakan oleh dokter. Dosis penguat diberikan pada usia antara 12 – 15 bulan. Anak yang telah berusia 5 tahun atau lebih tidak perlu diimunisasi dengan vaksin Hib. Vaksin Hib dapat dikombinasikan dengan vaksin DTap atau dengan vaksin hepatitis B. vaksin ini bekerja sama baiknya dan sama amannya dengan vaksin yang diberikan secara terpisah.

Hib merupakan imunisasi yang sangat aman. Vaksin ini tidak dapat menyebabkan penyakit atau meningitis akibat Hib dan biasanya tidak menyebabkan efek samping serius. Sebagian kecil anak yang mendapatkan imunisasi ini akan mengalami kemerahan, bengkak pada lokasi suntikan atau demam. Reaksi ini biasanya timbul dalam 24 jam pertama setelah suntikan dan akan menghilang dalam 2-3 hari. Bayi yang berusia kurang dari 4 minggu sebaiknya tidak diberikan imunisasi karena daya imunitas yang ditimbulkan masih belum baik.

4)      Imunisasi Hepatitis A

Hepatitis A adalah penyakit hati berat yang ditimbulkan oleh virus hepatitis A (HAV). HAV dapat ditemukan pada tinja penderita hepatitis A dan biasana menular jika diminum atau makan sesuatu yang tercemar dengan virus ini. Penyakit ini ditandai dengan gejala seperti flu, kuning pada mata dan kulit, mencret dan sakit perut.

Imunisasi Hepatitis A dapat mencegah penyakit ini, dan sangat dianjurkan bagi anak berusia 12 bulan atau lebih terutama didaerah endemis. Diperlukan 2 dosis untuk dapat memberikan kekebalan seumur hidup. Dosis ini diberikan dengan jarak waktu minimal 6 bulan.

5)      Imunisasi Varicella

Vaksin varicella merupakan vaksin yang berisi virus hidup. Vaksin ini diberikan di Jepang selama 20 tahun. Di Amerika Serikat, vaksin ini digunakan dari tahun 1995. Satu dosis vaksin varicella direkomendasikan untuk anak berusia 12-18 bulan. Anak yang tidak mendapatkan vaksin ini dapat diberikan satu dosis sampai ketika berusia 13 tahun. Usia diatas itu harus diberikan 2 dosis dengan jarak 4-8 minggu terpisah. Anak yang sudah pernah sakit cacar air tidak perlu diberikan imunisasi ini.

Vaksin ini dapat mencegah cacar air 70% sampai 90% dan dapat mencegah penyakit berat sampai lebih dari 95%. Vaksin ini diharapkan dapat memberikan imunitas seumur hidup. Sekitar 1% – 2 % anak yang mendapatkan imunisasi ini tetap menderita cacar air, tetapi biasanya gejalanya sangat ringan.

Varicella merupakan vaksin yang sangat aman. Pada beberapa anak dapat timbul bengkak dan kemerahan pada lokasi suntikan. Juga dapat timbul bercak kemerahan dalam 1-3 minggu setelah imunisasi. Kejadian kejang demam juga pernah dilaporkan setelah imunisasi, namun sangat jarang. Anak yang diketahui alergi terhadap gelatin atau neomisin jangan diberikan vaksin ini. Anak dengan efeisiensi imun seperti kanker atau HIV harus dievaluasi oleh dokter terlebih dahulu sebelum diberikan imunisasi ini.

  1. i.        Imunisasi pada anak prasekolah

Pemberian imunisasi pada anak adalah penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas terhadap penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi misalnya penyakit TBC, diphteri tetanus, pertusis, polio, campak, dan hepatitis B. Bahkan sekarang telah masuk ke Indonesia vaksin MMR untuk mencegah measles (campak), mumps (parotitis) dan rubela (campak jerman). Dengan melaksanakan imunisasi yang lengkap maka diharapkan dapat dicegah timbulnya penyakit-penyakit yang menimbulkan cacat dan kematian.

1)         Imunisasi MMR

Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan.

Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa menyebakban pembengkakan otak atau gangguan perdarahan. Jika seorang wanita hamil menderita rubella, bisa terjadi keguguran atau kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkannya (buta atau tuli). Terdapat dugaan bahwa vaksin MMR bisa menyebabkan autisme, tetapi penelitian membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara autisme dengan pemberian vaksin MMR. Vaksin MMR adalah vaksin 3-in-1 yang melindungi anak terhadap campak, gondongan dan campak Jerman. Vaksin tunggal untuk setiap komponen MMR hanya digunakan pada keadaan tertentu, misalnya jika dianggap perlu memberikan imunisasi kepada bayi yang berumur 9 – 12 bulan.

Suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur 12 – 15 bulan. Suntikan pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup yang adekuat, karena itu diberikan suntikan kedua pada saat anak berumur 4 – 6 tahun (sebelum masuk SD) atau pada saat anak berumur 11 – 13 tahun (sebelum masuk SMP). Imunisasi MMR juga diberikan kepada orang dewasa yang berumur 18 tahun atau lebih atau lahir sesudah tahun 1956 dan tidak yakin akan status imunisasinya atau baru menerima 1 kali suntikan MMR sebelum masuk SD.

  1. 3.      Perawatan sehari – hari (memandikan, memberi minum/menyusui, menyendawakan, pijat neonatus)
    1. a.      Kebutuhan Dasar Neonatus dalam Perawatan Sehari-Hari

1)      Memandikan Neonatus

Sebagian proses persalinan berfokus pada ibu tetapi karena proses tersebut merupakan proses pengeluaran hasil kehamilan (neonatus), maka persalinan dikatakan berhasil jika neonatus dan ibunya dalam kondisi optimal. Memberikan pertolongan segera, aman, dan bersih adalah bagian penting dari asuhan neonatus baru lahir. Sebagian besar persalinan adalah normal, tetapi gangguan kehamilan dan proses persalinan dapat mempengaruhi kesehatan neonatus yang baru dilahirkan.

Neonatus harus selalu dijaga agar tetap bersih, hangat, dan kering. Beberapa cara untuk menjaga agar kulit neonatus bersih adalah memandikan neonatus, mengganti popok atau pakaian neonatus sesuai keperluan, pastikan bahwa neonatus tidak terlalu panas/dingin, dan menjaga kebersihan pakaian dan hal – hal yang bersentuhan dengan neonatus.

Memandikan neonatus sebaiknya ditunda sampai 6 jam kelahiran. Hal ini dimaksudkan agar neonatus tidak hipotermi. Selain itu juga meminimalkan resiko infeksi. Prinsip yang perlu diperhatikan pada saat memandikan neonatus antara lain :

a)      Menjaga neonatus agar tetap hangat

b)      Menjaga neonatus agar tetap aman dan selamat

c)      Suhu air tidak boleh terlalu panas atau terlalu dingin.

Memandikan neonatus dianjurkan memakai sabun dengan pH netral dengan sedikit bahkan tanpa parfum atau pewarna (jangan gunakan sabun mandi dewasa). Permukaan kulit yang asam (acid mantle) memberi perlindungan kepada neonatus terhadap infeksi, sedangkan pH kulit yang kurang dari 5,0 bersifat bakteriostatik. Pada saat lahir kulit neonatus tidak begitu asam (pH 6,34) kemudian menurun sampai 4,95 dalam 4 hari. Memandikan neonatus dengan sabun alkalin (sabun dewasa) akan meningkatkan pH kulit sehingga keasaman kulit menurun (dapat menimbulkan infeksi pada neonatus).

Memandikan neonatus juga memiliki beberapa maanfaat diantaranya yaitu untuk menjaga kebersihan tubuh neonatus, tali pusat, dan memberikan rasa nyaman pada neonatus.

 

2)      Memberi Minum/Menyusui pada Neonatus

BBL normal dapat segera disusui hanya dalam waktu 1-2 menit pada setiap payudara. Neonatus baru lahir segera mungkin dilakukan IMD. Proses ini berlangsung minimal 1 jam pertama setelah neonatus lahir. IMD sangatlah baik kegunaannya, selain sebagai pengerat hubungan batin ibu dan anak IMD juga memiliki keuntungan lainnya, yaitu mempercepat keluarnya kolostrum. Pada waktu IMD neonatus mendapat kolostrum yang penting untuk kelangsungan hidupnya. Kolostrum adalah ASI yang keluar pertama kali , yang berwarna kekuningan dan kental. Fungsi dari kolostrum yaitu :

a)      Neonatus baru lahir mempunyai lambung yang sangat kecil,yang hanya muat untuk di isi sedikit, dan kolostrun ini tersedia dalam jumlah sedikit

b)      Kolostrum adalah sebuah konsentrat ( tinggi nutrient) cairan yang di buat khusus untuk kebutuhan neonatus

c)      Kolostrum mendorong pergerakan pertama kotoran , sehingga membersihkan saliran pencernaannya dari mekonium

d)     Klostrum berisi banyak antibody dan growth factor. Growth factor ini menigningkatkan perkembagan system pencernaan neonatus dan antibody untuk meningkatkan system imun neonatus

e)      Koostrum berisi imunogobulin A, yang berfungsi melindungi neonatus dari infeksi tenggorokan, hati, dan usus

f)       Kolostrum berisi Protective Whie Cell yang membantu memusnahkan penyakit yang disebabkan karena bakteri dan virus

g)      kolostrum memiliki antioksidan dan anti inflammatory

Oleh karena itu sangatlah penting neonatus mendapakan kolostrum dan air susu ibu untuk pertama kali pada masa neonatus. Pada hari ke 3 neonatus  harus sudah menyusu selama 10 menit pada mammae ibu dengan jarak max 3-4 jam. Bila dalam waktu kurang dari 1 jam neonatus menangis maka boleh disusui pada 1 payudara secara bergantian.

 

Kebutuhan minum pada neonatus yaitu :

a)    Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB/hari

b)   Hari ke 2 = 90 cc/kg BB/hari

c)    Hari ke 3 = 120 cc/kg BB/hari

d)   Hari ke 4 = 150 cc/kg BB/hari

Dan untuk tiap harinya sampai mencapai 180 – 200 cc/kg BB/hari.

Posisi yang baik saat menyusui yaitu:

a)    Posisi yang baik dengan cara berbaring :

  • Ibu menyangga seluruh badan neonatus dengan satu lengan, kepala neonatus berada pada lipatan siku, dan bokong neonatus terletak pada lengan, ditahan dengan telapak tangan ibu.
  • Ibu memeluk badan neonatus dekat dengan badannya, perut neonatus menempel dengan perut ibu, kedua tangan neonatus berada di depan ibu.
  • Kepala dan neonatus berada dalam satu garis lurus.
  • Wajah neonatus menghadap payudara dengan hidung berhadapan dengan putting.

b)   Posisi yang baik dengan cara duduk :

  • Ibu menyangga seluruh badan neonatus dengan satu lengan, kepala neonatus berada pada lipatan siku, dan bokong neonatus terletak pada lengan, ditahan dengan telapak tangan ibu.
  • Ibu memeluk badan neonatus dekat dengan badannya, perut neonatus menempel dengan perut ibu, satu tangan neonatus diletakkan di belakang badan ibu dan yang lainnya di depan badan ibu.
  • Kepala dan neonatus berada dalam satu garis lurus.
  • Wajah neonatus menghadap payudara dengan hidung berhadapan dengan putting.

 

 

3)      Menyendawakan Neonatus

Menyendawakan neonatus penting dilakukan dan berfungsi untuk mengeluarkan udara yang ada di dalam perut neonatus atau agar tidak kembung.Biasanya udara masuk ke perut neonatus bersamaan ketika neonatus menyusu.Makin banyak udara yang masuk, semakin kembunglah perut neonatus. Akibatnya neonatus merasa tidak nyaman dan akan menyebabkan rewel.

Teknik menyendawakan menyendawakan neonates dan neonatus tidak jauh berbeda.Berikut adalah teknik-teknik menyendawakan neonatus:

a)        Menaruh di Pundak 

Inilah cara yang banyak dilakukan Ibu karena mudah menyendawakan. Caranya, neonatus digendong di pundak dengan wajah menghadap ke belakang. Lalu pegang bagian pantatnya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang satunya memegang leher dan menepuk-nepuk punggungnya. Tidak lebih dari tiga menit, mulut neonatus akan mengeluarkan bunyi khas sendawa.

b)        Posisi Telungkup 

Telungkupkan neonatus di pangkuan Ibu. Lalu tepuk-tepuklah bagian punggunya.Ketika Ibu melakukannya, usahakan supaya posisi dada neonatus lebih tinggi dari perutnya. Cara ini juga bisa dilakukan di boks atau ranjang si kecil. Selain membuat udara di perut keluar, posisi ini bisa membuat neonatus lebih rileks.

 

4)      Pijat Neonatus

Manfaat memijat neonatus Yang terutama yaitu neonatus akan merasakan kasih sayang dan kelembutan dari orang tua saat dipijat. Kasih sayang merupakan hal yang penting bagi pertumbuhan neonatus. Sentuhan hangat dari tangan dan jari orang tua bisa membuat neonatus merasakan pernyataan kasih sayang orang tua.

a)       Menguatkan otot

b)       Pijatan terhadap neonatus sangat bagus untuk menguatkan otot neonatus.

c)       Membuat neonatus lebih sehat

d)       Memijat neonatus bisa memerlancar sistem peredaran darah, membantu proses pencernaan neonatus, dan juga memerbaiki pernapasan neonatus. Bahkan memijat neonatus bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh si neonatus.

e)       Membantu pertumbuhan

f)        Menurut penelitian, pertumbuhan neonatus seperti berat badan akan lebih baik dengan memijat neonatus. Bahkan untuk neonatus prematur, berat badan bisa bertambah hingga 47 persen dibanding jika tidak dipijat.

g)       Meningkatkan kesanggupan belajar

h)       Dengan merangsang indra peraba, indra penglihatan dan pendengaran si neonatus, akan meningkatkan daya ingat dan kesanggupan belajar sang neonatus.

i)         Membuat neonatus tenang.

Cara Pijat Neonatus :   

Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, pemijatan neonatus tak bias dilakukan secara sembarangan. Ada cara dan rambu-rambu yang harus diperhatikan. Pada neonatus gerakan yang dilakukan lebih mendekati usapan-usapan halus. Sebelum tali pusar neonatus dilepas, sebaiknya tidak dilakukan pemijatan didaerah perut. Berikut beberapa pedoman teknik pemijatan neonatus yang dapat dipergunakan sebagai dasar pijat neonatus. Setiap gerakan yang diberiakan pada masing-masing teknik dapat diulang sebanyak lima sampai enam kali tergantung kebutuhan.

a) Kaki

- Memerah susu

Dalam teknik ini, peganglah kaki neonatus pada pergelangan kaki seperti memegang tongkat pemukul. Kemudian gerakan tangan ke pergelangan kaki secara bergantian seperti memerah susu. Atau, dengan arah yang sama, gunakan kedua tangan secara bersamaan mulai dari pangkal paha dengan gerakan memeras, memijat dan memutar kedua kaki neonatus secara lembut.

b) Telapak kaki

Untuk memijat telapak kaki neonatus,caranya yakni tidak dipijat-pijat tetapi diurut menggunakan ibu jari secara bersamaan pada seluruh permukaan telapak kaki dari arah tumit ke jari-jari.

c)  Jari

Ingat bahwa tulang pada ruas jari kaki neonatus masih belum kuat, karena itu pijatan tidak perlu disertai dengan penekanan. Pijatlah dengan lembut jari-jari kaki satu persatu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki dan akhiri dengan tarikan lembut pada setiap ujung jari.

d) Punggung kaki

Gunakan kedua ibu jari untuk membuat lingkaran disekitar kedua mata kaki sebelah dalam dan luar. Kemudian urutlah dengan lembut seluruh punggung kaki dengan kedua ibu jari secara bergantian dari pergelangan kaki ke arah jari. Teknik lain yakni dengan membuat gerakan yang membentuk lingkaran-lingkaran kecil dengan kedua ibu jari secara bersamaan dari daerah mata ke jari kaki.

e)  Betis

Pada bagian betis kaki dengan salah satu tangan anda, kemudian remas-remas dari pangkal lutut menuju pergelangan kaki. Gerakan ini dapat diulang berkali-kali.

f) Paha

Pada bagian paha, pemijatan dilakukan dengan cara meremas dan memutar. Pegang neonatus pada bagian pangkal paha dengan kedua tangan secara bersamaan, kemudian buatlah gerakan meremas dengan lembut sambil memutarkan kedua belah tangan yang dimulai dari pangkal paha hingga ke arah mata kaki.

g) Perut

Untuk pemijatan di daerah perut, hindari pemijatan pada tulang rusuk. Selain itu, jangan lakukan pemijatan pada bagian perut ini setelah selesai makan.

-                       Mengayuh pedal sepeda

  • Pemijatan perut ini dilakukan dengan menggerakkan kedua tangan keatas dan kebawah secara bergantian seperti mengayuh pedal sepeda. Arah pijatan dimulai dari atas kebawah perut.
  • Gerakan berikutnya, jepit kedua pergelangan kaki neonatus dengan tangan kiri, lalu angkat kedua kaki tersebut lurus sedikit diatas perut. Sedangkan untuk tangan kanan bisa langsung dilakukan gerakan mengusap-usap perut dari atas sampai ke jari-jari kaki.
  • Terakhir, untuk melemaskan otot-otot perut dan pangkal paha, kedua lutut ditekuk pelan-pelan dan dengan lembut menuju ke permukaan perut neonatus. Atau, masing-masing tangan anda memegang pergelanagan kaki, kemudian gerakkan kedua kaki neonatus secara bergantian seperti sedang mengayuh sepeda.

-                      Bulan – matahari

  • Disebut gerakan bulan – matahari karena gerakan yang harus dibentuk adalah membuat lingkaran dengan ujung-ujung jari tangan mulai dari perut sebelah kanan bawah (daerah usus buntu) sesuai arah jarum jam, kemudian kembali ke arah kanan bawah (seperti bentuk bulan) diikuti oleh tangan kiri yang selalu membuat bulatan penuh (seperti bentuk matahari).
  • Lakukan kedua gerakan ini secara bersamaan dengan tangan kiri membuat gerakan lingkaran penuh dan tangan kanan membuat setengah lingkaran.

-                       Ibu jari kesamping

  • Dalam gerakan ini, pertama-tama perut neonatus pada bagiannya tekan masing-masing ibu jari diantara pusar perut. Kemudian, gerakkan kedua ibu jari tersebut menyamping ke arah tepi perut kanan dan kiri.
  • Cara lain adalah dengan membayangkan ada gambar jam pada perut neonatus. Perut neonatus bagian paling atas dianggap jam 12, bagian perut bawah di anggap jam 6, lalu buat gerakan berikut: buat lingkatan searah jarum jam dengan tangan kanan anda dibantu dengan tangan kiri dimulai pada jam 8 (didaerah usus buntu)

-                       Gerakan I love You

  • ·Posisikan neonatus terlentang dengan bertelanjang dada. Gerakan pertama membentuk huruf “I” dengan melakukan usapan mulai dri dada kiri atas turun sampai kerusuk kiri. Gerakan kedua, bentuk huruf “L” dengan melakukan usapan mulai dari dada kanan atas turun ke rusuk atas lalu disambung rusuk kiri. Gerakan ketiga, bentuk huruf “J” dengan usapan dari dada kanan atas turun kerusuk kanan, disambung sampai rusuk kiri lalu diteruskan ke dada kiri atas.
  • ·Hati-hati jika melakukan pemijatan pada daerah dada dan perut. Jangan sampai terlalu menekan ke perut. Beberapa dokter tidak menyarankan pemijatan pada bagian perut, karena bisa mengganggu organ dalam neonatus. Perhatikan juga reaksi yang timbul selama proses. Jika neonatus tampak gelisah, berusahalah memalingkan kepala, memukul jidat, meringis kesakitan, berontak bahkan menangis, sebaiknya hentikan dulu. Mungkin dia sedang tidak nyaman karena tekanan yang terlalu kuat atau sebab lain.

-                      Gerakan jari berjalan

  • Dikatakan dengan gerakan jari berjalan karena penekanan bertumpuk pada pergerakan kelima ujung jari. Namun demikian, penekanan jari perut dilakukan dengan cara yang sangat hati-hati. Jangan menekan perut dengan jari-jari terlalu keras karena akan menimbulkan rasa sakit dan mungkin berbahaya sekali bila mengenai tulang rusuknya. Berikut cara memijat dengan teknik jari berjalan pada perut.
  • Letakkan ujung-ujung jari pada pada perut neonatus bagian kanan bawah dan buatlah gerakan dengan tekanan sesuai arah jarum jam dari kiri bawah guna memindahkan gelembung-gelembung udara yang terselip di balik kulit. Dengan kedua telapak tangan, buatlah gerakan dari tengah dada ke samping luar seolah sedang meratakan lipatan kertas.

h) Dada

-         Gerakan Jantung

Teknik ini yaitu dengan membuat gerakan yang membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari kedua tangan anda di ulu hati, setelah itu, gerakkan tangan ke atas tulang selangka dan berakhir ke posisi semula dibawah ulu hati. Gerakan tadi seolah membuat gambar jantung.

-                      Menyilang

Gerakan menyilang dimulai dari tangan kanan yang memijat menyilang dari ulu hati kea rah bahu kiri dan kembali kea rah ulu hati.

-                   Lingkaran kecil

Buatlah gerakan lingkaran kecil disekitar putting susu.

i) Tangan

-          Perlahan cara India

Teknik perlahan cara India bermanfaat untuk relaksasi otot dan arahnya menjauhi tubuh. Caranya, peganglah lengan neonatus dengan kedua telapak tangan mulai dari  pundak seperti memegang gagang senter. Kemudian, gerakkan tangan kanan dan kiri kebawah secara bergantian dan berulang-ulang seolah sedang memerah susu sapi. Atau, kedua tangan melakukan memeras, memijat dan memutar secara lembut pada lengan neonatus mulai dari pundak hingga pergelangan tangan.

-                   Memijat ketiak

  • Biasanya wilayah dibagian ketiak ini merupakan wilayah yang sensitif. Ketika jari menyentuh wiyah ini, neonatus akan menolak bukan karena sakit, tetapi mungkin dia merasa geli dan senang karena menganggapnya sedang bermain.
  • Gerakan memijat ketiak ini, pertama angkat tangan neonatus dengan salah satu tangan anda. Kemudian, buatlah gerakan memijat pada wilayah ini, lalu menurun hingga ke bagian tulang rusuk dan perut.
  • Yang perlu diperhatikan adalah bila wilayah ketiak ini terdapat benjolan atau terdapat pembengkakan kelenjar, sebaiknya jangan memijat pada wilayah ini.

j)Pergelangan tangan

Pemijatan pegelangan tangan ini dimulai dari pergelanagn tangan (siku) kearah pundak. atau, dengan kedua tangan lakukan gerakan memeras, memutar dan memijit secara lembut pada lengan neonatus mulai dari pergelangan tangan ke pundak. Pijitan ini berguna untuk mengalirkan darah ke jantung dan paru – paru.

k) Telapak tangan

Dengan kedua ibu jari, pijatlah telapak tangan seolah membuat lingkaran – lingkaran kecil dari pergelangan tangan kea rah jari – jemari. Sedangkan keempat jari lainnya memijat punggung tangan.

l) Jari

Pijat jari neonatus satu – persatu menuju ujung jari dengan gerakan memutar. Akhiri gerakan ini dengan tarikan pada tiap ujung jari. Dalam tarikan ujung jari ini, anda bisa membunyikan suara “tak” dari lidah, sehingga bila si neonatus mendengar suara itu dia akan tampak gembira.

-                   Gerakan menggulung

Gerakan ini seperti menggulung sebatang pensil dengan kedua tangan. Caranya, anda pegang lengan neonatus bagian atas/bahu dengan kedua telapak tangan. Kemudian, gerakkan kedua telapak tangan maju dan mundur seolah sedang menggulung bergerak naik dimulai dari pangkaal lengan menuju pergelangan tangan/jari-jari.

m) Muka

-          Membasuh muka

Tutuplah wajah neonatus dengan kedua telapak tangan anda dengan lembut sambil bicara pada neonatus secara halus. Gerakan kedua tangan anda kesamping pada kedua sisi wajah neonatus seperti gerakan membasih muka. Cara seperti ini dapat dilakukan sambil bermain “ciluk-ba”.

n)  Dahi

Arah gerakan memijat dahi seperti arah membasuh muka. Caranya, letakkan jari-jari kedua tangan anda pada pertengahan dahi. Tekan dengan lembut bagian ini mulai dari tengah dahi neonatus kearah samping kanan dan kiri. Setelah itu, gerakan ke bawak ke daerah pelipis dan buatlah lingkaran – lingkaran kecil di pelipis, kemudian gerakan kearah dalam melalui daerah bawah pelipis dibawah mata.

o)  Alis

Memijat bagian alis mata caranya ialah dengan meletakkan kedua ibu jari anda diantara kedua alis mata. Lalu, pijat bagian ataas mataa/alis mulai dari tengan kesamping searah dengan bulu rambut alis.

p) Dagu

  • Pijatan pada dagu ini atau rahang bawah, pegang pipi kiri dan kanan dengan kedua tangan dan kedua ibu jari diletakkan ditengah dagu bawah mulut.selanjutnya adalah menekan dua ibu jari pada dagu, lalu kesamping menuju kea rah pipi bawah atau samping mulut. 5.Lingkaran kecil dirahang
  • Gunakan jari telunjuk kedua tangan anda untuk membuat lingkaran kecil diseputar wilayahy rahang neonatus. Berhati-hatilah, mungkin diwilayah ini rahang neonatus sedikit sensitive menerima tekanan yang agak sedikit keras. Karena itu, tekanan hendaknya dibuat selembut mungkin, sehinggga tidak merasakan sakit.

q) Belakang telinga

Dengan tekanan lembut, gerakkan jari-jari kedua tangan anda mulai dari belakang telinga membentuk lingkaran-lingkaran kecil diseluruh kepala.

 

r) Punggung

-        Gerakan maju mundur (kuda goyang)

  • Neonatus ditidurkan tengkurap dengan posisi kepala disebelah kiri dan kaki disebelah kanan anda. Lalu, pijatlah punggung neonatus hingga ke bawah leher dengan gerakan maju dan mundur dengan kedua telapak kanan. Lalu kembali dari bawah leher sampai ke pantat neonatus. 2.Usapan punggung
  • Tahan bokong neonatus dengan tangan kanaan, lalu dipijit punggung neonatus dengan telapak tangan kiri anda mulai dari leher sampai bokong dimana tangan kanan berada.
  • Gerakan selanjutnya, pegang kedua pergelangan kaki neonatus dengan tangan kanan anda, kemudian usap yang dimulai dari pinggang hingga tumit. (Putri,Alissa : 2009).

Hal-hal yang boleh dilakukan adalah:

a) Terus melakukan kontak mata dengan neonatus anda.

b) Nyanyikan lagu atau putarkan musik lembut untuk membantu anda dan neonatus akan merasa rileks.

c) Mulailah dengan sentuhan ringan dan perlahan, tingkatkan tekanan pijatan saat anda semakin yakin dan neonatus anda terbiasa dipijat.

d) Perhatikan isyarat yang ditunjukkan neonatus anda. Jika ia menangis keras, hentikan pijatan. Mungkin neonatus anda ingin digendong, disusui atau mengantuk.

e) Jika anda menggunakan baby oil, mandikan neonatus anda setelah dipijat.

f) Jauhkan baby oil dari mata neonatus anda.

g) Konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut mengenai pemijatan neonatus. (Maharani, Sabrina : 2009)

Hal yang tidak boleh dilakukan adalah:

a) Memijat neonatus tidak lama setelah ia makan/minum susu.

b) Membangunkan neonatus anda untuk dipijat.

c) Memijat neonatus anda dalam keadaan sakit.

d) Memijat neonatus anda dengan paksa.

e) Memaksa posisi saat memijat neonatus anda. (Maharani, Sabrina : 2009)

 

  1. b.      Kebutuhan Dasar Bayi dalam Perawatan Sehari-Hari

1)      Memandikan Bayi

Sebagian proses persalinan berfokus pada ibu tetapi karena proses tersebut merupakan proses pengeluaran hasil kehamilan (bayi), maka persalinan dikatakan berhasil jika bayi dan ibunya dalam kondisi optimal. Memberikan pertolongan segera, aman, dan bersih adalah bagian penting dari asuhan bayi baru lahir. Sebagian besar persalinan adalah normal, tetapi gangguan kehamilan dan proses persalinan dapat mempengaruhi kesehatan bayi yang baru dilahirkan.

Bayi harus selalu dijaga agar tetap bersih, hangat, dan kering. Beberapa cara untuk menjaga agar kulit bayi bersih adalah memandikan bayi, mengganti popok atau pakaian bayi sesuai keperluan, pastikan bahwa bayi tidak terlalu panas/dingin, dan menjaga kebersihan pakaian dan hal – hal yang bersentuhan dengan bayi.

Memandikan bayi sebaiknya ditunda sampai 6 jam kelahiran. Hal ini dimaksudkan agar bayi tidak hipotermi. Selain itu juga meminimalkan resiko infeksi.

 

Prinsip yang perlu diperhatikan pada saat memandikan bayi antara lain :

1.Menjaga bayi agar tetap hangat

2.Menjaga bayi agar tetap aman dan selamat

3.Suhu air tidak boleh terlalu panas atau terlalu dingin.

 

Memandikan bayi dianjurkan memakai sabun dengan pH netral dengan sedikit bahkan tanpa parfum atau pewarna (jangan gunakan sabun mandi dewasa). Permukaan kulit yang asam (acid mantle) memberi perlindungan kepada bayi terhadap infeksi, sedangkan pH kulit yang kurang dari 5,0 bersifat bakteriostatik. Pada saat lahir kulit bayi tidak begitu asam (pH 6,34) kemudian menurun sampai 4,95 dalam 4 hari. Memandikan bayi dengan sabun alkalin (sabun dewasa) akan meningkatkan pH kulit sehingga keasaman kulit menurun (dapat menimbulkan infeksi pada bayi).

Memandikan bayi juga memiliki beberapa maanfaat diantaranya yaitu untuk menjaga kebersihan tubuh bayi, tali pusat, dan memberikan rasa nyaman pada bayi.

 

2)      Memberi Minum/Menyusui pada Bayi

Pada bayi sebaiknya masih diberi ASI eksklusif sampai ia berumur 6 bulan. ASI eksklusif artinya, bayi hanya diberi ASI saja tanpa makanan tambahan selama 6 bulan tersebut.

 

Cara pengamatan teknik menyusui yang benar

Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut :

1)    Bayi tampak tenang.

2)    Badan bayi menempel pada perut ibu.

3)    Mulut bayi terbuka lebar.

4)    Dagu bayi menmpel pada payudara ibu.

5)    Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang

masuk.

6)    Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan.

7)    Puting susu tidak terasa nyeri.

8)    Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.

9)    Kepala bayi agak menengadah.

 

3)      Menyendawakan Bayi

Menyendawakan bayi penting dilakukan dan berfungsi untuk mengeluarkan udara yang ada di dalam perut bayi atau agar tidak kembung.Biasanya udara masuk ke perut bayi bersamaan ketika bayi menyusu.Makin banyak udara yang masuk, semakin kembunglah perut bayi. Akibatnya bayi merasa tidak nyaman dan akan menyebabkan rewel.

Teknik menyendawakan menyendawakan neonates dan bayi tidak jauh berbeda.Berikut adalah teknik-teknik menyendawakan bayi:

 

 

Menaruh di Pundak

Inilah cara yang banyak dilakukan Ibu karena mudah menyendawakan. Caranya, bayi digendong di pundak dengan wajah menghadap ke belakang. Lalu pegang bagian pantatnya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang satunya memegang leher dan menepuk-nepuk punggungnya. Tidak lebih dari tiga menit, mulut bayi akan mengeluarkan bunyi khas sendawa

 

Posisi Telungkup

Telungkupkan bayi di pangkuan Ibu. Lalu tepuk-tepuklah bagian punggunya.Ketika Ibu melakukannya, usahakan supaya posisi dada bayi lebih tinggi dari perutnya. Cara ini juga bisa dilakukan di boks atau ranjang si kecil. Selain membuat udara di perut keluar, posisi ini bisa membuat bayi lebih rileks.

 

4)      Pijat Bayi

Berikut ini beberapa manfaat memijat bayi.

Yang terutama yaitu bayi akan merasakan kasih sayang dan kelembutan dari orang tua saat dipijat. Kasih sayang merupakan hal yang penting bagi pertumbuhan bayi. Sentuhan hangat dari tangan dan jari orang tua bisa membuat bayi merasakan pernyataan kasih sayang orang tua.

j)        Menguatkan otot

k)       Pijatan terhadap bayi sangat bagus untuk menguatkan otot bayi.

l)         Membuat bayi lebih sehat

m)     Memijat bayi bisa memerlancar sistem peredaran darah, membantu proses pencernaan bayi, dan juga memerbaiki pernapasan bayi. Bahkan memijat bayi bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh si bayi.

n)       Membantu pertumbuhan

  • o)       Menurut penelitian, pertumbuhan bayi seperti berat badan akan lebih baik dengan memijat bayi. Bahkan untuk bayi prematur, berat badan bisa bertambah hingga 47 persen dibanding jika tidak dipijat.

p)       Meningkatkan kesanggupan belajar

q)       Dengan merangsang indra peraba, indra penglihatan dan pendengaran si bayi, akan meningkatkan daya ingat dan kesanggupan belajar sang bayi.

r)        Membuat bayi tenang.

 

Cara Pijat Bayi :          

  • Pilih waktu pemijatan saat Anda santai dan tidak tergesa-gesa dan tidak akan terputus di tengah jalan. Jangan memijat bayi sebelum atau setelah makan, atau ketika bayi sakit.  Jangan membangunkan bayi untuk dipijat.
  • Siapkan perlengkapan pijat seperti minyak untuk memijat dari baby oil, minyak telon atau minyak nabati lainnya, alas, popok bersih dan pakaian ganti. Minyak aromaterapi untuk orang dewasa mungkin tidak cocok untuk bayi.
  • Lepas gelang, cincin dan potong kuku-kuku jari Anda yang panjang agar tidak menyakiti kulit bayi Anda yang lembut tanpa  sengaja.
  • Gelar  alas atau handuk lembut di atas permukaan yang datar dan lepaskan pakaian bayi. Anda juga dapat meletakkan bayi di pangkuan Anda. Letakkan bayi dengan posisi telentang saat Anda memijat bagian depan bayi Anda, lalu tengkurap saat memijat bagian belakang.
  • Gosokkan hanya sekitar setengah sendok teh minyak pada telapak tangan Anda untuk memudahkan pijatan tangan Anda  meluncur di tubuh bayi. Anda dapat menambahkan lebih banyak minyak di tubuh bayi kemudian sesuai kebutuhan.
  • Pijat bayi dengan lembut namun tegas dengan telapak tangan atau jari. Pijatlah dengan ringan secara melingkar di dada dan perut, pijat kedua bahu, turun ke bawah di lengan dan kaki lalu kembali ke atas pada bagian punggung.  Bayi baru lahir dapat menikmati hanya dua sampai lima menit pijatan, sementara bayi berusia lebih dari dua bulan dapat menikmati lebih lama.
  • Jangan terlalu banyak memberikan tekanan pada tubuh bayi yang rapuh dan hindari daerah tulang belakang.
  • Tenangkan bayi agar tidak bergerak saat dipijat dengan berbicara atau bernyanyi.
  • Kontak mata dengan bayi membuatnya merasa mendapatkan perhatian penuh dari Anda.
  • Berhenti  memijat secara mendadak dapat membuat bayi waspada. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan pelan-pelan dan lembut saat akan menghentikan pijatan.
  • Jangan menggunakan minyak di kepala atau wajah. Jaga agar minyak tidak terkena jemari bayi karena mereka cenderung menempatkan jari di  mulut atau mata, sehingga dapat menyebabkan iritasi.
  • Selubungi bayi dengan handuk bersih dan hangat setelah dipijat dan peluklah dia.
  • Hindari ruam, luka atau daerah di mana bayi mendapat suntikan vaksinasinya atau mungkin karena sakit.
  • Anda dapat terus memijat bayi Anda sampai dia berusia tiga atau empat tahun, karena manfaat pijat yang baik sangat banyak.

 

Demikianlah cara, tekhnik dan manfaat pijat bayi.  Menurut pengalaman pribadi saya sendiri, pijat bayi banyak sekali manfaatnya dan sangat baik asalkan dilakukan dengan benar dan bisa juga dipercayakan kepada orang yang sudah sangat ahli dalam memijat bayi.

 

      5. Merawat gigi bayi

Umumnya penyakit dan kelainan gigi pada anak merupakan salah satu gangguan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Sejak gigi susu mulai tumbuh, orangtua harus bertanggungjawab membersihkan gigi bayi mereka. Walaupun gigi anak hanya merupakan gigi susu yang keberadaannya hanya sementara, namun kesehatan gigi susu berpengaruh terhadap kesehatan gigi anak di kemudian hari. Karena itu, sebagai orangtua perlu mengetahui bagaimana merawat gigi anak sejak bayi dengan cara yang benar, agar kesehatan gigi dan mulut anak teratasi.

Cara merawat mulut bayi pada saat usia 0 – 6 bulan:

-          Bersihkan gusi bayi anda dengan kain lembab, setidaknya dua kali sehari

-          Jangan biarkan bayi anda tidur sambil minum susu dengan menggunakan botol susunya.

-          Selesai menyusui, ingatlah untuk membersihkan mulut bayi dengan kain lembab

-          Jangan menambah rasa manis pada botol susu dengan madu atau sesuatu yang manis.

Cara merawat mulut dan gigi bayi pada usia 7-12 bulan:

-          Tanyakan dokter anak atau dokter gigi anda apakah bayi anda mendapat cukup fluor

-          Ingatlah untuk membersihkan mulut bayi anda dengan kain lembab ( tidak basah sekali), sehabis menyusui.

-          Jangan biarkan bayi tidur dengan botol susunya (sambil minum susu dari botol) kecuali air putih.

-          Berikan air putih bila bayi anda ingin minum diluar jadwal minum susu

-          Saat gigi mulai tumbuh, mulailah membersihkannya dengan menggunakan kain lembab. Bersihkan setiap permukaan gigi dan batas antara gigi dengan gusi secara seksama, karena makanan seringkali tertinggal di permukaan itu.

-          Saat gigi geraham bayi mulai tumbuh, mulai gunakan sikat gigi yang kecil dengan permukaan lembut dan dari bahan nilon.

-                   Jangan gunakan pasta gigi dan ingat untuk selalu membasahi sikat gigi dengan air.

-                   Periksakan gigi anak anda ke dokter gigi, setelah 6 bulan sejak gigi pertama tumbuh, atau saat usia anak setahun.

 

5)      Perawatan Sehari-hari

a)        Hygiene diri dan lingkungan

Kebersihan badan dan lingkungan yang terjaga berarti sudah mengurangi resiko tertularnya berbagai penyakit infeksi. Selain itu, lingkungan yang bersih akan memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan aktivitas bermain secara aman. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menjaga kebersihan balita oleh orang tua, adalah sebagai berikut:

  • Mencuci tangan

Terapkan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah memegang benda tertentu terlebih lagi binatang. Dengan mencuci tangan kuman dan bakteri yang menempel di tangannya akan segera mati.

  • Memotong kuku

Menggunting kuku secara teratur seminggu sekali sangat dianjurkan. Terkadang anak memegang atau mengambil suatu benda dan kotorannya masuk serta tersimpan di dalam kuku. Kotoran yang tersimpan bisa menjadi sumber kuman. Untuk itu potonglah kukunya secara rutin.

  • Mandi teratur

Mandi minimal 2 kali sehari dapat menghindari anak terserang penyakit yang diakibatkan oleh bakteri dan kuman. Berikan pakaian yang bersih setelah mandi dan jangan lupa untuk mengajarkannya sikat gigi pagi hari dan sebelum tidur.

  • Bersihkan mainannya

Jangan malas untuk membersihkan mainannya. Cucilah dan keringkan semua mainannya di setiap akhir pekan. Bila si kecil cukup umur ibu boleh mengajaknya membersihkan mainan. Jangan lupa, rak atau box mainannya juga ikut dibersihkan.

Setelah si kecil tahu, mengerti dan menerapkan kebersihan untuk dirinya, sekarang saatnya ia diajarkan menjaga kebersihan lingkungan. Caranya dengan menerapkan buang sampah pada tempatnya.

 

b) Pakaian

Anak perlu mendapatkan pakaian yang bersih dan nyaman dipakai. Karena aktivitas anak lebih banyak, hendaknya pakaian terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat.

c)    Kesegaran jasmani (olah raga dan rekreasi)

Aktivitas olah raga dan rekreasi digunakan untuk melatih otot-otot tubuh dan membuang sisa metabolism, selain itu juga membantu meningkatkan motorik anak, dan aspek perkembangan lainnya. Aktivitas olah raga dan rekreasi bagi anak balita merupakan aktivitas bermain yang menyenangkan.

d)   Pijat bayi

Pijatan pada bayi akan membantu untuk santai. Pijatan dilakukan pada saat anak tenang, tapi belum terlalu mengantuk. Dan putar musik yang lembut dan sama setiap kali dia akan mengaitkan suara musik dengan relaksasi pemijatan tadi. Duduklah di lantai dengan kedua telapak kaki menempel dan lutut terbuka lebar agak menekuk (berbentuk berlian), jadi kita bisa meletakkan anak di atas sebuah selimut di antara kedua tungkai kaki. Jika dirasa tidak nyaman, letakkan anak di pangkuan. Pastikan anak merasa hangat, dan gunakan minyak murni dan lembut untuk melancarkan gerakan pemijatan. Setiap orangtua tentu menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Hal itu dapat dicapai dengan menerapkan pola pengasuhan positif terhadap buah hati mereka.

 

Manfaat Pijat Balita

 

1) Membuat Balita Semakin Tenang

Umumnya bayi yang mendapatkan pijatan secara teratur akan lebih rileks dan tenang. Dengan sirkulasi darah dan oksigen yang lancar dan otomatis membuat imunitas tubuh balita lebih baik. Bukan hanya secara fisik, pijat balita juga sangat mempengaruhi emosional, karena aktivitas pijat akan menjalin bonding antara anak dan orang tua. Unsur utama pijat balita adalah sentuhan (touch), bukan tekanan (pressure). Oleh sebab itu selain oleh trapis spesialis, pijat balita sangat baik dilakukan oleh ibu dan ayah. (Putri, Alissa: 2009)

2) Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan balita

3) Meningkatkan efektivitas istirahat (Tidur) bayi

Bayi yang otot-ototnya distimulus atau pemijatan aman dan nyaman dan mengantuk. Kebanyakan bayi tidur dengan yang lama begitu pemijatan usai dilakukan kepadanya. Selain lama, bayi Nampak tertidur lelap dan tidak rewel seperti sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa bayi merasa tenang setelah dipijat. Ibu-ibu selalu merasa senang bila melihat bayinya tertidur lelap. Kebanyakan untuk alasan inilah mereka lakukan pemijatan bayi. Namun, dalam situasi lain dimana tidur lelap bayi ini terjadi berbagai kemungkinan. Pertama, bayi tertidur bukan karena nyaman dipijat tetapi sebaliknya, ia marasa kehabisan energy setelah “melawan” perlakuan pemijatan yang sebenarnya tidak diinginkan. Biasanya hal ini terjadi karena pemijatan dilakukan dengan paksaan. Kedua, tidur bayi yang terlalu lama dan sulit dibangunkan dapat mengganggu jadwal pemberian ASI. Pemberian ASI tetap harus cukup dan tidak boleh terlambat (Anggraini dan Subakti:2009).

4) Meningkatkan konsentrasi bayi

Pemijatan dapat memperlancar peredaran darah yang mengalir keseluruh tubuh manusia, termasuk keotaknya, terutama untuk memperlancar sirkulasi dan peredaran oksigen. Ketika suplai oksigen untuk bayi tidak lancar maka fungsi otak untuk berfikir dan konsentrasi akan terganggu. Semakin baik aliran darah ke otak, semakin berkecukupan kebutuhan oksigen ke otak secara cukup membuat konsentrasi dan kesiagaan bayi semakin membaik.Pemijitan juga mengefektifkan istirahat (tidur) bayi. Ketika bayi istirahat atau tidur dengan efektif maka saat bangun akan menjadi bugar. Kebugaran ini juga menjadi faktor yang mendukung konsentrasi dan kerja otak si bayi (Putri,Alisa : 2009).

5) Meningkatkan daya tahan tubuh

Meningkatkan aktifitas neurotransmitter serotonin ini akan meningkatkan kapasitas sel reseptor yang mengikat glucocorticoid (adrenalin). Proses ini menyebabkan terjadinya penurun kadar hormogen adrenalin (Hormon stres), dan selanjutnya akan meningkatkan daya tahan tubuh (Putri,Alissa : 2009).

6) Meningkatkan produksi ASI

Pijat bayi menyebabkan bayi lebih refleks dan dapat beristirahat dengan efektif. Bayi yang tidur dengan efektif ketika bangun akan membawa energy cukup beraktifitas. Dengan aktifitas yang optimal, bayi akan cepet laper sehingga nafsu makannya meningkat. Peningkatan nafsu makan ini juga tambah peningkatan aktifitas nervus vagus / saraf pengembara system saraf otak yang bekerja untuk daerah leher kebawah sampai dada dan rongga perut. Dalam menggerakkan sel peristaltic ( sel disalurkan pencernaan yang menggerakkan dalam saluran pencernaan) untuk mendorong makanan kesaluran pencernaan. Dengan demikian, bayi lebih cepat lapar atau ingin makan karena pencernaannya semakin lancar.

7) Meningkatkan gerak peristaltik untuk pencernaan

Gerak peristaltik adalah semacam gelombang dan kontraksi teratur saluran menuju lambung yang menggerakkan bahan makanan agar dapat diproses dalam saluran pencernaan. Maka terbukti bahwa pijat bayi membantu proses pencernaan. (Putri Alissa : 2009).

8) Menstimulasi Aktivitas nervus vagus untuk perbaikan pernafasan

Aktifitas serat-serat nervus vulgar berpengaruh pada paru-paru. Sebuah penelitian yang dilakukan di Torch Research institute menunjukkan bahwa perlu pemijatan selama 20 menit yang dilakukan setiap malam pada anak-anak asma dapat menyebabkan mereka bernafas lebih baik. Ukuran keberhasilan ini ditunjukkan dengan pembacaan grafik penikngkatan aliran udara setiap hari yang semakin meningkat.

9) Mengembangkan komunikasi

Sentuhan adalah bentuk komunikasi pertama yang anda miliki dengan bayi. Sentuhan bayi berarti berbicara. Pijat bayi menggabungkan aspek kedekatan yaitu kontak mata, saling tersenyum dan ekspresi wajah lain. (Prasetyono : 2009).

10) Mengurangi rasa sakit

Memijat juga membantu mengusir gejala kembung, kolik, serta membantunya tidur lebih nyenyak. Tidak hanya itu, pijatan juga memperlancar sirkulasi dara di perut, sehingga membantu mengeluarkan gas yang terjebak disana. (Prasetyono : 2009).

11) Mengurangi nyeri

Pijatan yang lembut membantu tubuh melepaskan oksitoksin dan endorphin. Kedua hormon ini dapat membantu mengatasi ketidaknyamanan yang dirasakan si kecil akibat nyeri tumbuh gigi, hidung tersumbat atau tekanan emosi. (Prasetyono : 2009).

12) Meningkatkan percaya diri

Dengan melakukan pijat bayi, orang tua lebih mengenal bayinya. Pijat bayi mampu mengurangi rasa gelisah soal perawatan anak. Ketenangan ini membuat orang tua mampu menguasai keadaan dan loebih percaya diri untuk merawat si kecil. (Prasetyono : 2009).

13) Memahami kebutuhan si kecil

Bayi mengeluarkan bahasa tubuh selama dipijat. Orang tua yang melakukan pijat secara rutin lebih mengenal kondisi fisik bayi. Karena dilakukan berulang – ulang, orang tua lebih paham cara menghadapi bayinya saat gelisah. (Prasetyono : 2009).

 

  1. c.       Kebutuhan Dasar Neonatus dalam Perawatan Sehari-Hari

1) Membuat Balita Semakin Tenang

Umumnya bayi yang mendapatkan pijatan secara teratur akan lebih rileks dan tenang. Dengan sirkulasi darah dan oksigen yang lancar dan otomatis membuat imunitas tubuh balita lebih baik. Bukan hanya secara fisik, pijat balita juga sangat mempengaruhi emosional, karena aktivitas pijat akan menjalin bonding antara anak dan orang tua. Unsur utama pijat balita adalah sentuhan (touch), bukan tekanan (pressure). Oleh sebab itu selain oleh trapis spesialis, pijat balita sangat baik dilakukan oleh ibu dan ayah. (Putri, Alissa: 2009)

2) Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan balita

3) Meningkatkan efektivitas istirahat (Tidur) bayi

Bayi yang otot-ototnya distimulus atau pemijatan aman dan nyaman dan mengantuk. Kebanyakan bayi tidur dengan yang lama begitu pemijatan usai dilakukan kepadanya. Selain lama, bayi Nampak tertidur lelap dan tidak rewel seperti sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa bayi merasa tenang setelah dipijat. Ibu-ibu selalu merasa senang bila melihat bayinya tertidur lelap. Kebanyakan untuk alasan inilah mereka lakukan pemijatan bayi. Namun, dalam situasi lain dimana tidur lelap bayi ini terjadi berbagai kemungkinan. Pertama, bayi tertidur bukan karena nyaman dipijat tetapi sebaliknya, ia marasa kehabisan energy setelah “melawan” perlakuan pemijatan yang sebenarnya tidak diinginkan. Biasanya hal ini terjadi karena pemijatan dilakukan dengan paksaan. Kedua, tidur bayi yang terlalu lama dan sulit dibangunkan dapat mengganggu jadwal pemberian ASI. Pemberian ASI tetap harus cukup dan tidak boleh terlambat (Anggraini dan Subakti:2009).

4) Meningkatkan konsentrasi bayi

Pemijatan dapat memperlancar peredaran darah yang mengalir keseluruh tubuh manusia, termasuk keotaknya, terutama untuk memperlancar sirkulasi dan peredaran oksigen. Ketika suplai oksigen untuk bayi tidak lancar maka fungsi otak untuk berfikir dan konsentrasi akan terganggu. Semakin baik aliran darah ke otak, semakin berkecukupan kebutuhan oksigen ke otak secara cukup membuat konsentrasi dan kesiagaan bayi semakin membaik.Pemijitan juga mengefektifkan istirahat (tidur) bayi. Ketika bayi istirahat atau tidur dengan efektif maka saat bangun akan menjadi bugar. Kebugaran ini juga menjadi faktor yang mendukung konsentrasi dan kerja otak si bayi (Putri,Alisa : 2009).

5) Meningkatkan daya tahan tubuh

Meningkatkan aktifitas neurotransmitter serotonin ini akan meningkatkan kapasitas sel reseptor yang mengikat glucocorticoid (adrenalin). Proses ini menyebabkan terjadinya penurun kadar hormogen adrenalin (Hormon stres), dan selanjutnya akan meningkatkan daya tahan tubuh (Putri,Alissa : 2009).

6) Meningkatkan produksi ASI

Pijat bayi menyebabkan bayi lebih refleks dan dapat beristirahat dengan efektif. Bayi yang tidur dengan efektif ketika bangun akan membawa energy cukup beraktifitas. Dengan aktifitas yang optimal, bayi akan cepet laper sehingga nafsu makannya meningkat. Peningkatan nafsu makan ini juga tambah peningkatan aktifitas nervus vagus / saraf pengembara system saraf otak yang bekerja untuk daerah leher kebawah sampai dada dan rongga perut. Dalam menggerakkan sel peristaltic ( sel disalurkan pencernaan yang menggerakkan dalam saluran pencernaan) untuk mendorong makanan kesaluran pencernaan. Dengan demikian, bayi lebih cepat lapar atau ingin makan karena pencernaannya semakin lancar.

7) Meningkatkan gerak peristaltik untuk pencernaan

Gerak peristaltik adalah semacam gelombang dan kontraksi teratur saluran menuju lambung yang menggerakkan bahan makanan agar dapat diproses dalam saluran pencernaan. Maka terbukti bahwa pijat bayi membantu proses pencernaan. (Putri Alissa : 2009).

8) Menstimulasi Aktivitas nervus vagus untuk perbaikan pernafasan

Aktifitas serat-serat nervus vulgar berpengaruh pada paru-paru. Sebuah penelitian yang dilakukan di Torch Research institute menunjukkan bahwa perlu pemijatan selama 20 menit yang dilakukan setiap malam pada anak-anak asma dapat menyebabkan mereka bernafas lebih baik. Ukuran keberhasilan ini ditunjukkan dengan pembacaan grafik penikngkatan aliran udara setiap hari yang semakin meningkat.

9) Mengembangkan komunikasi

Sentuhan adalah bentuk komunikasi pertama yang anda miliki dengan bayi. Sentuhan bayi berarti berbicara. Pijat bayi menggabungkan aspek kedekatan yaitu kontak mata, saling tersenyum dan ekspresi wajah lain. (Prasetyono : 2009).

10) Mengurangi rasa sakit

Memijat juga membantu mengusir gejala kembung, kolik, serta membantunya tidur lebih nyenyak. Tidak hanya itu, pijatan juga memperlancar sirkulasi dara di perut, sehingga membantu mengeluarkan gas yang terjebak disana. (Prasetyono : 2009).

11) Mengurangi nyeri

Pijatan yang lembut membantu tubuh melepaskan oksitoksin dan endorphin. Kedua hormon ini dapat membantu mengatasi ketidaknyamanan yang dirasakan si kecil akibat nyeri tumbuh gigi, hidung tersumbat atau tekanan emosi. (Prasetyono : 2009).

12) Meningkatkan percaya diri

Dengan melakukan pijat bayi, orang tua lebih mengenal bayinya. Pijat bayi mampu mengurangi rasa gelisah soal perawatan anak. Ketenangan ini membuat orang tua mampu menguasai keadaan dan loebih percaya diri untuk merawat si kecil. (Prasetyono : 2009).

13) Memahami kebutuhan si kecil

Bayi mengeluarkan bahasa tubuh selama dipijat. Orang tua yang melakukan pijat secara rutin lebih mengenal kondisi fisik bayi. Karena dilakukan berulang – ulang, orang tua lebih paham cara menghadapi bayinya saat gelisah. (Prasetyono : 2009).

14) Teknik memijat bayi

Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, pemijatan bayi tak bias dilakukan secara sembarangan. Ada cara dan rambu-rambu yang harus diperhatikan.

Pada neonatus gerakan yang dilakukan lebih mendekati usapan-usapan halus. Sebelum tali pusar bayi dilepas, sebaiknya tidak dilakukan pemijatan didaerah perut.

Berikut beberapa pedoman teknik pemijatan bayi yang dapat dipergunakan sebagai dasar pijat bayi. Setiap gerakan yang diberiakan pada masing-masing teknik dapat diulang sebanyak lima sampai enam kali tergantung kebutuhan.

a) Kaki

- Memerah susu

Dalam teknik ini, peganglah kaki bayi pada pergelangan kaki seperti memegang tongkat pemukul. Kemudian gerakan tangan ke pergelangan kaki secara bergantian seperti memerah susu. Atau, dengan arah yang sama, gunakan kedua tangan secara bersamaan mulai dari pangkal paha dengan gerakan memeras, memijat dan memutar kedua kaki bayi secara lembut.

b) Telapak kaki

Untuk memijat telapak kaki bayi,caranya yakni tidak dipijat-pijat tetapi diurut menggunakan ibu jari secara bersamaan pada seluruh permukaan telapak kaki dari arah tumit ke jari-jari.

c)  Jari

Ingat bahwa tulang pada ruas jari kaki bayi masih belum kuat, karena itu pijatan tidak perlu disertai dengan penekanan. Pijatlah dengan lembut jari-jari kaki satu persatu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki dan akhiri dengan tarikan lembut pada setiap ujung jari.

d) Punggung kaki

Gunakan kedua ibu jari untuk membuat lingkaran disekitar kedua mata kaki sebelah dalam dan luar. Kemudian urutlah dengan lembut seluruh punggung kaki dengan kedua ibu jari secara bergantian dari pergelangan kaki ke arah jari. Teknik lain yakni dengan membuat gerakan yang membentuk lingkaran-lingkaran kecil dengan kedua ibu jari secara bersamaan dari daerah mata ke jari kaki.

e)  Betis

Pada bagian betis kaki dengan salah satu tangan anda, kemudian remas-remas dari pangkal lutut menuju pergelangan kaki. Gerakan ini dapat diulang berkali-kali.

f) Paha

Pada bagian paha, pemijatan dilakukan dengan cara meremas dan memutar. Pegang bayi pada bagian pangkal paha dengan kedua tangan secara bersamaan, kemudian buatlah gerakan meremas dengan lembut sambil memutarkan kedua belah tangan yang dimulai dari pangkal paha hingga ke arah mata kaki.

g) Perut

Untuk pemijatan di daerah perut, hindari pemijatan pada tulang rusuk. Selain itu, jangan lakukan pemijatan pada bagian perut ini setelah selesai makan.

-                       Mengayuh pedal sepeda

  • Pemijatan perut ini dilakukan dengan menggerakkan kedua tangan keatas dan kebawah secara bergantian seperti mengayuh pedal sepeda. Arah pijatan dimulai dari atas kebawah perut.
  • Gerakan berikutnya, jepit kedua pergelangan kaki bayi dengan tangan kiri, lalu angkat kedua kaki tersebut lurus sedikit diatas perut. Sedangkan untuk tangan kanan bisa langsung dilakukan gerakan mengusap-usap perut dari atas sampai ke jari-jari kaki.
  • Terakhir, untuk melemaskan otot-otot perut dan pangkal paha, kedua lutut ditekuk pelan-pelan dan dengan lembut menuju ke permukaan perut bayi. Atau, masing-masing tangan anda memegang pergelanagan kaki, kemudian gerakkan kedua kaki bayi secara bergantian seperti sedang mengayuh sepeda.

-                      Bulan – matahari

  • Disebut gerakan bulan – matahari karena gerakan yang harus dibentuk adalah membuat lingkaran dengan ujung-ujung jari tangan mulai dari perut sebelah kanan bawah (daerah usus buntu) sesuai arah jarum jam, kemudian kembali ke arah kanan bawah (seperti bentuk bulan) diikuti oleh tangan kiri yang selalu membuat bulatan penuh (seperti bentuk matahari).
  • Lakukan kedua gerakan ini secara bersamaan dengan tangan kiri membuat gerakan lingkaran penuh dan tangan kanan membuat setengah lingkaran.

-                       Ibu jari kesamping

  • Dalam gerakan ini, pertama-tama perut bayi pada bagiannya tekan masing-masing ibu jari diantara pusar perut. Kemudian, gerakkan kedua ibu jari tersebut menyamping ke arah tepi perut kanan dan kiri.
  • Cara lain adalah dengan membayangkan ada gambar jam pada perut bayi. Perut bayi bagian paling atas dianggap jam 12, bagian perut bawah di anggap jam 6, lalu buat gerakan berikut: buat lingkatan searah jarum jam dengan tangan kanan anda dibantu dengan tangan kiri dimulai pada jam 8 (didaerah usus buntu)

-                       Gerakan I love You

  • ·Posisikan bayi terlentang dengan bertelanjang dada. Gerakan pertama membentuk huruf “I” dengan melakukan usapan mulai dri dada kiri atas turun sampai kerusuk kiri. Gerakan kedua, bentuk huruf “L” dengan melakukan usapan mulai dari dada kanan atas turun ke rusuk atas lalu disambung rusuk kiri. Gerakan ketiga, bentuk huruf “J” dengan usapan dari dada kanan atas turun kerusuk kanan, disambung sampai rusuk kiri lalu diteruskan ke dada kiri atas.
  • ·Hati-hati jika melakukan pemijatan pada daerah dada dan perut. Jangan sampai terlalu menekan ke perut. Beberapa dokter tidak menyarankan pemijatan pada bagian perut, karena bisa mengganggu organ dalam bayi. Perhatikan juga reaksi yang timbul selama proses. Jika bayi tampak gelisah, berusahalah memalingkan kepala, memukul jidat, meringis kesakitan, berontak bahkan menangis, sebaiknya hentikan dulu. Mungkin dia sedang tidak nyaman karena tekanan yang terlalu kuat atau sebab lain.

-                      Gerakan jari berjalan

  • Dikatakan dengan gerakan jari berjalan karena penekanan bertumpuk pada pergerakan kelima ujung jari. Namun demikian, penekanan jari perut dilakukan dengan cara yang sangat hati-hati. Jangan menekan perut dengan jari-jari terlalu keras karena akan menimbulkan rasa sakit dan mungkin berbahaya sekali bila mengenai tulang rusuknya. Berikut cara memijat dengan teknik jari berjalan pada perut.
  • Letakkan ujung-ujung jari pada pada perut bayi bagian kanan bawah dan buatlah gerakan dengan tekanan sesuai arah jarum jam dari kiri bawah guna memindahkan gelembung-gelembung udara yang terselip di balik kulit. Dengan kedua telapak tangan, buatlah gerakan dari tengah dada ke samping luar seolah sedang meratakan lipatan kertas.

h) Dada

-         Gerakan Jantung

Teknik ini yaitu dengan membuat gerakan yang membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari kedua tangan anda di ulu hati, setelah itu, gerakkan tangan ke atas tulang selangka dan berakhir ke posisi semula dibawah ulu hati. Gerakan tadi seolah membuat gambar jantung.

-                      Menyilang

Gerakan menyilang dimulai dari tangan kanan yang memijat menyilang dari ulu hati kea rah bahu kiri dan kembali kea rah ulu hati.

-                   Lingkaran kecil

Buatlah gerakan lingkaran kecil disekitar putting susu.

i) Tangan

-          Perlahan cara India

Teknik perlahan cara India bermanfaat untuk relaksasi otot dan arahnya menjauhi tubuh. Caranya, peganglah lengan bayi dengan kedua telapak tangan mulai dari  pundak seperti memegang gagang senter. Kemudian, gerakkan tangan kanan dan kiri kebawah secara bergantian dan berulang-ulang seolah sedang memerah susu sapi. Atau, kedua tangan melakukan memeras, memijat dan memutar secara lembut pada lengan bayi mulai dari pundak hingga pergelangan tangan.

-                   Memijat ketiak

  • Biasanya wilayah dibagian ketiak ini merupakan wilayah yang sensitif. Ketika jari menyentuh wiyah ini, bayi akan menolak bukan karena sakit, tetapi mungkin dia merasa geli dan senang karena menganggapnya sedang bermain.
  • Gerakan memijat ketiak ini, pertama angkat tangan bayi dengan salah satu tangan anda. Kemudian, buatlah gerakan memijat pada wilayah ini, lalu menurun hingga ke bagian tulang rusuk dan perut.
  • Yang perlu diperhatikan adalah bila wilayah ketiak ini terdapat benjolan atau terdapat pembengkakan kelenjar, sebaiknya jangan memijat pada wilayah ini.

s)        Pergelangan tangan

Pemijatan pegelangan tangan ini dimulai dari pergelanagn tangan (siku) kearah pundak. atau, dengan kedua tangan lakukan gerakan memeras, memutar dan memijit secara lembut pada lengan bayi mulai dari pergelangan tangan ke pundak. Pijitan ini berguna untuk mengalirkan darah ke jantung dan paru – paru.

k) Telapak tangan

Dengan kedua ibu jari, pijatlah telapak tangan seolah membuat lingkaran – lingkaran kecil dari pergelangan tangan kea rah jari – jemari. Sedangkan keempat jari lainnya memijat punggung tangan.

l) Jari

Pijat jari bayi satu – persatu menuju ujung jari dengan gerakan memutar. Akhiri gerakan ini dengan tarikan pada tiap ujung jari. Dalam tarikan ujung jari ini, anda bisa membunyikan suara “tak” dari lidah, sehingga bila si bayi mendengar suara itu dia akan tampak gembira.

-                   Gerakan menggulung

Gerakan ini seperti menggulung sebatang pensil dengan kedua tangan. Caranya, anda pegang lengan bayi bagian atas/bahu dengan kedua telapak tangan. Kemudian, gerakkan kedua telapak tangan maju dan mundur seolah sedang menggulung bergerak naik dimulai dari pangkaal lengan menuju pergelangan tangan/jari-jari.

l) Muka

-          Membasuh muka

Tutuplah wajah bayi dengan kedua telapak tangan anda dengan lembut sambil bicara pada bayi secara halus. Gerakan kedua tangan anda kesamping pada kedua sisi wajah bayi seperti gerakan membasih muka. Cara seperti ini dapat dilakukan sambil bermain “ciluk-ba”.

m)  Dahi

Arah gerakan memijat dahi seperti arah membasuh muka. Caranya, letakkan jari-jari kedua tangan anda pada pertengahan dahi. Tekan dengan lembut bagian ini mulai dari tengah dahi bayi kearah samping kanan dan kiri. Setelah itu, gerakan ke bawak ke daerah pelipis dan buatlah lingkaran – lingkaran kecil di pelipis, kemudian gerakan kearah dalam melalui daerah bawah pelipis dibawah mata.

n)  Alis

Memijat bagian alis mata caranya ialah dengan meletakkan kedua ibu jari anda diantara kedua alis mata. Lalu, pijat bagian ataas mataa/alis mulai dari tengan kesamping searah dengan bulu rambut alis.

o) Dagu

  • Pijatan pada dagu ini atau rahang bawah, pegang pipi kiri dan kanan dengan kedua tangan dan kedua ibu jari diletakkan ditengah dagu bawah mulut.selanjutnya adalah menekan dua ibu jari pada dagu, lalu kesamping menuju kea rah pipi bawah atau samping mulut. 5.Lingkaran kecil dirahang
  • Gunakan jari telunjuk kedua tangan anda untuk membuat lingkaran kecil diseputar wilayahy rahang bayi. Berhati-hatilah, mungkin diwilayah ini rahang bayi sedikit sensitive menerima tekanan yang agak sedikit keras. Karena itu, tekanan hendaknya dibuat selembut mungkin, sehinggga tidak merasakan sakit.

p) Belakang telinga

Dengan tekanan lembut, gerakkan jari-jari kedua tangan anda mulai dari belakang telinga membentuk lingkaran-lingkaran kecil diseluruh kepala.

q) Punggung

-        Gerakan maju mundur (kuda goyang)

  • Bayi ditidurkan tengkurap dengan posisi kepala disebelah kiri dan kaki disebelah kanan anda. Lalu, pijatlah punggung bayi hingga ke bawah leher dengan gerakan maju dan mundur dengan kedua telapak kanan. Lalu kembali dari bawah leher sampai ke pantat bayi. 2.Usapan punggung
  • Tahan bokong bayi dengan tangan kanaan, lalu dipijit punggung bayi dengan telapak tangan kiri anda mulai dari leher sampai bokong dimana tangan kanan berada.
  • Gerakan selanjutnya, pegang kedua pergelangan kaki bayi dengan tangan kanan anda, kemudian usap yang dimulai dari pinggang hingga tumit. (Putri,Alissa : 2009).

6) Hal-hal yang boleh dilakukan

a) Terus melakukan kontak mata dengan bayi anda.

b) Nyanyikan lagu atau putarkan musik lembut untuk membantu anda dan bayi akan merasa rileks.

c) Mulailah dengan sentuhan ringan dan perlahan, tingkatkan tekanan pijatan saat anda semakin yakin dan bayi anda terbiasa dipijat.

d) Perhatikan isyarat yang ditunjukkan bayi anda. Jika ia menangis keras, hentikan pijatan. Mungkin bayi anda ingin digendong, disusui atau mengantuk.

e) Jika anda menggunakan baby oil, mandikan bayi anda setelah dipijat.

f) Jauhkan baby oil dari mata bayi anda.

g) Konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut mengenai pemijatan bayi. (Maharani, Sabrina : 2009)

7) Hal yang tidak boleh dilakukan:

a) Memijat bayi tidak lama setelah ia makan/minum susu.

b) Membangunkan bayi anda untuk dipijat.

c) Memijat bayi anda dalam keadaan sakit.

d) Memijat bayi anda dengan paksa.

e) Memaksa posisi saat memijat bayi anda. (Maharani, Sabrina : 2009)

2)   Aktivitas

a)    Membaca untuk anak selama 15 menit

Otak anak-anak mempelajari bahasa jauh lebih mudah pada tahun-tahun awal. Selain itu, paparan kata-kata yang berbeda sebanyak mungkin juga membantu membangun kosakata mereka.

b)   Bermain di lantai bersama anak selama 10 menit

Bayi biasanya berusaha berinteraksi melalui ocehan dan gerak tubuh. Orang tua harus mendorongnya dengan bermain pada tingkat fisik mereka, yaitu di lantai.

c)    Bercakap-cakap dengan anak selama 20 menit tanpa televisi

Anak-anak dari latar belakang miskin biasanya jauh lebih sedikit mendengarkan kata-kata yang diucapkan setiap harinya, dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga kaya.

Dengan mematikan televisi dan berbicara, orangtua dapat meningkatkan kemampuan verbal dan keahlian membaca anak-anaknya, serta mempersiapkan mereka untuk bersekolah.

d)   Mengadopsi sikap positif dan sering memuji

Terdapat bukti signifikan bahwa positive parenting dapat membantu mengurangi tingkat stres anak-anak dan memperkuat ikatan orangtua dengan anaknya. Selain itu, jangan pelit memberikan pujian ketika anak melakukan sesuatu yang baik.

 

 

  1. d.      Kebutuhan Dasar Neonatus dalam Perawatan Sehari-Hari

1) Membuat Prasekolah Semakin Tenang

Umumnya bayi yang mendapatkan pijatan secara teratur akan lebih rileks dan tenang. Dengan sirkulasi darah dan oksigen yang lancar dan otomatis membuat imunitas tubuh prasekolah lebih baik. Bukan hanya secara fisik, pijat prasekolah juga sangat mempengaruhi emosional, karena aktivitas pijat akan menjalin bonding antara anak dan orang tua. Unsur utama pijat prasekolah adalah sentuhan (touch), bukan tekanan (pressure). Oleh sebab itu selain oleh trapis spesialis, pijat prasekolah sangat baik dilakukan oleh ibu dan ayah. (Putri, Alissa: 2009)

2) Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan prasekolah

3) Meningkatkan efektivitas istirahat (Tidur) bayi

Bayi yang otot-ototnya distimulus atau pemijatan aman dan nyaman dan mengantuk. Kebanyakan bayi tidur dengan yang lama begitu pemijatan usai dilakukan kepadanya. Selain lama, bayi Nampak tertidur lelap dan tidak rewel seperti sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa bayi merasa tenang setelah dipijat. Ibu-ibu selalu merasa senang bila melihat bayinya tertidur lelap. Kebanyakan untuk alasan inilah mereka lakukan pemijatan bayi. Namun, dalam situasi lain dimana tidur lelap bayi ini terjadi berbagai kemungkinan. Pertama, bayi tertidur bukan karena nyaman dipijat tetapi sebaliknya, ia marasa kehabisan energy setelah “melawan” perlakuan pemijatan yang sebenarnya tidak diinginkan. Biasanya hal ini terjadi karena pemijatan dilakukan dengan paksaan. Kedua, tidur bayi yang terlalu lama dan sulit dibangunkan dapat mengganggu jadwal pemberian ASI. Pemberian ASI tetap harus cukup dan tidak boleh terlambat (Anggraini dan Subakti:2009).

4) Meningkatkan konsentrasi bayi

Pemijatan dapat memperlancar peredaran darah yang mengalir keseluruh tubuh manusia, termasuk keotaknya, terutama untuk memperlancar sirkulasi dan peredaran oksigen. Ketika suplai oksigen untuk bayi tidak lancar maka fungsi otak untuk berfikir dan konsentrasi akan terganggu. Semakin baik aliran darah ke otak, semakin berkecukupan kebutuhan oksigen ke otak secara cukup membuat konsentrasi dan kesiagaan bayi semakin membaik.Pemijitan juga mengefektifkan istirahat (tidur) bayi. Ketika bayi istirahat atau tidur dengan efektif maka saat bangun akan menjadi bugar. Kebugaran ini juga menjadi faktor yang mendukung konsentrasi dan kerja otak si bayi (Putri,Alisa : 2009).

5) Meningkatkan daya tahan tubuh

Meningkatkan aktifitas neurotransmitter serotonin ini akan meningkatkan kapasitas sel reseptor yang mengikat glucocorticoid (adrenalin). Proses ini menyebabkan terjadinya penurun kadar hormogen adrenalin (Hormon stres), dan selanjutnya akan meningkatkan daya tahan tubuh (Putri,Alissa : 2009).

6) Meningkatkan produksi ASI

Pijat bayi menyebabkan bayi lebih refleks dan dapat beristirahat dengan efektif. Bayi yang tidur dengan efektif ketika bangun akan membawa energy cukup beraktifitas. Dengan aktifitas yang optimal, bayi akan cepet laper sehingga nafsu makannya meningkat. Peningkatan nafsu makan ini juga tambah peningkatan aktifitas nervus vagus / saraf pengembara system saraf otak yang bekerja untuk daerah leher kebawah sampai dada dan rongga perut. Dalam menggerakkan sel peristaltic ( sel disalurkan pencernaan yang menggerakkan dalam saluran pencernaan) untuk mendorong makanan kesaluran pencernaan. Dengan demikian, bayi lebih cepat lapar atau ingin makan karena pencernaannya semakin lancar.

7) Meningkatkan gerak peristaltik untuk pencernaan

Gerak peristaltik adalah semacam gelombang dan kontraksi teratur saluran menuju lambung yang menggerakkan bahan makanan agar dapat diproses dalam saluran pencernaan. Maka terbukti bahwa pijat bayi membantu proses pencernaan. (Putri Alissa : 2009).

8) Menstimulasi Aktivitas nervus vagus untuk perbaikan pernafasan

Aktifitas serat-serat nervus vulgar berpengaruh pada paru-paru. Sebuah penelitian yang dilakukan di Torch Research institute menunjukkan bahwa perlu pemijatan selama 20 menit yang dilakukan setiap malam pada anak-anak asma dapat menyebabkan mereka bernafas lebih baik. Ukuran keberhasilan ini ditunjukkan dengan pembacaan grafik penikngkatan aliran udara setiap hari yang semakin meningkat.

9) Mengembangkan komunikasi

Sentuhan adalah bentuk komunikasi pertama yang anda miliki dengan bayi. Sentuhan bayi berarti berbicara. Pijat bayi menggabungkan aspek kedekatan yaitu kontak mata, saling tersenyum dan ekspresi wajah lain. (Prasetyono : 2009).

10) Mengurangi rasa sakit

Memijat juga membantu mengusir gejala kembung, kolik, serta membantunya tidur lebih nyenyak. Tidak hanya itu, pijatan juga memperlancar sirkulasi dara di perut, sehingga membantu mengeluarkan gas yang terjebak disana. (Prasetyono : 2009).

11) Mengurangi nyeri

Pijatan yang lembut membantu tubuh melepaskan oksitoksin dan endorphin. Kedua hormon ini dapat membantu mengatasi ketidaknyamanan yang dirasakan si kecil akibat nyeri tumbuh gigi, hidung tersumbat atau tekanan emosi. (Prasetyono : 2009).

12) Meningkatkan percaya diri

Dengan melakukan pijat bayi, orang tua lebih mengenal bayinya. Pijat bayi mampu mengurangi rasa gelisah soal perawatan anak. Ketenangan ini membuat orang tua mampu menguasai keadaan dan loebih percaya diri untuk merawat si kecil. (Prasetyono : 2009).

13) Memahami kebutuhan si kecil

Bayi mengeluarkan bahasa tubuh selama dipijat. Orang tua yang melakukan pijat secara rutin lebih mengenal kondisi fisik bayi. Karena dilakukan berulang – ulang, orang tua lebih paham cara menghadapi bayinya saat gelisah. (Prasetyono : 2009).

14) Teknik memijat bayi

Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, pemijatan bayi tak bias dilakukan secara sembarangan. Ada cara dan rambu-rambu yang harus diperhatikan.

Pada neonatus gerakan yang dilakukan lebih mendekati usapan-usapan halus. Sebelum tali pusar bayi dilepas, sebaiknya tidak dilakukan pemijatan didaerah perut.

Berikut beberapa pedoman teknik pemijatan bayi yang dapat dipergunakan sebagai dasar pijat bayi. Setiap gerakan yang diberiakan pada masing-masing teknik dapat diulang sebanyak lima sampai enam kali tergantung kebutuhan.

a) Kaki

- Memerah susu

Dalam teknik ini, peganglah kaki bayi pada pergelangan kaki seperti memegang tongkat pemukul. Kemudian gerakan tangan ke pergelangan kaki secara bergantian seperti memerah susu. Atau, dengan arah yang sama, gunakan kedua tangan secara bersamaan mulai dari pangkal paha dengan gerakan memeras, memijat dan memutar kedua kaki bayi secara lembut.

b) Telapak kaki

Untuk memijat telapak kaki bayi,caranya yakni tidak dipijat-pijat tetapi diurut menggunakan ibu jari secara bersamaan pada seluruh permukaan telapak kaki dari arah tumit ke jari-jari.

c)  Jari

Ingat bahwa tulang pada ruas jari kaki bayi masih belum kuat, karena itu pijatan tidak perlu disertai dengan penekanan. Pijatlah dengan lembut jari-jari kaki satu persatu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki dan akhiri dengan tarikan lembut pada setiap ujung jari.

d) Punggung kaki

Gunakan kedua ibu jari untuk membuat lingkaran disekitar kedua mata kaki sebelah dalam dan luar. Kemudian urutlah dengan lembut seluruh punggung kaki dengan kedua ibu jari secara bergantian dari pergelangan kaki ke arah jari. Teknik lain yakni dengan membuat gerakan yang membentuk lingkaran-lingkaran kecil dengan kedua ibu jari secara bersamaan dari daerah mata ke jari kaki.

e)  Betis

Pada bagian betis kaki dengan salah satu tangan anda, kemudian remas-remas dari pangkal lutut menuju pergelangan kaki. Gerakan ini dapat diulang berkali-kali.

f) Paha

Pada bagian paha, pemijatan dilakukan dengan cara meremas dan memutar. Pegang bayi pada bagian pangkal paha dengan kedua tangan secara bersamaan, kemudian buatlah gerakan meremas dengan lembut sambil memutarkan kedua belah tangan yang dimulai dari pangkal paha hingga ke arah mata kaki.

g) Perut

Untuk pemijatan di daerah perut, hindari pemijatan pada tulang rusuk. Selain itu, jangan lakukan pemijatan pada bagian perut ini setelah selesai makan.

-                       Mengayuh pedal sepeda

  • Pemijatan perut ini dilakukan dengan menggerakkan kedua tangan keatas dan kebawah secara bergantian seperti mengayuh pedal sepeda. Arah pijatan dimulai dari atas kebawah perut.
  • Gerakan berikutnya, jepit kedua pergelangan kaki bayi dengan tangan kiri, lalu angkat kedua kaki tersebut lurus sedikit diatas perut. Sedangkan untuk tangan kanan bisa langsung dilakukan gerakan mengusap-usap perut dari atas sampai ke jari-jari kaki.
  • Terakhir, untuk melemaskan otot-otot perut dan pangkal paha, kedua lutut ditekuk pelan-pelan dan dengan lembut menuju ke permukaan perut bayi. Atau, masing-masing tangan anda memegang pergelanagan kaki, kemudian gerakkan kedua kaki bayi secara bergantian seperti sedang mengayuh sepeda.

-                      Bulan – matahari

  • Disebut gerakan bulan – matahari karena gerakan yang harus dibentuk adalah membuat lingkaran dengan ujung-ujung jari tangan mulai dari perut sebelah kanan bawah (daerah usus buntu) sesuai arah jarum jam, kemudian kembali ke arah kanan bawah (seperti bentuk bulan) diikuti oleh tangan kiri yang selalu membuat bulatan penuh (seperti bentuk matahari).
  • Lakukan kedua gerakan ini secara bersamaan dengan tangan kiri membuat gerakan lingkaran penuh dan tangan kanan membuat setengah lingkaran.

-                       Ibu jari kesamping

  • Dalam gerakan ini, pertama-tama perut bayi pada bagiannya tekan masing-masing ibu jari diantara pusar perut. Kemudian, gerakkan kedua ibu jari tersebut menyamping ke arah tepi perut kanan dan kiri.
  • Cara lain adalah dengan membayangkan ada gambar jam pada perut bayi. Perut bayi bagian paling atas dianggap jam 12, bagian perut bawah di anggap jam 6, lalu buat gerakan berikut: buat lingkatan searah jarum jam dengan tangan kanan anda dibantu dengan tangan kiri dimulai pada jam 8 (didaerah usus buntu)

-                       Gerakan I love You

  • ·Posisikan bayi terlentang dengan bertelanjang dada. Gerakan pertama membentuk huruf “I” dengan melakukan usapan mulai dri dada kiri atas turun sampai kerusuk kiri. Gerakan kedua, bentuk huruf “L” dengan melakukan usapan mulai dari dada kanan atas turun ke rusuk atas lalu disambung rusuk kiri. Gerakan ketiga, bentuk huruf “J” dengan usapan dari dada kanan atas turun kerusuk kanan, disambung sampai rusuk kiri lalu diteruskan ke dada kiri atas.
  • ·Hati-hati jika melakukan pemijatan pada daerah dada dan perut. Jangan sampai terlalu menekan ke perut. Beberapa dokter tidak menyarankan pemijatan pada bagian perut, karena bisa mengganggu organ dalam bayi. Perhatikan juga reaksi yang timbul selama proses. Jika bayi tampak gelisah, berusahalah memalingkan kepala, memukul jidat, meringis kesakitan, berontak bahkan menangis, sebaiknya hentikan dulu. Mungkin dia sedang tidak nyaman karena tekanan yang terlalu kuat atau sebab lain.

-                      Gerakan jari berjalan

  • Dikatakan dengan gerakan jari berjalan karena penekanan bertumpuk pada pergerakan kelima ujung jari. Namun demikian, penekanan jari perut dilakukan dengan cara yang sangat hati-hati. Jangan menekan perut dengan jari-jari terlalu keras karena akan menimbulkan rasa sakit dan mungkin berbahaya sekali bila mengenai tulang rusuknya. Berikut cara memijat dengan teknik jari berjalan pada perut.
  • Letakkan ujung-ujung jari pada pada perut bayi bagian kanan bawah dan buatlah gerakan dengan tekanan sesuai arah jarum jam dari kiri bawah guna memindahkan gelembung-gelembung udara yang terselip di balik kulit. Dengan kedua telapak tangan, buatlah gerakan dari tengah dada ke samping luar seolah sedang meratakan lipatan kertas.

h) Dada

-         Gerakan Jantung

Teknik ini yaitu dengan membuat gerakan yang membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari kedua tangan anda di ulu hati, setelah itu, gerakkan tangan ke atas tulang selangka dan berakhir ke posisi semula dibawah ulu hati. Gerakan tadi seolah membuat gambar jantung.

-                      Menyilang

Gerakan menyilang dimulai dari tangan kanan yang memijat menyilang dari ulu hati kea rah bahu kiri dan kembali kea rah ulu hati.

-                   Lingkaran kecil

Buatlah gerakan lingkaran kecil disekitar putting susu.

i) Tangan

-          Perlahan cara India

Teknik perlahan cara India bermanfaat untuk relaksasi otot dan arahnya menjauhi tubuh. Caranya, peganglah lengan bayi dengan kedua telapak tangan mulai dari  pundak seperti memegang gagang senter. Kemudian, gerakkan tangan kanan dan kiri kebawah secara bergantian dan berulang-ulang seolah sedang memerah susu sapi. Atau, kedua tangan melakukan memeras, memijat dan memutar secara lembut pada lengan bayi mulai dari pundak hingga pergelangan tangan.

-                   Memijat ketiak

  • Biasanya wilayah dibagian ketiak ini merupakan wilayah yang sensitif. Ketika jari menyentuh wiyah ini, bayi akan menolak bukan karena sakit, tetapi mungkin dia merasa geli dan senang karena menganggapnya sedang bermain.
  • Gerakan memijat ketiak ini, pertama angkat tangan bayi dengan salah satu tangan anda. Kemudian, buatlah gerakan memijat pada wilayah ini, lalu menurun hingga ke bagian tulang rusuk dan perut.
  • Yang perlu diperhatikan adalah bila wilayah ketiak ini terdapat benjolan atau terdapat pembengkakan kelenjar, sebaiknya jangan memijat pada wilayah ini.

t)        Pergelangan tangan

Pemijatan pegelangan tangan ini dimulai dari pergelanagn tangan (siku) kearah pundak. atau, dengan kedua tangan lakukan gerakan memeras, memutar dan memijit secara lembut pada lengan bayi mulai dari pergelangan tangan ke pundak. Pijitan ini berguna untuk mengalirkan darah ke jantung dan paru – paru.

k) Telapak tangan

Dengan kedua ibu jari, pijatlah telapak tangan seolah membuat lingkaran – lingkaran kecil dari pergelangan tangan kea rah jari – jemari. Sedangkan keempat jari lainnya memijat punggung tangan.

l) Jari

Pijat jari bayi satu – persatu menuju ujung jari dengan gerakan memutar. Akhiri gerakan ini dengan tarikan pada tiap ujung jari. Dalam tarikan ujung jari ini, anda bisa membunyikan suara “tak” dari lidah, sehingga bila si bayi mendengar suara itu dia akan tampak gembira.

-                   Gerakan menggulung

Gerakan ini seperti menggulung sebatang pensil dengan kedua tangan. Caranya, anda pegang lengan bayi bagian atas/bahu dengan kedua telapak tangan. Kemudian, gerakkan kedua telapak tangan maju dan mundur seolah sedang menggulung bergerak naik dimulai dari pangkaal lengan menuju pergelangan tangan/jari-jari.

l) Muka

-          Membasuh muka

Tutuplah wajah bayi dengan kedua telapak tangan anda dengan lembut sambil bicara pada bayi secara halus. Gerakan kedua tangan anda kesamping pada kedua sisi wajah bayi seperti gerakan membasih muka. Cara seperti ini dapat dilakukan sambil bermain “ciluk-ba”.

m)  Dahi

Arah gerakan memijat dahi seperti arah membasuh muka. Caranya, letakkan jari-jari kedua tangan anda pada pertengahan dahi. Tekan dengan lembut bagian ini mulai dari tengah dahi bayi kearah samping kanan dan kiri. Setelah itu, gerakan ke bawak ke daerah pelipis dan buatlah lingkaran – lingkaran kecil di pelipis, kemudian gerakan kearah dalam melalui daerah bawah pelipis dibawah mata.

n)  Alis

Memijat bagian alis mata caranya ialah dengan meletakkan kedua ibu jari anda diantara kedua alis mata. Lalu, pijat bagian ataas mataa/alis mulai dari tengan kesamping searah dengan bulu rambut alis.

o) Dagu

  • Pijatan pada dagu ini atau rahang bawah, pegang pipi kiri dan kanan dengan kedua tangan dan kedua ibu jari diletakkan ditengah dagu bawah mulut.selanjutnya adalah menekan dua ibu jari pada dagu, lalu kesamping menuju kea rah pipi bawah atau samping mulut. 5.Lingkaran kecil dirahang
  • Gunakan jari telunjuk kedua tangan anda untuk membuat lingkaran kecil diseputar wilayahy rahang bayi. Berhati-hatilah, mungkin diwilayah ini rahang bayi sedikit sensitive menerima tekanan yang agak sedikit keras. Karena itu, tekanan hendaknya dibuat selembut mungkin, sehinggga tidak merasakan sakit.

p) Belakang telinga

Dengan tekanan lembut, gerakkan jari-jari kedua tangan anda mulai dari belakang telinga membentuk lingkaran-lingkaran kecil diseluruh kepala.

q) Punggung

-        Gerakan maju mundur (kuda goyang)

  • Bayi ditidurkan tengkurap dengan posisi kepala disebelah kiri dan kaki disebelah kanan anda. Lalu, pijatlah punggung bayi hingga ke bawah leher dengan gerakan maju dan mundur dengan kedua telapak kanan. Lalu kembali dari bawah leher sampai ke pantat bayi. 2.Usapan punggung

e. Tahan bokong bayi dengan tangan kanaan, lalu dipijit punggung bayi dengan telapak tangan kiri anda mulai dari leher sampai bokong dimana tangan kanan berada.

  • Gerakan selanjutnya, pegang kedua pergelangan kaki bayi dengan tangan kanan anda, kemudian usap yang dimulai dari pinggang hingga tumit. (Putri,Alissa : 2009).

6) Hal-hal yang boleh dilakukan

a) Terus melakukan kontak mata dengan bayi anda.

b) Nyanyikan lagu atau putarkan musik lembut untuk membantu anda dan bayi akan merasa rileks.

c) Mulailah dengan sentuhan ringan dan perlahan, tingkatkan tekanan pijatan saat anda semakin yakin dan bayi anda terbiasa dipijat.

d) Perhatikan isyarat yang ditunjukkan bayi anda. Jika ia menangis keras, hentikan pijatan. Mungkin bayi anda ingin digendong, disusui atau mengantuk.

e) Jika anda menggunakan baby oil, mandikan bayi anda setelah dipijat.

f) Jauhkan baby oil dari mata bayi anda.

g) Konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut mengenai pemijatan bayi. (Maharani, Sabrina : 2009)

7) Hal yang tidak boleh dilakukan:

a) Memijat bayi tidak lama setelah ia makan/minum susu.

b) Membangunkan bayi anda untuk dipijat.

c) Memijat bayi anda dalam keadaan sakit.

d) Memijat bayi anda dengan paksa.

e) Memaksa posisi saat memijat bayi anda. (Maharani, Sabrina : 2009)

3)   Aktivitas

e)    Membaca untuk anak selama 15 menit

Otak anak-anak mempelajari bahasa jauh lebih mudah pada tahun-tahun awal. Selain itu, paparan kata-kata yang berbeda sebanyak mungkin juga membantu membangun kosakata mereka.

f)    Bermain di lantai bersama anak selama 10 menit

Bayi biasanya berusaha berinteraksi melalui ocehan dan gerak tubuh. Orang tua harus mendorongnya dengan bermain pada tingkat fisik mereka, yaitu di lantai.

g)   Bercakap-cakap dengan anak selama 20 menit tanpa televisi

Anak-anak dari latar belakang miskin biasanya jauh lebih sedikit mendengarkan kata-kata yang diucapkan setiap harinya, dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga kaya.

Dengan mematikan televisi dan berbicara, orangtua dapat meningkatkan kemampuan verbal dan keahlian membaca anak-anaknya, serta mempersiapkan mereka untuk bersekolah.

h)   Mengadopsi sikap positif dan sering memuji

Terdapat bukti signifikan bahwa positive parenting dapat membantu mengurangi tingkat stres anak-anak dan memperkuat ikatan orangtua dengan anaknya. Selain itu, jangan pelit memberikan pujian ketika anak melakukan sesuatu yang baik.

 

  1. 4.      Anticipatory Guidance

Memberitahukan/upaya bimbingan kepada orang tua tentang tahapan perkembangan sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan usia anak). Pencegahan Terhadap Kecelakaan ;

  1. a.    Masa Bayi

Jenis kecelakaan : Aspirasi benda, jatuh, luka baker, keracunan, kurang O2.
1)  Pencegahan

a)   Aspirasi : bedak, kancing, permen (hati-hati).

b)   Kurang O2 : plastic, sarung bantal.

c)   Jatuh : tempat tidur ditutup, pengaman (restraint), tidak pakai kursi tinggi.

d)  Luka bakar : cek air mandi sebelum dipakai.

e)   Keracunan : simpan bahan toxic dilemari.

Adapun petunjuk antisipasi yang dapat dilakukan, yaitu:

a)   6 bulan pertama

  • Menganjurkan orang tua untuk membuat jadwal dalam memenuhi kebutuhan bayi.
  • Membantu orang tua untuk memahami kebutuhan bayi terhadap stimulasi dari lingkungan.
  • Support kesenangan orang tua dalam melihat pertumbuhan dan perkembangan bayinya mis : respon tertawa.
  • Menyiapkan orang tua untuk kebutuhan keamanan bayi.
  • Menyiapkan orang tua untuk imunisasi bayi.
  • Menyiapkan orang tua untuk mulai memberi makanan padat pada bayi.

b)   6 bulan kedua

  • Menyiapkan orang tua akan adanya “Stranger Anxiety”.
  • Menganjurkan orang tua agar anak dekat kepadanya hindari perpisahan yang lama.
  • Membimbing orang tua agar menerapkan disiplin sehubungan dengan meningkatnya mobilitas bayi.
  • Menganjurkan orang tua menggunakan “Kontak Mata” dari pada hukuman badan sebagai suatu disiplin.

b.   Masa Preschool (3-5 tahun)

Pada masa ini petunjuk bimbingan tetap diperlukan walaupun kesulitannya jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Sebelumnya, pencegahan kecelakaan dipusatkan pada pengamatan lingkungan terdekat, dan kurang menekankan pada alasan-alasannya. Sekarang proteksi pagar, penutup stop kontak disertai dengan  penjelasan secara verbal dengan alas an yang tepat dan dapat dimengerti.

Masuk sekolah adalah bentuk perpisahan dari rumah baik bagi orang tua maupun anak. Oleh karena itu, orang tua memerlukan bantuan dalam melakukan penyesuaian terhadap perubahan ini, terutama bagi Ibu yang tinggal di rumah/tidak bekerja. Ketika anak mulai masuk taman kanak-kanak, maka ibu mulai memerlukan kegiatan-kegiatan di luar keluarga, seperti keterlibatannya dalam masyarakat atau mengembangkan karier. Bimbingan terhadap orang tua pada masa ini dapat dilakukan pada anak umur 3, 4, 5 tahun.

1)      Usia 3 tahun

a) Menyiapkan orang tua untu meningkatkan minat anak terhadap hubungan yang luas.

b)       Menganjurkan orang tua untuk mendaftarkan anak ke taman kanak-kanak.

c)       Menekankan pentignya batas-batas/tata cara/peraturan-peraturan.

d) Menyiapakan orang tua untu mengantisipasi tingkah laku yang berlebihan sehingga dapat menurunkan tension/ketegangan.

e) Menganjurkan ornga tua untuk menawarkan kepada anaknya alternative-alternatif pilihan ketika anak dalam keadaan bimbang.

f)  Memberikan gambaran mengenai perubahan pada usia 3.5 tahun katika anak berkurang koordinasi motorik dan emosiaonalnya, merasa tidak aman serta menunjukkan emosi dan perkembangan tingkah laku yang ekstrim seperti gagap.

g) Menyiapkan orang tua untuk mengekspetasi tuntutan-tuntutan akan perhatian ekstra dari anak, yang merupakan refleksi dari emosi tidak aman dan ketakutan akan kehilangan cinta.

h) Mengingatkan kepada orang tua bahwa keseimbangan pada usia 3 tahun akan berubah ke tingkah laku agresif di luar batas pada usia 4 tahun.

i)   Mengantisipasi selera makan yang menjadi tetap dengan pemilihan makanan yang lebih luas.

2) Usia 4 tahun

a)    Menyiapkan orang tua terhadap perilaku anak yang agresif, termasuk aktifitas motorik dan bahasa yang mengejutkan

b)    Menyiapkan orang tua menghadapi perlawanan anak terhadap kekuasaan orang tua.

c)    Kaji perasaan orang tua sehubungan dengan tingkah laku anak.

d)    Menganjurkan beberapa macam istirahat dari pengasuh utama, seperti menempatkan anak pad ataman kanak-kanak selama setengah hari.

e)    Menyiapkan orang tua untuk menghadapi meningkatnya rasa ingin tahu seksual pada anak.

f)     Menekankan pentingnya batas-batas yang realistic dari tingkah laku.

g)    Mendiskusikan disiplin

h)    Menyiapkan orang tua untuk meningkatkan imajinasi di usia 4 tahun, dimana anak mengikuti kata hatinya dalam “ketinggian bicaranya” (bedakan dengan kebohongan) dan kemahiran anak dalam permainan yang membutuhkan imajinasi.

i)      Menyarankan pelajaran berenang.

j)     Menjelaskan perasaan-perasaan Oedipus dan reaksi-reaksinya. Anak laki-laki biasanya lebih dekat dengan ibunya dan anak perempuan dengan ayahnya. Oleh karena itu, anak perlu dibiasakan tidur terpisah dengan orang tuanya.

k)    Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi mimpi buruk anak dan menganjurkan mereka agar tidak lupa untuk membangunkan anak dari mimpi yang menakutkan.

3) Usia 5 tahun

a)    Memberikan pengertian bahwa usia 5 tahun merupakan periode yang relative lebih tenang dibandingkan masa sebelumnya

b)    Menyiapkan dan membantu anak memasuki lingkungan sekolah.

Mengingatkan imunisasi yang lengkap sebelum masuk sekolah.

 

  1. C.    Asah
  2. 1.    Stimulasi

Asah merupakan stimulasi mental yang akan menjadi cikal bakal proses pendidikan di mana bertujuan untuk mengembangkan mental, kecerdasan, ketrampilan, kemandirian, kreativitas, agama, moral, produktifitas, dan lain-lain.

  1. a.    Neonatus

Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, menjelang tidur.

Stimulasi pada masa neonatus dilakukan dengan cara : mengusahakan rasa nyaman, aman dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih), benda-benda berbunyi, dirangsang untuk meraih dan memegang mainan

  1. Ketika bayi rewel, cari penyebabnya dan peluk ia dengan penuh kasih sayang.
  2. Gantung benda-benda yang berbunyi dan berwarna cerah di atas tempat tidur bayi agar bayi dapat melihat benda tersebut bergerak-gerak dan berusaha menendang/meraih benda tersebut.
  3. Latih bayi mengangkat kepala dengan cara meletakkannya pada posisi telungkup.
  4. Ajak bayi tersenyum, terutama ketika ia tersenyum kepada anda.

 

  1. b.   Bayi

1)             Bantu bayi duduk sendiri, mulai dengan mendudukan bayi di kursi yang mempunyai sandaran.

2)             Latih kedua tangan bayi masing-masing memegang benda dalam waktu yang bersamaan.

3)             Latih bayi menirukan kata-kata dengan cara menirukan suara bayi dan buat agar bayi menirukan kembali.

4)             Latih bayi bermain “Ciluk-Ba” atau permainan lain, seperti melambaikan tangan sambil menyebut “… da…. da “ “…. da… da”.

5)             Angkat bayi dan bantu ia berdiri diatas permukaan yang datar dan kokoh.

6)             Latih bayi memasukkan dan mengeluarkan benda dari wadah.

7)             Perlihatkan gambar benda dan bantu bayi menunjuk nama benda yang anda sebutkan.

8)             Ajak bayi bermain dengan permainan yang perlu dilakukan bersama.

9)             Latih bayi berjalalan sendiri.

10)         Latih bayi menggelindingkan bola.

11)         Berikan kesempatan kepada bayi untuk menggambar,

12)         Ajak bayi makan bersama.

Tabel 5. Macam Stimulus yang Diperlukan pada Anak Berusia Kurang dari 1 Tahun

Umur

Stimulus Visual

Stimulus Auditif

Stimulus Taktik

Stimulus Kinetik

0-3 bulan Objek warna terang di atas tempat tidur Mengajak bisacara dan mendengarkan suara lonceng Membelai, menyisir, menyelimuti Berjalan-jalan
4-6 bulan Menonton TV dan bermain benda terang yang dapat dipegang Mengajak bicara

Memanggil nama

Bermain air Berdisi pada paha orang tua, membantu tengkurap, duduk
7-9 bulan Sama halnya dengan usia 4-6 bulan di tambah bermain ci luk ba Panggil nama bayi, ajari memanggil nama orang tua, memberi tahu yang sedang dilakukan Mengenai berbagai tekstur

Bermain air

Membantu tengkurap, latih berdiri, bermain tarik dorong
10-12 bulan Ajak ke tempat ramai dan kenalkan gambar Suara binatang dan menyebutkan bagian tubuh Merasakan hangat atau dingin dan memegang makan sendiri Bermain tarik dorong, bersepeda

 

  1. c.    Balita

a)    Tahap 1-2 tahun

a)    Latih anak naik turun tangga.

b)   Bermain dengan anak, menunjukkan cara menangkap bola besar dan melemparkannya kembali pada anak.

c)      Latih anak menyebut nama bagian tubuh dengan menunjuk bagian tubuh anak, menyebutkan namanya, dan minta ia men yebutkan kembali.

d)   Beri kesempatan kepada anak untuk melepaskan pakaiannya sendiri.

e)    Latih keseimbangan tubuh anak dengan cara berdiri pada satu kaki secara bergantian.

f)    Latiha anak menggambar bulatan, garis, segitiga, dan gambar wajah.

g)   Latih agar anak mau menceritakan apa yang dilihatnya.

h)   Latih anak dalam hal kebersihan diri, seperti berkemih dan defekasi pada tempatnya, namun jangan terlalu ketat.

b)   Tahap 2-3 tahun

a)    Latih anak melompat dengan satu kaki.

b)   Latih anak menyusun dan menumpuk balok.

c)    Latih anak mengenal bentuk dan warna.

d)   Latih anak dalam hal kebersihan diri, seperti mencuci tangan dan kaki serta mengeringkannhya sendiri.

c)      Tahap 3-4 tahun

a)    Beri kesempatan agar anak dapat melakukan hal yang kira-kira mampu dia kerjakan, misalnya melompat dengan satu kaki.

b)   Latih anak cara memotong, menggunting gambar-gambar, mulai dengan gambar besar.

c)    Latih anak mengancingkan baju.

d)   Latih anak dalam sopan santun, misalnya berterima kasih, menerima tangan, dan sebagainya.

 

  1. d.   Anak Prasekolah

1)   Beri kesempatan agar anak dapat melakukan hal yang kira-kira mampu ia kerjakan, misalnya melompat tali, main engklek, dan sebagainya.

2)   Melatih anak melengkapi gambar, misalnya menggambar baju pada gambar orang atau menggambar pohon, bunga pada gambar rumah, dan sebagainya.

3)   Jawab pertanyaan anak dengan benar, jangan membohongi atau menunda jawabannya.

4)   Ajak anak dalam aktivitas keluarga, seperti berbelanja ke pasar, memasak, membetulkan mainan

 

  1. 2.    Deteksi

Deteksi dini tumbuh kembang adalah langkah antisipasi yang dilakukan untuk menemukan kasus penyimpangan tumbuh kembang sejak dini dan mengetahui serta mengenali faktor risiko penyimpangan tersebut. Penyimpangan tumbuh kembang dapat bersifat positif, misalnya anak mempunyai tingkat kecerdasan di atas rata-rata, atau negatif, misalnya balita yang mengalami keterlambatan perkembangan.

Intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang adalah upaya intervensi segera yang diberikan sesuai dengan keadaan anak untuk membantu anak mencapai kemampuan yang optimal. Contohnya, pemberian sirup Fe pada balita dengan anemia, pemberian suplementasi makan rutin dan makan tambahan pada balita dengan KEP, stimulasi perkembangan pada balita dengan keterlambatan perkembangan atau melakukan perujukan ke fasilitas layanan kesehatan yang lebih mampu.

Tujuan umum deteksi dini tumbuh kembang bayi atau balita adalah tercapainya tumbuh kembang bailita dan anak prasekolah yang optimal dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Tujuan khususnya adalah menyupayakan terselenggaranya kegiatan deteksi dan intervensi tumbuh kembang balita dan anak prasekolah di tingkat pelayanan dasar dan rujukan, serta terlaksananya pembinaan keluarga, kader dan masyarakat dalam kegiatan stimulasi, pemantauan, dan perujukan kasus penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah.

Kegiatan deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang yang mencakup pemeriksaan kesehatan, pemantauan berat badan sekaligus deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang di tingkat pelayanan dasar akan memerlukan waktu lebih lama dibandingkan pemeriksaan kesehatan dan pemantauan berat badan biasa. Dengan demikian, untuk memberikan pelayanan KIA yang berkualitas dan komprehensif serta mempertimbangkan kemudahan petugas puskesmas dan kenyamanan ibu anak, kegiatan deteksi tumbuh kembang balita dapat dilakukan saat anak bertemu dengan petugas kesehatan baik di puskesmas, posyandu, polindes maupun fasilitas layanan swasta seperti bidan praktik.

 

Tabel 6.Jadwal Kegiatan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita

Kelompok Usia

Jadwal Deteksi Dini

Bayi Pada bayi usia 0-28 hari deteksi dini dilakukan pada waktu kunjungan neonatal.

Pada bayi 1-11 bulan deteksi dini dilakukan saat usia 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan.

Balita Deteksi dini dilakukan pada setiap 4 bulan, 8 bulan yaitu anak 12 bulan, 18 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan, 46 bulan, 48 bulan dan 54 bulan.
Anak Prasekolah Deteksi dini dilakukan setiap 6 bulan, 54 bulan, 60 bulan, 66 bulan, 77 bulan.

Hal yang harus di deteksi pada neonatus adalah antropometrik dengan melakukan pengukuran berat badan, panjang badan, lingkar kepala, lingkar badan, dan lingkar lengan atas.

Deteksi dini pada anak dilanjutkan secara terus menerus dengan melakukan pemeriksaan fisik seperti penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. Pemeriksaan gigi dan mulut, dan sebagainya.

Apabila ditemukan suatu penyimpangan, bidan sebagai tenaga kesehatan dapat mendeteksi dini dan melakukan rujukan ke spesialis anak guna mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih optimal.

  1. Neonatus

Deteksi dini pada Neonatus dengan melihat tanda-tanda atau gejala-gejala sebagai berikut:

  • Tidak Mau Minum/menyusu atau memuntahkan semua
  • Riwayat Kejang
  • Bergerak hanya jika dirangsang/Letargis
  • Frekwensi Napas < = 30 X/menit dan >= 60x/menit
  • Suhu tubuh <= 35,5 oC dan >= 37,5oC
  • Tarikan dinding dada ke dalam yang sangat kuat
  • Merintih
  • Ada pustul kulit
  • Nanah banyak di mata
  • Pusar kemerahan meluas ke dinding perut.
  • Mata cekung dan cubitan kulit perut kembali sangat lambat
  • Timbul kuning dan atau tinja berwarna pucat
  • Berat badan menurut umur rendah dan atau ada masalah pemberian ASI
  • BBLR : Bayi Berat Lahir Rendah < 2500 gram
  • Kelainan Kongenital seperti ada celah di bibir dan langit-langit.

 

Jika ditemukan gejala seperti diatas maka hal yang dapat dilakukan bidan adalah segera merujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas yang lebih lengkap dan memadai.

  1. Bayi

Kegiatan deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang yang mencakup pemeriksaan kesehatan, pemantauan berat badan sekaligus deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang di tingkat pelayanan dasar akan memerlukan waktu lebih lama dibandingkan pemeriksaan kesehatan dan pemantauan berat badan biasa. Dengan demikian, untuk memberikan pelayanan KIA yang berkualitas dan komprehensif serta mempertimbangkan kemudahan petugas puskesmas dan kenyamanan ibu anak, kegiatan deteksi tumbuh kembang balita dapat dilakukan saat anak bertemu dengan petugas kesehatan baik di puskesmas, posyandu, polindes maupun fasilitas layanan swasta seperti bidan praktik.

Jika di temukan hal yang tidak normal pada bayi maka dilakukan deteksi dini penyimpangan perkembangan dapat dideteksi dengan skrining/pemeriksaan perkembangan anak menggunakan Kuisioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan.

Bayi yang ditemukan dengan abnormalitas pada daya pendengaranya akan dilakukan Tes Daya Dengar (TDD) dengan tujuan untuk menemukan gangguan pendengaran sejak dini, agar dapat segera ditindak lanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak. Bila ditemukan abnormalitas pada bayi pada penglihatannya akan dilakukan Tes daya Lihat (TDL) dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini kelainan daya dengar agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar.

  1. Balita

Ada tiga jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya, berupa:

1)   Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui/menemukan status gizi kurang/buruk danmikro/makrosefali.

2)   Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan bayi dan balita(keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya dengar.

3)   Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional,autism dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.

Tahap-tahap penilaian perkembangan anak

a)         Anamnesis

Tahap pertama adalah melakukan anamnesis yang lengkap, karena kelainan perkembangan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Dengan anamnesis teliti maka salah satu penyebabnya dapat diketahui.

b)        Skrining gangguan perkembangan anak

Pada tahap ini dianjurkan digunakan instrumen-instrumen untuk skrining guna mengetahui kelainan perkembangan anak, misalnya dengan menggunakan DDST, test IQ, test psikologi lainnya.

c)         Evaluasi lingkungan anak

Tumbuh kembang anak adalah hasil interaksi antara faktor genetik dengan lingkungan bio-fsiko-psikososial. Oleh karena itu, untuk deteksi dini, kita juga harus melakukan evaluasi lingkungan anak tersebut. Misalnya dapat digunakan HSQ (home screening Questionnaire)

d)        Evaluasi Penglihatan dan pendengaran anak

Test penglihatan misalnya untuk anak umur kurang dari 3 tahun dengan test fiksasi, umur 2,5 tahun – 3 tahun dengan kartu gambar dari Allen dan diatas umur 3tahun dengan huruf E. Juga diperiksa apakah ada strabismus dan selanjutnya periksa kornea dan retina nya.

Sedangkan screening pendengaran anak, melalui anamnesis atau menggunakan audiometer kalau ada alatnya. Disamping itu dilakukan juga pemeriksaan bentuk telinga, hidung, mulut, dan tenggorokan untuk mengetahui adanya kelainan bawaan.

e)         Evaluasi bicara dan bahasa anak

Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui apakah kemampuan anak berbicara masih dalam batas-batas normal atau tidak. Karena kemampuan berbicara menggambarkan kemampuan SSP, endokrin, ada atau tidak adanya kelainan pada hidung, mulut dan pendengaran, stimulasi yang diberikan, emosi,dsb.

f)         Pemeriksaan Fisik

Untuk melengkapi anamnesis dibutuhkan pemeriksaan fisik, agar diketahui apabila terdapat kelainan fisik yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Misalnya berbagai sindrom, penyakit jantung bawaan, tanda-tanda penyakit defisiensi,dll.

g)        Pemeriksaan neurologi

Dimulai dengan anamnesis masalah neurologi dan keadaan-keadaan yang diduga dapat mengakibatkan gangguan neurologi seperti trauma lahir, persalinan yang lama, asfiksia yang berat, dsb.  Kemudian dilakukan test atau pemeriksaan neurologi yang teliti, maka dapat membantu dalam diagnosis suatu kelainan, misalnya kalau ada lesi intrakranial, palsi serebralis,  neuropati perifer, penyakit-penyakit degeneratif, dsb.

Untuk mengetahui secara dini adanya palci serebralis dianjurkan menggunakan pemeriksaan neurologi menurut Milani Compareti, yang merupakan cara untuk evaluasi perkembangan motorik dari lahir sampai umur 2 tahun.

h)        Evaluasi Penyakit-Penyakit metabolic

Salah satu penyebab gangguan perkembangan pada anak adalah disebabkan oleh penyakit metabolik. Dari anamnesis dapat dicurigai adanya penyakit metabolik apabila ada anggota keluarga lainnya yang terkena penyakit yang sama. Adanya tanda-tanda klinis seperti rambut pirang, dicurigai adanya PKU (Phenyl ketonuria), ataksia yang intermitten dicurigai adanya hiperamonemia dsb. Disamping itu diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya yang sesuai dengan kecurigaan kita.

i)          Integrasi dari hasil penemuan

Berdasarkan anamnesis dan semua pemeriksaan tersebut di atas, dibuat suatu kesimpulan diagnosis dari gangguan perkembangan tersebut. Kemudian ditetapkan penatalaksanaanya, konsultasi kemana dan prognosisnya.

j)          Test-test perkembangan

-       Test intelegensi individual (test IQ)

-       Test prestasi

-       Test psikomotorik

-       Test  Proyeksi

-       Test perilaku adaptif

 

  1. Anak Prasekolah

Melakukan penimbangan dengan menggunakan penimbangan injak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C.KESIMPULAN

Kebutuhan dasar neonatus merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi guna untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan. Kebutuhan dasar neonatus dapat dibagi menjadi tiga yaitu asih yng merupakan kebutuhan emosional yaitu kasih sayang  dari orang tua akan menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan dasar untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik maupun mental. Kebutuhan fisik ini berfungsi untuk  menjamin tumbuh kembang fisik-mental dan psikososial anak dengan cara: (1) menciptakan rasa aman dan nyaman, anak merasa dilindungi, (2) diperhatikan minat, keinginan, dan pendapatnya, (3) diberi contoh (bukan dipaksa), (4) dibantu, didorong atau dimotivasi dan dihargai, (5) dididik dengan penuh kegembiraan, (6) melakukan koreksi dengan kegembiraan dan kasih sayang (bukan ancaman/hukuman).

Kebutuhan asuh yaitu kebutuhan neonatus memerlukan nutrisi yang meliputi ASI, susu formula, dan makanan pendamping ASI sebagai kebutuhan bayi. Ketiganya digunakan untuk pertumbuhan dan aktivitas seiring dengan makin bertambahnya usia anak. Produksi ASI relative tetap, dengan pengaturan makanan untuk bayi dan anak sehat, kebutuhan nutrisi pada usia toddler, kebutuhan nutrisi pada balita serta kebutuhan imunisasi. Kebutuhan asah yaitu pada kebutuhan ini diperlukan stimulasi serta deteksi untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan dari neonatus, bayi, balita, serta masa pra sekolah.

 

MUTU LAYANAN KESEHATAN DAN KEBIJAKAN KESEHATAN

HAND  OUT

 

Mata Kuliah                   : Mutu Layanan Kesehatan dan Kebijakan Kesehatan

Kode Mata Kuliah             : Bd. 502

Topik                          : Masalah Pelayanan Kebidanan di Tingkat Pelayanan

  Kesehatan Primer

Sub Topik                     : Organisasi pelayanan Kesehatan Primer

PWS KIA

Waktu                         : 200 menit

Praktikan                      : Ni Wayan Armini

 

OBYEKTIF PERILAKU MAHASISWA

 

 

 

 

Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa mampu :

  1. Menjelaskan  pengertian organisasi pelayanan kesehatan primer
  2. Menjelaskan  ciri-ciri organisasi pelayanan kesehatan primer
  3. Menjelaskan persyaratan organisasi pelayanan kesehatan primer
  4. Menjelaskan jenis-jenis organisasi pelayanan kesehatan primer
  5. Menguraikan pengertian PWS KIA
  6. Menguraikan tujuan PWS KIA
  7. Memaparkan pengelolaan program KIA
  8. Menyebutkan indikator pemantauan sasaran pelayanan KIA
  9. Membuat peta wilayah
  10. Membuat kantong persalinan
  11. Menganalisis pengumpulan data yang diperlukan, mencatat serta pengelolaan data KIA
  12. Menguraikan cara analisis penelusuran data kohort dan rencana tindak lanjut
  13. menyebutkan pelembagaan PWS KIA
  14. Menjelaskan pelaksanaan dan Pelaporan

 

 

 

REFERENSI

 

 

 

  • DepKes. RI (2009). Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA). Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
  • DepKes RI. (2003). Pedoman pengembangan pelayanan obstetri-neonatal emergensi dasar (PONED). Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
  • Azrul Azwar (1996). Pengantar Administrasi Kesehatan, edisi ke-3, Binarupa Aksara, Jakarta.

 

PENDAHULUAN

 

 

 

Kesepakatan global (millenium development Goals/MDGs, 2000) mengharapkan angka kematian ibu menurun sebesar tiga perempatnya dalam kurun waktu 1990-2015 dan angka kematian bayi serta angka kematian balita menuun sebesar dua pertiga dalam kurun waktu 1990-2015. Berdasarkan hal tersebut maka Indonesia mempunyai komitmen utuk menurunkan angka kematian ibu menjadi 102/100.000 KH, Angka Kematian Bayi dari 68 menjadi 23/1000 KH, DAN ANGKA Kematian Balita dari 97 menjadi 32/1000 KH pada tahun 2015.

Upaya untuk mempercepat penurunanAKI telah dimulai sejak akhir tahun 1980-an melalui program safe motherhood Initiative yang mendapat perhatian besar dan dukungan dari berbagai pihak baik dari dalam maupun dari luar negeri. Pada akhir tahun 1990-an secara konseptual telah diperkenalkan lagi upaya untuk menajamkan startegi dan intervensi dalam menurunkan AKI melalui Making Pregancy Safer (MPS) yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000. Sejak tahun 1985 pemerintah merancang Child Survival (CS) untuk penurunan AKB. Kedua strategi tersebut di atas telah sejalan dengan Grand Strategi Depkes.

Agar pelaksanaan program KIA berjalan lancar, aspek peningkatan mutu pelayanan program KIA tetap diharapkan menjadi kegiatan prioritas di tingkat kabupaten /kota. Peningkatan mutu program KIA juga dinilai dari besarnya cakupan program di masing-masing wilayah kerja. Untuk itu, besarnya cakupan pelayanan KIA di suatu wilayah kerja perlu dipantau secara terus menerus, agar diperoleh gambaran yang jelas mengenai kelompok mana yang dalam wilayah kerja tersebut yang paling rawan. Dengan diketahuinya lokasi rawan kesehatan ibu dan anak, maka wilayah kerja tersebut dapat lebih diperhatikan dan dicarikan pemecahan masalahnya. Untuk memantau cakupan pelayanan KIA tersebut dikembangkan sistem Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS –KIA).

 

URAIAN MATERI

 

 

 

PELAYANAN KESEHATAN PRIMER / PRIMARY HEALTH CARE ( PHC )

A. DEFINISI

Pelayanan Kesehatan Primer / PHC merupakan strategi yang dapat dipakai untuk menjamin tingkat minimal dari pelayanan kesehatan untuk semua penduduk. PHC menekankan pada perkembangan yang bisa diterima, terjangkau, pelayanan kesehatan yang diberikan adalah essensial bisa diraih, yang essensial dan mengutamakan pada peningkatan serta kelestarian yang disertai percaya pada diri sendiri disertai partisipasi masyakarat dalam menentukan sesuatu tentang kesehatan.

Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan kesehatan pokok (basic health services) yang berdasarkan kepada metoda dan teknologi praktis, ilmiah dan sosial yang dapat diterima secara umum baik oleh individu maupun keluarga dalam masyarakat, melalui partisipasi mereka sepenuhnya, serta dengan biaya yang dapat terjangkau oleh masyarakat dan negara untuk memelihara setiap tingkat perkembangan mereka dalam semanggat untuk hidup mandiri ( Self reliance ) dan menentukan nasib sendiri ( self Determination ). Pada umumnya pelayanan kesehatan tingkat pertama bersifat rawat jalan (ambulatory/out patient services).

B. TINJAUAN SEJARAH

Gerakan PHC dimulai resmi pada tahun 1977, ketika sidang kesehatan WHO ke 30. Pada konferensi international 1978 di Alma Alta ( Uni Soviet) pada tanggal 12 September 1978, ditentukan bahwa tujuan agar menemukan titik temu dengan PHC. Resolusi dikenal dengan Health For All by the Year 2000 ( HFA 2000) atau sehat untuk semua di tahun 2000 adalah merupakan target resmi dari bangsa-bangsa yang tergabung dalam WHO.

Pada tahun 1981 setelah diidentifikasi tujuan kesehatan untuk semua dan strategi PHC untuk merealisasikan tujuan, WHO membuat indikator global untuk pemantauan dan evaluasi yang dicapai tentang sehat untuk semua pada tahun 1986. Indikator tersebut adalah :

1. Perkembangan sosial dan ekonomi

2. Penyediaan pelayanan kesehatan status kesehatan

3. Kesehatan sebagai objeck atau bagain dari perkembangan sosial ekonomi.

Pemimpin perawat yang menjadi kunci dalam mencetuskan usaha perawatan PHC adalah Dr. Amelia Mengny Maglacas pada tahun 1986.

C. KONSEP PELAYANAN KESEHATAN PRIMER

Pelayanan kesehatan primer merupakan pelayanan kesehatan essensial yang dibuat dan bisa terjangkau secara universal oleh individu dan keluarga di dalam masyarakat. Fokus dari pelayanan kesehatan primer luas jangkauannya dan merangkum berbagai aspek masyarakat dan kebutuhan kesehatan. PHC merupakan pola penyajian pelayanan kesehatan dimana konsumen pelayanan kesehatan menjadi mitra dengan profesi dan ikut serta mencapai tujuan umum kesehatan yang lebih baik.

D. TUJUAN PHC

1. TUJUAN UMUM

Mencoba menemukan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan yang diselenggarakan sehingga akan dicapai tingkat kepuasan pada masyarakat yang menerima pelayanan.

2. TUJUAN KHUSUS

  1. Pelayanan harus mencapai keseluruhan pendudukan yang dilayani
  2. Pelayanan harus dapat diterima oleh penduduk yang dilayani
  3. Pelayanan harus berdasarkan kebutuhan medis dari populasi yang dilayani
  4. Pelayanan harus secara maksimum menggunakan tenaga dan sumber – sumber daya lain dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

E. FUNGSI PHC

1. Pemeliharaan kesehatan

2. pencegahan penyakit

3. diagnosis dan pengobatan

4. pelayanan tindak lanjut

5. pemberian sertifikat

 

 

F. TIGA UNSUR UTAMA PHC

1. Mencakup upaya-upaya dasar kesehatan

2. melibatkan peran serta masyarakat

3. melibatkan kerjasama lintas sektoral

G. LIMA PRINSIP DASAR PHC

1. Pemerataan upaya kesehatan

2. Penekanan pada upaya preventif

3. Menggunakan tehnologi tepat guna

4. melibatkan peran serta masyarakat

5. Melibatkan kerjasama lintas sektoral

H. DELAPAN ELEMENT PHC

  1. Pendidikan mengenai masalah kesehatan dan cara pencegahan penyakit serta pengendaliannya
  2. Peningkatan penyediaan makanan dan perbaikan gizi
  3. Penyediaan air bersih dan sanitasi dasar
  4. Kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana
  5. Immuniasi terhadap penyakit-penyakit infeksi utama
  6. Pencegahan dan pengendalian penyakit endemik setempat
  7. Pengobatan penyakit umum dan ruda paksa
  8. Penyediaan obat-obat essensial

I. CIRI CIRI PHC

1. Pelayanan yang utama dan intim dengan masyarakat

2. Pelayanan yang menyeluruh

3. Pelayanan yang terorganisasi

4. Pelayanan yang mementingkan kesehatan individu maupun masyarakat

5. Pelayanan yang berkesinambungan

6. Pelayanan yang progresif

7. Pelayanan yang berorientasi kepada keluarga

8. Pelayanan yang tidak berpandangan kepada salah wsatu aspek saja

J. TANGGUNG JAWAB BIDAN DALAM PHC

  1. Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengembangan dan implementasi pelayanan kesehatan dan program pendidikan kesehatan
  2. Kerjasama dengan masyarakat, keluaraga dan individu
  3. Mengajarkan konsep kesehatan dasar dan tehnik asuhan diri sendiri pada masyarakat
  4. Memberikan bimbingan dan dukungan kepada petugas pelayanan kesehatan dan kepada masyarakat.
  5. Koordinasi kegiatan pengembangan kesehatan masyarakat.

K. KESIMPULAN

  1. PHC merupakan startegi untuk menyajikan pelayanan kesehatan essensial kepada masyarakat
  2. Para petugas pada sistem PHC merupakan mitra dalam berbagai kegiatan bersama-sama dengan anggota masyarakat
  3. PHC menandaskan pelayanan kesehatan yang terbayar, bisa dijangkau, tersedia dan bisa diterima
  4. Pengkajian masyarakat, menentukan prioritas kesehatan. Implementasi aktifitas melaksanakan evaluasi merupakan aspek-aspek perawatan kesehatan masyarakat yang dipakai PHC
  5. Menghimbau masyarakat agar dapat menolong dirinya sendiri, menyiapkan diri untuk mendapatkan kesempatan mekasanakan perawatan sendiri dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan dan sosial.
  6. Memberikan penyuluhan kepada penduduk mengenai perkembangan kesehatan dan sosial untuk membantu diri mereka meraih perawatan mandiri, mengambil keputusan sewndiri dan mempercayai diri sendiri.
  7. Target dari PHC adalah seluruh masyarakat dan bukan individu.
  8. PHC Berbeda dengan pelayanan primer. Pelayanan primer merupakan komponen dari PHC
  9. Para petugas kesehatan masyarakat berpartisipasi dalam implementasi PHC
  10. TIM PHC terdiri dari perawat, dokter, gigi, apoteker, penyuluhan kesehatan, ahli sanitasi dan ahli diet.
  11. Perawat yang efektif dari sistem PHC bekerja dekat dengan penduduk, masyarakat dengan sumber-sumebr dan dengan profesional-profesinal lain di masyarakat yang bersangkutan.
  12. Perawat di tim PHC membutuhkan kepemimpinan yang disertai ketrampilan manajemen.

 

Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA) adalah alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA

PENGANTAR KOMUNIKASI KEBIDANAN

HANDOUT

 

Mata Kuliah               : Komunikasi Kebidanan
Kode MK : Bd. 202
Topik/subtopik :
  1. Pengertian komunikasi
  2. Proses komunikasi
  3. Unsur-unsur dalam membangun komunikasi
  4. Faktor-faktor penghambat KIP/K
  5. Bentuk-bentuk Komunikasi

 

Waktu : 6 jam (300 menit)
Dosen : Ni Wayan Armini, M.Keb
Objektif Prilaku Siswa :

Setelah membaca handout ini mahasiswa dapat :

Menjelaskan latar belakang pentingnya mempelajari komunikasi yang efektif.

Menjelaskan pengertian komunikasi dengan lengkap.

Menjelaskan pengertian komunikasi  menurut Taylor, Burgess, dan Yuwono dengan benar.

Menjelaskan jenis-jenis komunikasi dengan benar.

Menguraikan bentuk komunikasi secara tepat.

Menguraikan unsur-unsur dasar dalam komunikasi dengan benar.

Menjelaskan tentang proses komunikasi dengan benar.

Menyebutkan unsur-unsur dalam membangun KIP/K

 

Referensi :

MNH-DEPKES. KomunikasiEfektif ibu selamat, bayi sehat, keluarga bahagia. Modul Pelatihan Keterampilan Komunikasi interpersonal/konseling (KIP/K). Jakarta : 2002.

Uripni, C.L, Untung Sujianto, TatikIndrawati. Komunikasi Kebidanan.Jakarta : EGC.2003 : 4-26.

IBI, 9 Modul Kebidanan (Modul Pelatihan Konseling Bagi Bidan Pada Klinik IBI).Jakarta : 2003.

Alexander Jo,Valerie Levi, Sarah Roch. Midwifery Practice.London : The Macmillan PressLtd.1994:1-15.

 

Pendahuluan

 

                  Angka kematian di Indonesia masih tinggi. Setiap tahun sejumlah 18.000 ibu meninggal dunia, dua nyawa melayang setipa satu jam,karena kehamilan dan atau persalinan. Kematian ibu ternyata tidak hanya diikuti oleh tingginya angka kematian bayi tetapi juga meninkatkan jumlah balita yang piatu baru (± 36.000 setiap tahun).

Risiko kematian ibu akibat kehamilan,persalinan,dn nifas serat bayi, dapat dikurangi bila ada upaya persiapan persalinan dan kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan dasar. Salah satu ujung otmbak pelayanan kesehatan dasar bagi ibu dan bayi adalah bidan. Namun, pada kenyataannya walaupun hmapir semua pemeriksaan antenatal datang pada bidan, sebagian besar persalinan masih ditolong oleh dukun beranak. Hal ini menunjukkan bahwa ibu lebih percaya kepada dukun beranak dibandingkan dengan bidan.

Salah satu penyebab keadaan  tersebut diatas adalah rendahnya kualitas keterampilan komunikasi dan konseling tenaga kesehatan (bidan).Penelitian di Jawa Barat menyimpulkan bahwa keterampilan teknis medis semata tidak cukup untuk memberikan pelayanan yang memuaskan ibu.

Kualitas komunikasi bidan yang rendah akan berdampak terhadap transfer pesan kepada klien yang kurang baik, bidan menjadi kurang peka dan kurang mampu menggali kebutuhan dan masalah klien, tidak tanggap terhadap perasaan klien, klien tidak puas dan selanjutnya dapat diperkirankan kredibilitas bidan tersebut diragukan.

Dari penelitian di Indonesia (Januari 1997 di dua propinsi yaitu Jabar dan Jateng) tentang interaksi bidan-klien menunjukkan bahwa banyak bidan yang tidak menggunakan keterampilan konseling yang baik, misalnya :

Para bidan cenderung mendominasi sesi konseling (63% ucapan didominasi oleh bidan), kurang memberi kesempatan kepada klien untuk berbicara panjang lebar atau mengungkapkan keinginan dan perasaannya.

Para bidan lebih banyak mengajukan pertanyaan tertutup (pertanyaan yang sifatnya mengarahkan pada jawaban ya dan tidak).

23 % ucapan bidan adalah pengulangan kata-kata bidan itu sendiri.

Pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal/konseling (KIP/K) untuk bidan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bidan dalam bidang komunikasi interpersonal dan konseling sehingga kualitas pelayanan pada ibu hamil dan melahirkan lebih baik.

 

MATERI

  1. 1.      Pengertian komunikasi

Komunikasi berasal dari bahasa inggris communication, bahasa latin comunicatio, yang berarti proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Beberapa ahli menyampaikan pengertian komunikasi. Taylor (1993) mengemukakan komunikasi adalah proses pertukaran informasi atau proses yang menimbulkan dan meneruskan makna atau arti, berarti dalam komunikasi terjadi penambahan pengertian antara pemberi informasi dengan penerima informasi sehingga mendapatkan pengetahuan. Burgess (1988) mengemukakan komunikasi adalah penyampaian informasi, makna dn pemahaman dari pengirim pesan kepada penerima pesan. Yuwono (1985) mngemukakan komunikasi adalah kegiatan mengajukan pengertian yang diinginkan dari pengirim informasi kepada penerima informasi dan menimbulkan tingkah laku yang diinginkan penerima informasi.

Ada beberapa jenis komunikasi :

Komunikasi massa : penyampaian pesan dari seseorang kepadasekelompok orang,biasanya sebagian besar masyarakat. Misalnya pidato kampanye atau khotbah.

Komunikasi intrapersonal : penyampaian pesan seseorang kepadadirinya sendiri. Misalnya berbicara dalam hati.

Komunikasi interpersonal : penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain, bersifat dua arah, secara verbaldan nonverbal. Misalnya antara bidan dengan klien.Termasuk di dalamnya komunikasi:

Antara dua orang adalah komunikasi dar seseorang ke orang lain, dua arah interaksiverbal dan non verbal yang menyangkut saling berbagi informasi dan perasaan.

Antar tiga orang atau lebih (komunikasi kelompok/grup kecil), menyangkut komunikasi dari orang ke beberapa orang lain (kelompok kecil). Masing-masing anggota menyadari keberadaan anggota lain, memiliki minat yang sama dan atau bekerja  untuk satu tujuan.

Dalam bidang kesehatan, terdapat hubungan antara komunikasi interpersonal yang efektif dengan peningkatan kesehatan. Bagaimana cara bidan melakukan komunikasi berpengaruh pada hasil sepertikepuasan atau kedatangan kembali klien, klien akan mematuhi aturan pemakaian/ pengobatan dan hal ini akan meningkatkan kesehatannya.

 

  1. 2.      Proses komunikasi

Dalam komunikasi, setidaknya harus ada komunikator, pesan, saluran komunikasi, metode komunikasi, bentuk komunikasi, dan teknik komunikasi, yang secara keseluruhan akan membentuk jaringan komunikasi. Komunikator adalah orang yang mau berkomunikasi dengan orang lain,disebut juga pembawa berita/pengirim berita/sumber berita. Pesan adalah berita yang disampaikan oleh komunikator melalui lambang atau gerakan. Saluran komunikasi adalah sarana untuk menangkap lambang yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk persepsi yang memberi makna terhadap suatu stimulus atau rangsangan. Komunikan adalah pihak lain yang diajak berkomunikasi, yang merupakan sasaran dalam kegiatan komunikasi atau orang yang menerima berita atau lambang. Umpan balik adalah hasil atau akibat yang berbalik guna bagi rangsangan atau dorongan untuk bertindak lebih lanjut atau merupakan tanggapan langsung dari pengamatan sebagai hasil dari kelakuan individu terhadap individu lain.

Jenis komunikasi ada dua yaitu komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa sebagi alat sehingga komunikasi verbal ini sama artinyadengan komunikasi kebahasaan. Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang tidak menggunakan bahasa lisan maupun tulisan, tetapi menggunakan bahasa kial, bahasa gambar, dan bahasa sikap.

Proses komunikasi interpersonal adalah suatu proses dua arah lingkaran interaktif dimana pihak-pihak yangberkomunikasi saling bertukar pesan secara verbal dan nonverbal (arus pesan). Kedua pihak menjadi pengirim dan penerima pesan.Dalam proses ini si penerima menafsirkan pesan pengirim sebelumnya dan memberi tanggapan dengan pesan yang baru, dengan kata lain, komunikasi interpersonal adalah proses tatap muka penyampaian informasi dan saling pengertian antara dua atau lebih.

Model komunikasi interpersonal memfokuskan kepada diri individu masing-masing dan pesan-pesan yang saling dipertukarkan. Tidak ada satupun dari unsur yang ada berdiri sendiri. Arti kata-kata yang diucapkan bisa luas interpretasinya atau artinya. Perubahan interpretasi terjadi karena pengaruh karakteristik dan tujuan dari masing-masing individu, konteks budaya, penempatan pernyataan dalam pertukaran tingkah laku verbal dan nonverbal serta sejarah antar individu yang terlibat.

 

  1. 3.      Unsur-unsur dalam membangun KIP/K

Dalam membangun suatu komunikasi yang efektif terdapat empat unsur kegiatan yaitu :

Pembinaan hubungan yang baik (rapport)

Penggalian informasi (identifikasi masalah, kebutuhan, perasaan, kekuatan diri, dsb) dan pemberian informasi (sesuai kebutuhan).

Pengambilan keputusan, pemecahan masalah, perencanaan.

Menindaklanjut pertemuan.

 

  1. 4.      Faktor-faktor penghambat KIP/K
  2. Faktor individual

Orientasi cultural (keterikatan budaya) merupakan faktor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari :

  1. Faktor fisik – kepekaan panca indera (kemampuan untuk melihat, mendengar…), usia, jender (jenis kelamin).
  2. Sudut pandang – nilai-nilai.
  3. Faktor sosial – sejarah keluarga dan relasi, jaringan social, peran dalam masyarakat, status sosial dan peran sosial.
  4. Bahasa
  5. Faktor-faktor yang berkaitan dengan interaksi
  6. Faktor situasional
  1. Tujuan dan harapan terhadap komunikasi
  2. Sikap terhadap interaksi
  3. Pembawaan diri seseorang terhadap orang lain (seperti kehangatan, perhatian , dukungan )
  4. Sejarah hubungan.

Percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan , situasi percakapan kesehatan antara bidan dan klien akan berbeda dengan situasi percakapan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas.

  1. Kompetensi dalam melakukan percakapan

Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukan perilaku kompeten dari kedua belah pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah:

-       kegagalan menyampaikan informasi penting

-       perpindahan topik bicara yang tidak lancar

-       salah pengertian

 

 

  1. 5.      Bentuk-bentuk Komunikasi

Ada 3 jenis komunikasi :

  • Komunikasi massa
  • Komunikasi intrapersonal (dalam diri seseorang)
  • Komunikasi interpersonal, termasuk didalamnya komunikasi :
  1. Antara dua orang
  2. Antar tiga orang atau lebih (komunikasi kelompok/grup kecil maksimal 10 orang.

 

Komunikasi Massa

Penyampaian pesan dari seseorang kepada sekelompok besar orang, biasanya sebagian besar masyarakat.

Misalnya: pidato, kampanye atau khotbah.

 

Komunikasi intrapersonal

Penyampaian pesan seseorang kepada dirinya sendiri.

Misalnya : berbicara dalam hati.

 

Komunikasi interpersonal

Penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain, bersifat dua arah, secara verbal atau non verbal.

Misalnya : antara bidan dengan klien.

 

Komunikasi kelompok bagian KIP

Salah satu bentuk komunikasi interpersonal. Menyangkut komunikasi seseorang dengan beberapa orang lainnya. Yang disebut kelompok kecil adalah kelompok yang terdiri dari tiga orang sampai sepuluh orang. Anggota kelompok masing-masing menyadari keberadaan anggota lainnya, mereka memiliki minat yang sama dan atau bekerja bersama untuk mencapai suatu tujuan.

Misalnya : antara bidan dengan sekelompok dukun bayi/kelompok ibu hamil.

 

Komunikasi interpersonal adalah pertukaran informasi, perasaan atau pemikiran antar manusia (individu) secara tatap muka (face to face), individu dengan individu (person to person), verbal non-verbal.

Sifat dari interaksi ini adalah langsung dan segera, komunikasi interpersonal merupakan inti (core) dari semua hubungan antar manusia (all human relation-ships).

Sedangkan proses komunikasi interpersonal adalah suatu proses dua arah, lingkaran interaktif dimana pihak-pihak yang berkomunikasi saling bertukar pesan secara verbal dan non verbal (arus pesan). Dalam proses ini si penerima menafsirkan pesan pengirim sebelumnya dan memberi tanggapan dengan pesan yang baru. Dengan kata lain, komunikasi interpersonal adalah proses tatap muka penyampaian informasi dan saling pengertian antara dua atau lebih personal. Komunikasi verbal adalah pertukaran informasi, pemikiran atau informasi, pemikiran atau perasaan secara tatap muka melalui suara/ bahasa (audible means)

Komunikasi non verbal adalah pertukaran informasi, pemikiran atau perasaan secara tatap muka melalui cara  “tanpa suara” (non audible means).

Model komunikasi interpersonal memfokuskan diri pada diri individu masing-masing dan pesan-pesan yang saling dipertukarkan. Tidak ada satupun dari unsur yang ada berdiri sendiri. Arti dari kata-kata yang diucapkan bisa luas interpretasi atau artinya. Perubahan interpretasi terjadi karena pengaruh karakteristik dan tujuan dari masing-masing individu, konteks budaya, penempatan pernyataan dalam pertukaran tingkah laku verbal dan non verbal serta sejarah antar individu yang terlibat. Aspek tersebut berarti penempatan pernyataan di dalam pertukaran tingkah laku non verbal mempunyai arti tertentu. Sebagai contoh, seorang bidan atau dokter mengkomunikasikan adanya sikap tergesa-gesa dan kurang sabar ketika ia menyela pembicaraan seseorang.

Dalam bidang kesehatan, terdapat hubungan antara KIP yang efektif dengan peningkatan kesehatan. Bagaimana cara bidan melakukan komunikasi berpengaruh pada hasil seperti kepuasan atau kedatangan kembali klien, klien akan mematuhi aturan pemakaian/pengobatan dan hal ini akan meningkatkan kesehatannya.

 

 

KESIMPULAN :

Taylor (1993) mengemukakan komunikasi adalah proses pertukaran informasi atau proses yang menimbulkan dan meneruskan makna atau arti, berarti dalam komunikasi terjadi penambahan pengertian antara pemberi informasi dengan penerima informasi sehingga mendapatkan pengetahuan.

Burgess (1988) mengemukakan komunikasi adalah penyampaian informasi, makna dn pemahaman dari pengirim pesan kepada penerima pesan.

Yuwono (1985) mngemukakan komunikasi adalah kegiatan mengajukan pengertian yang diinginkan dari pengirim informasi kepada penerima informasi dan menimbulkan tingkah laku yang diinginkan penerima informasi.

Jenis komunikasi ada tiga yaitu, komunikasi massa, komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal (antar dua orang dan komunikasi kelompok)

Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang yang terlibat dalam komunikasi.

Komunikasi efektif mencakup bentuk komunikasi verbal efektif dan non verbal efektif.

Komunikasi verbal efektif mencakup jelas dan ringkas. Perbendaharaan kata mudah dimengerti, mempunyai arti denotatif dan konotatif, intonasi mampu memengaruhi isi pesan, kecepatan bicara yang memiliki tempo dan jeda yang tepat, serta ada unsur humor.

Komunikasi non verbal efektif mencakup penampilan fisik, sikap tubuh dan cara berjalan, ekspresi wajah,dan sentuhan

Proses komunikasi interpersonal adalah suatu proses dua arah lingkaran interaktif dimana pihak-pihak yang berkomunikasi saling bertukar pesan secara verbal dan non verbal (arus pesan).

Unsur-unsur komunikasi ada komunikator, pesan, saluran komunikasi, metode komunikasi, bentuk komunikasi, dan teknik komunikasi, yang secara keseluruhan akan membentuk jaringan komunikasi.

Dalam membina hubungan terapeutik (berinteraksi), bidan melewati empat tahap dan pada setiap tahapnya mempunyai tugas yang harus diselesaikan oleh bidan. Interaksi dengan klien dilakukan secara bertahap, yaitu prainteraksi, perkenalan,orientasi, kerja dan terminasi.

Komunikasi interpersonal belum tentu merupakan konseling, tetapi suatu konseling selalu merupakan komunikasi interpersonal

Unsur-unsur dalam membangun KIP/K :

  • Pembinaan hubungan yang baik (rapport)
  • Penggalian informasi (identifikasi masalah, kebutuhan, perasaan, kekuatan diri, dsb) dan pemberian informasi (sesuai kebutuhan).
  • Pengambilan keputusan, pemecahan masalah, perencanaan.
  • Menindaklanjut pertemuan.

 

PENUTUP

Komunikasi dua arah memungkinkan bidan untuk menciptakan hubungan terapeutik dengan klien.Hal ini tergambarkan dalam komunikasi yang efektif, suportif, menyembuhkan dan interaktif.

Bidan dapat belajar dari teori dan teknik konseling untuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan komunikasi dalam pekerjaannya. Keterampilan komunikasi yang didukung oleh teori yang sesuai dapat membantu bidan dan klien dalam mencapai keberhasilan dalam kualitas pelayanan (excellent service).

Keterampilan petugas yang berupa : empati, bersungguh-sungguh, respek dan mampu memberikan kenyamanan akan turut berkembang seiring dengan berjalannya komunikasi yang efektif.

 

 

ORGAN REPRODUKSI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

 

HAND OUT

 

Mata Kuliah             :  FISIOLOGI

Topik                         :  Fungsi Organ reproduksi Laki-laki dan wanita

Sub Topik                :  1. spermatogenesis

2. aktivitas seksual pria

3. pengaturan fungsi seksual pria

4. fisiologi alat reproduksi wanita

5. hubungan ovarium dan gonadotropina hormon

6. kehamilan dan laktasi

Waktu                        :   2  jam

Dosen                                    :   Ni Wayan Armini, SST

Objek Prilaku Siswa :

Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu menjelaskan :

  1. Spermatogenesis secara tepat
  2. aktivitas seksual pria, pengaturan fungsi seksual pria secara tepat
  3. fisiologi alat reproduksi wanita, hubungan ovarium dan gonadotropina secara tepat
  4. kehamilan dan laktasi secara tepat

Buku Sumber          :

Cunningham, et all, Obstetri William, Edisi 18, Jakarta, EGC, hal 99 – 100.

Llewellyn, 2002, Dasar – Dasar Obstetri Ginekologi, Jakarta, Hipokrates, hal 17 – 20.

Mochtar, R,  1998, Sinopsis   Obstetri,   Jakarta, EGC, , hal 18–20.

Prawirohadjo, S, 1999, Ilmu Kebidanan. Jakarta, Yayasan Balai Pustaka Sarwono Prawirohadjo, hal 57 – 60.

Harun Yahya, Miracle of Man’s Creation, The Indonesian Institute of Science and Society.

Verrals, Sylvia. 2003. Anatomi & Fisiologi Terapan dalam Kebidanan. Eds 3. Jakarta. EGC

Hacker. Moore. 2001. Esensial obstetric dan Ginekologi. Jakarta. Hipokrates

Bobak, Lowdermik, dan Jensen, alih bahasa: Maria A, Wijayarini, Peter I. Anugerah; Editor bahasa Indonesia Renata Komalasari. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta, EGC, hal 74-7.

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Investasi fisiologi yang terjadi pada wanita, termasuk semua organisme betina dalam mencapai kehamilan, merupakan kejadian yang luar biasa menakjubkan. Kehamilan terjadi bersamaan dengan ovulasi pada masa remaja dini; dan setelah kelahiran, anovulasi dan amenorrhoe menetap selama laktasi, dan menyusui dilanjutkan sampai dengan 2-3 tahun. Kemudian kehamilan terjadi lagi dan begitu seterusnya. Ketika sudah 10 atau 11 episode kehamilan-laktasi tersebut selesai, fungsi ovarium dan ovulasi berhenti yaitu menopause. Sebuah analisis yang merangsang pemikiran tentang ”evolution of human reproduction”telah disajikan oleh Roger Short (1976).

Menstruasi dipandang dalam arti fisiologi, sebagai hasil akhir dari kegagalan fertilitas. Tidak diragukan lagi bahwa animus fisiologi siklus ovarium, dan akomodasi-akomodasi saluran reproduktif morfologis yang menyertainya adalah ovulasi, fertilisasi, dan implantasi. Ada sistem gagal-aman yang bekerja kalau ada kegagalan fertilisasi ovum atau kegagalan implantasi blastokista, dan peristiwa ini berpuncak pada menstruasi.

Fertilisasi merupakan suatu proses awal terbentuknya suatu kehamilan. Proses ini berlanjut dengan pembelahan  sampai terjadinya implantasi. Seseorang dapat dinyatakan hamil apabila hasil konsepsi tertanam di dalam rahim ibu, yang biasa disebut dengan kehamilan intra uterin. Jika hasil konsepsi tertanam di luar rahim, hal itu disebut kehamilan ekstra uterin. Apabila fertilisasi, proses pembelahan dan implantasi tidak berlangsung baik, hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya abortus ataupun kelainan pada bayi. Sehingga fertilisasi merupakan tonggak awal penciptaan seorang manusia.

Untuk lebih mempermudah pemahaman akan materi ini, materi yang harus dikuasai adalah pemahaman tentang menstruasi, dan anatomi fisiologi. Materi ini bermanfaat selain sebagai pengetahuan lebih mendalam tentang konsepsi, dan implantasi, juga untuk mengetahui metode-metode dalam manghindari adanya kehamilan, baik secara alami maupun intervensi. Hand out  ini, mengupas fisiologi organ reproduksi pria dan wanita.

 

1. SPERMATOGENESIS

Sperma bentuknya seperti kecebong, terdiri atas kepala: berbentuk lonjong agak gepeng seperti inti (nukleus): leher yang menghubungkan kepala dengan bagian tengah dan ekor yang dapat bergetar sehingga sperma dapat bergerak dengan cepat. Panjang ekor kira-kira 10 kali bagian kepala.

Ejakulasi pada hubungan seksual dalam kondisi normal mengakibatkan pengeluaran satu sendok teh semen (2,5-3,5 ml), yang mengandung 200 sampai 500 juta sperma ke dalam vagina. Semen berwarna putih sampai bening dengan berat jenis 1,028. Semen mempunyai Ph basa dengan rentang 7,35-7,5. Vesikula seminalis menghasilkan prostaglandin dengan konsentrasi tinggi. Sperma berenang dengan gerakan flagela pada ekornya. Beberapa sperma dapat mencapai tempat fertilisasi dalam 5 menit, tetapi rata-rata waktu yang dibutuhkan adalah empat sampai 6 jam. Sperma akan tetap hidup dalam sistem reproduksi wanita selama 2 sampai 3 hari.. Kebanyakan sperma akan hilang di vagina, di dalam lendir serviks, di endometrium, sperma memasuki saluran yang tidak memiliki ovum. Sewaktu sperma berjalan melalui tuba uterina, enzim-enzim yang dihasilkan di sana akan membantu kapasitasi sperma. Kapasitasi ialah perubahan fisiologiyang membuat lapisan pelindung lepas dari kepala sperma. sehingga terbentuk lubang kecil di akrosom, yang memungkinkan enzim (seperti hialuronidase) keluar. Enzim-enzim ini dibutuhkan agar sperma dapat menembus lapisan pelindung ovum fertilisasi.

Spermatogenesis yang sempurna dicapai pada sebagian besar laki-laki pada umur 16 tahun, dan kemudian berlangsung secara terus menerus selama hidup. Pemasakan spermatozoa memerlukan waktu kira-kira 10 hari.

Urutan pertumbuhan sperma (spermatogonesis):

  1. Spermatogonium, membelah dua

Merupakan struktur primitif dan dapat melakukan reproduksi (membelah) dengan cara mitosis paling tidak satu kali. Setelah reproduksi, spermatogonia ini diberi makan (nutrien) oleh sel-sel sertoli dan berkembang menjadi spermatosit primer.

  1. Spermatosit primer, membelah dua

Spermatosit primer mengandung kromosom dengan jumlah diploid pada inti selnya dan mengalami meiosis (pembelahan reduksi dan pertukaran bahan genetik). Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder.

  1. Spermatosit sekunder, membelah dua

Sel-sel spermatosit yang haploid ini sekarang mengalami meiosis kedua untuk menyusun kemabli bahan genetik. Pengaruh hormon luteinisasi (LH) diperlukan untuk perkembangan berikutnya.

  1. Spermatid

merupakan sel yang dihasilkan pada pembelahan meiosis kedua. Bagian terbesar pada spermatid yang mengandung inti (nukleus) menjadi kepala (caput) spermatozon yang masak. Spermatid diberi makan oleh sel-sel sertoli.

  1. Spermatozoon

Empat spermatozoa matur dihasilkan dari satu spermatogonium yaitu dua sperma penentu jenis kelamin perempuan, dua sperma penentu jenis kelamin laki-laki. Spermatozoa masak terdiri dari : kepala, leher, badan, ekor

Gambar spermatogenesis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

  1. AKTIVITAS SEKSUAL PRIA

Secara fisiologis, menurut Masters dan Johnson (1966), respon seksual dapat dianalisis melalui proses vasokengesti dan miotonia. Stimulasi seksual menimbulkan refleks vasokongesti, dilatasi pada pembuluh darah penis (ereksi pada pria) seingga terjadi engorgement dan distensi genetalia, tetapi juga terjadi pada ayudara dan bagian-bagian tubuh yang lain.

Bangkitan ditandai dengan miotonia (peningkatan tegangan otot), menyebabkan kontraksi ritmik yang volunter dan involunter.

Siklus respon seksual dibagi menjadi empat fase : fase terangsang, fase plateau, fase orgasmik, dan fase resolusi. Keempat fase tersebut terjadi secara progresif tanpa garis pembatas yang jelas diantaranya.

 

  1. PENGATURAN FUNGSI SEXUAL PRIA

Hipotalamus dan kelenjar hipofisis anterior mengatur produksi FSH dan LH. Jaringan target hormon ini adalah testis yang memproduksi sperma dan menyekresi testosteron. Mekanisme umpan balik antara hormon yang disekresi oleh gonad, hipotalamus, dan hipofisis anterior membantu mengendalikan produksi sel-sel kelamin dan sekresi hormon seks steroid.

 

  1. SEL TELUR (OVUM)

Sebagaimana diketahui bahwa meiosis pada wanita menghasilkan sebuah telur atau ovum. Proses ini terjadi dalam ovarium, khususnya pada folikel ovarium. Setiap bulan satu ovum menjadi matur, dengan sel-sel yang mendukungnya.

Saat ovulasi, ovum keluar dari folikel ovarium yang pecah. Kadar esterogen yang tinggi meningkatkan gerakan tuba uterina, sehingga silia tuba tersebut dapat, menangkap ovum dan menggerakkannya sepanjang tuba menunggu rongga rahim. Ovum tidak dapat berjalan sendiri.

Ada dua lapisan jaringan pelindung yang mengelilingi ovum. Lapisan pertama berupa membran tebal tidak berbentuk, yang disebut zona pelusida. Lingkaran luar yang disebut korona radiata, terdiri dari sel-sel oval yang dipersatukan oleh asam hialuronat.

Ovum dianggap subur selama 24 jam setelah ovulasi. Apabila tidak difertilisasi oleh sperma, ovum bergenerasi dan direabrsorbsi.

Urutan pertumbuhan ovum (oogenesis):

  1. Oogonia

Sel-sel kelamin primordial mula-mula terlihat di dalam ektoderm embrional dari saccus vitellinus, dan mengadakan migrasi ke epitellium germinativum ovarium pada kira-kira minggu ke-6 kehidupan intrauteri. Masing-masing sel kelamin primordial (oogonia) dikelilingi oleh sel-sel pregranulosa yang melindungi dan memberi nutrien oogonia dan secara bersama-sama sel-sel tersebut membentuk folikel primordial.

  1. 2.      Oosit pertama (primary oocyte)

Merupakan sel kelamin yang terdapat di dalam folikel primordial. Inti oosit primer mengandung 23 pasang kromosom (kromosom diploid). Satu pasang kromosom merupakan kromosom yang menetukan jenis kelamin, dan disebut kromosom XX. Kromosom-kromosom yang lain disebut kromosom autosom. Setiap kromosom terdiri dari dua kromatid, dengan demikian setiap pasang kromosom mempunyai empat kromatid. Kromatid ini yang membawa gen-gen, bahan genetik yang disebut DNA (deoxyribonucleic acid) yang berperan mewariskan sifat fisik dan sifat-sifat orang tua kepada anak-anak mereka.

  1. Pembelahan meiosis pertama

Meiosis terjadi di dalam ovarium ketika folikel de graaf mengalam pemasakan, selesai sebelum terjadi ovulasi. Inti oosit (ovum) membelah sedemikian  rupa sehingga pasangan kromosom terpisah dan pada pembelahan ini terbentuk dua set yang masing-masing mengandung 23 kromosom. Satu set tetap mengandung hampir seluruh sitoplasmanya, dengan demikian lebih besar diabndingkan dengan yang lain. Sel ini disebut oosit sekunder. Sel yang lebih kecil disebut badan polar pertama, secara normal akan mengalami degenerasi.

  1. oosit sekunder

terjadi hanya apabila kepala spertozon menembus zona pellucida oosit. Oosit sekunder membelah membentuk ovum masak dan satu badan polar lagi, sehingga terbentuk dua atau tiga badan polar dan satu ovum matur, semuanya mengandung bahan genetik yang berbeda, ketiga badan polar secara normal mengalami degenerasi.

Menurut umur wanita, jumlah oogonium adalah:

Bayi baru lahir          : 750.000

Umur 6-15                 : 439.000

Umur 16-25               : 159.000

Umur 26-35               : 59.000

Umur 36-45               : 34.000

Masa menopause     : semua hilang

Gambar sperma dan ovum

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar: Oogenesis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 5.      HUBUNGAN OVARIUM DAN GONADOTROFIN HORMON

Menjelang akhir fase menstruasi, kadar estrogen dan progesteron sangat rendah. Kadar hormon ovarium yang rendah ini menstimulasi hipotalamus untuk menyekresi gonadotrfin releasing hormon (Gn-RH).Gn-RH ini menstimulasi hipofise anterior untuk mengeluarkan FSH. FSH menstmulasi perkembangan folikel de graaf dan sekresi estrogen. Pada titik yang belum diketahui, pada skala kenaikan hormon ini, FSH dihambat dan Gn RH hipotalamus memicu hipofisis anterior mengeluarkan luteinizing hormon (LH) yang mempengaruhi tahap akhir pematangan folikel de graaf. Relaksin mengubah dinding folikel dan memungkinkan ovum keluar dari folikel (ovulasi). Setelah ovulasi terjadi penurunan kadar estrogen, namun sel-sel granulosa tetap mensekresi estrogen, dan ada beberapa wanita mengalami spotting pada saat ini. Sisa dari folikel de graaf disebut corpus rubrum yang kemudian berubah menjadi corpus luteum. Corpus luteum ini mengalami hipertrofi dan menyekresi progesteron dan relaksin. Bila ovum mengalami fertilisasi, maka corpus luteum tetap dipertahankan sampai bulan keempat disebut corpus luteum graviditatum.namun jika tidak terjadi fertilisasi, maka corpus luteum akan mengisut dan berwarna putih disebut corpus albicans, dan lapisan fungsional endometrium mengalami degenerasi.

  1. 6.      KEHAMILAN

Fertilisasi adalah suatu peristiwa penyatuan antara sel mani/sperma dengan sel telur di tuba falopii. Pada saat kopulasi antara pria  dan wanita (sanggama/coitus), dengan ejakulasi sperma dari saluran reproduksi pria di dalam vagina wanita, akan dilepaskan cairan mani yang berisi sel–sel sperma ke dalam saluran reproduksi wanita.

Jika sanggama terjadi dalam sekitar masa ovulasi (disebut ”masa subur” wanita), maka ada kemungkinan sel sperma dalam saluran reproduksi wanita akan bertemu dengan sel telur wanita yang baru dikeluarkan pada saat ovulasi.

Untuk menentukan masa subur, dipakai 3 patokan, yaitu :

  1. Ovulasi terjadi 14 ± 2 hari sebelum haid yang akan datang
  2. Sperma dapat hidup & membuahi dalam 2-3 hari setelah ejakulasi
  3. Ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi

Pertemuan / penyatuan sel sperma dengan sel telur inilah yang disebut sebagai pembuahan atau fertilisasi.

Dalam keadaan normal in vivo, pembuahan terjadi di daerah tuba falopii umumnya di daerah ampula / infundibulum.

Perkembangan teknologi kini memungkinkan penatalaksanaan kasus infertilitas (tidak bisa mempunyai anak ) dengan cara mengambil oosit wanita dan dibuahi dengan sperma pria di luar tubuh, kemudian setelah terbentuk embrio, embrio tersebut dimasukkan kembali ke dalam rahim untuk pertumbuhan selanjutnya. Teknik ini disebut sebagai pembuahan in vitro (in vitro  fertilization – IVF) – dalam istilah awam” bayi tabung”.

 

PROSES FERTILISASI

 

Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke dalam rahim, masuk ke dalam tuba. Gerakan ini mungkin dipengaruhi juga oleh peranan kontaksi miometrium dan dinding tuba yang juga terjadi saat sanggama.

Ovum yang dikeluarkan oleh ovarium, ditangkap oleh fimbrae dengan umbai pada ujung proksimalnya dan dibawa ke dalam tuba falopii. Ovum yang dikelilingi oleh perivitelina, diselubungi oleh bahan opak setebal 5–10 µm, yang disebut zona pelusida. Sekali ovum sudah dikeluarkan, folikel akan mengempis dan berubah menjadi kuning, membentuk korpus luteum. Sekarang ovum siap dibuahi apabila sperma mencapainya.

Dari 60 – 100 juta sperma yang diejakulasikan ke dalam vagina pada saat ovulasi, beberapa juta berhasil menerobos saluran heliks di dalam mukus serviks dan mencapai rongga uterus beberapa ratus sperma dapat melewati pintu masuk tuba falopii yang sempit dan beberapa diantaranya dapat bertahan hidup sampai mencapai ovum di ujung fimbrae tuba fallopii. Hal ini disebabkan karena selama beberapa jam, protein plasma dan likoprotein yang berada dalam cairan mani diluruhkan. Reaksi ini disebut reaksi kapasitasi. Setelah reaksi kapasitasi, sperma mengalami reaksi akrosom, terjadi setelah sperma dekat dengan oosit. Sel sperma yang telah menjalani kapasitasi akan terpengaruh oleh zat – zat dari korona radiata ovum, sehingga isi akrosom dari daerah kepala sperma akan terlepas dan berkontak dengan lapisan korona radiata. Pada saat ini dilepaskan hialuronidase yang dapat melarutkan korona radiata, trypsine – like agent dan lysine – zone yang dapat melarutkan dan membantu sperma melewati zona pelusida untuk mencapai ovum. Hanya satu sperma yang memiliki kemampuan untuk membuahi, karena sperma tersebut memiliki konsentrasi DNA yang tinggi di nukleusnya, dan kaputnya lebih mudah menembus karena diduga dapat melepaskan hialuronidase. Sekali sebuah spermatozoa menyentuh zona pelusida, terjadi perlekatan yang kuat dan penembusan yang sangat cepat. Setelah itu terjadi reaksi khusus di zona pelusida (zone reaction) yang bertujuan mencegah terjadinya penembusan lagi oleh sperma lainnya. Dengan demikian, sangat jarang sekali terjadi penembusan zona oleh lebih dari satu sperma.

 

GAMBAR FERTILISASI

 

 

Sumber : Miracle of man’s creation

 

Pada saat sperma mencapai oosit, terjadi :

  1. Reaksi zona / reaksi kortikal pada selaput zona pelusida
  2. Oosit menyelesaikan pembelahan miosis keduanya, menghasilkan oosit definitif yang kemudian menjadi pronukleus wanita
  3. Inti sperma membesar membentuk pronukleus pria.
  4. Ekor sel sperma terlepas dan berdegenerasi.
  5. Pronukleus pria dan wanita. Masing – masing haploid, bersatu dan membentuk zygot yang memiliki jumlah DNA genap / diploid.


 

GAMBAR PEMBUAHAN OVUM

 

 

Sumber : Dasar – Dasar Obstetri dan Ginekologi (2002)

 

Keterangan :

A, B, C dan D :  Ovum dengan korona radiata

E                       :  Ovum dimasuki spermatozoa

F dan G          : Pembentukan benda kutub kedua dan akan bersatunya kedua   pronukleus yang haploid untuk menjadi zigot

 

Hasil utama pembuahan :

  1. Penggenapan kembali jumlah kromosom dari penggabungan dua paruh haploid dari ayah dan dari ibu menjadi suatu bakal baru dengan jumlah kromosom diploid.
  2. Penentuan jenis kelamin bakal individu baru, tergantung dari kromosom X atau Y yang dikandung sperma yang membuahi ovum tersebut.
  3. Permulaan pembelahan dan stadium – stadium pembentukan dan perkembangan embrio (embriogenesis)

PEMBELAHAN

Zigot mulai menjalani pembelahan awal mitosis sampai beberapa kali. Sel–sel yang dihasilkan dari setiap pembelahan berukuran lebih kecil dari ukuran induknya yang disebut blastomer.

Sesudah 3 – 4 kali pembelahan : zigot memasuki tingkat 16 sel, disebut stadium morula (kira – kira pada hari ke 3 sampai ke 4 pasca fertilisasi).

Morula terdiri dari inner cell mass (kumpulan sel – sel di sebelah dalam, yang akan tumbuh menjadi jaringan – jaringan embrio sampai janin) dan outer cell mass (lapisan sel di sebelah luar, yang akan tumbuh menjadi trofoblast sampai plasenta).

Kira – kira pada hari ke 5 sampai ke 6, di rongga sela – sela inner cell mass merembes cairan menembus zona pelusida, membentuk ruang antar sel. Ruang antar sel ini kemudian bersatu dan memenuhi sebagian besar massa zigot membentuk rongga blastokista. Inner cell mass tetap berkumpul di salah satu sisi, tetap berbatasan dengan lapisan sel luar.

Pada stadium ini disebut embrioblas dan outer cell mass disebut trofoblas.

 

GAMBAR PEMBELAHAN SEL

1 SEL                                     2 SEL                                                 4 SEL

                          

 

             MORULA

 

16 SEL

 

 

Zygot mengalami proses pembelahan mitosis beberapa kali, sampai terbentuk 16 sel yang akan menjadi  morula pada hari ke 3 – 4 setelah fertilisasi dan berlanjut terus sampai terbentuk trofoblast.

Kira – kira pada hari ke 5 sampai ke 6, terjadi implantasi zigot dalam cavum uteri.

7.LAKTASI

Prolaktin merupakan hormon yang disekresi oleh glandula pituitary anterior, penting untuk produksi air susu ibu (ASI). Selama kehamilan kerja hormon ini dihambat oleh hormon placenta, sehingga pada akhir proses persalinan prolaktin dapat aktif. Terjadi peningkatan suplai darah ke payudara sehingga dapat diekstraksi bahan-bahan penting untuk pembuatan ASI.

Peningkatan kadar prolaktin ini akan menghambat ovulasi dan dengan demikian mempunyai fungsi kontrasepsi dengan syarat menyusui secara ekslusif.

 

 

EVALUASI

Soal Essai !

  1. Jelaskan pertumbuhan ovum dan sperma secara berurutan?
  2. Kapan masa subur seorang ibu jika siklus haidnya antara 21 – 28 hari ?
  3. Jelaskan  proses terjadinya fertilisasi?
  4. Jelaskan proses terjadinya implantasi ?

 

Pilihan Ganda !

  1. Jumlah ovum (oogonia), terbanyak adalah pada saat…
    1. Masa pubertas
    2. Masa reproduksi
    3. Bayi/baru lahir
    4. Menopause

 

  1. Urutan pertumbuhan sperma adalah  sebagai berikut….
    1. Spermatogonium-spermatid-spermatosid pertama-spermatosit kedua-spermatozoon
    2. Spermatid- spermatosid pertama-spermatosit kedua-spermatozoon- spermatogonium
    3. spermatosid pertama-spermatosit kedua-spermatozoon -spermatogonium-spermatid
    4. Spermatogonium -spermatosid pertama-spermatosit kedua- spermatid spermatozoon

 

  1. Pengertian dari fertilisasi adalah …
    1. Proses bertemunya sperma dengan sel telur di tuba falopii
    2. Proses tertanamnya hasil konsepsi di uterus
    3. Proses pembelahan yang terjadi pada ovum
    4. Proses perkembangan ovum setelah keluar dari ovarium

 

  1. Proses fertilisasi terdiri dari …
  1. Ovum – ovum dimasuki sperma – pembelahan
  2. Ovum – ovum dimasuki sperma – pembentukan benda kutub
  3. Ovum dimasuki sperma – pembentukan benda kutub pertama
  4. Ovum – pembentukan benda kutub kedua – ovum dimasuki sperma

 

  1. Tahap – tahap pada proses pembelahan adalah …
  1. 1 sel – 2 sel – 4 sel – 16 sel – morula
  2. Morula – 1 sel – 2 sel – 4 sel – 16 sel
  3. 1 sel – 2 sel – 4 sel – 8 sel – 16 sel – 32 sel – morula
  4. 1 sel – 2 sel – 4 sel – 16 sel – 20 sel – morula

 

  1. Implantasi terjadi pada hari …
  1. 3 – 4 setelah fertilisasi
  2. 4 – 5 setelah fertilisasi
  3. 5 – 6 setelah fertilisasi
  4. 7 – 8 setelah fertilisasi

 

  1. Pada saat implantasi, uterus beda di bawah pengaruh hormon …
  1. Estrogen
  2. Progesteron
  3. FSH
  4. LH

 

 

SISTEM RUJUKAN

 

HAND OUT

 

Mata Kuliah             :  GINEKOLOGI

Topik                         :  Sistem rujukan kasus ginekologi

Sub Topik                :  1. stabilisasi klien

2. persiapan administrasi

3. melibatkan keluarga

4. persiapan keuangan

5. organisasi antara pengiriman dan penerimaan rujukan

Waktu                        :   2  jam

Dosen                                    :   Ni Wayan Armini, SST

Objek Prilaku Siswa :

Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu menjelaskan megenai sistem rujukan pada kasus obstetri, meliputi stabillisasi klien, persiapan administrasi, melibatkan keluarga, persiapan keuangan, dan organisasi antara pengiriman dan penerimaan rujukan.

Buku Sumber          :

Mochtar, R,  1998, Sinopsis   Obstetri,   Jakarta, EGC, , hal 18–20.

Saifudin,AB. 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta, Yayasan Balai Pustaka Sarwono Prawirohadjo.

Hakimi. 1993. Keadaan Darurat Ginekologi Umum. Yogyakarta. Yayasan Esentia Medika.

PP IBI.1996. Profesi Bidan Sebuah Perjalanan Karir. Jakarta, PP IBI

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil maupun bersalin masih merupakan masalah besar di negara yang berkembang. Kematian dan kesakitan ibu serta janin lebih sering disebabkan karena kegawatdaruratan obstetri dan ginekologi. Kasus kegawatdaruratan ini kalau tidak segera ditangani secara cepat dan tepat akan mengakibatkan kematian ibu dan atau janin. Kegawatdaruratan obstetri dan ginekologi masih berhadapan dengan fenomenal tiga terlambat yaitu, terlambat mengenali dan memutuskan untuk meujuk, terlambat dalam mencapai tempat rujukan dan terlambat memperoleh penanganan yang cepat ,tepat, dan adekuat di tempat rujukan.

Dalam rangka menurunkan kejadian tersebut di atas, maka pemerintah mengupayakan peningkatan kemampuan bidan dalam menjalankan praktik yang sesuai dengan stándar profesi dan merujuk kasus yang tidak dapat ditangani dengan prinsip BAKSOKU.

Handout ini akan memaparkan sistem rujukan ginekologi menggunakan prinsip BAKSOKU.

ISI

SISTIM RUJUKAN

Sistim rujukan merupakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau masalah penyakit kandungan  yang timbul baik secara vertikal maupun horizontal (Mochtar, 1998).

  1. rujukan vertikal adalah rujukan dan komunikasi antara satu unit ke unit yang lebih lengkap, umpamanya dari rumah sakit provinsi atau rumah sakit tipe C ke rumah sakit tipe B yang lebih spesialistis fasilitas dan personalianya.
  2. rujukan horisontal adalah konsultasi dan komunikasi antar unit yang ada dalam satu rumah sakit, misalnya bagian penyakit kandungan dengan bagian interne.

Menurut depkes RI, sistem rujukan adalah suatu jaringan sistim pelayanan kesehatan , penyerahan  tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya sutau masalah dari suatu kasus baik secara vertikal maupun horizontal kepada yang lebih kompeten , terjangkau dan dilakukan secara rasional.

MACAM RUJUKAN

Menurut jenis rujukan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

  1. Rujukan medik :
  2. rujukan kesehatan
    1. rujukan pasien
    2. rujukan ilmu pengetahuan
    3. rujukan bahan pemeriksaan laboratorium
    1. rujukan tenaga
    2. rujukan sarana
    3. rujukan operasional

menurut model rujukan :

  1. rujukan dini berencana
  2. rujukan tepat waktu

 

TUJUAN RUJUKAN

Dalam sistim pelayanan kesehatan, terbagi atas tujuan umum dan tujuan khusus.

Tujuan umum:

Dihasilkannya pemerataan pelayanan kesehatan, upaya yang optimal untuk mengatasi masalah kesehatan yang berdaya guna dan berhasil guna.

Tujuan khusus :

  1. dihasilkannya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan rehabilitatif.
  2. dihasilkannya pelayanan kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif.

 

KEGAWATDARURATAN  GINEKOLOGI

Gawat adalah suatu keadaan kritis/mengkhawatirkan penderita sangat dekat dengan kematian. Darurat adalah keadaan yang sukar tidak tersangka-sangka memerlukan penanganan segera. Ginekologi adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan penyakit kandungan. Jadi kegawatdaruratan ginekologi adalah suatu kejadian yang tiba-tiba mengancam dengan keperluan yang amat mendesak harus ditangani segera.

Kegawatdaruratan ginekologi mencakup syok ginekologi. Syok ginekologi dapat dibagi menjadi :

  1. syok hopovolemi dalam ginekologi : ruptur kehamilan ektopik, abortus spontan, trauma genetalia karena benda asing atau perkosaan, keganasan pada servix atau korpus uteri, setelah operasi, perdarahan uterus disfungsional
  2. Syok septik: abortus yang terinfeksi, operasi karena trauma pada usus, peradangan pelvis dan abses pelvis yang pecah, tampon yang tertahan, kanker yang terinfeksi

 

STABILISASI KLIEN

Dalam memberikan pelayanan kegawatdaruratan yang akan dirujuk, beberapa hal  yang perlu diperhatikan  antara lain yaitu ;

  • Stabilisasi penderita
  • Pemberian oksigen
  • Pemberian cairan infus intravena dan transfusi darah
  • Pemberian obat-obatan (antibiotik, analgetika, tetanus toksoid)

Stabilisasi kondisi penderita dan merujuknya dengan cepat dan tepat sangat penting (esensial) dalam menyelamatkan kasus gawat darurat, tidak peduli jenjang atau tingkat pelayanan kesehatan itu. Kemampuan tempat pelayanan kesehatan untuk dengan segera memperoleh transportasi bagi pasien untuk dirujuk ke jenjang yang lebih tinggi amat menentukan keselamatan kehidupan kasus yang gawat. Tata cara untuk memperoleh transportasi yang cepat bagi kasus gawat darurat harus ada di setiap tingkat pelayanan kesehatan. Untuk ini dibutuhkan koordinasi dengan sumber-sumber dalam masyarakat seperti kepolisisn, militer, institusi pemerintah, dians pertanian, dinas kesehatan, dan sebagainya. Apabila dimungkinkan dalam perjalanan merujuk, harus diberitahi institusi yang dituju bahwa pasien sedang dalam perjalanan ke situ.

Unsur-unsur pokok dalam stabilisasi penderita untuk dirujuk :

  • Penanganan pernafasan dan pembebasan jalan nafas
  • Kontrol perdarahan
  • Pemberian cairan infus intravena
  • Kontrol nyeri (mengurangi atau menghilangkan nyeri)

Penanganan untuk stabilisasi pasien dapat disebut juga TINDAKAN ABCD (AIRWAY, BLOOD, CIRCULATION, DRUGS)

Prinsip umum dalam merujuk kasus adalah pasien harus didampingi oleh tenaga yang terlatih, sehingga cairan intravena dan oksigen dapat terus diberikan. Apabila pasien tidak dapat didampingi oleh tenaga yang terlatih, maka pendamping harus diberi petunjuk bagaimana menangani cairan intravena dlam perjalanan. Dalam perjalanan ke tempat rujukan , pasien harus dijaga agar tetap dalam kondisi hangat dan kakinya harus dala posisi yang lebih tingi, khusunya pada kasus syok hipovolemi. Gunakanlah selimut dan jangan memakai sumebr panas yang lan oleh karena mungkin kulit pasien bisa terbakar.

 

PERSIAPAN ADMINSTRASI

Ringkasan kasus yang harus disertakan pada saat merujuk meliputi :

  • Riwayat penyakit,
  • Penilaian kondisi pasien yang dibuat saat kasus diterima leh perujuk
  • Tindakan/pengbatan yang telah diberikan
  • Keterangan yang lain yang perlu dan yang ditemukan berkaitan dengan kondisi pasien pada saat pasien masih dalam penanganan perujuk.

Surat ini disampaikan pada petugas penerima dan ditandatangani oleh petugas yang merujuk.

 

MELIBATKAN KELUARGA

Keluarga perlu tahu kondisi pasien sehingga perlu untuk dirujuk serta menemani pasien saat dirujuk. Keluarga dapat membantu petugas dalam upaya stabilisasi pasien dengan menjaga atau mempertahankan kondisi penderita seperti, posisi pasien, nutrisi serta dukungan psikis. Keluarga juga dapat menjadi donor apabila ternyata diperlukan transfusi darah sesampainya di tempat rujukan.

 

PERSIAPAN KEUANGAN

Keluarga hendaknya diberitahu agar membawa dana dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lainya selama pasien dalam fasilitas rujukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

PEMBAHASAN KASUS ASKEB LANJUT II

TUGAS IBU WY ARMINI, M.Keb

KASUS I

Seorang ibu bersalin degan usia kehamilan 41 minggu, datang ke klinik bersalin dengan keluhan keluar air dan nyeri pd pinggang sampai perut. Setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan data bahwa ibu tersebut berusia 30 tahun, mrpk hamil ke 2, kehamilan yg pertama ibu mengalami abortus infeksiosa, serta dikuret oleh dokter, ibu tdk sedang mengidap penyakit yg kronis/menular. Tanda vital 37  , N.84x/mnt, T 120/80 mmhg, R. 24x/mnt, BB 80 kg, TB. 147 cm, TFU 35 cm, Palp Leopold menemukan hasil bahwa TFU 3 jr bwh px teraba bagian besar dan lunak, teraba bagian keras dan datar pd bagian kanan ibu, pd bagian bawah teraba bagian keras, bulat dan sulit digoyangkan, Leopold IV menemukan tangan dalam kondisi sejajar.

Pertanyaan :

  1. Jika dlm VT teraba tali pusat dan masih berdenyut, apa yang telah terjadi serta Langkah –langkah yang  akan diambil untuk mengurangi resiko dan bagaimana pengelolaanya.
  2. Pd saat pemeriksaan DJJ ditemukan hasil 13.14.15 menurut saudara apa yang  sedang terjadi kenapa bisa terjadi dan apa penatalaksanaanya.
  3. Pada saat kala II ibu tersebut dipimpin, ternyata kepala bayi seperti kura – kura ( keluar masuk) menurut saudara apa yg sedang terjadi, factor resiko apa yg menyebabkan, data focus apa yg dicari serta apa penatalaksanaanya.
  4. Jika pd saat kala II , pasien tampak gelisah, ketakutan dan disertai dgn perasaan nyeri diperut dan pd setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan mengerang kesakitan bahkan meminta supaya anaknya secepatnya dikeluarkan. Setelah diperiksa didptkan his lebih lama, lebih kuat dan lebih seringbahkan terus menerus. Ligamentum rotundum teraba seperti kawat listrik yg tegang, tebal dank eras terutama sebelah kiri atau keduanya.Pd waktu datangnya his, korpus uteri teraba keras (hipertonik) sedangkan SBR teraba tipis dan nyeri kalau ditekan. Menurut saudara apa yg telah terjadi, factor resiko apa penyebabnya, data focus apa yg dikaji serta apa penatalaksanaanya.
  5. Pd saat kala III  ternyata  ibu mengeluh lelah, wajah terlihat pucat dan ektremitas dingin, setelah diperiksa ternyata kontraksi uterus tidak baik, serta ibu mengeluarkan darah dengan volume ±1000cc, menurut saudara apa yg sedang terjadi, factor apa yg menyebabkan , Data focus apa yg dicari serta bagaimana penatalaksanaanya.

 

 

 

 

Jawaban :

  1. Ibu inpartu  mengalami masalah yaitu tali pusat menumbung (prolap tali pusat).

Definisi : tali pusat menumbung yaitu keluarnya tali pusat setelah ketuban pecah.

Etiologi :

-          Ketuban pecah sedangkan bagian terendah belum masuk dan atau memenuhi PAP.

Pada kasus tersebut diatas penyebab tali pusat menumbung yaitu karena air ketuban sudah pecah.

Faktor predisposisi :

-          CPD

-          Kelainan letak atau presentasi seperti ;Presentasi bokong, letak lintang

-          Tali pusat terlalu panjang

-          Polihidramnion

-          Amniotomi sebelum pembukaan lengkap

Langkah-langkah yang dilakukan :

  1. Informasikan agar ibu berhenti mengedan
  2. Mengatur posisi ibu tredelenburg atau kneechest potition

Rasionalisasi : posisi trendelenburg menyebabkan bagian terendah tidak turun ke PAP sehingga mengurangi tekanan tali pusat.

  1. Mempertahan posisi tangan seperti VT dengan mendorong kepala ke atas.

Rasionalisasi : mengurangi penekanan pada tali pusat.

  1. Observasi DJJ secara intensif

Pengelolaan prolaps tali pusat (Varney, 2008) :

  1. Tempatkan seluruh tangan  ke dalam vagina dan pegang bagian presentasi janin ke atas sehingga tidak menyentuh tali pusat di pintu atas panggul
  2. Jangan mencoba mengubah letak tali pusat pada kondisi apapun. Kita  tidak akan mampu melakukannya. Manipulasi dapat menyebabkan spasme tali pusat, dan secara tidak sengaja dapat menyebabkan kompresi tali pusat berlanjut.
  3. Beri informasi kepada  tentang hal yang sedang terjadi dan minta kerja samanya.
  4. Panggil bantuan. Beri tahu ibu apa yang harus dilakukan dan, jika perlu, berteriak untuk mendapatkan perhatian sehingga orang-orang datang dan memberi bantuan.
  5. Panggil dokter yang menangani pasien dengan kode SEGERA.
  6. Minta bantuan orang untuk mengatur posisi wanita sehingga gravitasi membantu menjauhkan bayi dari PAP dan tidak menekan tali pusat (posisi lutut-dada atau Trendelenburg).
  7. Jika tali pusat keluar dari vagina, minta orang lain membungkusnya secara longgar dengan kasa yang telah direndam salin normal hangat.
  8. Jangan mempalpasi atau bergantung pada denyut tali pusat sebagai indicator kesejahteraan janin atau janin hidup.
  9. Ultrasound dapat digunakan untuk mendeteksi gerakan jantung janin jika denyut jantung tidak terdengar
  10. Minta orang lain mempersiapkan seksio sesarea darurat.
  11. Pada kondisi apa pun, jangan melepaskan tangan dari vagina wanita atau dari bagian presentasi janin sampai bayi dilahirkan (kemungkinan dengan seksio sesarea).

Pengelolaan di RS

1)      Pada kasus prolaps diperlukan penanganan yang cepat

2)      Terapi definitive adalah melahirkan janin dengan segera

3)      Persalinan pervaginam hanya mungkin bila pembukaan lengkap, bagian terendah janin telah masuk panggul, dan tidak ada CPD

4)      Bahaya terhadap ibu dan janin akan berkurang jika dilakukan SC

5)      Sambil menunggu persiapan SC posisi ibu tetap trendelenburg dan tangan penolong masih didalam menahan kepala agar tidak menekan tali pusat.

 

 

 

 

 

  1. Frekuensi DJJ 168x/menit sehingga janin mengalami hipoksia intrauterine (tachicardi) yang disebabkan penekanan tali pusat oleh kepala janin.

1)      Definisi

DJJ < 100 & > 180x/mnt dimana janin tidak menerima O2 secara cukup

  1. Kondisi tersebut dapat terjadi melihat dari kasus diatas yaitu :

1)      Tali pusat tertekan oleh bagian terendah janin sehingga aliran darah dari plasenta ke janin berkurang, kemudian jantung janin berusaha untuk memenuhi pasokan O2 jaringan yaitu dengan meningkatkan daya kerjanya sehingga terjadilah tachikardi

2)      Adanya air ketuban yang keluar sebelum waktunya yang diikuti dengan suhu 37ºC ini menandakan ibu sudah mengalami kondisi sub fibris sebagai salah satu dari gejala adanya infeksi oleh karena keluar air.

3)      Selain oleh karena penekanan tali pusat oleh bagian terendah janin, tachikardi juga dapat terjadi oleh karena aktivitas uterus yang berlebihan seperti his hipertonik, penekanan pada vena cava pada posisi tidur terlentang yang lama, perdarahan antepartum, hipertensi daalam kehamilan dan preeclampsia.

4)      Penatalaksanaannya

a)      Memberitahukan kondisi ibu dan janin

Ibu dan keluarga berhak tahu dengan hasil pemeriksaan dan kondisinya, sehingga ibu dan keluarga dapat memahami dan mengurangi ketakutan oleh karena ketidak tahuan dengan kondisinya.

b)      Memberikan informed consent untuk tindakan yang akan dilakukan

Dengan informed conset ibu dan keluarga berhak menentukan keputusan dan dapat dipakai bahan pertanggung jawaban

c)      Membaringkan ibu dalam posisi miring kekiri

Tidak menekan vena cava inferior dan meningkatkan cardiac output sehingga meningkatkan aliran darah ke uterus

d)     Memberikan cairan melalui infuse

Dengan infuse dapat memperlancar aliran darah sehingga O2 mengalir lancar

e)      Memberikan O2 8 liter/menit

Memenuhi kebutuhan kecukupan O2

f)       Melakukan rujukan ke RS PONEK dengan prinsip BAKSOKUDA

Harus ditangani di RS yang mempunyai sarana operatif kebidanan

 

 

  1. Terjadi distosia bahu.

Definisi distosia bahu : suatu keadaan dimana setelah kepala lahir tidak diikuti dengan putaran paksi luar sehingga bahu tertahan pada simfisis.

 

Factor resiko yang mempengaruhi distosia bahu yaitu:

-          Makrosomia (TBJ > 4000 gram)

-          diabetes gestational,

-          multiparitas (melahirkan bayi yang viable dan mampu hidup lebih dari 1 kali)

-          persalinan lewat waktu.

Pada kasus tersebut distosia bahu dapat disebabkan karena kehamilan lewat waktu (41 minggu), kemungkinan diabetes gestational ( BB 80kg), ibu multi gravida namum panggul belum pernah teruji karena hamil pertama abortus, perkiraan bayi cukup besar ( TBJ 3720gram).

Data focus yang harus dicari :

-          Data subyektif :

  1. Paritas
  2. Riwayat penyakit : obesitas, DM,
  3. Riwayat kehamilan, persalinan yang lalu : ROB
  4. Tanyakan kemampuan ibu untuk mengedan ?

 

 

-          Data obyektif :

  1. BB : peningkatannya, BB berlebihan
  2. TB : < 145 cm
  3. TFU : > 2 cm dibandingkan dg UK
  4. TBJ > 4.000 kg
  5. Tes protein urine
  6. Riwayat persalinan sekarang ; lama, penyulit, teknik pertolongan persalinan
  7. USG : kelainan congenital yg bisa teridentifikasi.

 

Penatalaksanaan distosia bahu : Manuver Mc.Robert

Syarat :

  1. Kondisi vital ibu cukup memadai sehingga dapat bekerjasama untuk menyelesaikan persalinan
  2. Masih memiliki kemampuan untuk meneran
  3. Jalan lahir dan pintu bawah panggul memadai uuntuk akomodasi tubuh bayi
  4. Bayi masih hidup atau diharapkan dapat bertahan hidup
  5. Bukan monstrum atau kelainan congenital yang menghalangi keluarnya bayi

Penatalaksanaannya:

1)      Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga

Ibu dan keluarga berhak tahu dengan hasil pemeriksaan dan kondisinya, sehingga ibu dan keluarga dapat memahami dan mengurangi ketakutan oleh karena ketidak tahuan dengan kondisinya.

2)      Memberikan informed consent untuk tindakan yang akan dilakukan

Dengan informed conset ibu dan keluarga berhak menentukan keputusan dan dapat dipakai bahan pertanggung jawaban

3)      Menolong ibu dengan maneuver Mc. Robert

-          Ibu berbaring terlentang dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin mendekati dada. Perasat ini akan memutar sudut simfisis pubis ke superior dan menggunakan berat tungkai ibu untuk memberikan tekanan yang lembut pada abdomen, menghindarkan jepitan pada bahu anterior

-          Lakukan episiotomy. Episiotomi bertujuan untuk dapat memperluas jalan lahir

-          Lakukan penekanan pada suprapubik. Tekanan dilakukan pada sisi punggung bayi, kearah dada bayi. Tindakan ini membantu aduksi bahu dan mendorong bahu anterior menjauh dari simfisis pubis.

-          Bila maneuver Mc.Robert tidak berhasil, anjurkan ibu untuk merangkak

 

 

Teknik yang lain untuk melahirkan bahu pada distosia bahu yaitu :

  1. Maneuver Hibbard (1969)/ Resnick (1980)

Melahirkan bahu belakang terlebih dahulu dengan memasukkan tangan menyusuri bahu belakang, semenatara asisten melakukan penekanan di atas simfisis.

  1. Maneuver “ Corkscrew” Woods

-          Masukkan dua jari tangan kanan kearah anterior bahu belakang janin

-          Minta asisten untuk melakukan penekanan fundus uteri kearah bawah, kemudian putar (searah putaran jarum jam) bahu belakang bayi dengan kedua jari tangan operator (penolong persalinan) kearah depan (ventral terhadap ibu) sehingga lahir bahu belakang. Perhatikan posisi punggung bayi karena putaran bahu belakang ke depan adalah kearah punggung bayi

-          Masih diikuti dengan dorongan pada fundus uteri dilakuakn putaran berlawanan dengan arah putaran pertama sehingga akan menyebabkan bahu depan dapat melewati simfisis

 

  1. Maneuver Schwartz dan Dixon untuk melahirkan bahu belakang.

-          Lengan bayi biasanya fleksi pada siku

-          Bila lengan tidak fleksi, dorong lengan pada siku

-          Dorong lengan kearah dada

-          Ambil tangan, kemudian lahirkan tangan

-          Lakukan episiotomi

  1. Maneuver Massanti

Dilakukan dengan melakukan penekanan pada suprapubik :

-          Tidak boleh menekan fundus

-          Penanganan abdomen : penekanan suprapubik dengan ujung genggaman tangan pada bagian belakang bahu depan untuk membebaskannya

-          Jangan menekan fundus uteri

-          Bahu bayi ditekan dari arah punggung bayi kedepan à diharapkan melepas bahu dari simfisis

 

 

 

 

  1. Maneuver rubin

-          Lakukan pemeriksaan vagina

-          Adduksi bahu depan dengan menekan bagian belakang bahu ( bahu didorong kea rah dada )

-          Pikirkan tindakan episiotomy

-          Tidak melakukan dorongan fundus

 

 

  1. Maneuver zavanelli

-          Patahkan klavikula

-          Menempatkan kembali kepala di pelvic, kemudian dilakukan tindakan SC

Manuver Zavanelli (Sandberg, 1985)

-          Mengembalikan kepala ke posisi oksiput anterior atau posterior bila kepala janin telah berputar dari posisi tersebut

-          Memfleksikan kepala dan secara perlahan mendorongnya masuk kembali ke vagina yang diikuti dengan pelahiran secara sesar.

-          Memberikan terbutaline 250 mg subkutan untuk menghasilkan relaksasi uterus

 

  1. Gaskin Manuver. Ini dengan melakukan perubahan posisi yaitu saat ibu dalam posisi berbaring, si ibu langsung diminta untuk berputar dan mengubah menjadi posisi merangkak.

 

 

-          Langkah dari Gaskin maneuver ini sering di sebut FlipFLOP

-          Flip = memutar ibu dari posisi berbaring menjadi merangkak

-          FLOP =

-          F Flips Mom Over (memutar ibu dari posisi berbaring menjadi merangkak). Setelah ibu posisi terbalik menggunakan Gaskin’s Manuver kebanyakan bayi akan lahir spontan. Namun, jika bayi tidak lahir segera, bidan atau asistennya mengarahkan langkah berikutnya dilakukan ketika kontraksi berikutnya terjadi atau sebelum ada kontraksi.

-          L Lift Legs, Dengan di bantu bidan, mintalah ibu mengangkat satu kaki, arahkan ke depan posisi ini persis seperti posisi ketiaka atlet lari hendak bersiap-siap untuk mulai balapan lari. Jadi posisinya seperti gambar berikut ini:

 

-          Mohon perhatikan posisi kaki, sehingga lutut tidak terlalu jauh dari tubuhnya.

-          Sekarang mulailah melakukan lekukan atau menggulung bahu anterior bayi dari tulang kemaluan hingga bergerak disamping simfisis pubis.  pergeseran Pubis dari gerakan menempatkan kaki ke dalam posisi “Running Start” seperti diatas seolah-olah ini adalah seperti maneuver setengah McRoberts yang dilakukan dengan ibu di dalam posisi terlentang. Setengah dari tulang kemaluan yang terguling atau bergeser ketika kaki diangkat.  Jika lengan tidak dapat diputar, pindah ke manuver berikutnya lebih cepat.

-          O Oblique (Rotete Shoulder To Oblique) è memutar bahu kearah oblique. jika bayi tidak langsung lahir ketika kontraksi setelah dilakukan perubahan posisi menjadi posisi “Running Start”, selipkan tangan bidan ke ibu ssampai ia menemukan bagian belakang bahu posterior bayi.  memutar bahu posterior ke arah dada bayi ke diameter miring dari panggul ibu. Ada ruangan yang paling dalam dari diameter miring (diameter oblique) panggul.  Dengan demikian bayi akan mudah dari memutar bahu posterior ke diameter miring. Jika tetap gagal Lanjutkan upaya.

-          P Posterior Arm To Get it. ini dilakukan dengan mencari lengan bayi dan mengeluarkannya menyapu tangan ke arah dada bayi . sehingga Lengan ini akan flex, yang berarti itu akan membuat sebuah tikungan. Sekarang bidan dapat menangkap pergelangan tangan bayi,  Kemudian seluruh lengan lalu goyangkan dengan hati-hati. Hal ini akan mengurangi diameter tubuh bayi sekitar 2 cm.Jika itu tidak cukup, bayi diputar 180 derajat sehingga lengan sebelumnya anterior sekarang posterior dan lengan dibawa keluar. Sekarang ibu bisa mendorong dan bayi akan keluar.

-          Manuver Gaskin ini angka keberhasilannya cukup tinggi yaitu 80-90%

 

  1. Terjadi rupture uteri iminen (RUI).

Rupture Uteri adalah robekan atau diskontinuitas dinding rahim akibat dilampauinya daya regang miometrium.

Rupture uteri adalah his yang sangat tinggi dan terjadinya obstruksi.

Etiologi : disproporsi janin dan panggul atau persalinan traumatic.

Factor resiko yang menyebabkan : his yang lama, lebih kuat dan lebih sering.

Data focus yang dikaji :

  1. Data subyektif :

-          Nyeri perut yang hebat saat ada kontraksi

-          Ibu meminta anaknya secepatnya dikeluarkan

 

  1. Data obyektif :

-          Ibu tampak gelisah

-          Ibu tampak ketakutan

-          His lama, kuat, sering

-          Ligamentum rotundum teraba seperti kawat listrik yang tegang, tebal dank eras (hipertonik)

-          SBR teraba tipis dan nyeri tekan

-          DJJ ireguler

-          VT : portio odema, caput, pembukaan tidak maju

-          Bagian janin mudah diraba jika rupture uteri totalis

Penatalaksanaan :

  1. Stabilisasi KU ibu :

-          pasang IVFD RL 500 ml jarum besar 16 G/18 G dalam 15-20 menit kemudian lanjutkan hingga mencapai 3 liter.,

-          berikan oksigen 5 liter/menit dengan kanule , dengan masker 10 liter/menit

  1. Memberikan KIE tentang kondisi ibu dan bayi serta tindakan rujukan.
  2. Melakukan rujukan dengan prinsip BAKSOKUDA
  3. Penanganan di RS :

-          Setelah stabilisasi dan kondisi pasien memadai, lakukan laparatomi untuk melahirkan anak dan plasenta

-          Bila konservasi uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan memungkinkan, lakukan reparasi uterus (Reparasi Ruptur Uteri). Bila luka mengalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien mengkhawatirkan, lakukan histerektomi.

-          Antibiotika dan serum anti tetanus

Bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam, menggigil, darah bercampur cairan ketuban berbau, hasil apusan atau biakan darah) segera berikan antibiotika spectrum luas. Bila terdapat tanda-tanda trauma alat genital atau luka yang kotor, tanyakan saat terakhir mendapat tetanus toksoid. Bila hasil anamnesa tidak dapat memastikan perlindungan terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus 1500 IU/IM dan TT 0,5 ml IM.

 

  1. Terjadi atonia uteri

Atonia uteri yaitu uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan masase uterus.

Faktor yang menyebabkan :

  • Partus lama à kelelahan à oksigenasi menurun à miometrium à Kontraksi menurunà tidak berkontraksi.
  • Regangan uterus à overdistensi uterus menghambat kontraksi dan pengembalian ukuran uterus.
  • Multiparitas à miometrium mengendur à kontraksi berkurang
  • Solutio Plasenta

Patofisiologi :

  1. Mekanik à perdarahan banyak pada uterus à gumpalan à kontraksi uterus menurun.
  2. Kimiawi à pembekun darah berlebihan dikeluarkan oleh karena perdarahan sehingga lama kelamaan semakin menurun jumlah pembekuan darah à gangguan pembekuan
  3. Psikologis à ibu cemas dan nyeri à peningkatan hormone stress à penurunan Prostaglandin dan Oksitosin sehingga his menurun à atonia uteri

 

Data focus yang dicari

  1. Data subyektif
  • Umur
  • Paritas
  • Ibu mengeluh lelah
  • HPHT
  • Rimayat kehamilan, persalinan yang lalu
  • Riwayat penyakit ; anemia
  • Riwayat kehamilan sekarang : kelainan letak, kehamilan kembar
  1. Data Obyektif
  • Wajah terlihat pucat
  • Tanda vital
  • TBJ
  • Presentasi, kehamilan kembar
  • Ektremitas dingin
  • Kontraksi uterus tidak baik
  • Keluar darah ±1000 cc
  1. Penatalaksanaanya
    1. Melakukan masase uterus selama 15 detik
    2. Evaluasi /bersihkan bekuan darah/selaput ketuban
    3. Kompresi bimanual Interna (KBI) Maksimal 5 menit
    4. Kontraksi uterus baik
  • Pertahankan KBI selama 1-2 menit
  • Keluarkan tangan secara hati – hati
  • Lakukan pengawasan kala IV
  1. Bila uterus tidak berkontraksi
  • Ajarkan keluarga melakukan kompresi Bimanual Eksterna (KBE)
  • Keluarkan tangan (KBI) secara hati – hati
  • Suntikan Methyl ergometrin 0,2 mg i.m
  • Pasang infuse RL + 20 IU oksitosin, guyur
  • Lakukan lagi KBI
  1. Evaluasi bila  Uterus berkontraksi
  • Pengawasan kala IV
  1. Bila Uterus tidak berkontrksi
  • Rujuk siapkan laparotomi
  • Lanjutkan pemberian infus + 20 IU oksitosin minimal 500cc/jam hingga mencapai tempat rujukan
  • Selama perjalanan dapat dilakukan kompresi bimanual interna oleh karena paling efektif. Jika tidak memungkinkan dapat dilakukan kompresi aorta abdominalis atau kompresi bimanual eksterna
  1. Ligasi arteri uterine dan atau hipogastrika B -Lynch method
  2. Perdarahan berhenti pertahankan uterus
  3. Perdarahan tetap Histerektomi

 

KASUS II

Seorang ibu bersalin dengan selaput ketuban sudah pecah dirujuk oleh bidan ke RS, dengan keluhan tiba-tiba sesak nafas, dengan wajah kebiruan. Data fokus apa yang harus dikaji, apa yg sedang terjadi, factor resiko apa yang menyebabkan, serta bagaimana pelaksanaannya.

Jawaban  :

  1. Data fokus Subjektif
  1. Identitas

-          Umur

Kesiapan ibu menerima kehamilan dan kesiapan menghadapi persalinan

-          Pekerjaan

Kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan pasien

  1. Keluhan utama

-          Sejak kapan keluar air?

-          Bagaimana warna air ketuban?

-          Berapa jumlah air ketuban?

  1. Riwayat Obstetri

-          Hamil ke berapa?

-          Pernah abortus/kuretage?

-          Penyulit dan kelainan serta komplikasi pada peersalinan, nifas yang lalu

-          Kondisi bayi saat dilahirkan?

  1. Riwayat kehamilan sekarang

-          Pernah mengalami perdarahan saat hamil?

-          Pernah jatuh (trauma abdomen)?

-          Pernah dilakukan versi luar?

  1. Riwayat persalinan sekarang

-          Datang pukul berapa?

-          Pembukaan  berapa?

-          Adakah ketuban pecah, jam berapa ?

-          His nya bagaimana?

-          DJJ nya bagaimana?

-          Apakah dilakukan induksi persalinan?

-          Bagaimana kemajuan persalinan?

Data Objektif

  1. KU dan TTV

Melihat tanda-tanda syok, nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, tampak kebiruan, ibu seperti tercekik terjadi secara tiba-tiba,

  1. Dada

Ada retraksi pada dada, ronchii/whezzing -/-

  1. Abdomen

-          His bagaimana?

-          DJJ bagaimana ?

  1. Genetalia

-          Evaluasi pengeluaran : ketuban

-          Kemajuan persalinan ( VT)

  1. Ekstremitas

-          Akral, sianosis

-          Ada kejang atau tidak?

 

  1. Kemungkinan ibu mengalami Emboli Air Ketuban

Emboli air ketuban yaitu air ketuban terdorong masuk sirkulasi vena ibu melalui vena-vena di endoserviks, implantasi plasenta atau trauma pada uterus.

 

  1. Factor-faktor yang menyebabkan :
  2. Multipara
  3. Meningkatnya usia ibu
  4. Kontraksi yang terlalu kuat
  5. Adanya infeksi pada selaput ketuban
  6. Air ketuban yang banyak
  7. Adanya mekonium
  8. Solusio plasenta
  9. IUFD
  10. Partus presipitatus
  11. Suction curettage
  12. Trauma abdomen
  13. Terminasi kehamilan
  14. Versi luar

 

  1. Penatalaksanaannya
  2. Segera setelah diagnose ditegakkan à terapi supportive segera dilakukan
  3. ABC resuscitation
  4. Miring kekiri
  5. Memberi segera oksigen 100%, pasang selang endotrakeal dan ventilasi dilakukan karena pasien umumnya tidak sadar
  6. Sirkulasi à terapi cairan dan obat-obatan
  7. Kendalikan perdarahan dan koagulopati, segera lakukan rujukan
  8. Perhatikan posisi ibu saat merujuk
  9. Kolaborasi dengan dokter spesialis untuk penanganan dan therapy yang diberikan
  10. Di RS setelah ibu stabil bayi segera dilahirkan

 

 

 

KASUS III

Seorang ibu hamil dengan usia kehamilan 30 mgg dating mengeluh gerakan anak terasa berkurang . setelah dilakukan pengkajian ternyata ibu hamil kedua anak pertama mengidap sindrom down usia 4 tahun, pemeriksaan tanda vital dlm kondis normal, antropometri ibu normal.

  1. Pemeriksaan obstetric ( penunjang ) apa saja yg harus dilakukan pd ibu tersebut?
  2. Jelaskan masing – masing pemeriksaan kesejahteraan serta screening tes untuk mengetahui kelainan genetic?
  3. Bagaimana bidan menyiapkan pasien dlm melakukan pemeriksaan tersebut.

Jawaban :

  1. Pemeriksaan obstetric yang diperlukan yaitu :
  2. USG
  3. NST

 

  1. Pemeriksaan untuk pemantauan kesejahteraan janin :
  2. USG

USg adalah gelombang suara yang melewati medium > 20.000 Hz. Pemeriksaan ini sangat aman dilihat dari efek biologis pada manusia dan tidak menimbulkan resiko pada janin.

Indikasi USG :

  • Perkiraan usia kehamilan
  • Evaluasi pertumbuhan janin
  • Menentukan presentasi janin
  • Curiga kehamilan kembar
  • Curiga kematian janin
  • Evaluasi kesejahteraan janin
  • Curiga poli/oligohidramnion
  • Curiga solution plasenta
  • Evaluasi lokasi plasenta
  • Curiga kelainan congenital

Tujuan pemeriksaan USG dasar :

  • Trimester I
    • Lokasi GS (intra / ekstrauteri
    • Identifikasi embrio
    • Crown – Rump Length (CRL) untuk memastikan UK dan TP
    • Denyut jantung bayi
    • Jumlah fetus
    • Evaluasi uterus dan adneksa
    • Trimester II dan III
      • Jumlah fetus
      • Presentasi
      • DJJ
      • Lokasi plasenta
      • Volume cairan amnion
      • Umur kehamilan
      • Survey anatomi fetus
      • Evaluasi massa pelvik

 

  1.  KTG / kardiotokografi

1)      NST

NST adalah pemeriksaan untuk menilai respon kardiovaskuler terhadap gerakan janin.digunakan jika tidak ada kontraksi uterus.

Indikasi :

  • Dugaan insuf plasenta
  • Perubahan penatalaksanaan antenatal

 

2)      OCT

OCT (Oxytocin Challenge Test) atau Contraction Stress Test (CST) digunakan untuk memantau kesejahteraan janin jika ada kontraksi uterus.

  1. Amniosintesis

Prosedur medis dengan mengambil cairan amnion intruterin sebagai usaha diagnosis prenatal terhadap kelainan kromosom dan infeksi fetus.

Indikasi :

  • Diduga adanya kelainan kromosom pada fetus :
    • Down sindrom (trisomi 21)
    • Trisomi 13
    • Trisomi 18
    •  Neural tube defects ( anencephaly and spina bifida)
    •  Diduga infeksi fetus
    • Incompability
    •  Prediksi kematangan paruction of lung maturity
    • Dekompresi polihidramnion
  1. FBS (Fetal Biofisik Score) yaitu pemantauan kesejahteraan janin dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan fisik bayi meliputi keadaan air ketuban, fungsi plasenta ukuran biometri janin. Ukuran biometri janin meliputi :
  • BPD : Biparietal Diameter
  • FL : Femur Length
  • AC : Abdominal Circumferentia

 

  1. Persiapan yang harus dilakukan oleh bidan :
  2. Persiapan pemeriksaan USG :
  • KIE tentang tindakan yang akan dilakukan
  • Anjurkan ibu untuk minum dalam jumlah yang banyak agar kandung kemih penuh
  • Menyuruh ibu tidur terlentang menggunakan bantal, kaki lurus
  • Mengolesi bagian abdomen dengan jelly
  • Memfasilitasi dokter saat melakukan tindakan
  • Membersihkan abdomen ibu dari jelly dengan tissue
  • KIE pasca tindakan

 

  1. Persiapan pemeriksaan KTG,NST
  • KIE tentang tindakan yang akan dilakukan
  • Menganjurkan ibu untuk makan dan minum ( minimal 1 jam sebelum pemeriksaan)
  • Meyakinkan bahwa ibu dalam kondisi sehat dan cukup istirahat sebelumnya, sebaiknya dilakukan pada pagi hari
  • Memastikan alat atau monitor dalam kondisi siap pakai
  • Memasang perlengkapan alat di abdomen ibu
  • Mempersilakan ibu untuk tidur semi fowler, posisi sedikit miring kekiri45 derajat
  • Memantau tekanan darah ibu setiap 10 menit
  • Menjelaskan bahwa jika ibu merasakan gerakan janin agar menekan tombol yang sudah diberikan
  • Melakukan monitoring selama 30 menit
  • Bila hasil rekaman selama 10 menit pertama àmencurigakan/patologis–.perhatikan posisi pasien, posisi transduser dan goyangkan fundus untuk membangunkan janin
  • Bila hasil rekaman tetap mencurigakan/patologis à hentikan pemantauan
  • Bila hasil rekaman normal àpemantauan dilanjutkan sampai 30 menit
    • Nilai normal :
      • BSL 110-150 bpm,
      • Var : 10-25 bpm
      • Decelerasi (-)
      • Akselerasi (+)
      • Mencurigakan
        • BSL 100-110 bpm atau 150-170 bpm
        • Var : 5-10 bpm
        • Akselerasi (-) selama > 30 menit
        • Patologis :
          • BSL < 100 bpm atau > 170 bpm
          • Var < 5 bpm
          • Decelerasi berulang dalam berbagai tipe
          • Variable decelerasi berat, deselerasi memanjang atau deselerasi lambat
          • Pola sinusoidal
          • Merapikan ibu dan merapikan alat
          • Membaca hasil
          • Melakukan kolaborasi untuk dokumentasi hasil dan tindakan selanjutnya
          • KIE pasca tindakan
  1. Persiapan pemeriksaan OCT

pada prinsipnya pesiapan bidan untuk melakuka OCT hamper sama dengan NST diatas namun indikasi OCT adalah jika ada kontraksi dan sebelum memantau disuntikkan oksitosin terlebih dahulu kepada ibunya secara perabdominal dengan tuntunan USG. Sehingga diperoleh gambaran bagaimana kesejahteraan janin ketika ada his dan saat his tidak ada.

  1. Persiapan pemeriksaan Amniosintesis
  • Persiapan bidan :

1)      Persiapan alat ;

– handschoon 2 pasang

  • Kondom 1
  • Doek lobang 1
  • Betadine
  • Alcohol
  • Gaas
  • Spuite 10 cc 1
  • Spinal needle 23 G
  • Botol atau tabung steril
  • Pengantar lab

2)      Persiapan penolong

3)      Persiapan lingkungan

 

Prinsip Prosedur Pelaksanaan

  • antiseptic lapangan operasi dengan betadin
  • Prosedur dilakukan secara steril
  • Dengan panduan USG dilakukan insersi jarum melalui dinding abdomen ibu ke daerah cavum amnion yang kosong.
  • Aspirasi cairan ±20 ml.

 

 

  • Peranan bidan :

1)      KIE sebelum tindakan

2)      Memfasilitasi informed concent

3)      Menghubungi bagian laboratorium

4)      Memfasilitasi dokter untuk melakukan tindakan

  1. Pemberian anestesi local bila perlu
  2. Mengolesi antoseptik dengan betadine pada perut sekitar umbilicus
  3. Persempit lapangan operasi dengan doek
  4. Dilakukan evaluasi pre prosedur dengan USG
  5. Pemantauan target pungsi
  6. Dilakukan pungsi jarum spinal no 23 G dengan tuntunan USG

5)      Mempertahankan posisi prop ( tangai USG) setelah posisi ditentukan sampai spinal needle masuk.

6)      Bidan melakukan aspirasi air ketuban sebanyak 10 cc  (Protap RS. Sanglah)

7)      Mengolesi larutan antisepstik pada bekas tusukan setelah jarum dicabut

8)      Menutup dengan gaas betadine

9)      Memasukkan air ketuban ke tabung steril

10)  Memberi label pada sediaan yang akan dikirim

 

  • KIE pasca tindakan :

1)      Pantau tanda vital setiap 30 menit

2)      Pantau dengan USG (perdarahan plasenta, DJJ,gerakan janin)

3)      Ibu bedrest selama 1 jam pasca tindakan

4)      Pantau DJJ setiap 30 menit

5)      Waktu control ulang saat hasil sudah ada ( melalui konfirmasi petugas)

6)      Konseling tindak lanjut tentang tindakan sessuai hasil

KASUS ASKEB LANJUT II

KASUS ASUHAN KEBIDANAN LANJUT II

MAHASISWA D4 KEBIDANAN KLINIK ANGKATAN II

 

KASUS 1:

Seorang ibu bersalin dengan usia kehamilan 41 minggu, datang ke klinik bersalin dengan keluhan keluar air dan nyeri pada pinggang sampai perut. Setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan data bahwa ibu tersebut berusia 30 tahun, ini merupakan kehamilan yang pertama, tidak sedang mengidap penyakit yang kronis ataupun menular. Tanda vitalnya: suhu 370 C, nadi 84 x/menit, tekanan darah 120/80 mmHg, respirasi 24 x/menit. Berat badan 80 kg, TB 147 cm. TFUT 35 cm, palpasi Leopold menemukan hasil bahwa tinggi fundus 3 jari bawah px, teraba bagian besar dan lunak, teraba bagian keras dan datar pada bagian kanan ibu, pada bagian bawah teraba bagian keras, bulat dan sulit digoyangkan. Leopold IV menemukan tangan dalam kondisi sejajar.

 

Pertanyaan :

Pertanyaan :

  1. Jika dlm VT teraba tali pusat dan masih berdenyut, apa yang telah terjadi serta langkah –langkah yang  akan diambil untuk mengurangi resiko dan bagaimana pengelolaanya.
  2. Pd saat pemeriksaan DJJ ditemukan hasil 13.14.15 menurut saudara apa yang  sedang terjadi kenapa bisa terjadi dan apa penatalaksanaanya.
  3. Pada saat kala II ibu tersebut dipimpin, ternyata kepala bayi seperti kura – kura ( keluar masuk) menurut saudara apa yg sedang terjadi, factor resiko apa yg menyebabkan, data focus apa yg dicari serta apa penatalaksanaanya.
  4. Jika pd saat kala II , pasien tampak gelisah, ketakutan dan disertai dgn perasaan nyeri diperut dan pd setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan mengerang kesakitan bahkan meminta supaya anaknya secepatnya dikeluarkan. Setelah diperiksa didptkan his lebih lama, lebih kuat dan lebih sering bahkan terus menerus. Ligamentum rotundum teraba seperti kawat listrik yg tegang, tebal dan keras terutama sebelah kiri atau keduanya. Pada waktu datangnya his, korpus uteri teraba keras (hipertonik) sedangkan SBR teraba tipis dan nyeri kalau ditekan. Menurut saudara apa yg telah terjadi, factor resiko apa penyebabnya, data focus apa yg dikaji serta apa penatalaksanaanya.
  5. Pd saat kala III  ternyata  ibu mengeluh lelah, wajah terlihat pucat dan ektremitas dingin, setelah diperiksa ternyata kontraksi uterus tidak baik, serta ibu mengeluarkan darah dengan volume ±1000cc, menurut saudara apa yg sedang terjadi, factor apa yg menyebabkan , Data focus apa yg dicari serta bagaimana penatalaksanaanya.

 

 

KASUS 2:

Seorang ibu bersalin dengan selaput ketuban sudah pecah dirujuk oleh bidan ke RS, dengan keluhan tiba-tiba sesak nafas, dengan wajah kebiruan. Data fokus apa yang harus dikaji, apa yg sedang terjadi, factor resiko apa yang menyebabkan, serta bagaimana pelaksanaannya.

 

KASUS 3

Seorang ibu hamil dengan usia kehamilan 30 mgg dating mengeluh gerakan anak terasa berkurang . setelah dilakukan pengkajian ternyata ibu hamil kedua anak pertama mengidap sindrom down usia 4 tahun, pemeriksaan tanda vital dlm kondis normal, antropometri ibu normal.

  1. Pemeriksaan obstetric ( penunjang ) apa saja yg harus dilakukan pd ibu tersebut?
  2. Jelaskan masing – masing pemeriksaan kesejahteraan serta screening tes untuk mengetahui kelainan genetic?
  3. Bagaimana bidan menyiapkan pasien dlm melakukan pemeriksaan tersebut.

 

Petunjuk :

  1. Mahasiswa dibagi menjadi tiga kelompok
  2. Setiap kelompok membahas semua kasus
  3. Pembahasan yang dibuat harus lengkap mulai dari pengertian, penyebab, faktor risiko, patofisologi, penatalaksanaan di BPM dan RS, yang juga dikaitkan dengan kewenangan bidan, diketik dengan huruf times new roman, 1,5 spasi.
  4. Setiap anggota dalam kelompok diharapkan menguasai pembahasan kasus.
  5. Setiap kelompok menyusun power point
  6. Saat panel, kelompok yang menyajikan kasus diundi.

 

 

 

= = = = Selamat berkarya = = =

 

 

PEMBAHASAN KASUS ASKEB GAWAT DARURAT OBSTETRI

Kasus 1

Seorang perempuan umur 20 tahun datang ke pelayanan kesehatan mengeluh keluar flek-flek dari kemaluan dan sedikit nyeri pada supra symphisis. Anamnesa menemukan telat haid 2 bulan yang lalu, tapi belum periksa, kemarin sempat terpeleset di kamar mandi dan jatuh terduduk. Pemeriksaan tanda vital dan antopometri dalam batas normal, PPT +.

  1. Kasus tersebut mengarah pada kasus perdarahan kehamilan muda yang dicurigai mengalami abortus iminens, dengan tanda gejala adanya amenorea, keluarnya flek-flek darah dari kemaluan dan nyeri pada daerah symmpisis serta PPT (+)
  2. Penyebab terjadi nya abortus antara lain :

-          Faktor janin

  • ovum yang telah dibuahi gagal untuk berkembang atau terjadi malformasi pada tubuh janin, kelainan chromosomal, dan adanya kegagalan trofoblast untuk melakukan implantasi dengan adekuat.

-          Faktor maternal

  • Kelainan endokrin seperti kekurangan tiroid, kencing manis
  • Kekebalan imun seperti penyakit lupus, dan APS (Anti Phospolipid Syndrome)
  • Infeksi seperti cacar air, campak, TORCH
  • Kelemahan otot leher rahim dan kelainan bentuk rahim
  • Penyakit kronis seperti hipertensi kronis, ginjal kronis.
  • Malnutrisi yang sangat berat
  • Psikologis ibu, berhubungan dengan kehamilan yang tidak diinginkan dan kesiapan mental ibu menerima kehamilan
  • Perilaku ibu yang tidak sehat seperti merokok, minum-minuman keras dan mengkonsumsi obat keras

-          Faktor lingkungan, adanya toksin lingkungan seperti radiasi

-          Faktor lain yang mungkin mempengaruhi terjadinya abortus yaitu terjadinya trauma / kecelakaan. Saat trauma akan membuat perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi. Uterus yang berkontraksi ini dapat menyebabkan lepasnya vili korialis yang telah menembus desidua basalis agak dalam pada umur kehamilan 8 – 14 minggu. Selanjutnya akan diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.

  1. Komplikasi yang dialami adalah abortus iminen karena terdapat pengeluaran flek-flek dari kemaluan tanpa disertai dengan pengeluaran jaringan / hasil konsepsi serta nyeri pada supra sympisis akibat kontraksi yang timbul pada uterus.

Komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dengan abortus iminen yaitu :

-          Apabila perdarahan berlanjut dapat menyebabkan terjadi abortus insipient ataupun inkomplit/komplit

-          Anemia, akibat perdarahan yang berlanjut sehingga mengalami banyak kehilangan darah

-          Infeksi, apabila personal hygiene tidak sehat sehingga memungkinkan bakteri untuk mengakibatkan terjadinya infeksi

Jenis-jenis abortus lainnya :

-          Abortus insipiens : adalah abortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sudah terbuka dan ketuban yang teraba, kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi.

-          Abortus inkomplet : hanya sebagia dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.

-          Abortus komplet : seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus), sehingga rongga rahim kosong.

-          Abortus provokatus : abortus yang disengaja baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat.

  • Abortus medisinalis : abortus berdasarkan indikasi medis, seperti apabila kehamilan dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu.
  • Abortus kriminalis : abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.

-          Missed abortion : keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.

-          Abortus habitualis : keadaan dimana penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih.

-          Abortus infeksiosus : keguguran yang disertai dengan infeksi genital

-          Abortus septic : keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum.

  1. Pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnose antara lain :

-          Palpasi TFU dengan jari

-          Inspeksi anogenital : tampak adanya pengeluaran flek atau bercak darah

-          Inspekulo : adanya pengeluaran darah yang bersumber dari dalam uterus, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup,  serta ada atau tidaknya jaringan keluar dari ostium.

-          Pemeriksaan dalam : mengetahui apakah ada pembukaan pada porsio, teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kaum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri. VT tidak boleh dilakukan di BPM, VT hanya dilakukan di RS pada kasus abortus.

  1. Penanganan kasus abortus iminens di BPM :

-          Apabila pasien mengalami syok hipovolemik akibat perdarahan, stabilisasi kondisi pasien dengan memasang infuse RL

-          Melakukan informed consent untuk merujuk pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi (RS) karena abortus merupakan kasus kegawatdaruratan.

-          Merujuk pasien dengan posisi trendelenderg

Penanganan kasus abortus iminen di RS :

Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk menilai kondisi janin (uji kehamilan atau USG), memastikan kemungkinan adanya penyebab lain jika perdarahan berlanjut, khususnya jika ditemukan uterus yang lebih besar dari yang diharapkan, mungkin menunjukkan kehamilan ganda atau mola.

Pertanyaan yang muncul dalam diskusi antara lain :

 

  1. Bagaimanakah peran bidan dalam melakukan penatalaksanaan pada abortus sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan?
  2. Apakah hubungannnya pada pemeriksaan anogenital dilakukan pemeriksaan adanya oedema dan varises ?

 

 

Hasil diskusi :

 

  1. Peranan bidan sesuai dengan Permenkes 1464 dalam melakukan penatalaksanaan kasus abortus  yaitu :

-          Melakukan stabilisasi kondisi pasien dengan memasang infuse RL

-          Melakukan rujukan pasien dengan BAKSOKUDA karena merupakan kasus kegawatdaruratan

 

  1. Pemeriksaan anogenital pada kasus abortus , dilakukan pemeriksaan adanya oedema dan varises yaitu untuk mengetahui adanya tanda infeksi pada vulva dan juga untuk mengetahui sumber perdarahan apabila terdapat varises yang pecah.

Koreksi yang berikan oleh pembimbing mata kuliah selaku fasilitator yaitu pemeriksaan adanya oedema dan varises tidak perlu dilakukan karena tidak focus untuk menentukan diagnose abortus

 

KASUS 2

Seorang ibu umur 36 tahun, G3P2002, datang ke pelayanan kesehatan mengeluh keluar flek-flek dari kemaluan disertai gelembung-gelembung sebesar kacang hijau sampai buah anggur. Anamnesa menemukan telat haid 2 bulan yang lalu, dan mengalami mual muntah yang lebih parah dari sebelumnya. Pemeriksaan tanda vital dan antropometri dalam batas yang normal, HB 9 gram %, PPT +.

  1. a.      Apa yang saudara pikirkan mengenai kasus tersebut dan bagaimana tanda gejalanya?

Jawab :

Yang saya pikirkan mengenai kasus diatas adalah Mola hidatidosa. Hal ini karena apa yang dialami oleh ibu tersebut sesuai dengan tanda dan gejala mola hidatidosa yaitu :

  1. PPT + dengan kadar HCG yang lebi tinggi dari norrmal
  2. Perdarahan disertai dengan keluar gelembung-gelembung seperti buah anggur
  3. Mual muntah yang berlebihan
  4. Tinggi fundus uteri lebih tinggi dari umur kehamilan
  5. Sering diikuti dengan anemia
  6. b.      Apa penyebab terjadinya kasus tersebut dan faktor resiko yang mungkin mempengaruhi, dan bagaimana prosesnya?

Jawab :

Faktor langsung penyebab mola hidatidosa ini hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti. Diperkirakan bahwa beberapa faktor yang sering dikaitkan sebagai penyebab hamil anggur ini diantaranya yaitu mutasi genetik (buruknya kualitas sperma atau gangguan pada sel telur) yang mengakibatkan pada kehamilan dimana janin akan mati dan tak berkembang, kekurangan vitamin A, darah tinggi, serta faktor gizi yang kurang baik. Wanita dengan usia dibawah 20 tahun atau diatas 40 tahun juga berada dalam risiko tinggi. Seringkali ditemukan pada masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang rendah, kekurangan gizi pada ibu hamil, ibu yang sering hamil, gangguan peredaran darah dalam rahim dan kelainan rahim berhubungan dengan peningkatan angka kejadian mola. Mengkonsumsi makanan rendah protein, asam folat, dan karoten juga meningkatkan risiko terjadinya mola.

Proses terjadinya mola hidatidosa yaitu :

Sebagian dari villi berubah menjadi gelembung-gelembung berisi cairan jernih biasanya tidak ada janin, hanya pada molapartialis kadang-kadang ada janin. Gelembung itu sebesar butir kacang hijau sampai sebesar buah anggur gelembung ini dapat mengisi seluruh cavum uteri.

Di bawah mikroskop nampak degenerasi hydropik dari stroma jonjot, tidak adanya pembuluh darah dan proliferasi trofoblast. Pada pemeriksaan chromosom didapatkan poliploid dan hampir pada semua kasus mola susunan sek chromatin adalah wanita. Pada mola hidatidosa, ovaria dapat mengandung kista lutein. Kadang-kadang hanya pada satu ovarium kadang pada keduanya.

Faktor risiko terdapat pada golongan sosioekonomi rendah, usia di bawah 20 tahun dan paritas tinggi.

  1. c.       Apa saja jenis kelainan yang dialami oleh perempuan tersebut dan bedakan dengan jenis yang lainnya?

Jawab :

Jenis mola hidatidosa ada dua  yaitu :

  1. Mola hidatidosa komplit (klasik)

-          Terlihat gelembung vesikula jernih

-          Tidak ditemukan janin dan amnion

  1. Mola hidatidosa inkomplit (parsial)

-          Bersifat fokal

-          Masih terdapat janin

-          Vili bersifat avaskular dan pembengkakannya berjalan lambat

  1. d.      Pemeriksaan apa saja yang diperlukan untuk menegakkan diagnosa?

Jawab :

 

 

 

  1. Pemeriksaan sonde uterus (hanifa)

Sonde dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar 360º, setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola.

  1. Tes acorta sison dengan tang abortus, gelembung mols dapat dikeluarkan
  2.  Peningkatan kadar beta HCG darah atau urin

Kadar HCG normal adalah < 5 mIU/ml. Peningkatannya yaitu terjadi grafik peningkatan hCG paling sedikit empat kali (hari 1, 7, 14 dan 21) atau peningkatan hCG secara bertahap selama dua minggu (hari 7 dan 14) atau lebih lama. Nilai hCG bergantung pada individu masing-masing.

  1. Ultrasonografi menunjukkan gambaran badai salju (snow flake pattern)
  2. Foto torake ada gembaran emboli udara
  3. Pemeriksana T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis

Pada kasus mola hidatidosa kadar HCG sangat tinggi, melebihi kadar HCG ibu hamil yang normal, hal ini akan memicu peningkatan jumlah hormon tiroid. Pemeriksaan T3 dan T4 perlu untuk memantau kadar tiroid sehingga pada kasus mola hidatidosa sangat penting dilakukan pemeriksaan tersebut sebagai deteksi dini terjadinya tirotoksikosis

  1. Bagaimana penanganan terhadap kasus tersebut bila saudara berada di BPM dan rumah sakit?

Jawab :

Di BPM :

  1. Menginformasikan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga dan rencana tindakan selanjutnya
  2. Memasang infus RL dengan tetesan 20 tts/menit
  3. Merujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dengan prinsip BAKSOKUDA

 

Di rumah sakit :

Melakukan kolaborasi dengan dr.SPOG untuk penanganan yaitu :

FASE PENGOSONGAN UTERUS

  1. Perbaiki keadaan umum
  2. Melakukan pemeriksaan lab lengkap, USG dan foto thorax

3. Kuretase dilakukan satu kali pada UK di bawah 20 minggu, dan dua kali pada UK di atas 20 minggu.

4. Untuk memperbaiki konntraksi uterus pada saat kuretase berikan uterotonik (20-40 unit oksitosin dalam 500 ml D5%).

5. Diambil spesimen PA yang dibagi menjadi dua sampel,

  • PA 1 : jaringan dan gelembung mola
  • PA 2 : kerokan endometrium uterus

6. Histeroktomi perlu dipertimbangkan pada wanita yang telah cukup umur dan cukup anak. Batasan yang dipakai ialah umur 35 tahun dengan anak hidup tiga

7. Terapi proflaksis dengan sitostatik metroteksat atau aktinomisin D pada kasus dengan resiko keganasan tinggi seperti umur tua dan paritas tinggi

FASE FOLLOW UP :

  1. Pemeriksaan panggul

Dikerjakan setiap 2-4 minggu sekali

  1. Pemeriksaan laboratorium

Mulai dari tes dengan kepekaan paling rendah yaitu PPT, HCG slide test sampai pack test àkonfirmasi adanya PTG

Penilaian (untuk batas akhir) :

  1. PPT (1500 ± 4000 SI/L) harus negatif pada minggu ke 4 atau HCG < 1000 mIU/ml
  2. HCG slide test (800 SI/L) harus negatif pada minggu ke 8 atau HCG serum < 500 mIU/ml
  3. Test pack (50 SI/L) harus negatif pada minggu ke 12 atau HCG serum N ( ELISA : 0-15 mIU/ml
  4. Pemeriksaan thorax foto

Perlu dikerjakan sebelum pengosongan kavum uteri dan 4 minggu setelah evakuasi. Paru adalah tempat paling sering terkena metastase

  1. Kontrasepsi

Sebaiknya diberikan preparat progesteron selama 2 tahun untuk mencegah mola berulang

  1. Bagaimana manajemen yang dilakukan untuk menangani kasus tersebut?

Jawab :

 

 

 

 

 

 

Klinis

USG

HCG

CURIGA MOLA HIDATIDOSA

 

MOLA HIDATIDOSA

 

 

 

 

 

 

 
Diskusi

Diskusi

  1. Mengapa metode kontrasepsi pada kasus post mola hidatidosa menggunakan preparat progesteron?

Jawab :

Mengacu pada siklus menstruasi dimana pada fase proliferasi hormon estrogen meningkat sehingga memicu untuk pertumbuhan dinding endometrium sehingga diberikan preparat progesteron untuk menghindari terjadinya proliferasi. Apabila diberikan preparat estrogen maka akan memicu proliferasi sehingga akan merangsang kembali pertumbuhan jonjot-jonjot sisa kuretase dan dapat menyebabkan berkembangnya mola kembali.

Pengaturan menstruasi dapat dilakukan cara mengundurkan (penundaan) atau memajukan menstruasi. Menstruasi dapat ditunda dengan pemberian sediaan yang mengandung hormon seks wanita. Penundaan menstruasi dengan menggunakan hormon secara tidak langsung akan mempengaruhi system endokrinologi reproduksi wanita itu sendiri sehingga pada penggunakan yang tidak rasional dapat mengganggu siklus menstruasi.

Mekanisme Perubahan Menstruasi pada Penggunaan Hormon

Progestin merupakan preparat yang biasa digunakan untuk mengatur siklus menstruasi yang banyak dipakai oleh wanita saat menjalankan ibadah haji atau umrah. Pemahaman fisiologi siklus menstruasi dan terjadinya amenorea pada kehamilan sangat diperlukan agar usaha ini memberikan hasil sesuai yang diharapkan.

 

 

 

 

  1. Mengapa diperlukan pemeriksaan T3 dan T4 pada kasus mola hidatidosa?

Jawab :

Pada kasus mola hidatidosa kadar HCG sangat tinggi, melebihi kadar HCG ibu hamil yang normal, hal ini akan memicu peningkatan jumlah hormon tiroid. Pemeriksaan T3 dan T4 perlu untuk memantau kadar tiroid sehingga pada kasus mola hidatidosa sangat penting dilakukan pemeriksaan tersebut sebagai deteksi dini terjadinya tirotoksikosis

 

KASUS 3

Seorang perempuan umur 27 tahun datang dipapah oleh suamninya ke palayanan kesehatan, mengeluh nyeri pada perutnya, disertai perut kembung, keluar flek darah dari kemaluan. Anamnesa menemukan telat haid dua minggu yang lalu. Pemeriksaan tanda vital TD : 90/60 mmHg, nadi 100x/ menit, Respirasi 28x/menit, suhu : 370C, dan ibu tampak kurang kooperatif.

Jawaban :

  1. Setelah kami menganalisa dari kasus diatas perempuan tersebut mengalami KET hal ini ditandai dengan:
    1. Anamnesis
      1. Nyeri pada perut
      2. Perut kembung
      3. Keluar flek darah dari kemaluan
      4. Riwayat telat haid 2 minggu.
  2. Dari pemeriksaan umum didapatkan :
    1. KU ibu : ibu tampak kurang kooperatif
    2. Tanda vital didapatkan denyut nadi cepat, tekanan darah yang rendah serta terjadi peningkatan suhu badan.
    3. Faktor resiko yang mungkin mempengaruhi kasus tersebut yaitu :
      1. Penggunaan antibiotika pada penyakit radang panggul dan Gonorreaea : pemakaian antibiotika dapat memepertahankan terbukanya tuba yang mengalami infeksi, tetapi perlekatan pada tuba menyebabkan pergerakan silia dan peristaltis tuba terganggu dan menghambat perjalanan ovum yang dibuahi sehingga inplantasi terjadi pada tuba.
      2. Kegagalan kontrasepsi IUD : pada wanita yang hamil dengan masih menggunakan IUD dapat meningkatkan kejadian kehamilan ekstrauterine dikarenakan hasil konsepsi tidak dapat melewati AKDR yang terpasang didalam rahim.
      3. Sosial ekonomi yang rendah : pada wanita  yang memiliki social ekonomi yang rendah memiliki resiko lebih besar mengalami kehamilan ekstrauterine karena status gizi yang cenderung rendah.
      4. Bekas radang pada tuba
      5. Kelainan bawaan pada tuba
      6. Gangguan fisiologik pada tuba karena pengaruh hormonal
      7.  Riwayat KET sebelumnya.
      8. Riwayat infertilitas

 

  1. Pada KET lokasi kelainan yang bisa dialami  yaitu :
    1. Tuba :
      1. Pars interstisialis tuba
      2. Pars ismika tuba
      3. Pars ampularis tuba
      4. Infundibulum tuba
      5. fimbria
      6. uterus :
        1. kanalis servikalis
        2. divertikulum
        3. kornua
        4. tanduk rudimenter
        5. ovarium
        6. intraligamenter
        7. abdominal
          1. primer
          2. sekunder
          3. kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus

 

  1. Pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis :
    1. Tes kehamilan : apabila hasil tes positif akan dapat membantu diagnosis khususnya terhadap tumor-tumor adneksa dan umumnya tes ini menjadi negatif beberapa hari setelah meninggalnya mudigah.
    2. Inspeksi :
      1. Wajah dan Mata : Konjungtiva pucat dan anemis.
      2. Abdomen : terdapat tanda Cullen, yaitu adanya warna biru lebam pada linea alba dan sekitar pusat.
      3. Genetalia : pervaginam keluar desidual cast.
      4. Palpasi dan perkusi : terdapat tanda-tanda perdarahan intra-abdominal.
      5. Pada pemeriksaan dalam didapati adanya tanda-tanda berikut :
        1. Adanya nyeri goyang porsio, yaitu nyeri hebat yang dirasakan ibu ketika porsio digerakkan/digoyongkan.
        2. Douglas crise, yaitu rasa nyeri tekan yang hebat ketika kavum Douglas ditekan.
        3. Kavum douglas teraba menonjol karena adanya penumpukan darah.
        4. Teraba massa retrouterin ( massa pelvis ).
        5. Pemerikasaan penunjang :
          1. Bidan : pemeriksaan Hb
          2. Dokter spesialis kebidanan :

1)      Kuldosintesis ( Douglas pungsi ).

2)      Bertujuan untuk mengetahui adakah darah dalam kavum Douglas.

3)      Bila keluar darah tua berwarna cokelat sampai hitam yang tidak membeku atau hanya bekuan kecil-kecil di atas kain kassa maka hal itu dikatakan positif ( fibrinasi), dan menunjukkan adanya hematoma retrouterin.

4)      Pemeriksaan diagnostik laparoskopi dan USG

 

  1. Penanganan yang dapat dilakukan pada kasus diatas :
    1. Di BPM :
      1. Informasikan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
      2. Lakukan INFORMED CONSENT
      3. Posisikan ibu dengan posisi Trendelenberg, pasang infuse NS atau RL 500 ml dengan jarum besar, berikan O2 jika diperlukan.
      4. Lakukan rujukan dengan BAKSOKUDA ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas yang lengkap.
  2. DI Rumah Sakit :
    1. Setelah diagnose ditegakkan, segera lakukan persiapan untuk melakukan operasi gawat darurat.
    2. Ketersediaan darah pengganti bukan merupakan syarat untuk melakukan operatif karena sumber perdarahan harus segera dihentikan.
    3. Upaya stabilisasi dilakukan dengan segera merestorasi cairan tubuh dengan larutan kristaloid NS atau RL ( 500 Ml dalam 15 menit pertama) atau 2 liter dalam 2 jam pertama ( termasuk selama tindakan berlangsung). Tidak
    4. Bila darah pengganti belum tersedia, berikan auto transfusion berikut ini :

1)      Pastikan darah yang dihisap dari rongga abdomen telah melalui alat penghisap dan wadah penampung yang steril

2)      Saring darah yang tertampung dengan kain yang steril dan masukkan darah (blood bag). Apabila kantung darah tidak tersedia, masukkan ke dalam botol cairan infuse (yang baru terpakai dan bersih ) dengan diberikan larutan sodium sitrat 10 ml untuk setiap 90 ml darah

3)      Tranfusikan darah melalui selang transfusi yang mempunyai saringan pada tabung tetesan.

  1. Tindakan pada tuba dapat berupa:

1)      Partial salpingektomi yaitu melakukan eksisi yang mengandung bagian konsepsi

2)      Salpingostomi (hanya dilakukan sebagai upaya konservasi dimana tuba tersebut merupakan salah satu tuba yang masih ada) yaitu mengeluarkan hasil konsepsi pada satu segmen tuba kemudian diikuti dengan reparasi bagian tersebut. Resiko tindakan ini adalah kontrol perdarahan yang kurang sempurna atau rekurensi ( hamil ektopik ulangan )

3)      Mengingat kehamilan ektopik berkaitan dengan gangguan fungsi transportasi yang disebabkan oleh proses infeksi maka sebaiknya pasien diberi antibiotika kombinasi atau tunggal dengan spektrum yang luas.

4)      Untuk kendali nyeri pasca tindakan dapat diberikan :

a)      Ketoprofen 100 mg suppositoria

b)      Tramadol 200 mg IV

c)      Pethidin 50 mg IV ( siapkan antidotum terhadap reaksi hipersensitivitas).

5)      Atasi anemia dengan tablet besi ( SF 600 mg/hari )

6)      Konseling pasca tindakan

a)      Kelanjutan fungsi reproduksi

b)      Resiko kehamilan ektopik ulangan

c)      Pemakaian kontrasepsi yang sesuai

d)     Asuhan mandiri selama di rumah

e)      Jadwal kunjungan ulang.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Manajemen yang dilakukan untuk menangani kasus tersebut :

 

 

GS (+)

Intra uteri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertanyaan yang muncul:

  1. Bagaimana konseling alat kontrasepsi untuk kelanjutan reproduksinya, kira-kira kapan kesuburannya kembali?
  2. Bagaimana rasional dari  posisi merujuk pasien dengan KET dengan posisi tredelenberg?

 

Jawaban:

  1. Kembalinya kesuburan tergantung kepada penyebab KET dan tindakan yang dilakukan terhadap KET. Biasanya kembalinya kesuburan tersebut hampir sama dengan pasien yang mengalami abortus dan ibu post partum. Alat kontrasepsi yang dipakai tergantung kondisi pasien, misalnya pasien yang memiliki anak pertama maka kontrasepsi yang dipakai adalah pil, jika umur pasien sudah lebih dari 35 tahun, dan jumlah anak hidup lebih dari 3, maka dilakukan tubektomi.
  2. Posisi tredelenberg digunakan pada pasien KET karena KET cenderung terjadi syok hipovolemik dan syok neurogenic sehingga posisi ini digunakan untuk menanggulangi syok tersebut.

 

Kasus 4

Seorang perempuan umur 19 tahun datang diantar suaminya ke pelayanan kesehatan mengeluh mual muntah, sampai tidak bisa makan dan minum. Anamnesa mendapatkan mengalami telad haid sebulan yang lalu. Pemeriksaan tanda vital : TD 90/60 mmHg, nadi kecil dengan frekuensi 100x/menit, respirasi 28x/ menit, suhu 37,5 OC  dan ibu tampak pucat

a. Dari kasus tersebut kita curiga ibu mengalami hiperemisis gravidarum. Menurut berat ringannya gejala, hiperemesis gravidarum dapat dibagi dalam 3 tingkatan :

  1. 1.  Tingkat I

Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum pasien. Ibu merasa lemah, tidak ada nafsu makan, berat badan menurun dan nyeri ulu hati. Nadi meningkat hingga 100x/menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor berkurang, lidah mengering dan mata cekung.

  1. 2.  Tingkat II

Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor lebih menurun, lidah kering dan tampak kotor. Nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. Berat badan menurun, mata cekung, tekanan darah menurun, terjadi hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium dari udara pernafasan dan dapat pula ditemukan dalam urin.

  1. 3.  Tingkat III

Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tekanan darah menurun. Dapat terjadi komplikasi yang fatal pada susunan saraf pusat yang dikenal sebagai Ensephalopati Wernickel, dengan gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental. Keadaan ini diakibatkan oleh penurunan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks.

Dari kasus diatas dilihat dari keluhan yang dirasakan berupa mual muntah, sampai tidak bisa makan dan minum, nadi kecil yaitu 100x/ menit, ibu tampak pucar makan ibu bisa dikatakan ibu mengalami hiperemisis gravidarum tingkat 1.

b.  Factor resiko yang mungkin mempengaruhi kasus hiperemisis gravidarum diantaranya disebabkan oleh factor:

  1. 1.      Primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda

Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan    dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin (hCG) dibentuk secara berlebihan.

  1. Faktor Organik

Masuknya vili korialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan salah satu penyebab timbulnya hiperemesis gravidarum.

  1.  Alergi

Merupakan respon ibu terhadap jaringan janin yang mulai terbentuk, juga disebut sebagai salah satu   faktor organik terjadinya hiperemesis gravidarum.

  1. Faktor Psikologi

Faktor ini memegang peranan yang penting pada hiperemesis. Pada rumah tangga  yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, akan menimbulkan konflik mental yang dapat memperberat keadaan mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian dari berbagai masalah hidup.

5.    Faktor adaptasi dan Hormonal

Wanita hamil primigravida, overdistensi rahim pada hamil ganda dan hamil mola hidatidosa jumlah yang dikeluarkan terlalu tinggi dan menyebabkan terjadinya hiperemisis gravidarum. Pada kehamilan terjadi perubahan pada system endokrinologi terutama peningkatan hormone estrogen dan HCG.

Adapun patofisiologi  mual dan muntah adalah Keluhan mual dan muntah terjadi pada trimester pertama kehamilan sehingga dihubungkaan dengan peningkatan kadar estrogen dalam tubuh wanita hamil. Pengaruh fisiologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan.

Hiperemesis gravidarum merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, hal ini dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit tubuh bila terjadi terus-menerus. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologis dikatakan merupakan faktor utama di samping faktor hormonal. Pada wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat.

Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak terpakai habis untuk keperluan produksi energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, terjadilah ketosis sebagai akibat tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah menurun, demikian pula klorida urin. Selain itu dehidrasi juga menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen yang diedarkan ke jaringan berkurang dan tertimbunnya zat metabolik toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi melalui ginjalakan meningkatkan frekuensi muntah, dapat timbul kerusakan pada hati, dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dihentikan. Disamping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esophagus dan lambung (sindroma Mallory-Weiss), dengan akibat pendarahan gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan pendarahan dapat berhenti sendiri, jarang sampai memerlukan transfusi dan tindakan operatif.

 

c. Pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakkan diagnose hiperemisis gravidarum adalah pemeriksaan Laboratorium UL, DL, RFT, LFT. pemeriksaan UL untuk mengetahui keton dalam urin pemeriksaan DL untuk melihat kadar Hb dan infeksi. RFT dan LFT untuk mengetahui penyakit medis yang menyertai seperti hepatitis atau pyelonefritis.

d.  Penanganan terhadap kasus hiperemisis gravidarum tersebut di BPM adalah berupa

jika di BPM, bidan menerima pasien dengan hiperemisis gravidarum tingkat 1 yang dilakukan ialah melihat kondisi pasien terlebih dahulu. Jika keadaan pasien tidak baik sebaiknya dilakukan stabilisasi pasien terlebih dahulu lalu dilakukan rujukan ke fasilitas kehesatan yang lebih tinggi.

Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum untuk hiperemisis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat dirumah sakit :

  1. Kadang-kadang pada beberapa wanita, hanya tidur dirumah sakit saja karena telah banyak mengurangi mual dan muntah
  2. Isolasi. Jangan terlalu banyak tamu, kalau perlu hanya perawat dan dokter saja yang boleh masuk. Kadang kala hal ini saja, tanpa pengobatan khusus telah mengurangi mual dan muntah
  3. Terapi psikologis. Berikan pengertian bahwa kehamilan adalah hal yang wajar normal dan fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir.
  4. Penambahan cairan. Berikan infuse dekstrosa atau glukosa 5% sebanyak 2-3 liter dalam 24 jam.
  5. Pada beberapa kasus dan bila terapi tidak dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum penderita, dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan.
  6. Berikan obat-obat seperti Injeksi Metokloperamid (Primperan) atau Ondansetron (Incentron atau Vomceran) 3 x 1 amp/hari. Vit B1, B6, B12 (Neurobion 5000 ) 3 x 1 amp/hari secara intravena (IV) atau drip. Bila perlu : Antasida, Ranitidin injeksi.

e.    Bagaimana manajemen yang dilakukan untuk menangani kasus tersebut?

  • Pencegahan

Pencegahan hiperemisis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan  akan hilang setelah kehamilan 4 bulan., menganjurkan mengubah makanan sehari-hari dengan  makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera tutun dari tempat tidur, tetapi anjurkan untuk makan roti kerinbg atau biscuit dengan the hangat.

Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat meruppakan factor yang penting, oleh karena itu dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.

 

  • Isolasi

Pasien disendirikan di dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan memiliki sirkulasi udara yang baik.2,4 Sebaiknya hanya dokter dan perawat saja yang diperbolehkan untuk keluar masuk kamar tersebut. Biasanya hanya dengan perlakuan tersebut gejala-gejala akan berkurang tanpa pengobatan.

 

 

  • Cairan parenteral (jika ibu dirawat dirumah sakit atas instruksi dokter)

Berikan cairan yang cukup mengandung elektrolit, karbohidrat, dan protein dengan glukosa 5% dalam cairan garam fisiologis sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambahkan kalium dan vitamin, terutama vitamin B kompleks dan vitamin C dan apabila ada kekurangan protein dapat ditambahkan asam amino secara intravena.

Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan yang dikeluarkan. Urin perlu diperiksa setiap hari terhadap kandungan protein, aseton, klorida, dan bilirubin. Suhu tubuh dan nadi diperiksa setiap 4 jam dan tekanan darah diukur 3 kali sehari. Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan seterusnya menurut keperluan. Bila dalam 24 jam pasien tidak muntah dan keadaan umum membaik dicoba untuk memberikan minuman, dan lambat laun makanan dapat ditambah dengan makanan yang tidak cair.

  • Terapi Obat-obatan

Apabila dengan cara-cara tersebut di atas keluhan tidak berkurang maka diperlukan pengobatan namun harus menghindari obat-obatan yang bersifat teratogenik. Sedativ yang dapat diberikan adalah fenobarbital. Vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6. Pada keadaan yang lebih berat dapat diberikan antiemetik seperti metokloperamid, disiklomin hidroklorida, atau klorpromazin. Pada kasus hiperemesis gravidarum yang lebih berat diperlukan perawatan di rumah sakit.

  • Terapi Psikologis

Pasien perlu diyakinkan bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar dan fisiologis, tidak perlu takut dan khawatir. Yakinkan bahwa penyakitnya dapat disembuhkan, atasi masalah sosial ekonomi, pekerjaan, masalah lingkungan, serta menghilangkan masalah dan konflik lainnya yang melatarbelakangi penyakit ini.

  • Diet

Ciri khas diet hiperemisis gravidarum adalah penekanan karbohidrat kompleks terutama pada pagi hari, serta menghindari makanan yang berlemak dan goring-gorengan untuk menekan rasa mual dan muntah, sebaiknya diberi jarak dalam pemberian makan dan minum. Diet pada hipermeisis bertujuan untuk menggantikan glikogen tubuh dan mengontrol asidosis secara berangsur memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup.

Diet hiperemisis gravidarum  memiliki beberapa syarat,diantaranya adalah karbohidrat tinggi yaitu 75-80 % dari kebutuhan energy total, lemak rendah yaitu < 10%, protein sedang yaitu 10-15 % dari kebutuhan energy total, makanan diberikan dalam bentuk kering, pemberian cairan disesuaikan dengan keadaan pasien yaitu 7-10 gelas sehari, makan mudah dicerna, tidak merangsang saluran cerna dan diberikan lebih sering dalam porsi kecil, bila makan pagi dan sulit diterima, pemberian dioptimalkan pada makan malam dan selingan malam, makanan secara berangsur ditingkatkan dalam porsi dan nilai gizi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan gizi pasien.

  • Penghentian kehamilan

Pada beberapa keadaan hiperemisis gravidarum yang sudah cukup parah dan dinilai bisa mengancam kesejahteraan janin dan ibu maka dapat dipertimbangkan  pengakhiran kehamilan.

 

Pertanyaan saat diskusi:

1. Makanan yang hangat dan sangat dingin dalam pemberian makanan pada pasien hiperemisis adalah dimaksudkan agar tidak merangsang pengeluaran asam lambung yang dapat memicu mual dan rangsangan untuk muntah

2.  Apakah di BPM berwenang merawat pasien dengan hiperemisis gravidarum? Tidak, karena menurut Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Normor 1464/MENKES/PER/X/2010 Bab II pasal 9-10 bidan tidak berwenang untuk merawat pasien dengan hiperemisis gravidarum. Tindakan yang dilakukan oleh bidan ialah stabilisasi pasien terlebih dahulu sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan.